<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Popularisasi Sains</title>
	<atom:link href="http://blog.dhani.org/2008/06/popularisasi-sains/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.dhani.org/2008/06/popularisasi-sains/</link>
	<description>Pendar-Pendar Kehidupan</description>
	<lastBuildDate>Wed, 25 Jan 2012 06:23:48 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
	<item>
		<title>By: Dhani</title>
		<link>http://blog.dhani.org/2008/06/popularisasi-sains/comment-page-1/#comment-2536</link>
		<dc:creator>Dhani</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 08 Jul 2010 13:18:39 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.dhani.org/?p=248#comment-2536</guid>
		<description>Soal kebetulan atau tidak, itu murni masalah interpretasi saja. Kita boleh menganggap mekanisme evolusi sebagai sebuah kebetulan, atau ada campur tangan Ilahi disana. Itu berpulang kepada keimanan kita masing2. Yang penting substansinya bahwa evolusi merupakan kenyataan yg benar2 terjadi. 


ps.
Saya ambil analogi dari kenyataan sehari2. Saya pertama kali bertemu dg calon isteri saya melalui serangkaian peristiwa yg tidak disengaja dan tidak disangka-sangka. Saya boleh saja beranggapan semua itu merupakan kebetulan atau sudah digariskan oleh Yang Diatas. Namun bagaimanapun anggapan saya, tidak akan mengubah jalan ceritanya. :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Soal kebetulan atau tidak, itu murni masalah interpretasi saja. Kita boleh menganggap mekanisme evolusi sebagai sebuah kebetulan, atau ada campur tangan Ilahi disana. Itu berpulang kepada keimanan kita masing2. Yang penting substansinya bahwa evolusi merupakan kenyataan yg benar2 terjadi. </p>
<p>ps.<br />
Saya ambil analogi dari kenyataan sehari2. Saya pertama kali bertemu dg calon isteri saya melalui serangkaian peristiwa yg tidak disengaja dan tidak disangka-sangka. Saya boleh saja beranggapan semua itu merupakan kebetulan atau sudah digariskan oleh Yang Diatas. Namun bagaimanapun anggapan saya, tidak akan mengubah jalan ceritanya. :)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Telapak kaki ibu</title>
		<link>http://blog.dhani.org/2008/06/popularisasi-sains/comment-page-1/#comment-2531</link>
		<dc:creator>Telapak kaki ibu</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 05 Jul 2010 07:23:54 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.dhani.org/?p=248#comment-2531</guid>
		<description>Perdebatan ini tdk fokus, ayolah fokus pd poin yg memang diperdebatkan, kreasionis mempermasalahkan the power of &quot;kebetulan&quot;nya. Itu dl yg di &quot;clear&quot; kan, trus sisanya sepertinya sia sia diperdebatkan krn sdh sesuai dgn biologi masa kini, krn sjk awal sdh dibangun diatas pondasi evolusi.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Perdebatan ini tdk fokus, ayolah fokus pd poin yg memang diperdebatkan, kreasionis mempermasalahkan the power of &#8220;kebetulan&#8221;nya. Itu dl yg di &#8220;clear&#8221; kan, trus sisanya sepertinya sia sia diperdebatkan krn sdh sesuai dgn biologi masa kini, krn sjk awal sdh dibangun diatas pondasi evolusi.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Korban perasaan</title>
		<link>http://blog.dhani.org/2008/06/popularisasi-sains/comment-page-1/#comment-2515</link>
		<dc:creator>Korban perasaan</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 16 Jun 2010 00:21:54 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.dhani.org/?p=248#comment-2515</guid>
		<description>Sudahlah, semua ada koridornya masing2, ilmuwan ya berekspresi scr ilmiah,  di sisi lain HY kan istilahnya menyimpulkan sains dgn mensejajarkannya dgn agama, tp ada video yg sy tonton, bhw stlh diuji, yg pertama kali tercipta adlh virus, dmn dia bth makhluk hdp lain sbg inang, jd ya ada suatu anomali, tp krn sdh terlanjur populer, mgkn buku2nya sdh menuhin perpustakaan, daripada use-less ya dicari2 yg betul, a.k.a. dibetul2in. Dan, sy pribadi menilainya, sains seakan slalu berusaha meniadakan Tuhan. Demikian.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sudahlah, semua ada koridornya masing2, ilmuwan ya berekspresi scr ilmiah,  di sisi lain HY kan istilahnya menyimpulkan sains dgn mensejajarkannya dgn agama, tp ada video yg sy tonton, bhw stlh diuji, yg pertama kali tercipta adlh virus, dmn dia bth makhluk hdp lain sbg inang, jd ya ada suatu anomali, tp krn sdh terlanjur populer, mgkn buku2nya sdh menuhin perpustakaan, daripada use-less ya dicari2 yg betul, a.k.a. dibetul2in. Dan, sy pribadi menilainya, sains seakan slalu berusaha meniadakan Tuhan. Demikian.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Dhani</title>
		<link>http://blog.dhani.org/2008/06/popularisasi-sains/comment-page-1/#comment-1758</link>
		<dc:creator>Dhani</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 04 Oct 2008 06:25:41 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.dhani.org/?p=248#comment-1758</guid>
		<description>@anti-dogma: coba search di blog ini dengan kata kunci &quot;harun yahya&quot;. Mudah-mudahan jelas bagi anda bagaimana posisi saya dalam isu ini. 

Btw, tulisan ini bukan bermaksud mendiskreditkan HY dkk. Saya cuma mengajak pembaca, mbok ya baca tulisan2 ilmiah beneran (buku2 teks akademis, paper yg dimuat di jurnal yg &quot;peer-reviewed&quot;) yg juga ditulis oleh ilmuwan benaran, baru kita bisa men-judge ttg suatu teori sains. Terlepas dari penulisnya scientist betulan (seperti Hawking atau Sagan) atau pseudo-scientist (seperti HY), buku2 sains yg telah dipopularisasi tidak layak dijadikan referensi, apalagi untuk kepentingan akademis. Begitu point yg ingin saya sampaikan disini (entah kalau anda menangkapnya secara berbeda).

Mengenai HY sendiri, kalau kita baca daftar pustaka di buku2nya, jelas kelihatan kalau beliau mengutip dari sumber2 non-akademis (website, majalah, buku populer, dsb) yg sebenarnya tidak kredibel. Ini juga merupakan satu nilai minus dari karya2 HY. </description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@anti-dogma: coba search di blog ini dengan kata kunci &#8220;harun yahya&#8221;. Mudah-mudahan jelas bagi anda bagaimana posisi saya dalam isu ini. </p>
<p>Btw, tulisan ini bukan bermaksud mendiskreditkan HY dkk. Saya cuma mengajak pembaca, mbok ya baca tulisan2 ilmiah beneran (buku2 teks akademis, paper yg dimuat di jurnal yg &#8220;peer-reviewed&#8221;) yg juga ditulis oleh ilmuwan benaran, baru kita bisa men-judge ttg suatu teori sains. Terlepas dari penulisnya scientist betulan (seperti Hawking atau Sagan) atau pseudo-scientist (seperti HY), buku2 sains yg telah dipopularisasi tidak layak dijadikan referensi, apalagi untuk kepentingan akademis. Begitu point yg ingin saya sampaikan disini (entah kalau anda menangkapnya secara berbeda).</p>
<p>Mengenai HY sendiri, kalau kita baca daftar pustaka di buku2nya, jelas kelihatan kalau beliau mengutip dari sumber2 non-akademis (website, majalah, buku populer, dsb) yg sebenarnya tidak kredibel. Ini juga merupakan satu nilai minus dari karya2 HY.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: anti-dogma</title>
		<link>http://blog.dhani.org/2008/06/popularisasi-sains/comment-page-1/#comment-1757</link>
		<dc:creator>anti-dogma</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 04 Oct 2008 05:40:50 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.dhani.org/?p=248#comment-1757</guid>
		<description>@dhani:
Oh ya? Bersikeras bahwa &quot;aliran&quot; kreasi &lt;b&gt;hanya&lt;/b&gt; berdasarkan agama, tanpa dukungan bukti ilmiah, apakah bukan dogma? Sementara (yg katanya) melalui proses ilmiah, namun tetap tak terbukti, tetap diterima sbg keilmiahan yg &quot;harus&quot; diterima dan menutup adanya kemungkinan teori lain, apakah bukan dogma?

Oh ya, tentang HY, semua org tau bahwa HY memang bukan scientist, pseudo-scientist kata Anda. Tapi HY gak membikin sendiri &quot;aliran&quot;-nya. Dia hanya berusaha menyimpulkan pendapat dan hasil observasi para peneliti lain (true scientiest?). Terlepas HY mengkombinasikannya dgn ajaran agama (Islam), tak membuat kesimpulannya jadi tak bernilai sains sama sekali. Sayang sekali, itu yg menjadi &quot;kelemahan&quot; metode HY.

Ah, sudahlah, paling Anda juga akan mencap saya another HY fans. Seolah-olah para pendukung &quot;aliran&quot; kreasi hanya HY and the gangs saja. Itu pun mungkin sudah terpatri di pikiran Anda. :D</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@dhani:<br />
Oh ya? Bersikeras bahwa &#8220;aliran&#8221; kreasi <b>hanya</b> berdasarkan agama, tanpa dukungan bukti ilmiah, apakah bukan dogma? Sementara (yg katanya) melalui proses ilmiah, namun tetap tak terbukti, tetap diterima sbg keilmiahan yg &#8220;harus&#8221; diterima dan menutup adanya kemungkinan teori lain, apakah bukan dogma?</p>
<p>Oh ya, tentang HY, semua org tau bahwa HY memang bukan scientist, pseudo-scientist kata Anda. Tapi HY gak membikin sendiri &#8220;aliran&#8221;-nya. Dia hanya berusaha menyimpulkan pendapat dan hasil observasi para peneliti lain (true scientiest?). Terlepas HY mengkombinasikannya dgn ajaran agama (Islam), tak membuat kesimpulannya jadi tak bernilai sains sama sekali. Sayang sekali, itu yg menjadi &#8220;kelemahan&#8221; metode HY.</p>
<p>Ah, sudahlah, paling Anda juga akan mencap saya another HY fans. Seolah-olah para pendukung &#8220;aliran&#8221; kreasi hanya HY and the gangs saja. Itu pun mungkin sudah terpatri di pikiran Anda. :D</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Dhani</title>
		<link>http://blog.dhani.org/2008/06/popularisasi-sains/comment-page-1/#comment-1749</link>
		<dc:creator>Dhani</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 30 Sep 2008 06:43:16 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.dhani.org/?p=248#comment-1749</guid>
		<description>@anti-dogma: yang saya kritisi cuma metodologinya koq. Dalam sains, soal kebenaran adalah masalah pembuktian bukan sekedar keyakinan. Hanya ada dua hal yang bisa kita jadikan pegangan: eksperimen dan observasi. Apa-apa yang sesuai dg keduanya kita terima, yang tidak sesuai kita tolak. Kebenaran mungkin saja ada di sisi lain, tapi kalau kita meyakini sesuatu secara buta tanpa memerlukan adanya pembuktian, nah itulah yang namanya dogma. </description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@anti-dogma: yang saya kritisi cuma metodologinya koq. Dalam sains, soal kebenaran adalah masalah pembuktian bukan sekedar keyakinan. Hanya ada dua hal yang bisa kita jadikan pegangan: eksperimen dan observasi. Apa-apa yang sesuai dg keduanya kita terima, yang tidak sesuai kita tolak. Kebenaran mungkin saja ada di sisi lain, tapi kalau kita meyakini sesuatu secara buta tanpa memerlukan adanya pembuktian, nah itulah yang namanya dogma.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: anti-dogma</title>
		<link>http://blog.dhani.org/2008/06/popularisasi-sains/comment-page-1/#comment-1748</link>
		<dc:creator>anti-dogma</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 30 Sep 2008 00:27:57 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.dhani.org/?p=248#comment-1748</guid>
		<description>Hehehe... bung Dhani, lama2 sikap Anda seperti org2 yg Anda &quot;kritisi&quot; itu. :P Membela dgn berbagai cara dan membiarkan diri jadi korban dogma. Membutakan diri dan menutup hati bahwa bukan tidak mungkin kebenaran justru ada di sisi &quot;lawan&quot;. Pada akhirnya tetap bertahan dalam versi &quot;kebenaran&quot;-nya sendiri, atas nama gengsi? Gak semua ilmuwan bisa legowo untuk mengakui kesalahan dan &quot;kekalahan&quot;. ;)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Hehehe&#8230; bung Dhani, lama2 sikap Anda seperti org2 yg Anda &#8220;kritisi&#8221; itu. :P Membela dgn berbagai cara dan membiarkan diri jadi korban dogma. Membutakan diri dan menutup hati bahwa bukan tidak mungkin kebenaran justru ada di sisi &#8220;lawan&#8221;. Pada akhirnya tetap bertahan dalam versi &#8220;kebenaran&#8221;-nya sendiri, atas nama gengsi? Gak semua ilmuwan bisa legowo untuk mengakui kesalahan dan &#8220;kekalahan&#8221;. ;)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: MaIDeN</title>
		<link>http://blog.dhani.org/2008/06/popularisasi-sains/comment-page-1/#comment-1705</link>
		<dc:creator>MaIDeN</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 14 Sep 2008 21:47:09 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.dhani.org/?p=248#comment-1705</guid>
		<description>@Dhani,

&lt;blockquote&gt;Peserta olimpiade astronomi misalnya, juga tidak semuanya melanjutkan studi di jurusan astronomi atau berkarir jadi astronom. Ini yang sangat disayangkan.&lt;/blockquote&gt;

Yang disayangkan pemikiran jadi astronom itu madesu, masa depan suram. Padahal kan ,....... emang iya :D ..... barangkali.....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@Dhani,</p>
<blockquote><p>Peserta olimpiade astronomi misalnya, juga tidak semuanya melanjutkan studi di jurusan astronomi atau berkarir jadi astronom. Ini yang sangat disayangkan.</p></blockquote>
<p>Yang disayangkan pemikiran jadi astronom itu madesu, masa depan suram. Padahal kan ,&#8230;&#8230;. emang iya :D &#8230;.. barangkali&#8230;..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Dhani</title>
		<link>http://blog.dhani.org/2008/06/popularisasi-sains/comment-page-1/#comment-1325</link>
		<dc:creator>Dhani</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 29 Jun 2008 08:39:06 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.dhani.org/?p=248#comment-1325</guid>
		<description>@Ivie: Sebenarnya tidak ada yang salah dg popularisasi sains. Tapi masyarakat juga perlu disadarkan bahwa sains yang sebenarnya itu sangat berbeda dg versi populer yg sering mereka baca, dan bahwa literatur sains populer tidak selamanya bisa dijadikan rujukan, apalagi untuk keperluan akademis. 

Soal olimpiade2 sains yg sedang marak itu, saya rasa juga memang kebablasan. Mungkin awalnya terinspirasi oleh olimpiade fisika-nya pak Yohanes Surya, jadi semua bidang studi akhirnya juga sibuk membentuk tim olimpiadenya sendiri2. Padahal dalam kasus olimpiade fisika, event itu cuma dipakai sebagai &#039;batu loncatan&#039; saja untuk menjaring bibit2 fisikawan Indonesia masa depan. Dengan berkesempatan mengikuti - atau sukur2 bisa dapat medali - di ajang ini, peluang mendapat beasiswa di perguruan tinggi favorit di luar negeri jadi terbuka. 

Sayangnya, sejauh yg saya amati, olimpiade untuk bidang studi lain cuma berorientasi prestise semata, tanpa memperhitungkan mau kemana si-anak nantinya. Peserta olimpiade astronomi misalnya, juga tidak semuanya melanjutkan studi di jurusan astronomi atau berkarir jadi astronom. Ini yang sangat disayangkan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@Ivie: Sebenarnya tidak ada yang salah dg popularisasi sains. Tapi masyarakat juga perlu disadarkan bahwa sains yang sebenarnya itu sangat berbeda dg versi populer yg sering mereka baca, dan bahwa literatur sains populer tidak selamanya bisa dijadikan rujukan, apalagi untuk keperluan akademis. </p>
<p>Soal olimpiade2 sains yg sedang marak itu, saya rasa juga memang kebablasan. Mungkin awalnya terinspirasi oleh olimpiade fisika-nya pak Yohanes Surya, jadi semua bidang studi akhirnya juga sibuk membentuk tim olimpiadenya sendiri2. Padahal dalam kasus olimpiade fisika, event itu cuma dipakai sebagai &#8216;batu loncatan&#8217; saja untuk menjaring bibit2 fisikawan Indonesia masa depan. Dengan berkesempatan mengikuti &#8211; atau sukur2 bisa dapat medali &#8211; di ajang ini, peluang mendapat beasiswa di perguruan tinggi favorit di luar negeri jadi terbuka. </p>
<p>Sayangnya, sejauh yg saya amati, olimpiade untuk bidang studi lain cuma berorientasi prestise semata, tanpa memperhitungkan mau kemana si-anak nantinya. Peserta olimpiade astronomi misalnya, juga tidak semuanya melanjutkan studi di jurusan astronomi atau berkarir jadi astronom. Ini yang sangat disayangkan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Olimpiade, Prestasi atau Prestise? &#124; SimplyVie</title>
		<link>http://blog.dhani.org/2008/06/popularisasi-sains/comment-page-1/#comment-1324</link>
		<dc:creator>Olimpiade, Prestasi atau Prestise? &#124; SimplyVie</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 29 Jun 2008 01:08:48 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.dhani.org/?p=248#comment-1324</guid>
		<description>[...] untuk prestasi ? ataukah prestise bagi sekelompok orang? Olimpiade yang dikatakan sebagai ajang populerisasi sains pun semakin diragukan.. populerisasi untuk siapa? siswa berprestasi ? Sekolah berduit? Pemda [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] untuk prestasi ? ataukah prestise bagi sekelompok orang? Olimpiade yang dikatakan sebagai ajang populerisasi sains pun semakin diragukan.. populerisasi untuk siapa? siswa berprestasi ? Sekolah berduit? Pemda [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

