Tepatnya Windows Vienna :). Atau Windows 7. Ini adalah nama sistem operasi baru Microsoft yang “digadang-gadang” sebagai calon penerus Windows Vista. Btw, posting ini bukan bagian dari serial kota-kota di Austria loh. Soal itu lebih baik disimpan untuk blogger lain saat Piala Eropa digelar nanti (saya bukan maniak bola, sayangnya).
“So, do you Vista?” “No, I don’t.” Nggak ada Vista-Vistaan, setidaknya dalam waktu dekat ini.
Microsoft sendiri mengaku penjualan Windows Vista sejauh ini laris manis. Tapi fakta di lapangan kelihatannya berbeda. Banyak user (termasuk saya) yang lebih suka bertahan dengan windows XP ketimbang mengupgrade ke Vista. Di Vista, 1 GB RAM senilai dengan 128 MB RAM untuk Windows XP, 16 MB untuk Windows 95, atau bahkan 4 MB untuk Windows 3.1 (kalau ada yang masih ingat dengan versi Windows ini). Sudah tahu artinya kan? Perlu sumber daya yang lebih besar untuk pekerjaan yang relatif sama.
Bayangkan, spasi hard disk 15 GB dan memory 1 GB habis terpakai hanya untuk OS. Untuk aplikasi jelas perlu RAM lebih besar lagi (kecuali kita pasang Vista cuma untuk main Solitaire doang). Parahnya lagi, software yang sama akan memerlukan RAM lebih besar untuk dijalankan diatas Vista dibandingkan XP. Editor video Pinnacle 11 yang di platform XP hanya meminta RAM 512 MB, di Vista malahan menuntut 1 GB (sementara itu OS nya sudah minta jatah 1 GB sendiri). Alamaak!
Yang menarik sebenarnya adalah langkah Microsoft untuk merilis Windows Vienna alias Windows 7 ini pada paruh kedua tahun depan, atau hanya berselang 3 tahun sejak merilis windows Vista. Microsoft biasanya merilis versi mayor dari OS nya setiap 5-6 tahun, dengan diselingi versi minor tiap 2-3 tahun. Lantas dimana posisi Windows Vienna alias Windows 7 ini nantinya? Akankah versi ini akan menjadi perbaikan minor dari Windows Vista (seperti halnya Windows 98), atau jangan-jangan ini merupakan bagian dari rencana Microsoft untuk segera “membunuh” Windows XP?
Beberapa website, termasuk Wikipedia, menyebutkan bahwa Windows 7 sebenarnya disiapkan sejak tahun 2000-an sebagai penerus Windows XP beserta versi servernya, Windows Server 2003. Versi yang semula disebut dengan nama kode Blackcomb ini rencananya akan dirilis pada 2005. Tapi belakangan proyek Blackcomb tertunda. Microsoft malahan disibukkan dengan versi perbaikan untuk Windows XP — dikenal sebagai Windows XP Service Pack 2 (SP2). Selepas itu, Microsoft memutuskan menggeber pengembangan Longhorn, yang tidak lain adalah Windows Vista sekarang.
Sejumlah fitur yang semula disiapkan untuk Vista, diantaranya sistem file baru berjuluk WinFS dan dukungan terhadap piranti HD DVD, ternyata urung dipaket, dan baru akan dipasang pada Blackcomb. Belakangan Microsoft mengganti nama kode pengembangan dari Blackcomb menjadi Vienna. Akhirnya, tanggal 20 Juli 2007 Microsoft mengumumkan Windows 7 sebagai nama resmi untuk produk anyar mereka itu, diikuti dengan penentuan “ancar-ancar” rilisnya, yakni sekitar akhir tahun 2009 (tapi tentunya kita tidak perlu berharap banyak. Bukan Microsoft namanya kalau tanpa penundaan jadwal rilis.)
Kalau dilihat dari riwayat kemunculannya, saya malahan jadi curiga kalau sebenarnya Windows Vista hanyalah produk antara sebelum produk yang betul-betul stabil dirilis. Sepintas perubahan dari XP ke Vista tidaklah seradikal pergantian Windows 98 ke XP, atau bahkan Windows 3.1 ke Windows 95 misalnya. Diluar fitur-fitur baru yg disertakan, Windows Vista tidak lebih dari Windows XP dengan inrterface Aero dan fitur sekuriti kelas paranoid. Kesemuanya itu harus dibayar mahal dengan kelambanan proses akibat konsumsi sumber daya yang rakus.
Hal lain yang banyak disorot dari Vista adalah “fitur” DRM, Digital Rights Management (a.k.a Digital Restriction Management). Ini sebenarnya bukan fitur, melainkan langkah mundur Microsoft yang berusaha membuat hal-hal yang tadinya sederhana dan mudah menjadi sulit dan rumit.
Saya jadi teringat dengan Windows Me, yang tidak lebih dari produk antara yang gagal; usaha sia-sia Microsoft untuk mengisi celah pasar sebelum dirilisnya Windows XP. So, dilihat dari segi cost-benefit, sementara ini saya tidak melihat ada untungnya untuk cepat-cepat beralih ke Vista. Mendingan tetap dengan XP (dual boot dengan OpenSUSE Linux) sambil menunggu seperti apa Windows 7 nantinya. Kata orang sono: “If it ain’t broke, don’t fix it.”



by enggar
14 Feb 2008 at 22:10
Hm, mas Dhani, ta’ kirain Vienna beneran :).
by doeljoni
17 Feb 2008 at 23:39
Microsoft juga butuh makan bos :D kalo semua orang stagnan di windows XP, besok-besok microsoft makan apa ?
Masak roti sama garam doang ?
Makanya di ciptakan windows vista,
Bentar lagi juga windows xp akan dicitrakan out of date, dinosaurus, tua bangka dan pikun.
Biar orang pada beli vista (atau apapun itu nantinya), dan masuklah gemerincing dolar ke microsoft … hahahaha…
by dedaunan
18 Feb 2008 at 08:11
Terimakasih telah berkunjung. Inin adalah kunjungan balik. :-)
Semoga sukses.
by doeljoni
18 Feb 2008 at 08:15
loh? commentku sebelumnya ndak masuk ya ? Moderate?
by dhani
18 Feb 2008 at 09:56
@Enggar: Vienna beneran lagi sibuk siap2 menggelar Piala Eropa :).
@Doeljoni: Microsoft memang terus berusaha meningkatkan produk2 mereka. Itu tidak salah. Tapi fitur2 baru di Vista itu IMHO, “bukan untuk semua orang”.
@Dedaunan: Trims atas kunjungannya.
@All: Maaf, komentar2 yang dimoderasi baru sempat saya approve sekarang.
by ech
23 Feb 2008 at 09:01
Sama, belum mau pindah ke Vista. buat saya, faktor performance dan kompatibilitas dengan aplikasi (yang saya pakai sehari-hari) adalah top priority.
by ase
03 Mar 2008 at 16:05
iya mending pkai xp za dah cukup koq
by omega8719
13 Mar 2008 at 14:56
Tapi kalau ada dana berlebih, sebaiknya coba juga Mac OS X Leopard. Lebih mak nyuss tuh OS.
Windows? Jadikan pembantu.
Mac adalah istri.
by didod
15 Apr 2008 at 19:01
Yup, XP is the right choice right now…
Btw… jadi penasaran juga ya.. kaya apa sih si Vienna-nya Mr. Gates
by Jagonya Maping
09 Jun 2008 at 11:01
alasan ke vista ??
Game Donk !!
sia sia aia xeon X5450 Apacher 8G (Ati HD2600 punya ndiri) kalo gak buat nyoba directx 10 nya Crysis !!
mumpung bos ke semarang n studio tutup sementara, gak ada yang nge-Map n Proyektor kantor nganggur, sementara konci gua yang megang, yah aji mumpung slot expressnya gua jejelin tuh pake vga gue (biar murahan tetep joss) n Win2000 kantor gua ganti aja ke vista sp1 slot yang baru gua copy bajakannya! n maen dech!!
Bullshit kalo ada yang bilang efek diretx10 bisa di munculin di xp!!
komputernya jelek kali tuh makanya gak di pooolin grapicnya.
ATAU kalau gak matanya emang PADA PICEK !!
makanya kalo punya boss bodo itu di manfaatin!! hehe!!
by akyas
11 Dec 2008 at 15:09
ngapain tetap di xp????
boss jaman skarang dah berkembang emang mau di xp teruuuuuus sampai tua,apalagi mau nunggu vienna, coba deh pake vista di sana kan bisa dilihat beberapa vitur yang mungkin aja nanti ada di vienna,dan apalagi mendukung directx 10 ,pake game seperti Turok,Devil may cry ahhhh lincah aja……..hehehe
by marrwannnn
12 Feb 2009 at 22:53
vista jelek akh…..
boros….
lelet….
pindah ke open-source nyokk…