Popularisasi Sains
Pertanyaannya sekarang, apakah sains harus dijadikan semacam tontonan olahraga, dimana semua orang bisa menikmati pertandingan di lapangan tanpa harus berpayah-payah memeras keringat di tengah arena pertandingan?
Sains memang bukan sepakbola. Tapi kadang-kadang bisa jadi lebih buruk lagi. Kita sering jengkel melihat komentator di televisi yang bercuap-cuap tentang kesalahan pemain maupun pelatih yang berlaga di lapangan hijau. Mereka bicara sambil duduk nyaman di ruang studio ber-AC, sementara orang-orang yang mereka komentari nyaris kehabisan napas mengejar bola di tengah lapangan yang terik. Tapi paling tidak sang komentator adalah orang yang punya kompetensi, bahkan mungkin cukup berpengalaman sebagai bintang di lapangan hijau. Sementara itu, komementator sains yang tidak pernah masuk laboratorium malahan bisa menulis berjilid-jilid buku biologi. Ajaib!
Bahkan buku-buku seperti yang ditulis Carl Sagan, atau Stephen Hawking sekalipun, bukanlah buku sains yang sesungguhnya. Buku-buku itu adalah bacaan sains yang telah dipopularisasi dengan menghilangkan bagian paling fundamental namun sekaligus paling dibenci khalayak pembaca awam: persamaan matematis.
Mungkin agak mengejutkan kalau sejumlah ilmuwan yang aktif dalam upaya popularisasi sains justeru beroleh pandangan negatif dari komunitas mereka sendiri. Sebagian ilmuwan menganggap buku maupun artikel sains populer sebagai bacaan yang menyesatkan. Dengan menghilangkan pemaparan secara matematis, pembaca hanya akan disodori hasil tanpa tahu bagaimana proses yang sesungguhnya. Akibatnya, pembaca merasa seolah-olah mengerti, padahal yang diketahui cuma sebatas “kulit” saja.
Di sisi lain, ilmuwan tidaklah hidup di menara gading. Adalah suatu kewajiban bagi mereka untuk menyebarkan disiplin yang ditekuninya kepada masyarakat awam. Bukankan riset mereka didanai antara lain dari pajak yang dibayar oleh masyarakat? Sudah selayaknya khalayak mengetahui apa saja yang telah dilakukan para ilmuwan dengan uang mereka. Disinilah letak dilemanya.
Tapi diluar itu, dunia sains juga sering dihebohkan dengan kehadiran para “badut” yang mendompleng kerja para ilmuwan. Aneh memang, melihat seseorang yang mungkin belum pernah sekalipun masuk ke laboratorium biologi, atau mungkin sekedar melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana rupa fosil yang sesungguhnya, tahu-tahu menulis buku tentang biologi evolusi, lengkap dengan bantahan-bantahan “meyakinkan” tentang kekeliruan suatu teori mainstream. Orang awam manggut-manggut mengiyakan, ilmuwan betulan malahan geleng-geleng kepala, prihatin.
Orang tidak akan bisa menjadi pemain sepakbola yang baik hanya dengan duduk di kursi penonton. Orang tidak akan pernah jadi pakar astronomi atau fisika hanya dengan membaca Sagan atau Hawking. Dan seseorang tidak akan pernah mengerti soal pernak-pernik evolusi hanya dengan membaca Harun Yahya.
Boson Higgs
Mata para fisikawan teori sekarang sedang mengarah ke Swiss. Bukan, ini bukan soal sepakbola. Sebuah instrumen raksasa berjuluk Large Hadron Collider (LHC), yang terletak di dekat kota Jenewa, di perbatasan Swiss-Prancis, dalam waktu dekat ini akan dinyalakan, dan sebuah eksperimen bersejarah akan segera digelar.
Dalam Struktur berbentuk cincin dengan keliling 27 km yang terbenam 50 hingga 175 meter dibawah tanah, dua pancaran partikel subatomik ditembakkan ke arah yang berlawanan, dan saling bertumbukan satu sama lain dalam kecepatan mendekati kecepatan cahaya. Partikel-partikel itu akan memancarkan bunga api kecil dari energi primordial, menciptakan kembali keadaan saat alam semesta baru berusia kurang dari sepersetriliun detik. Tujuannya: menelisik keberadaan “partikel Dewa”, Boson Higgs yang hingga kini masih misterius.
Sebagai satu-satunya partikel dalam model standar fisika partikel yang belum pernah teramati, pemahaman terhadap boson Higgs akan menjelaskan bagaimana elemen partikel tak bermassa mampu membentuk massa pada materi. Massa partikel elementer, beserta perbedaan antara elektromagnetisme (yang disebabkan oleh foton) dan daya lemah (yang dibawa oleh boson W dan Z) adalah hal kritikal dalam banyak aspek dalam dunia mikroskopik (dan juga makroskopik), dan dengan demikian memiliki peran yang signifikan dalam dunia sekeliling kita.
Elektromagnetisme menjelaskan bagaimana partikel berinteraksi dengan foton. Dengan cara yang sama pula, gaya lemah menjelaskan bagaimana dua entitas, boson W dan Z, berinteraksi dengan elektron, quark, neutrino, dkk. Satu perbedaan penting diantara kedua interaksi tersebut: foton tidak memiliki massa sementara W dan Z memiliki massa sangat besar, bahkan merupakan partikel paling massif yang diketahui sejauh ini.
Kecenderungan awal adalah mengasumsikan bahwa W dan Z memang eksis dan berinteraksi dengan partikel elementer lainnya. Namun dengan alasan matematis, massa W dan Z yang demikian besar akan mengakibatkan inkonsistensi pada model standar. Jalan keluarnya: harus ada setidaknya satu partikel lain yang belum dikenal. Boson Higgs yang dipostulatkan oleh fisikawan Inggris, Peter Higgs pada 1964 (bersama-sama dengan François Englert and Robert Brout) sangat mungkin merupakan jawabannya.
Teori yang paling sederhana memprediksi hanya satu boson, namun teori lain menyatakan mungkin ada beberapa. Faktanya, pencarian terhadap partikel (atau partikel-partikel) ini merupakan salah satu riset paling menarik di jagat fisika partikel. Riset ini dapat membawa kepada penemuan yang betul-betul baru dalam disiplin ini. Sebagian fisikawan berspekulasi bahwa riset ini akan membuahkan interaksi kuat yang sepenuhnya baru, bahkan tidak menutup kemungkinan dapat menyingkap keberadaan simetri fisika fundamental, “supersimetri”.
Dalam pencarian boson Higgs, proton dan anti-proton berenergi sangat-sangat tinggi dilontarkan dan saling bertumbukan dalam kecepatan tinggi pula. Apabila energi dari tumbukan itu cukup besar, maka partikel itu akan terpecah menjadi potongan yang lebih fundamental, yang salah satunya mungkin adalah boson Higgs. Partikel ini akan eksis hanya selama sepersekian detik sebelum akhirnya meluruh menjadi partikel lain. Para periset harus mengais-ngais bukti keberadaan boson Higgs dari partikel-partikel yang dihasilkan.
Sedianya pencarian ini akan dilakukan pada akselerator SSC (Superconducting Supercolider) yang rencananya akan dibangun di Waxahachie, texas, AS, dengan biaya selangit: setara 20 triliun rupah. Proyek raksasa ini akhirnya dibatalkan oleh Senat AS pada 1993 setelah melalui perdebatan panjang selama bertahun-tahun. Harapan satu-satunya kini digantungkan pada tim Eropa dengan LHC-nya. Energi tumbukan yang dihasilkan pada LHC hanya sekitar 1/4 energi SSC, namun dengan biaya pembangunan hanya 1/5 biaya SSC, LHC merupakan pilihan yang lebih ekonomis.
Apakah boson Higgs nantinya bakal teramati? Kita tunggu saja pada “putaran final” di Jenewa beberapa waktu lagi :).