Bianglala


Vienna

Posted in Techno by Dhani on the February 13th, 2008

Tepatnya Windows Vienna :). Atau Windows 7. Ini adalah nama sistem operasi baru Microsoft yang “digadang-gadang” sebagai calon penerus Windows Vista. Btw, posting ini bukan bagian dari serial kota-kota di Austria loh. Soal itu lebih baik disimpan untuk blogger lain saat Piala Eropa digelar nanti (saya bukan maniak bola, sayangnya).

So, do you Vista?” “No, I don’t.” Nggak ada Vista-Vistaan, setidaknya dalam waktu dekat ini.

Microsoft sendiri mengaku penjualan Windows Vista sejauh ini laris manis. Tapi fakta di lapangan kelihatannya berbeda. Banyak user (termasuk saya) yang lebih suka bertahan dengan windows XP ketimbang mengupgrade ke Vista. Di Vista, 1 GB RAM senilai dengan 128 MB RAM untuk Windows XP, 16 MB untuk Windows 95, atau bahkan 4 MB untuk Windows 3.1 (kalau ada yang masih ingat dengan versi Windows ini). Sudah tahu artinya kan? Perlu sumber daya yang lebih besar untuk pekerjaan yang relatif sama.

Bayangkan, spasi hard disk 15 GB dan memory 1 GB habis terpakai hanya untuk OS. Untuk aplikasi jelas perlu RAM lebih besar lagi (kecuali kita pasang Vista cuma untuk main Solitaire doang). Parahnya lagi, software yang sama akan memerlukan RAM lebih besar untuk dijalankan diatas Vista dibandingkan XP. Editor video Pinnacle 11 yang di platform XP hanya meminta RAM 512 MB, di Vista malahan menuntut 1 GB (sementara itu OS nya sudah minta jatah 1 GB sendiri). Alamaak!

Yang menarik sebenarnya adalah langkah Microsoft untuk merilis Windows Vienna alias Windows 7 ini pada paruh kedua tahun depan, atau hanya berselang 3 tahun sejak merilis windows Vista. Microsoft biasanya merilis versi mayor dari OS nya setiap 5-6 tahun, dengan diselingi versi minor tiap 2-3 tahun. Lantas dimana posisi Windows Vienna alias Windows 7 ini nantinya? Akankah versi ini akan menjadi perbaikan minor dari Windows Vista (seperti halnya Windows 98), atau jangan-jangan ini merupakan bagian dari rencana Microsoft untuk segera “membunuh” Windows XP?

Beberapa website, termasuk Wikipedia, menyebutkan bahwa Windows 7 sebenarnya disiapkan sejak tahun 2000-an sebagai penerus Windows XP beserta versi servernya, Windows Server 2003. Versi yang semula disebut dengan nama kode Blackcomb ini rencananya akan dirilis pada 2005. Tapi belakangan proyek Blackcomb tertunda. Microsoft malahan disibukkan dengan versi perbaikan untuk Windows XP — dikenal sebagai Windows XP Service Pack 2 (SP2). Selepas itu, Microsoft memutuskan menggeber pengembangan Longhorn, yang tidak lain adalah Windows Vista sekarang.

Sejumlah fitur yang semula disiapkan untuk Vista, diantaranya sistem file baru berjuluk WinFS dan dukungan terhadap piranti HD DVD, ternyata urung dipaket, dan baru akan dipasang pada Blackcomb. Belakangan Microsoft mengganti nama kode pengembangan dari Blackcomb menjadi Vienna. Akhirnya, tanggal 20 Juli 2007 Microsoft mengumumkan Windows 7 sebagai nama resmi untuk produk anyar mereka itu, diikuti dengan penentuan “ancar-ancar” rilisnya, yakni sekitar akhir tahun 2009 (tapi tentunya kita tidak perlu berharap banyak. Bukan Microsoft namanya kalau tanpa penundaan jadwal rilis.)

Kalau dilihat dari riwayat kemunculannya, saya malahan jadi curiga kalau sebenarnya Windows Vista hanyalah produk antara sebelum produk yang betul-betul stabil dirilis. Sepintas perubahan dari XP ke Vista tidaklah seradikal pergantian Windows 98 ke XP, atau bahkan Windows 3.1 ke Windows 95 misalnya. Diluar fitur-fitur baru yg disertakan, Windows Vista tidak lebih dari Windows XP dengan inrterface Aero dan fitur sekuriti kelas paranoid. Kesemuanya itu harus dibayar mahal dengan kelambanan proses akibat konsumsi sumber daya yang rakus.

Hal lain yang banyak disorot dari Vista adalah “fitur” DRM, Digital Rights Management (a.k.a Digital Restriction Management). Ini sebenarnya bukan fitur, melainkan langkah mundur Microsoft yang berusaha membuat hal-hal yang tadinya sederhana dan mudah menjadi sulit dan rumit.

Saya jadi teringat dengan Windows Me, yang tidak lebih dari produk antara yang gagal; usaha sia-sia Microsoft untuk mengisi celah pasar sebelum dirilisnya Windows XP. So, dilihat dari segi cost-benefit, sementara ini saya tidak melihat ada untungnya untuk cepat-cepat beralih ke Vista. Mendingan tetap dengan XP (dual boot dengan OpenSUSE Linux) sambil menunggu seperti apa Windows 7 nantinya. Kata orang sono: “If it ain’t broke, don’t fix it.”

Innsbruck

Posted in Art, Life by Dhani on the February 6th, 2008

1011266.jpg

Innsbruck, Ich Muss Dich Lassen
Heinrich Isaac (1450-1517)

Innsbruck, ich muss dich lassen,
ich fahr dahin mein Strassen,
in fremde Land dahin.
Mein Freud is mir genommen,
die ich nit weiss bekommen,
wo ich im Elend bin.

Mein Trost ob allen Weiben,
dein tu ich ewig bleiben,
stet treu, der Ehren fromm.
Nun muss dich Gott bewahren,
in aller Tugend sparen,
bis dass ich wiederkomm.

Gross Leid muss ich jetzt tragen,
das ich allein tu klagen
dem liebsten Buhlen mein.
Ach Lieb, nun lass mich Armen
im Herzen dein erbarmen,
dass ich muss dannen sein.

Innsbruck, I must leave you
For I am traveling the road
to a foreign land.
(There,) deprived of my joy
and knowing not how to get it back,
I will be in misery.

My comfort above all other women,
I remain yours forever,
always faithful, in true honor.
And now, may God protect you,
safe in virtue,
till I return.

I am burdened with great sorrow
which I can shed only
through the one dearest to me.
O my love, leave me not bereft
of compassion in your heart
that I must part from you.

Foto diatas adalah pemandangan di bandar udara Kranebitten di Innsbruck, Austria (klik pada gambar untuk mengunjungi situs aslinya). Sedangkan bait-bait berbahasa Jerman dan Inggris itu adalah lirik dan terjemahan dari sebuah lagu rakyat setempat. Sekarang saya mengerti, kenapa lirik dan juga melodi lagu ini terasa begitu menyayat.

Lagu yang indah, kota yang indah. Bahkan bandaranya pun juga terlihat begitu menawan. Bentang alam yang menakjubkan berpadu dengan pameran kecanggihan teknologi buatan manusia. Saya bisa membayangkan kesedihan saat harus meninggalkan tempat secantik ini. Kapan yah saya bisa berkunjung ke sana? (Sedikit bermimpi boleh dong!)