Boy Soprano dan Boys’ Choir
Ini tradisi kuno kebanggaan Eropa yang masih bertahan hingga kini. Bagi sebagian besar orang, boys’ choir sering diidentikkan dengan kegiatan peribadatan di gereja. Karena itu, tidak aneh kalau saban saya memutar CD dari Vienna Boys’ Choir misalnya, selalu saja ada yang salah paham lantas menegur saya. Tergantung siapa yang menegur, maka saya biasanya memilih salah satu, atau sekaligus dua jawaban berikut: (1) Itu bukan lagu gereja, cuma lagu anak-anak atau lagu tradisional dari negara-negara Eropa, entah Prancis, Jerman, Skot atau whatever. (2) kalau lagu gereja memangnya kenapa?
Tradisi boys’ choir memang dimulai dari lingkungan gereja abad pertengahan di Eropa. Saat itu, perempuan masih belum dibenarkan untuk menyanyikan liturgi (lagu pujian) dalam peribadatan di gereja. Untuk menggantikan fungsi suara sopran perempuan, dipilihlah anak-anak laki-laki yang suaranya belum “pecah”. Secara individual, mereka disebut sebagai boy soprano (istilah lainnya adalah treble soloist), sementara apabila mereka menyanyi bersama dalam sebuah koor, istilahnya adalah boys’ choir.
Kebiasaan ini kemudian juga ditiru oleh Yahudi ortodoks. Karena doktrin mereka mengharamkan kaum laki-laki untuk mendengar suara perempuan menyanyi, maka boy soprano dijadikan alternatif untuk membawakan nyanyian yg memerlukan suara sopran. Walaupun tidak banyak dikenal, ada juga sejumlah kelompok boys’ choir yang berangkat dari tradisi Yahudi, salah satunya adalah kelompok Yeshiva Boys’ Choir.
Belakangan, boy soprano juga dilibatkan dalam karya-karya non-liturgi, alias sekular. Karya semacam Carmina Burana dari Carl Orff misalnya, juga menyertakan beberapa bagian yang dibawakan oleh boys choir. Sejumlah opera, seperti Bastien und Bastienne karya Mozart, juga lazim dibawakan oleh boy soprano. Sebagai catatan, Mozart sendiri semasa kecilnya juga pernah menjadi anggota Vienna Boys’ Choir, yang merupakan kelompok boys’ choir terpopuler hingga kini.
Saat ini tradisi boys choir di Eropa terbagi dua, antara kelompok choir religius dan sekular. Kelompok semacam Vienna Boys’ Choir, yang beberapa kali pernah saya tulis disini, tergolong kelompok choir sekular, dalam artian tidak bernaung dibawah gereja maupun kelompok keagamaan tertentu – walaupun di Indonesia mereka mungkin lebih dikenal melalui CD lagu-lagu natal.
Di masa lampau, para boy soprano yang suaranya dianggap bagus sering “dipaksa” untuk mempertahankan karakter suaranya itu. Yang mengerikan, seringkali anak-anak ini (maaf) dikebiri sebelum memasuki masa akil balig. Prosesnya sangat beresiko. Kebanyakan anak akan meninggal tidak lama setelahnya, umumnya karena infeksi berat. Tapi yang selamat, akan jadi penyanyi idola baru, tidak kalah dengan bintang rock jaman sekarang (istilah untuk penyanyi semacam ini adalah castrato).
Tapi syukurlah, sejak akhir abad ke-18 praktek seperti ini tidak lagi dilakukan. Sebagai gantinya, laki-laki yang sudah akil balig dengan latihan dan teknik khusus masih bisa menyanyi dengan suara sopran.
Dahulu anak laki-laki umumnya bisa tetap menyanyi dengan suara sopran secara natural sampai usia 16-17 tahun. Komponis Johann Sabastian Bach misalnya, tercatat pernah menjadi boy soprano sampai menjelang usia 16 tahun. Tapi di jaman sekarang, suara anak laki-laki biasanya sudah pecah di usia 13-14 tahun. Anak-anak sekarang cenderung lebih cepat memasuki masa akil balig ketimbang dulu. Karena itu, kelompok seperti Vienna Boys’ Choir hanya mempertahankan anggotanya hingga mencapai usia 14 tahun atau sampai suaranya berubah (tergantung mana yang duluan). Kelompok lainnya, seperti Libera, masih menyertakan beberapa anak berusia 16 tahunan untuk mengisi suara alto.
Di era Perang Dunia II, tradisi boys’ choir di Eropa, terutama di negara-negara berbahasa Jerman pernah dimanfaatkan oleh Hitler sebagai salah satu alat propaganda NAZI . Dalam beberapa film propaganda NAZI, sering muncul adegan anak-anak yang menyanyikan lagu-lagu patriotik berbahasa Jerman. Sejarah mencatat, direktur Vienna Boys Choir di masa itu, Josef Schnitt, sempat dipenjara oleh NAZI karena menolak kelompok choir asuhannya dilibatkan dalam propaganda mereka.
Sebagai sebuah tradisi yang sudah berjalan berabad-abad, sejumlah kelompok boys’ choir di Eropa terlah berusia sangat lanjut. Kelompok Vienna Boys’ Choir telah bernyanyi selama 500 tahun lebih. Cukup lama, namun itu baru setengah dari usia kelompok Regensburger Domspatzen asal kota Regensburg, Jerman, yang telah melampaui bilangan 1000 tahun! (bandingkan dengan boysband jaman sekarang yang hanya beberapa tahun mencapai popularitas dan lantas dilupakan orang).
Hingga kini, direktori online boys soloist telah mencatat lebih dari 700 boys’ choir dari seluruh dunia. Indonesia sendiri, sejauh yang saya tahu tidak punya kelopok boys’ choir resmi, kecuali mungkin paduan suara gereja. Tapi kita punya Paduan Suara Anak Indonesia (PSAI), yang cukup dikenal secara Internasional. Kelompok paduan suara yang dipimpin oleh Aida Swenson Simandjuntak (putri Alfred Simanjuntak, pencipta lagu Bangun “Pemudi-Pemuda”) ini telah memenangkan berbagai perlombaan internasional dan memenuhi undangan dari beberapa negara, seperti Jerman, Polandia, Amerika dan Jepang.
PSAI beranggotakan anak laki-laki dan perempuan (mayoritas anak perempuan) mulai usia SD hingga 19 tahun. Waktu terakhir kali kelopok Vienna Boys’ Choir tampil di Indonesia, sekitar tahun 1996, kedua kelompok ini sempat tampil bersama-sama. Saya menyesal tidak sempat menyaksikan konser mereka. Menurut teman-teman yang ikut menonton, kolaborasi mereka cukup unik, karena kelompok Vienna Boys’ Choir yg seluruhnya laki-laki suaranya cukup bervibrasi sementara PSAI yg anggotanya kebanyakan perempuan suaranya umumnya relatif datar. Waktu itu mereka membawakan beberapa lagu daerah Indonesia (Sudah menjadi tradisi bagi Vienna Boys’ Choir untuk membawakan lagu tradisional negara yang disinggahinya).
Kalau kelompok Vienna Boys’ Choir terkenal dengan seragam ala pelaut, sementara Libera dengan kostum seperti biarawan, maka PSAI memiliki “seragam” khas, yakni pakaian tradisional dari berbagai daerah di Indonesia.
Mayday!
Beberapa waktu lalu saya sempat menonton tayangan dokumenter di saluran National Geographics mengenai investigasi musibah jatuhnya pesawat Silk Air 185 Rute Jakarta-Singapura di Sungai Musi, Palembang, 19 Desember 1997. Yang menarik bagi saya, kelihatannya ada kemiripan antara kasus Silk Air 185 dengan Adam Air 574 PK-KKW yang hilang di laut Majene awal tahun lalu. Kalau kita baca laporan investigasi KNKT terhadap peristiwa itu, jelas pesawat telah jatuh menghujam ke arah laut dengan kecepatan tinggi, mirip seperti yang dialami oleh Silk Air 185.
Laporan KNKT sendiri menyebutkan bahwa musibah Adam 574 terjadi karena terpecahnya perhatian pilot yang terkonsentrasi pada upaya memperbaiki kerusakan pada instrumen Innertial Reference System (ILS) sehingga tidak menyadari bahwa autopilot telah disengaged. Akibatnya pesawat miring secara perlahan, dan akhirnya mencapai suatu titik dimana pesawat menjadi tak terkendali dan mengalami kerusakan struktur.
Tapi alih-alih menimpakan kesalahan sepenuhnya pada kelalaian pilot, kita perlu juga melihat sisi lain dari peristiwa nahas ini. Untungnya kecelakaan pesawat umumnya terdokumentasi dengan baik, sehingga dari satu peristiwa kita seharusnya bisa menarik pelajaran dari sana.
Dalam kasus Silk Air 185 penyelidikan terhadap CVR dan FDR tidak memberikan data yang berarti, karena kedua instrumen tersebut secara misterius mati (dimatikan?) beberapa menit sebelum pesawat celaka. Hal ini mengarah ke dugaan aksi bunuh diri oleh sang pilot. Hasil investigasi KNKT sendiri tidak mencantumkan penyebab pasti kecelakaan tersebut.
Tapi sebagian orang punya pendapat lain. Berkaca dari kasus-kasus yang melibatkan pesawat sejenis (dalam hal ini Boeing 737), maka ada dugaan bahwa musibah Silk Air ini terjadi akibat apa yang dikenal sebagai “rudder hardover”. Ringkasnya, ini adalah kejadian bilamana perangkat Rudder Power Control Unit (PCU) yang berfungsi menyalurkan minyak hidrolik bertekanan tinggi ke kemudi rudder (sirip ekor) mengalami kemacetan. Apabila hal ini terjadi, maka rudder akan bergerak maksimal kekiri sehingga pesawat berguling cepat kekanan, dan kemudian akan menghujam kebawah.
Wikipedia mencatat sejumlah kecelakaan yang menyangkut rudder pada pesawat jenis Boeing 737, diantaranya adalah United Airlines 585 di Colorado (3 Maret 1991), USAir 427 di Pittsburgh (8 September 1994), dan Eastwind Airlines 517 (9 Juni 1996). Yang terakhir ini, untungnya, tidak berakhir fatal karena pilot berhasil menyelamatkan pesawat dengan bertindak tepat sesuai arahan Flight Manual.
Peristiwa jatuhnya Adam 574 sendiri sepintas sangat mirip dengan insiden-insiden lain yang melibatkan rudder hardover. Kalau kita lihat pola pergerakan pesawat selama 130 detik terakhir yang terekam oleh FDR (ada di halaman 42 pada laporan KNKT), nampak tidak jauh berbeda dengan pola jatuhnya pesawat akibat rudder hardover (terjadi bank angle yang diikuti gerakan menghujam ke bawah). Sepintas dugaan terjadinya rudder hardover cukup masuk akal.
Tapi di pihak lain, kalau kita perhatikan lebih teliti, grafik itu justeru tidak merekam pergerakan rudder yang terlalu mencolok. Tambahan lagi, rudder hardover tidak biasanya terjadi saat pesawat cruising, melainkan umumnya pada saat descent atau approach, dengan pola pergerakan pesawat yang sedikit berbeda dengan yang terekam pada FDR Adam 574. Bank angle akibat rudder hardover berlangsung secara sangat cepat dan mendadak, sedangkan pada Adam 574, bank angle terjadi secara perlahan dengan rate sekitar 1 derajat per detik. Dugaan ini juga makin sulit dibuktikan akibat sedikitnya serpihan Adam 574 yang berhasil ditemukan. Peristiwa rudder hardover baru bisa dibuktikan apabila ditemui perubahan temperatur yang cukup besar yang ditandai dengan masukan cairan hidrolik yang cukup kotor ke rudder PCU. So, seperti halnya kasus Silk Air 185, musibah Adam 574 juga masih belum bisa dipastikan terjadi akibat masalah pada rudder.
Tapi sebagai catatan saja, para operator pesawat seri Boeing 737 telah diwajibkan untuk mengganti perangkat Rudder PCU yang cacat dengan batas waktu hingga tanggal 12 November 2008 (rudder hardover pada B737 sendiri ditengarai terjadi karena cacat bawaan pada Rudder PCU yang dibuat oleh perusahaan Parker Hannifin).
Ada satu pertanyaan lagi, setelah auto pilot disengaged, kenapa pilot tidak menyadari kemiringan pesawat?
Penyebabnya kemungkinan besar karena pilot mengalami spatial disorientation, kehilangan persepsi terhadap arah akibat ketiadaan referensi visual seperti horison atau tanda-tanda alamiah lainnya. Hal ini juga diduga menjadi salah satu penyebab musibah Flash Air 604 di Mesir tahun 2004 lalu (investigasinya juga pernah ditayangkan di National Geographic Channel).
Sekarang pertanyaan kuncinya, bagaimana dengan para penumpang Adam 574 — yang jasadnya tidak pernah ditemukan hingga sekarang? Sedihnya, nasib mereka kelihatannya tidak berbeda jauh dengan penumpang Silk Air 185. Impact di air sebenarnya jauh lebih fatal daripada di darat (itu sebabnya kenapa olahraga Power Boating jauh lebih berbahaya ketimbang balap mobil Formula 1). Dalam kasus Silk Air 185, potongan tubuh terbesar yang berhasil ditemukan adalah cabikan kulit punggung yang diidentifikasi berasal dari seorang anak kecil berusia 9 tahun berkebangsaan Jerman… ![]()