Bianglala


Nash

Posted in Figure by Dhani on the July 15th, 2008

Waktu menulis posting ini hampir setahun lalu, saya sudah membayangkan kalau tulisan semacam itu (seperti biasanya) bakalan sepi komentar, atau kalaupun ada yang berkomentar, palingan tidak jauh dari dosen dan mahasiswa. Rupanya dugaan saya tidak salah.

Tapi siapa Nash yang namanya sempat disebut-sebut dalam dalam tulisan itu?

Nama lengkapnya John Forbes Nash. Perjalanan hidup Matematikawan yang satu ini lumayan penuh warna. Pernah dinovelkan oleh Sylvia Nasar dengan judul “A Beautiful Mind” (terjemahan Indonesia diterbitkan oleh Gramedia), dan diangkat ke layar lebar dengan judul sama (lagu soudtracknya dibawakan dengan bagus oleh Charlotte Church).

Saat berkuliah di Princenton University, ia sudah mulai tertarik mengkutak-katik Game Theory, yang dianggap bidang matematika yang paling seksi pada masa itu. Selain itu, ia juga terkenal dengan karyanya dalam matematika murni, dikenal sebagai Nash embedding theorem, dimana ia menunjukkan bahwa suatu abstraksi manifold Riemannian dapat secara isometrik dianggap sebagai submanifold dari ruang Euclidean. Ia juga berkontribusi terhadap teori nonliear persamaan diferensial parabola parsial. Pendeknya, dia orang yang jenius, titik.

Sayangnya batas antara kejeniusan dan kegilaan terkadang tipis sekali. Begitu pula pada Nash. Dikenal sebagai orang yang temperamental dan cenderung menutup diri, ia juga adalah tipikal orang yang lebih suka bekerja sendiri ketimbang dalam satu tim.

Adalah Medali Fields, lambang supremasi di bidang matematika yang menjadi incaran Nash. Sayang, keberuntungan nampaknya masih belum berpihak kepadanya. Pasalnya, penghargaan yang disebut-sebut sebagai Nobelnya matematika itu hanya dibagikan tiap empat tahun sekali dan yang berhak menerimanya adalah matematikawan yang usianya belum mencapai 40 tahun. Tujuannya, selain menghargai pencapaian di masa lalu, juga sebagai motivasi untuk bekerja lebih giat untuk performa yang lebih baik di masa mendatang.

Gagal meraih pencapaian prestisius itu, Nash akhirnya patah semangat. Didera kekhawatiran atas kelangsungan masa depannya sebagai matematikawan, kewarasannya pun terganggu. Antara bulan April-Mei 1959, ia didiagnosa terkena schizophrenia paranoid, suatu bentuk gangguan kejiwaan serius.

Dirawat di rumah sakit jiwa hingga tahun 1970, somehow kejiwaannya akhirnya pulih. Nash mulai menata kembali hidupnya. Ia kembali ke dunia akademis sebagai matematikawan. Pada 1978, karyanya mengenai hukum kesetimbangan non-kooperatif — dikenal sebaga Hukum Kesetimbangan Nash (Nash Equilibria) — mengantarkan dirinya meraih penghargaan John Newman. Tahun 1994, penghargaan prestisius, Nobel Ekonomi akhirnya ia raih untuk karyanya dalam Game Theory.

Oh ya, ada satu cerita menarik lagi terkait Medali Fields. Tahun 2006 seorang matematikawan Rusia, Grigori Perelman, dinyatakan berhak menerima hadiah yang dahulu pernah diidam-idamkan Nash itu. Tapi berbeda dengan Nash, karena alasan idealis, hadiah itu malahan ditolaknya! Seorang teman pernah cerita tentang Perelman di blognya, dan saya menulis komentar singkat disana bahwa bagi orang-orang tertentu, itu bukan cerita yang inspiratif. Orang-orang macam apa? Yah, tahu sendirilah: para pengikut dari seorang “pakar investasi” gadungan yang juga merupakan pengarang buku nomor dua yang paling sering saya kritisi setelah si “pakar evolusi” yang juga gadungan itu (tapi herannya, pakar-pakar gadungan ternyata punya banyak pengikut disini).

Moral cerita: jangan ngoyo mengejar mimpi-mimpi indah kita. Fokus pada impian, boleh saja. Memotivasi diri, itu juga bagus. Tapi jangan biarkan semuanya itu sampai merusak kehidupan nyata kita. Dan apabila suatu ketika impian itu berhasil diraih, mudah-mudahan kita masih punya kearifan untuk menilai, apakah diri kita memang betul-betul pantas memperolehnya. Semoga cukup jelas, kepada siapa paragraf ini akan saya dedikasikan ;) .

5 Responses to 'Nash'

Subscribe to comments with RSS or TrackBack to 'Nash'.

  1. Anis said,

    on July 19th, 2008 at 9:29 pm

    “Saya kira sudah cukup jelas kepada siapa paragraf ini akan saya dedikasikan ;) .”
    Emangnya buat siapa, Mas? Aku gak ngerti.

  2. Dhani said,

    on July 19th, 2008 at 9:54 pm

    @Anis: Syukurlah kalau tidak mengerti. Itu artinya mbak Anisah tidak termasuk golongan yang saya maksud. Sorry, tidak saya sebutkan siapa. Rada personal soalnya. ;)

  3. pejuang said,

    on July 23rd, 2008 at 4:39 pm

    ;-) . Oke

  4. Putra angkat said,

    on April 16th, 2009 at 5:31 pm

    Jhon nash Sungguh sangat brilian….dan dari segi tata bahasa anda mas anda lumayan baik..eh…eh..salam

  5. meilany said,

    on January 18th, 2010 at 8:27 am

    aq salut ma John Forbes Nash…. aq jg pernah ngalamin penyakit shyzophrenia… masuk ke dalam dunia khayal…. sekarang kan aq sudah sembuh, udah konsultasi ma dokter psikolog… aq cmn mw nanya… berapa persen kemungkinan penyakit ini kembali…… aq jg mau nanya.. ad g buku schyzophrenia yang isinya tntang penderita atau kejadian2 yang dialami oleh si penderita… thanks ^_^

Leave a Reply