Bianglala


Tuhan-Tuhan Genetis

Posted in Book, Science by Dhani on the August 14th, 2008

Judul buku ini sepintas terasa provokatif. Dalam wacana keagamaan, takdir dipandang sebaga bahasan yang rawan, suatu wilayah remang-remang yang menyimpan banyak jebakan teologis yang mencelakakan. Ketika bahasan tentang takdir bercampur dengan cabang sains yang tergolong kontroversial, dalam hal ini biologi evolusi, hasilnya mungkin bisa membuat jidat para agamawan sedikit berkerut.

Tapi untungnya hal itu tidak terjadi pada buku ini, The Genetic Gods (Tuhan-Tuhan Genetis): Kuasa Gen atas Takdir Manusia (Penerbit Serambi, 2007). Edisi bahasa Inggris buku ini telah terbit sejak 2001 dengan judul The Genetic Gods: Evolution and Belief in Human Affairs (diterbitkan oleh Harvard University Press). Sebagai Distinguished Professor in Ecology & Evolutionary Biology pada School of Biological Sciences, University of California, John C. Avise, pengarang buku ini, jelas adalah sosok yang cukup otoritatif untuk subjek yang dibahas dalam bukunya.

Pemikiran yang dibawa oleh buku ini sebenarnya cukup sederhana. Setelah kita tahu bahwa gen-gen dalam tubuh kita menentukan takdir bentuk tubuh dan kesehatan kita, bahkan kebudayaan, kepribadian, dan kecenderungan moral kita, lantas bagaimana dengan kepercayaan keagamaan yang menempatkan Tuhan sebagai penguasa takdir manusia?

Untuk menjawab pertanyaan ini, Avise membawa pembaca dalam perjalanan menelusuri berbagai penemuan mutakhir dalam genetika, berikut aneka tantangan yang dihadirkannya bagi agama, filsafat, hingga moralitas hidup manusia. Perjalanan dimulai dari doktrin Biologi yang mencakup genetika evolusioner pada bab pertama. Disini Avise memaparkan secara ringkas dasar-dasar teori genetika, hingga peranannya dalam evolusi organisme hidup.

Berikutnya, di bab kedua, buku ini memaparkan berbagai mitologi asal usul kehidupan, baik dalam tradisi agama-agama besar hingga suku-suku terasing yang menghuni berbagai belahan dunia. Dari sana, pembaca digiring menuju pemahaman terhadap asal-usul kehidupan menurut sains dan tanggapan filosofis (dan tentunya teologis) terhadap hal tersebut.

Pokok bahasan yang sesungguhnya baru kita dapati pada bab ketiga dan selanjutnya. Disini pembaca mulai dibawa melintasi wilayah kutukan dan berkah genetis, yang kesemuanya itu membawa konsekuensi terhadap perjalanan hidup organisme bersangkutan. Avise pun menjabarkan soal cacat genetis, kromosom, penggerak meiosis (meiotic drivers), determinisme genetis, dan aneka topik bahasan lainnya yang relevan. Semua dibahas secara sistematis dan relatif rinci, untuk ukuran bacaan popular tentunya.

Belakangan, di tiga bab terakhir, Avise mulai menurunkan tensi bahasan ilmiah, dan memberi porsi yang lebih besar untuk ranah filosofis. Diantaranya ada bahasan yang tergolong “berani” mengenai takdir versus sains, hingga etika bioteknologi.

Walaupun sepintas terasa sedikit teknikal, buku ini sebenarnya ditujukan kepada masyarakat “awam” yang berpikiran terbuka. Namun bagi pembaca yang sama sekali “blank” dalam topik genetika, mungkin agak sulit untuk mengikuti pembahasan di buku ini. (untuk kalangan tersebut, saya sarankan untuk membaca terlebih dahulu “Genom” karangan Matt Ridley, yang edisi Indonesianya diterbitkan oleh Penerbit Gramedia, agar memperoleh sedikit tambahan wawasan yang diperlukan).

Seperti ditegaskan oleh pengarang dalam prakatanya, buku ini adalah tentang sebab akibat dalam biologi. Buku ini tidak dimaksudkan untuk berkutat serius dengan dampak evolusi terhadap ketuhanan dari sudut pandang para filsuf keagamaan atau ahli teologi, melainkan hadir untuk memberikan pemahaman yang lebih jernih mengenai temuan empiris mutakhir di bidang genetika molekuler dan kemajuan konsep dalam teori genetika evolusioner, yang pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan komunikasi antara ilmu sosial dan eksakta, serta antara teologi dan biologi evolusioner. Sasaran yang sedikit “muluk” menurut saya, namun memang tidak ada salahnya untuk dicoba.