Bianglala


Popularisasi Sains

Posted in Education, Science by Dhani on the June 29th, 2008

Pertanyaannya sekarang, apakah sains harus dijadikan semacam tontonan olahraga, dimana semua orang bisa menikmati pertandingan di lapangan tanpa harus berpayah-payah memeras keringat di tengah arena pertandingan?

Sains memang bukan sepakbola. Tapi kadang-kadang bisa jadi lebih buruk lagi. Kita sering jengkel melihat komentator di televisi yang bercuap-cuap tentang kesalahan yang dilakukan, baik pemain maupun pelatih tim yang berlaga di lapangan hijau. Mereka bicara sambil duduk nyaman di ruang studio ber-AC, sementara orang-orang yang dikritisi nyaris kehabisan napas mengejar bola di tengah lapangan yang terik. Tapi paling tidak sang komentator adalah orang yang punya kompetensi, bahkan mungkin cukup berpengalaman sebagai bintang di lapangan hijau. Sementara itu, komementator sains yang tidak pernah masuk laboratorium malahan bisa menulis berjilid-jilid buku biologi. Ajaib!

Bahkan buku-buku seperti yang ditulis Carl Sagan, atau Stephen Hawking sekalipun, bukanlah buku sains yang sesungguhnya. Buku-buku itu adalah bacaan sains yang telah dipopularisasi dengan menghilangkan bagian paling fundamental namun sekaligus paling dibenci khalayak pembaca awam: persamaan matematis.

Mungkin agak mengejutkan kalau sejumlah ilmuwan yang aktif dalam upaya popularisasi sains justeru beroleh pandangan negatif dari komunitas mereka sendiri. Sebagian ilmuwan menganggap buku maupun artikel sains populer sebagai bacaan yang menyesatkan. Dengan menghilangkan pemaparan secara matematis, pembaca hanya akan disodori hasil tanpa tahu bagaimana proses yang sesungguhnya. Akibatnya, pembaca merasa seolah-olah mengerti, padahal yang diketahui cuma sebatas “kulit” saja.

Di sisi lain, ilmuwan tidaklah hidup di menara gading. Adalah suatu kewajiban bagi mereka untuk menyebarkan disiplin yang ditekuninya kepada masyarakat awam. Bukankan riset mereka didanai antara lain dari pajak yang dibayar oleh masyarakat? Sudah selayaknya khalayak mengetahui apa saja yang telah dilakukan para ilmuwan dengan uang mereka. Disinilah letak dilemanya.

Tapi diluar itu, dunia sains juga sering dihebohkan dengan kehadiran para “badut” yang mendompleng kerja para ilmuwan. Aneh memang, melihat seseorang yang mungkin belum pernah sekalipun masuk ke laboratorium biologi, atau mungkin sekedar melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana rupa fosil yang sesungguhnya, tahu-tahu menulis buku tentang biologi evolusi, lengkap dengan bantahan-bantahan “meyakinkan” tentang kekeliruan suatu teori mainstream. Orang awam manggut-manggut mengiyakan, ilmuwan betulan malahan geleng-geleng kepala, prihatin.

Orang tidak akan bisa menjadi pemain sepakbola yang baik hanya dengan duduk di kursi penonton. Orang tidak akan pernah jadi pakar astronomi atau fisika hanya dengan membaca Sagan atau Hawking. Dan seseorang tidak akan pernah mengerti soal pernak-pernik evolusi hanya dengan membaca Harun Yahya.

8 Responses to 'Popularisasi Sains'

Subscribe to comments with RSS or TrackBack to 'Popularisasi Sains'.

  1. ivie said,

    on June 29th, 2008 at 1:13 am

    jadi deja vi mas baca tulisan ini. .. tp kadang mungkin populerisasi sains juga menempatkan pelaku2nya jd tontonan publik dan dieksploitasi? Dunno.. siapa tau di masa depan atau2 ada pemilihan peserta olimpiade favorit atau mungkin pemilihan ilmuwan ala AFI or Mama Mia or Indonesia Idol. who knows…

    populerisasi sains itu penting dalam kaitan menjembatani ilmuwan dan masyarakat. Namun kadang ada yg bisa jadi kebablasan dan melihat itu sebagai ajang untuk mendapatkan popularitas dan duit….

  2. on June 29th, 2008 at 8:08 am

    [...] untuk prestasi ? ataukah prestise bagi sekelompok orang? Olimpiade yang dikatakan sebagai ajang populerisasi sains pun semakin diragukan.. populerisasi untuk siapa? siswa berprestasi ? Sekolah berduit? Pemda [...]

  3. Dhani said,

    on June 29th, 2008 at 3:39 pm

    @Ivie: Sebenarnya tidak ada yang salah dg popularisasi sains. Tapi masyarakat juga perlu disadarkan bahwa sains yang sebenarnya itu sangat berbeda dg versi populer yg sering mereka baca, dan bahwa literatur sains populer tidak selamanya bisa dijadikan rujukan, apalagi untuk keperluan akademis.

    Soal olimpiade2 sains yg sedang marak itu, saya rasa juga memang kebablasan. Mungkin awalnya terinspirasi oleh olimpiade fisika-nya pak Yohanes Surya, jadi semua bidang studi akhirnya juga sibuk membentuk tim olimpiadenya sendiri2. Padahal dalam kasus olimpiade fisika, event itu cuma dipakai sebagai ‘batu loncatan’ saja untuk menjaring bibit2 fisikawan Indonesia masa depan. Dengan berkesempatan mengikuti – atau sukur2 bisa dapat medali – di ajang ini, peluang mendapat beasiswa di perguruan tinggi favorit di luar negeri jadi terbuka.

    Sayangnya, sejauh yg saya amati, olimpiade untuk bidang studi lain cuma berorientasi prestise semata, tanpa memperhitungkan mau kemana si-anak nantinya. Peserta olimpiade astronomi misalnya, juga tidak semuanya melanjutkan studi di jurusan astronomi atau berkarir jadi astronom. Ini yang sangat disayangkan.

  4. MaIDeN said,

    on September 15th, 2008 at 4:47 am

    @Dhani,

    Peserta olimpiade astronomi misalnya, juga tidak semuanya melanjutkan studi di jurusan astronomi atau berkarir jadi astronom. Ini yang sangat disayangkan.

    Yang disayangkan pemikiran jadi astronom itu madesu, masa depan suram. Padahal kan ,……. emang iya :D ….. barangkali…..

  5. anti-dogma said,

    on September 30th, 2008 at 7:27 am

    Hehehe… bung Dhani, lama2 sikap Anda seperti org2 yg Anda “kritisi” itu. :P Membela dgn berbagai cara dan membiarkan diri jadi korban dogma. Membutakan diri dan menutup hati bahwa bukan tidak mungkin kebenaran justru ada di sisi “lawan”. Pada akhirnya tetap bertahan dalam versi “kebenaran”-nya sendiri, atas nama gengsi? Gak semua ilmuwan bisa legowo untuk mengakui kesalahan dan “kekalahan”. ;)

  6. Dhani said,

    on September 30th, 2008 at 1:43 pm

    @anti-dogma: yang saya kritisi cuma metodologinya koq. Dalam sains, soal kebenaran adalah masalah pembuktian bukan sekedar keyakinan. Hanya ada dua hal yang bisa kita jadikan pegangan: eksperimen dan observasi. Apa-apa yang sesuai dg keduanya kita terima, yang tidak sesuai kita tolak. Kebenaran mungkin saja ada di sisi lain, tapi kalau kita meyakini sesuatu secara buta tanpa memerlukan adanya pembuktian, nah itulah yang namanya dogma.

  7. anti-dogma said,

    on October 4th, 2008 at 12:40 pm

    @dhani:
    Oh ya? Bersikeras bahwa “aliran” kreasi hanya berdasarkan agama, tanpa dukungan bukti ilmiah, apakah bukan dogma? Sementara (yg katanya) melalui proses ilmiah, namun tetap tak terbukti, tetap diterima sbg keilmiahan yg “harus” diterima dan menutup adanya kemungkinan teori lain, apakah bukan dogma?

    Oh ya, tentang HY, semua org tau bahwa HY memang bukan scientist, pseudo-scientist kata Anda. Tapi HY gak membikin sendiri “aliran”-nya. Dia hanya berusaha menyimpulkan pendapat dan hasil observasi para peneliti lain (true scientiest?). Terlepas HY mengkombinasikannya dgn ajaran agama (Islam), tak membuat kesimpulannya jadi tak bernilai sains sama sekali. Sayang sekali, itu yg menjadi “kelemahan” metode HY.

    Ah, sudahlah, paling Anda juga akan mencap saya another HY fans. Seolah-olah para pendukung “aliran” kreasi hanya HY and the gangs saja. Itu pun mungkin sudah terpatri di pikiran Anda. :D

  8. Dhani said,

    on October 4th, 2008 at 1:25 pm

    @anti-dogma: coba search di blog ini dengan kata kunci “harun yahya”. Mudah-mudahan jelas bagi anda bagaimana posisi saya dalam isu ini.

    Btw, tulisan ini bukan bermaksud mendiskreditkan HY dkk. Saya cuma mengajak pembaca, mbok ya baca tulisan2 ilmiah beneran (buku2 teks akademis, paper yg dimuat di jurnal yg “peer-reviewed”) yg juga ditulis oleh ilmuwan benaran, baru kita bisa men-judge ttg suatu teori sains. Terlepas dari penulisnya scientist betulan (seperti Hawking atau Sagan) atau pseudo-scientist (seperti HY), buku2 sains yg telah dipopularisasi tidak layak dijadikan referensi, apalagi untuk kepentingan akademis. Begitu point yg ingin saya sampaikan disini (entah kalau anda menangkapnya secara berbeda).

    Mengenai HY sendiri, kalau kita baca daftar pustaka di buku2nya, jelas kelihatan kalau beliau mengutip dari sumber2 non-akademis (website, majalah, buku populer, dsb) yg sebenarnya tidak kredibel. Ini juga merupakan satu nilai minus dari karya2 HY.

Leave a Reply