Pertama kali tahu tentang buku ini lewat entri blog mas Koen. Tertarik, tapi masih ragu. Melihat-lihat di Amazon, buku ini menuai banyak pujian, juga cercaan. Sebagian besar kritik tentang buku ini menyorot soal banyaknya persamaan matematis didalamnya, padahal buku ini diposisikan sebagai buku sains populer.
Tapi, pikir-pikir lagi, mana yang lebih mengecewakan: keluar duit beberapa puluh dolar for nothing, atau kehilangan kesempatan untuk belajar hal-hal baru? Pilihan saya rasanya sudah cukup jelas ;). Jadi, begitulah. Sejak beberapa hari lalu, buku ini sudah bertengger diatas meja saya. Tebal, dan berat (dalam artian fisik maupun kandungannya). Seribu halaman lebih, dalam 34 bab dengan isi yang sangat menantang!
Saya tidak kepingin membohongi diri sendiri maupun pembaca blog ini. Kalau saja saya bisa menamatkan buku ini dalam sebulan dengan memahami 50% saja dari seluruh isinya, itu sudah sangat bagus. Kenyataannya mungkin tidak akan sebaik itu. Maksud saya, dengan kalkulus yang sudah agak karatan, membaca buku ini adalah suatu perjuangan tersendiri.
Roger Penrose, fisikawan yang menulis buku ini, sebenarnya bukan nama yang asing buat saya. Sayangnya selama ini saya belum berkesempatan membaca satupun buku karangannya. Road to Reality adalah buku pertama dari Penrose yang pernah saya baca, dan langsung memberikan “kejutan” tersendiri.
Berlawanan dengan sejawatnya, Stephen Hawking, yang menuruti saran editor untuk menyajikan sesedikit mungkin formula matematis demi memanjakan pembaca, Penrose rupanya memilih untuk tetap mengetengahkan segala kerumitan matematis untuk memberikan gambaran yang utuh pada pembaca mengenai realitas sains yang sesungguhnya: sains bukan hanya sekedar kumpulan fakta, melainkan harus ditopang oleh pilar matematis yang kokoh. Apabila pilar matematis runtuh, maka runtuhlah semua konsep yang ditopangnya. Itu sebabnya kita tidak bisa mengandalkan buku-buku sains (atau “sains”) yang ditulis hanya berdasarkan keyakinan, atau bahkan dalil-dalil keagamaan semata (seperti buku-buku, … ah, sudahlah!).
Kepada siapa buku ini ditujukan? Untuk ukuran buku teks akademis, buku ini kurang fokus, bahasannya terlampau melebar kemana-mana. Tapi sebagai kajian sains populer, buku ini malahan terlampau mendetail dan sangat teknis. Mungkin baiknya kita kembali ke judul buku ini. Buku ini nampaknya ditujukan kepada siapa saja yang ingin memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai hukum-hukum fisika yang mengatur keseluruhan semesta.
Ok, saya tidak berminat menulis banyak-banyak disini. Buku ini mungkin akan cukup menyibukkan otak saya dalam beberapa hari (atau bahkan bulan) kedepan. Lagipula, saya khawatir kalau makin banyak saya menulis tentang buku ini, makin kelihatan kalau saya sebenarnya masih belum banyak mengerti tentang isinya. ;)



by Koen
21 Dec 2007 at 00:23
Jadi merasa berdosa. Abis Jenny keracunan, sekarang Dhani pula. Tapi aku pikir mestinya Mas Dhani beli buku Penrose yang lain, trus kita tukeran.
Berita baiknya, si Ah Sudahlah mengirimi buku Atlas Anti Evolusi ke sekolah2 di Eropa. Kalau orang Amrik & Eropa sudah teracuni gerakan “sains” (=anti sains) ini, mudah2an Indonesia bisa melejit maju di bidang sains-teknologi, dan membawa bangsa kita kembali ke kegemilangan ketakwaan. Tentu syaratnya adalah kita harus berlepas diri duluan dari kejumudan “sains” versi Arh Sundyahlyah, versi kaum geocentris dan self-centris lain itu.
by dhani
23 Dec 2007 at 13:37
Ha-ha-ha, bisya ajah :). Baca soal si Ach Sudachlach ini, saya malahan jadi kepingin nulis sekali lagi soal evolusi. :D
Pingback
by Bianglala » I Am From Austria
16 Jan 2008 at 23:58
[...] :). CD yang satu ini datang bersamaan dengan bukunya Pennrose. Sengaja dipesan untuk antsipasi, kalau-kalau Pennrose berhasil membuat saya tidak enak makan dan [...]