Bianglala


Chernobyl

Posted in Science by Dhani on the April 26th, 2008

26 April. Tepat 22 tahun berlalu sejak musibah meledaknya reaktor PLTN Chernobyl, Ukraina. Sebuah kecelakaan nuklir terburuk dan paling fatal dalam sejarah. Ketikkan “Chernobyl” pada pencarian Google. Sudah, saya tidak perlu lagi bercerita tentang peristiwa itu. Sekarang persoalannya, amankah reaktor nuklir kalau dibangun di Indonesia?

Jangan paranoid dulu dong! Musibah Chernobyl bukan terjadi begitu saja, melainkan lewat serangkaian kombinasi berbagai penyebab. Peristiwa sial itu berawal dari eksperimen yang dilakukan secara sangat sembrono, dengan tidak kurang dari 5 kesalahan fatal, dan dua kali pengambilan keputusan yang keliru. Plus kemacetan batang kendali darurat, tepat pada saat petugas berusaha mematikan reaktor. Kombinasi sempurna untuk pembuka petaka. (Pelajaran moral pertama: satu bencana besar diawali oleh serentetan kesalahan fatal. Jangan mengambil kesimpulan hanya dari melihat produk akhir).

Lantas, kenapa harus nuklir? Jawabannya gampang ditebak. Persediaan bahan bakar fosil, minyak bumi dan batubara, terus menipis, sementara harga minyak terus meroket. Energi terbarukan nampaknya masih belum memenuhi skala ekonomis. Energi matahari misalnya, hanya bisa dipakai dalam skala kecil. PLTA sudah dipakai beberapa lama, tapi kalau kita dilanda kemarau panjang, lantas debit air turun, malahan tekor; energi geotermal (panas bumi) bakal bertabrakan dg persoalan lingkungan.

Lihat saja propinsi Bali. Tidak punya cadangan bahan bakar fosil, baik dalam bentuk minyak maupun batubara. Tidak pula air terjun besar, atau sungai besar yang alirannya bisa dibendung untuk memutar turbin. Satu-satunya sumber energi yang tersedia, geotermal, sepertinya tidak akan bisa dimanfaatkan karena alasan adat dan kelestarian lingkungan. Lantas bagaimana dong?

Biofuel? Yang benar saja. Sudah tahu tidak kalau harga minyak goreng sekarang ikut-ikutan melambung? Itu akibatnya kalau bahan yang sedianya sebagai produk pangan malahan dialih fungsikan sebagai bahan bakar.

Hingga saat ini, energi nuklir masih merupakan alternatif yang relatif “murah” dan efisien. Sebagai bayangan, kalau pembakaran 1 kg batubara berkualitas baik cuma menghasilkan energi panas sekitar 7,2 kilo-kalori, maka energi fisi yg dibebaskan 1 kg uranium bisa mencapai 19 x 109 kilo-kalori.

Yang jadi soal, kita sudah terlanjur terperangkap pada anggapan bahwa nuklir (keluarga uranium) termasuk barang berbahaya. Anggapan ini tidak salah, hanya saja perlu diingat bahwa pemanfaatan nuklir untuk membuat, katakanlah, bom atom dengan untuk pembangkit tenaga listrik jelas berbeda. Bom atom memerlukan uranium dengan kemurnian hingga diatas 90%, sementara untuk PLTN, tidak sampai 30%. Kalau ditangani dengan benar relatif tidak berbahaya. Yang berbahaya itu jika terjadi kelalaian sehingga mengakibatkan reaksi tak terkendali seperti kasus Chernobyl barusan. (Pelajaran moral kedua: Walaupun sama-sama nuklir, PLTN tidak sama dengan bom atom)

Lagu lama yang selalu diputar ulang dalam wacana pernukliran di Indonesia adalah soal Sumber Daya Manusia, baik dalam tahapan konstruksi reaktor hingga operasionalnya kelak. Akankan SDM Indonesia mampu membangun mengoperasikan sebuah PLTN secara aman?

Dari segi konstruksi, pembangunan Fasilitas Nuklir (dalam hal ini PLTN) selalu dilakukan dibawah pengawasan Internasional yang sangat ketat. Standarnya sudah baku dan tidak bisa ditawar. Sekiranya Indonesia jadi membangun PLTN, maka yang akan membangun reaktornya bukan kita sendiri, melainkan perusahaan asing yang spesialisasinya memang dalam konstruksi reaktor nuklir. Analoginya seperti pembangunan landas pacu pada bandar udara. Apa pernah kita mendengar tentang pesawat yang tergelincir karena kesalahan konstruksi landasan pacu?

Tentang PLTN itu sendiri ada berbagai macam jenisnya. Sedikit bicara teknis, dari sisi keamanan misalnya, ada reaktor yang memiliki koefiesen reaktivitas positif (+) dan ada yang memiliki koefisien reaktivitas negatif (-). Yang (+) berarti, bila daya naik, reaktivitasnya juga akan ikut naik. Yang (-) berarti bila daya naik, reaktivitasnya akan turun.

Reaktivitas sendiri adalah semacam ukuran jumlah neutron yang dihasilkan dalam reaktor tersebut. Kita tahu, reaksi berantai dalam reaktor bersumber pada neutron yang dihasilkan dari reaksi fisi sebelumnya. Bila jumlah neutron yang dihasilkan pada periode sekarang (t+1) lebih banyak dari periode sebelumnya (t), maka dikatakan reaktivitasnya positif, dan karenanya bisa memicu lebih banyak reaksi fisi, dan otomatis akan meningkatkan daya (panas) reaktor. Hal yang berkebalikan terjadi pada reaktivitas (-).

Nah, kembali ke koefisien reaktivitas. Reaktor Chernobyl adalah reaktor yang memiliki koefisien reaktivitas (+), dimana apabila terjadi kenaikan daya (panas) pada reaktor, maka hal ini akan meningkatkan produksi neutron pada reaktor itu. Jadi, Semacam lingkaran setan, hal yang satu akan meningkatkan yang lain. Neutron banyak akan meningkatkan panas; panas banyak semakin meningkatkan produksi neutron. Dengan kata lain, kehilangan pendingin justeru akan menyebabkan kenaikan daya.

So, kalau tidak kepingin kasus Chernobyl terulang, kita dapat memilih tipe reaktor yang inherent safety (memiliki koefisien reaktivitas (-) salah satunya). Lantas, perlu diingat juga bahwa sistem pengamanan sekarang tentu saja sudah lebih canggih ketimbang dua dekade lalu. Pada reaktor modern, apabila terjadi kelebihan daya (seperti yang memicu musibah Chernobyl), maka reaktor akan shutdown secara otomatis.

Tapi bagaimana dengan SDM yang akan mengoperasikannya? Ya, memang banyak yang mesti diperbaiki dari etos kerja bangsa kita. Tapi secara logika saja, para operator di PLTN adalah manusia juga; punya keluarga yang menyayangi dan disayangi, dan tentu saja tidak kepingin mati muda karena radiasi. Secara pribadi, saya masih optimis bahwa diantara 220 juta penduduk negeri ini, masih ada sekian manusia lurus, dengan dedikasi tinggi, dan pikiran waras, yang mampu mengelola PLTN. (Pelajaran moral ketiga: jangan terlalu sering baca koran, atau Anda akan selalu berpikiran skeptik terhadap bangsa sendiri).

Indonesia, suatu saat nanti, cepat atau lambat, suka atau tidak suka harus mulai melangkah ke penggunaan tenaga nuklir sebagai sumber energi alternatif. Saya setuju kalau kendala pengoperasian PLTN di Indonesia bukan soal teknologi tapi SDM. Cuma, kalau melihat perkembangan sekarang, saya khawatir kita memang tidak punya banyak pilihan lagi.

10 Responses to 'Chernobyl'

Subscribe to comments with RSS or TrackBack to 'Chernobyl'.

  1. dewa said,

    on April 26th, 2008 at 9:46 am

    inget mas, indonesia saat ini belum menjadi negara hukum, tapi masih negara politik. lihat saja gonjang-ganjing negri ini! semua diputuskan dengan pertimbangan politik, lihat saja kasus suharto. sejujur dan sehebat apapun pengelola pltn Indonesia ketika jadi dibangun, tetep saja akan berbahaya. misalnya, pengeluaran untuk pengelolaan PLTN murah, tapi untuk mengisi perut laknat rakus pejabat dan aparat, jauh lebih mahal.
    kita sudah merasakan akibat dari arah kebiujakan pembangunan yang salah arah selama 32 tahun masa orde baru. masak kita akan berlari untuk masuk jurang lagi? P)LTN hanya untuk mengisi perut rakus pejabat dan pemodal yang kalao belum modar (jadi bangkai) tidak akan kenyang. Ente lihat betapa Rakusnya pejabat kita, Pemerintah menggalakkan hemat energi, tapi disisi lain mau membangung jalan Tol Trans Jawa. jalan tol akan di lalui oleh mobil-mobil; pribadi, perhari ribuan mobil menggunakan jasa tol tersebut. berapa ribu liter perhari gas yang dihabiskan oleh mobil yang menggunakan jalan TOL tersebut? padahaal mereka bisa dalam perjalanannya menggumnakan kereta api atau jkapal terbang yang lebih bisa menghemat energi.
    membengun PLTN sama dengan mengisi kain sarung dengan air, gak bakalan penuh, itulah perut koruptor.

  2. afdi said,

    on May 1st, 2008 at 7:31 am

    PLTN itu solusi yang bagus banget, ditambah lagi keadaan minyak yang semakin menipis. Bahan bakar fosil seperti minyak, gas alam, dan batubara adalah termasuk SDA yang tidak dapat diperbaharui, ditambah lagi polusi yang dihasilkan, efek rumah kaca yang menyebabkan meningginya suhu udara juga disebabkan gas buangan reaksi pembakaran bahan fosil. Sementara nuklir dapat memberikan energi yang sangat besar, dan tidak menghasilkan banyak polusi, dari satu reaksi fisi saja dapat dihasilkan banyak sekali energi. saya berharap pemerintah akan memberikan perhatian yang besar dalam proyek raksasa ini.

  3. sufehmi said,

    on May 2nd, 2008 at 5:56 am

    Menarik waktu kemarin ini saya menemukan artikel wawancara dengan seorang manta aktivis Greenpeace, dia juga mendukung penggunaan reaktor nuklir untuk membangkitkan listrik.

    Pertanyaan saya, soal gempa bagaimana ya? Apakah berarti PLTN hanya bisa dibangun di daerah yang cenderung lebih stabil, seperti Kalimantan ?

  4. dhani said,

    on May 2nd, 2008 at 10:29 am

    @Sufehmi: Rencananya, Indonesia akan membangun PLTN di daerah kaki gunung Muria, Jawa Tengah. Dalam persyaratan IAEA, sebuah reaktor bisa disebut aman jika berjarak minimal 5 km dari patahan (sesar) terdekat. Calon lokasi PLTN Muria sendiri berjarak sekitar 10 km dari patahan terdekat.

    Kawasan Semenanjung Muria sendiri diketahui relatif stabil dibanding tempat lain di Jawa-Bali. Peluang gempa dan letusan gunung di sini memang tidak benar2 nol (kalau tepat sama dengan nol ya jelas tidak ada di Bumi ini), tapi secara relatif paling rendah dibanding daerah lain di Jawa-Bali. Kenapa Jawa-Bali? Sebab di sinilah konsumsi listriknya paling banyak.

    Secara teori, daerah Kalimantan Barat memang lebih stabil dibanding Semenanjung Muria. Tapi andaikata PLTN dibangun disini dan listriknya disalurkan ke Jawa ya sama juga bohong :) . Ini sama saja seperti masalah PLTU berbahan bakar batubara, apakah batubaranya mau dibakar di mulut tambang (di Sumatra) atau dikapalkan ke Jawa (ke Suralaya/Paiton). Hitung2an kasar ternyata memperlihatkan lebih murah membangun PLTU-nya di Jawa dengan bahan bakar dikapalkan ke sana ketimbang dimulut tambang. Transmisinya itu (katanya) yang mahal.

    Secara geologis, daerah gunung Muria ini berada pada zona subduksi Sumatera, dimana ada pola perulangan gempa besar pada satu blok batuan (segmen) sebesar rata-rata 200 tahun sekali. Tapi itu juga banyak syaratnya. Diantaranya, blok batuan itu harus fully locked dan tidak ada perubahan pada antar batuan dalam kedua lempeng yang saling berkontak. Dulu, di tahun 1867, Jawa Tengah pernah dilanda gempa dengan skala 8 MMI. Jadi, kalau kita masukkan perulangan 200 tahun itu, maka gempa besar 8 MMI baru akan terjadi lagi di sekitar 2067. Itu juga dengan catatan apabila segmen yang bergerak sama. Tapi plus minusnya berapa tahun kita tidak tahu, karena kegempaan di sini kompleks sekali.

    Di sisi lain, umur konstruksi reaktor biasanya hanya sekitar 40-50 tahunan, maksimal 60 tahunan. Sebuah reaktor – dalam standar IAEA – dibangun agar bisa menahan getaran berintensitas 8 MMI atau lebih. Termasuk juga intensitas teredam yang kemungkinan muncul dari batuan dasar tempat reaktor berdiri. Dus, soal pengaruh gempa pada reaktor (khususnya PLTN Muria ini) saya rasa tidak perlu terlalu dikhwatirkan.

  5. emkaha said,

    on May 2nd, 2008 at 11:59 pm

    ikutan lomba speedy competition yuk
    tengok web site : http://speedycompetition.wordpress.com/

  6. on June 1st, 2008 at 8:17 pm

    walah, teknis sekali mas. jadi menarik.

    btw, memangnya apa yang salah dengan koran kita, mas? sepertinya apriori sekali pada koran

  7. dhani said,

    on June 1st, 2008 at 10:42 pm

    @Zulfikar Hakim: Bukan apriori koq. Tidak ada yang salah dengan koran kita. Tapi, seperti prinsip media berita manapun juga, “bad news is a good news”. Kalau terlalu sering membaca “bad news” dari koran, otomatis mindset kita jadi terpengaruh. Kalau tiap hari kita baca koran, isinya cuma kasus korupsi, kriminal, bencana alam, dsb., kesannya seolah2 negara ini sudah tidak ada harapan lagi. Padahal kalau kita mau melihat ke sekeliling kita, kan keadaannya tidak seseram itu.

    Mudah2an maksud saya bisa tertangkap. :)

  8. sudah punya PLTN said,

    on August 30th, 2008 at 10:56 am

    :) Indonesia sudah punya PLTN. Tinggal dipasangi GENERATOR listrik. Isu mengenai aspek IPOLEKSOSBUDHANKAM kayaknya sudah rampung toh… Instalasinya ada di PUSPIPTEK Serpong. Semua aspek tentang PLTN sudah dipelajari dan diatasi di Serpong. Mari kita rayakan kepercayaan akan kemampuan Indonesia selama puluhan tahun. Argumentasinya ada di pltnforpeace.wordpress.com (urun pendapat… :) )

  9. mev said,

    on September 3rd, 2008 at 8:34 am

    SDM buat mengoperasikan PLTN….????Hmm…menurut saya Indonesia dah mampu kok…Pernah liat orang-orang yang kerja di PRSG BATAN Serpong….??RSG-GAS yang teknologinya didesain mirip dengan PLTN ini dioperasikan oleh orang2 yang cukup profesional kok…Para pekerja disana bener2 mengutamakan safety….ya tau sendiri lah kalo mereka kerjanya g profesional yang rugi kan mereka sendiri….

  10. on July 23rd, 2009 at 2:49 am

    bicara mengenai nuklir memang syarat akan manfaat,nuklir itu luas sekali. aplikasinya dalam berbagai bidang sangat membantu sekali. mudah-mudahan masyarakat kita sadar akan manfaat ini

    kita harus melihat permasalahn nuklir ini secara objektif,segala aspek ada positif negatif. ada yang menolak karena hanya melihat aspek negatifnya saja.
    tapi manfaat nuklir itu sangant banyak.

    mau bukti? kunjungi kami

Leave a Reply