26 April. Tepat 22 tahun berlalu sejak musibah meledaknya reaktor PLTN Chernobyl, Ukraina. Sebuah kecelakaan nuklir terburuk dan paling fatal dalam sejarah. Ketikkan “Chernobyl” pada pencarian Google. Sudah, saya tidak perlu lagi bercerita tentang peristiwa itu. Sekarang persoalannya, amankah reaktor nuklir kalau dibangun di Indonesia?

Jangan paranoid dulu dong! Musibah Chernobyl bukan terjadi begitu saja, melainkan lewat serangkaian kombinasi berbagai penyebab. Peristiwa sial itu berawal dari eksperimen yang dilakukan secara sangat sembrono, dengan tidak kurang dari 5 kesalahan fatal, dan dua kali pengambilan keputusan yang keliru. Plus kemacetan batang kendali darurat, tepat pada saat petugas berusaha mematikan reaktor. Kombinasi sempurna untuk pembuka petaka. (Pelajaran moral pertama: satu bencana besar diawali oleh serentetan kesalahan fatal. Jangan mengambil kesimpulan hanya dari melihat produk akhir).

Lantas, kenapa harus nuklir? Jawabannya gampang ditebak. Persediaan bahan bakar fosil, minyak bumi dan batubara, terus menipis, sementara harga minyak terus meroket. Energi terbarukan nampaknya masih belum memenuhi skala ekonomis. Energi matahari misalnya, hanya bisa dipakai dalam skala kecil. PLTA sudah dipakai beberapa lama, tapi kalau kita dilanda kemarau panjang, lantas debit air turun, malahan tekor; energi geotermal (panas bumi) bakal bertabrakan dg persoalan lingkungan.

Lihat saja propinsi Bali. Tidak punya cadangan bahan bakar fosil, baik dalam bentuk minyak maupun batubara. Tidak pula air terjun besar, atau sungai besar yang alirannya bisa dibendung untuk memutar turbin. Satu-satunya sumber energi yang tersedia, geotermal, sepertinya tidak akan bisa dimanfaatkan karena alasan adat dan kelestarian lingkungan. Lantas bagaimana dong?

Biofuel? Yang benar saja. Sudah tahu tidak kalau harga minyak goreng sekarang ikut-ikutan melambung? Itu akibatnya kalau bahan yang sedianya sebagai produk pangan malahan dialih fungsikan sebagai bahan bakar.

Hingga saat ini, energi nuklir masih merupakan alternatif yang relatif “murah” dan efisien. Sebagai bayangan, kalau pembakaran 1 kg batubara berkualitas baik cuma menghasilkan energi panas sekitar 7,2 kilo-kalori, maka energi fisi yg dibebaskan 1 kg uranium bisa mencapai 19 x 109 kilo-kalori.

Yang jadi soal, kita sudah terlanjur terperangkap pada anggapan bahwa nuklir (keluarga uranium) termasuk barang berbahaya. Anggapan ini tidak salah, hanya saja perlu diingat bahwa pemanfaatan nuklir untuk membuat, katakanlah, bom atom dengan untuk pembangkit tenaga listrik jelas berbeda. Bom atom memerlukan uranium dengan kemurnian hingga diatas 90%, sementara untuk PLTN, tidak sampai 30%. Kalau ditangani dengan benar relatif tidak berbahaya. Yang berbahaya itu jika terjadi kelalaian sehingga mengakibatkan reaksi tak terkendali seperti kasus Chernobyl barusan. (Pelajaran moral kedua: Walaupun sama-sama nuklir, PLTN tidak sama dengan bom atom)

Lagu lama yang selalu diputar ulang dalam wacana pernukliran di Indonesia adalah soal Sumber Daya Manusia, baik dalam tahapan konstruksi reaktor hingga operasionalnya kelak. Akankan SDM Indonesia mampu membangun mengoperasikan sebuah PLTN secara aman?

Dari segi konstruksi, pembangunan Fasilitas Nuklir (dalam hal ini PLTN) selalu dilakukan dibawah pengawasan Internasional yang sangat ketat. Standarnya sudah baku dan tidak bisa ditawar. Sekiranya Indonesia jadi membangun PLTN, maka yang akan membangun reaktornya bukan kita sendiri, melainkan perusahaan asing yang spesialisasinya memang dalam konstruksi reaktor nuklir. Analoginya seperti pembangunan landas pacu pada bandar udara. Apa pernah kita mendengar tentang pesawat yang tergelincir karena kesalahan konstruksi landasan pacu?

Tentang PLTN itu sendiri ada berbagai macam jenisnya. Sedikit bicara teknis, dari sisi keamanan misalnya, ada reaktor yang memiliki koefiesen reaktivitas positif (+) dan ada yang memiliki koefisien reaktivitas negatif (-). Yang (+) berarti, bila daya naik, reaktivitasnya juga akan ikut naik. Yang (-) berarti bila daya naik, reaktivitasnya akan turun.

Reaktivitas sendiri adalah semacam ukuran jumlah neutron yang dihasilkan dalam reaktor tersebut. Kita tahu, reaksi berantai dalam reaktor bersumber pada neutron yang dihasilkan dari reaksi fisi sebelumnya. Bila jumlah neutron yang dihasilkan pada periode sekarang (t+1) lebih banyak dari periode sebelumnya (t), maka dikatakan reaktivitasnya positif, dan karenanya bisa memicu lebih banyak reaksi fisi, dan otomatis akan meningkatkan daya (panas) reaktor. Hal yang berkebalikan terjadi pada reaktivitas (-).

Nah, kembali ke koefisien reaktivitas. Reaktor Chernobyl adalah reaktor yang memiliki koefisien reaktivitas (+), dimana apabila terjadi kenaikan daya (panas) pada reaktor, maka hal ini akan meningkatkan produksi neutron pada reaktor itu. Jadi, Semacam lingkaran setan, hal yang satu akan meningkatkan yang lain. Neutron banyak akan meningkatkan panas; panas banyak semakin meningkatkan produksi neutron. Dengan kata lain, kehilangan pendingin justeru akan menyebabkan kenaikan daya.

So, kalau tidak kepingin kasus Chernobyl terulang, kita dapat memilih tipe reaktor yang inherent safety (memiliki koefisien reaktivitas (-) salah satunya). Lantas, perlu diingat juga bahwa sistem pengamanan sekarang tentu saja sudah lebih canggih ketimbang dua dekade lalu. Pada reaktor modern, apabila terjadi kelebihan daya (seperti yang memicu musibah Chernobyl), maka reaktor akan shutdown secara otomatis.

Tapi bagaimana dengan SDM yang akan mengoperasikannya? Ya, memang banyak yang mesti diperbaiki dari etos kerja bangsa kita. Tapi secara logika saja, para operator di PLTN adalah manusia juga; punya keluarga yang menyayangi dan disayangi, dan tentu saja tidak kepingin mati muda karena radiasi. Secara pribadi, saya masih optimis bahwa diantara 220 juta penduduk negeri ini, masih ada sekian manusia lurus, dengan dedikasi tinggi, dan pikiran waras, yang mampu mengelola PLTN. (Pelajaran moral ketiga: jangan terlalu sering baca koran, atau Anda akan selalu berpikiran skeptik terhadap bangsa sendiri).

Indonesia, suatu saat nanti, cepat atau lambat, suka atau tidak suka harus mulai melangkah ke penggunaan tenaga nuklir sebagai sumber energi alternatif. Saya setuju kalau kendala pengoperasian PLTN di Indonesia bukan soal teknologi tapi SDM. Cuma, kalau melihat perkembangan sekarang, saya khawatir kita memang tidak punya banyak pilihan lagi.