Bianglala


Refleksi

Posted in Blogging by Dhani on the July 30th, 2008

Musim liburan sudah usai. Itu artinya situs ini harus siap-siap menerima luberan pengunjung lagi. Seperti biasanya, selama musim liburan sekolah, pengunjung blog ini, beserta site “saudaranya” (ini dan ini) mengalami penurunan yang cukup berarti.

Banyak hal yang berubah sejak pertama kali saya menulis blog, lebih dari tujuh tahun lampau. Blog yang tadinya cuma satu, berkembang menjadi tiga — tidak termasuk blog-blog di ABN dan sejumlah blog/site lain yang sekarang masih digodok. Blog ini yang semula cuma blog “setengah hati” malahan jadi blog utama saya. Blog Info Astronomi yang tadinya cuma sebagai tempat nyoba-nyoba Wordpress malahan diseriusi sementara blog Refleksi yang tadinya mau diseriusi malahan terhenti.

Oh ya, Refleksi. Saya hampir lupa dengan blog yang satu itu. Sudah setahun lebih blog itu tidak lagi saya update. Masalahnya, mesin Blogger yang saya pakai sebagai platform blog tersebut sudah mengurangi dukungan untuk site eksternal diluar Blogspot. Ini cukup mengganggu. Pengarsipan misalnya, sekarang harus dilakukan secara semi-manual. Niatnya sih, dimigrasikan ke mesin Wordpress. Ini sudah saya lakukan di localhost saya, tapi sampai sekarang prosesnya masih belum kunjung selesai. Perlu cukup banyak waktu untuk menyesuaikan taut-taut yang saling merujuk antar entri, juga katagorisasi untuk hampir 400 entri. Waduh!

Lagipula, saya juga mesti pikir-pikir dulu untuk melanjutkan blog itu. Sebagian besar entri di Refleksi berupa ulasan atau tutorial, dan saya tidak menginginkan blog itu menjadi blog berita (maka dari itu, untuk berita astronomi saya buatkan blog tersendiri). Sialnya, materi seperti tidak bisa ditulis secara asal-asalan, dan saya sudah menyerah untuk meluangkan waktu (baca: mencari waktu terluang) untuk menulis hal-hal yang kelewat serius. Belum lagi topik seputar IT yang cenderung tidak mampu mengikuti perkembangan. Setelah 7 tahun online, sebagian besar topik IT yang diulas disana sudah ketinggalan jaman. Walhasil Refleksi terpaksa dibiarkan terbengkalai dulu.

Sementara itu, entri buku tamu masih saja membanjir, dan membaca email dari pengunjung membuat saya kian merasa bersalah karena menelantarkan blog itu. Untungnya Refleksi tidak menyediakan fasilitas komentar. Kalau ada, mungkin hasilnya lebih buruk dari Info Astronomi, dimana banyak pengunjung yang marah-marah karena pertanyaannya lewat form komentar tidak segera dijawab, atau saya yang terpaksa menjawab komentar sambil marah-marah, somehow.

Sekian lama tidak diupdate, page rank Refleksi “terjun bebas” ke angka 3 (dari rekor tertinggi 5, yang pernah dicapai 1-2 tahun lalu). Blog ini beserta Info Astronomi masih anteng di angka 4, sementara tumblelog saya yang tadinya tidak mendapat rank sama sekali, kini melonjak ke angka 3. SEO anymore? Nggak lah. Blog-blog saya bukan situs komersil, dan saya harap sampai kapanpun tidak perlu dikomersilkan. Menulis blog bagi saya cuma untuk bersenang-senang, dan saya tidak ingin merusak kesenangan itu dengan harap-harap cemas menunggu perolehan iklan atau donasi pengunjung.

Nash

Posted in Figure by Dhani on the July 15th, 2008

Waktu menulis posting ini hampir setahun lalu, saya sudah membayangkan kalau tulisan semacam itu (seperti biasanya) bakalan sepi komentar, atau kalaupun ada yang berkomentar, palingan tidak jauh dari dosen dan mahasiswa. Rupanya dugaan saya tidak salah.

Tapi siapa Nash yang namanya sempat disebut-sebut dalam dalam tulisan itu?

Nama lengkapnya John Forbes Nash. Perjalanan hidup Matematikawan yang satu ini lumayan penuh warna. Pernah dinovelkan oleh Sylvia Nasar dengan judul “A Beautiful Mind” (terjemahan Indonesia diterbitkan oleh Gramedia), dan diangkat ke layar lebar dengan judul sama (lagu soudtracknya dibawakan dengan bagus oleh Charlotte Church).

Saat berkuliah di Princenton University, ia sudah mulai tertarik mengkutak-katik Game Theory, yang dianggap bidang matematika yang paling seksi pada masa itu. Selain itu, ia juga terkenal dengan karyanya dalam matematika murni, dikenal sebagai Nash embedding theorem, dimana ia menunjukkan bahwa suatu abstraksi manifold Riemannian dapat secara isometrik dianggap sebagai submanifold dari ruang Euclidean. Ia juga berkontribusi terhadap teori nonliear persamaan diferensial parabola parsial. Pendeknya, dia orang yang jenius, titik.

Sayangnya batas antara kejeniusan dan kegilaan terkadang tipis sekali. Begitu pula pada Nash. Dikenal sebagai orang yang temperamental dan cenderung menutup diri, ia juga adalah tipikal orang yang lebih suka bekerja sendiri ketimbang dalam satu tim.

Adalah Medali Fields, lambang supremasi di bidang matematika yang menjadi incaran Nash. Sayang, keberuntungan nampaknya masih belum berpihak kepadanya. Pasalnya, penghargaan yang disebut-sebut sebagai Nobelnya matematika itu hanya dibagikan tiap empat tahun sekali dan yang berhak menerimanya adalah matematikawan yang usianya belum mencapai 40 tahun. Tujuannya, selain menghargai pencapaian di masa lalu, juga sebagai motivasi untuk bekerja lebih giat untuk performa yang lebih baik di masa mendatang.

Gagal meraih pencapaian prestisius itu, Nash akhirnya patah semangat. Didera kekhawatiran atas kelangsungan masa depannya sebagai matematikawan, kewarasannya pun terganggu. Antara bulan April-Mei 1959, ia didiagnosa terkena schizophrenia paranoid, suatu bentuk gangguan kejiwaan serius.

Dirawat di rumah sakit jiwa hingga tahun 1970, somehow kejiwaannya akhirnya pulih. Nash mulai menata kembali hidupnya. Ia kembali ke dunia akademis sebagai matematikawan. Pada 1978, karyanya mengenai hukum kesetimbangan non-kooperatif — dikenal sebaga Hukum Kesetimbangan Nash (Nash Equilibria) — mengantarkan dirinya meraih penghargaan John Newman. Tahun 1994, penghargaan prestisius, Nobel Ekonomi akhirnya ia raih untuk karyanya dalam Game Theory.

Oh ya, ada satu cerita menarik lagi terkait Medali Fields. Tahun 2006 seorang matematikawan Rusia, Grigori Perelman, dinyatakan berhak menerima hadiah yang dahulu pernah diidam-idamkan Nash itu. Tapi berbeda dengan Nash, karena alasan idealis, hadiah itu malahan ditolaknya! Seorang teman pernah cerita tentang Perelman di blognya, dan saya menulis komentar singkat disana bahwa bagi orang-orang tertentu, itu bukan cerita yang inspiratif. Orang-orang macam apa? Yah, tahu sendirilah: para pengikut dari seorang “pakar investasi” gadungan yang juga merupakan pengarang buku nomor dua yang paling sering saya kritisi setelah si “pakar evolusi” yang juga gadungan itu (tapi herannya, pakar-pakar gadungan ternyata punya banyak pengikut disini).

Moral cerita: jangan ngoyo mengejar mimpi-mimpi indah kita. Fokus pada impian, boleh saja. Memotivasi diri, itu juga bagus. Tapi jangan biarkan semuanya itu sampai merusak kehidupan nyata kita. Dan apabila suatu ketika impian itu berhasil diraih, mudah-mudahan kita masih punya kearifan untuk menilai, apakah diri kita memang betul-betul pantas memperolehnya. Semoga cukup jelas, kepada siapa paragraf ini akan saya dedikasikan ;).