Quo Vadis Penerbangan Kita?
Situs Airliners.net adalah salah satu “situs wajib” yang sering saya kunjungi disaat senggang. You know, saya juga seorang penggemar dunia penerbangan, dan melihat-lihat pameran aneka rupa pesawat di situs itu adalah salah satu sarana pelepas stress yang manjur. Sebenarnya saya sendiri sempat mengira hobi saya ini aneh. Tapi sejak saya kenal dengan yang namanya intenet, saya mulai menyadari kalau apa yang tadinya saya anggap aneh itu sebenarnya hal yang biasa-biasa saja. Banyak juga orang yang satu minat dengan saya, suka dengan hal “aneh-aneh” macam astronomi, penerbangan, atau whatever.
Balik lagi ke topik. Kalau membuka-buka situs itu, saya sering merasa miris sendiri. Pertama, melihat begitu banyak airlines asing dengan layanan yang bagus-bagus, interior kabin yang modern, Inflight Entertainment yang canggih, dan sebagainya, sementara maskapai kita … tahu sendirilah. Yang kedua, setiap melihat foto-foto masa lalu dari maskapai-maskapai kita, lagi-lagi saya merasa seperti ada yang mengganjal. Pada arsip foto dari tahun 1980-an saya bisa melihat pesawat-pesawat jumbo jet Garuda dengan livery lama berwarna merah-oranye yang parkir dengan gagahnya di apron bandar udara kota-kota besar dunia: Paris, London, Frankfurt, Zurich, bahkan Los Angeles. Sekarang?
Larangan terbang ke Eropa memang kelihatannya memukul maskapai kita, padahal tanpa larangan terbang sekalipun, maskapai kita memang tidak lagi sanggup terbang ke Eropa. Garuda sudah lama menghapus kota-kota macam Paris, London, atau Frankfurt dari rute mereka. Minimnya jumlah pesawat berbadan lebar yang dimiliki, ditambah layanan yang tidak mampu bersaing dengan maskapai internasional kelas dunia lainnya membuat maskapai penerbangan nasional kita itu praktis tidak berdaya. Satu-satunya rute ke Eropa yang masih dipertahankan (itupun karena alasan historis) hanyalah rute Jakarta-Amsterdam. Sialnya, dalam penerbangan inilah, aktifis HAM Munir menemui ajalnya.
Indonesia sebenarnya tidak kehilangan apa-apa dari larangan terbang ini kecuali kehilangan muka. Di mata otoritas penerbangan Eropa, Indonesia kini sejajar dengan negara-negara yang boleh dibilang terbelakang seperti Korea Utara, Swaziland, Sierra Leone, Afghanistan, Liberia, dan Kongo.
Dari segi armada, dulu Garuda pernah berbangga sebagai maskapai terbesar di belahan bumi selatan. Tapi sekarang, saya suka malu sendiri melihat pesawat Garuda yang nongkrong di bandara-bandara besar macam KLIA di Malaysia atau Chek Lap Kok di Hong Kong yang hanya dari jenis B737, berjejer dengan pesawat-pesawat berbadan lebar dari maskapai lain. Ini penerbangan internasional, gitu loh!
Masalah bukan cuma pada penerbangan Indonesia ke luar negeri, melainkan juga penerbangan dari luar negeri ke Indonesia. Sudah lama saya tidak melihat pesawat-pesawat dari maskapai terkemuka semacam British Airways atau Air France singgah di bandara-bandara kita. Beberapa diantaranya memang masih melayani rute Indonesia, tapi melalui code share dengan maskapai lain dari Asia, atau lewat hub di Singapura dan Kuala Lumpur. Sebaliknya, bandara-bandara internasional kita sekarang malahan dipadati oleh maskapai asal Timur Tengah yang sibuk mengangkut … para TKI.
Salah satu biang kerok situasi ini adalah pengenaan biaya fiskal bagi setiap warga negara Indonesia yg bepergian keluar negeri. Untuk kebanyakan pengguna angkutan udara kita, ongkos fiskal sebesar satu juta rupiah per kepala ini jelas lumayan memberatkan. Untuk beberapa destinasi di Asia Tenggara, angka ini malahan bisa lebih mahal daripada harga tiket pesawatnya sendiri.
Kalau dipikir-pikir, sebenarnya lucu juga bahwa sementara negara kita berusaha mengundang sebanyak mungkin pengunjung dari mancanegara, warganya sendiri malahan dipersulit untuk bertandang ke luar negeri. Fiskal sebenarnya diberlakukan sebagai proteksi terhadap industri pariswisata lokal. Namun dalam penerapannya, hal ini malahan lebih banyak merugikan bisnis penerbangan kita. Coba, apa untungnya bagi maskapai luar untuk membawa penumpang banyak-banyak ke Indonesia tapi balik kandang dalam keadaan kosong melompong?
Bicara soal penerbangan tidak melulu berarti bicara bisnis. Ada pula sisi kebanggaan nasional. Itulah sebabnya maskapai nasional dimana-mana selalu disebut sebagai flag carrier, karena maskapai itulah yang membawa bendera negara, sebagai duta negara asalnya di negeri orang. Keterpurukan yang dialami Garuda Indonesia sebagai flag carrier kita akhirnya sedikit banyak berpengaruh pula pada citra negeri ini di negara manca.
Akhirnya, begitu banyak hal yang berubah satu dekade belakangan ini. Namun kadang-kadang perubahan itu bukan ke arah yang lebih baik.
___
Catatan: Tapi dunia penerbangan kita tidak selamanya tampil memalukan. Coba lihat foto berikut beserta komentar para penjenguknya. Cantiknyaaa …
I Am From Austria
Refreshing :). CD yang satu ini datang bersamaan dengan bukunya Penrose. Sengaja dipesan untuk antsipasi, kalau-kalau Penrose berhasil membuat saya tidak enak makan dan tidur gara-gara formula-formula “edan” di bukunya itu (yang memang akhirnya betul-betul terjadi).
Judulnya I Am From Austria (2007), oleh Die Wiener Sängerknaben (atau The Vienna Boys Choir, atau Vienna Choirboys, atau Vienna Boys Chorus, atau Boys Choir of Vienna – entah apa terjemahan resminya). Alasan sesungguhnya kenapa saya merasa perlu mengulas album ini adalah karena saya merasa berhutang satu ulasan positif untuk kelompok ini. September tahun lalu saya sempat mengulas satu album mereka, tapi karena memang menurut saya jelek, maka saya tidak akan bilang itu bagus.
Sebenarnya ada banyak koleksi album yang bagus dari kelompok ini, hanya saja, karena yang bagus-bagus itu dari genre klasik, dan saya sudah terlanjur memberi penilaian jelek untuk album bergenre pop, saya tidak bisa begitu saja membandingkannya apple-to-apple. Untungnya, album yang satu ini masuk dalam kriteria layak diulas disini: dari genre pop, dan isinya cukup enak didengar.
Album ini terdiri dari 13 track, yang sebagian besar berirama riang. Delapan lagu berbahasa inggris, lima sisanya berbahasa Jerman. Track kesatu sampai keenam berisi lagu-lagu yang diambil dari film maupun drama musikal Broadway, macam Over The Rainbow (dari The Wizard of Oz) atau Chim Chim Cher-ee (dari drama musikal Marry Poppins).
Empat lagu berbahasa Jerman mengisi track nomor 7 sampai 10. Diantaranya ada Loreley dan Heidenröslein, dua lagu rakyat yang di album-album “klasik” mereka biasa dinyanyikan secara acapella, disini dibawakan dengan iringan instrumen musik. Heidenröslein sebenarnya merupakan musikalisasi dari sajak Goethe yang berceritera tentang bocah lelaki yang memetik paksa sekuntum mawar merah, dan akhirnya tertusuk oleh durinya. Yang menarik, banyak yang meyakini bahwa sajak ini sebenarnya merupakan metafora Goethe untuk adegan (maaf) perkosaan! Kalau mau tahu lagunya seperti apa, silahkan lihat klipnya di sini (rekaman lama, dalam acapella).
Di track 11 dan 12 ada lagu bernuansa Celtic, Danny Boy dan Morning Has Broken. Banyak yang mengira Morning Has Broken adalah lagu pop biasa yang dipopulerkan oleh Cat Stevens (yang sekarang sudah “menjelma” menjadi Yusuf Islam), padahal itu adalah lagu rakyat Skotlandia. Idem ditto untuk Danny Boy yang pernah dipopulerkan oleh Elvis, yang sebenarnya adalah lagu rakyat Irlandia (Btw, potongan lagu ini saya jadikan ringtone untuk HP saya: “Oh Dhani boy, the pipes, the pipes are calling …” – maksa! :p )
Mungkin dengan alasan “save the best for last” maka lagu andalan yang dijadikan judul album ini justeru diletakkan di track paling akhir. I Am From Austria, lagu yang pertama kali dipopulerkan oleh penyanyi asal Austria, Reinhard Fendrich ini juga asyik untuk didengar. Oh ya. Lagunya berbahasa Jerman.
Selain album ini, kelompok ini setidaknya sudah menelorkan dua album dengan genre pop. Sebelumnya ada The Vienna Boys Choir Goes Pop (not recommended, kecuali track terakhir), dan album Amazing Grace (lumayan, tapi masih kurang memuaskan). Album yang satu ini boleh dibilang yang terbaik diantara keseluruhan album mereka yang bergenre pop. Tapi tentu saja, saya tetap lebih suka mendengarkan kelompok ini melantunkan lagu-lagu rakyat atau waltz dan polka dari Strauss misalnya, seperti tradisi ratusan tahun mereka. Satu lagi, seperti halnya album-album mereka yang lain, CD ini juga sulit didapat di Indonesia.
Ok, resensi selesai, hutang terbayar. Sekarang kembali ke Penrose. Masih stuck pada persamaan Dirac di bab 24 :(.