Buku ini, Sejarah Singkat dari Masa Depan (Edisi Inggris: A Brief History of the Future), boleh dibilang merupakan bagian dari usaha sang penulis, John Naughton, sebagai akademisi dan juga praktisi, dalam menjelaskan kepada kalangan awam tentang apa itu internet, dan bagaimana ia berkembang hingga mencapai bentuknya yang sekarang.

Tapi buku ini bukan sekedar buku sejarah, melainkan juga cerminan antusiasme penulisnya pada teknologi. Di bab-bab awal, Naughton banyak memberikan sentuhan pribadi: dimulai dari minatnya terhadap komunikasi radio di masa kecilnya di pedalaman Irlandia, ketika komunikasi dengan dunia luar nan jauh adalah suatu kemewahan. Dari sini kisahnya bergulir dengan asyik; pembaca mulai diajak menelusuri asal muasal pemanfaatan komputer, mulai dari era ENIAC hingga era Linux, mulai dari ARPAnet hingga World Wide Web. Semuanya ditulis dengan jernih dan kaya akan detail.

Internet, menurut Naughton, adalah salah satu mahakarya terbesar dari abad 20, namun siapa-siapa saja yang terlibat dalam pengembangannya saat ini nyaris terlupakan. Naughton merunutnya mulai dari kampus MIT di era 1930-an, dimana benih gagasan tentang web mulai disemaikan oleh Vannavar Bush, Norbert Weiner, dan J.C.R Licklieder, hingga gagasan tentang teknologi packet switching oleh Paul Baran serta TCP/IP oleh Vinton Cerf, yang kesemuanya ini memberi kontribusi teramat besar atas internet dalam bentuk yang kita kenal sekarang.

Selanjutnya, di bab-bab akhir, Naughton mengeksplorasi etos kerja gerakan open source yang bertumbuh di kalangan para programmer yang bekerja dalam jaringan internet, serta world wide web rintisan Tim Berners-Lee yang kelak memegang peranan kunci dalam popularisasi internet di luar kalangan akademisi.

Sebagai buku sejarah teknologi, buku ini memberikan porsi yang seimbang antara ulasan tentang isu-isu teknis seputar perkembangan sains komputer dan aspek-aspek sosial dari teknologi yang relatif baru ini. Taruhlah soal ekses negatif dari pemanfaatan internet: merebaknya situs-situs asusila, maupun penyebar kebencian dan permusuhan. Juga soal sensor dan pakar gadungan. Semua itu bukanlah hal baru dalam sejarah internet, namun buku ini setidaknya bisa memberi perspektif lain terhadap hal-hal tersebut.

Untuk pembaca yang tidak terlalu akrab dengan teknologi, Naughton tidak segan-segan menjelaskan hal-hal teknis yang rumit, semacam teknologi packet switching dan TCP/IP, melalui metafora yang gampang dipahami. Juga tersedia glosari bagi yang tidak terbiasa dengan terminologi teknis.

Waktu buku ini pertama kali ditulis, sekitar akhir 1990-an, istilah blog belum seberapa dikenal. Begitu pula Google, Wikipedia, atau Youtube. Hal ini mungkin menyebabkan pembaca yang baru mengenal internet beberapa tahun belakangan akan menganggap buku ini sedikit “ketinggalan jaman”. Namun di sisi lain hal ini turut memberikan gambaran, bagaimana internet hingga kini terus berkembang dengan dinamis dalam kecepatan yang mengagumkan.

Secara umum, buku ini adalah salah satu referensi paling komplit tentang sejarah internet yang pernah saya baca. Hanya saja, satu hal yang saya sayangkan adalah kualitas terjemahan dalam bahasa Indonesia yang kurang bagus. Saya belum pernah membaca buku ini dalam edisi bahasa Inggris, tetapi membaca beberapa kalimat dalam buku ini memberi kesan kalau kalimat-kalimat tersebut diterjemahkan secara tidak semestinya. Juga, saya tidak menemukan nomor ISBN dari buku ini, yang membuat saya ragu mengenai keabsahan edisi terjemahan yang diterbitkan oleh Interaksara, Batam, ini.