Bianglala


Seberapa Mirip Manusia dengan Kera?

Posted in Science by Dhani on the December 23rd, 2007

Studi terhadap DNA dalam gen telah lama menguatkan kesimpulan mengenai kemiripan molekuler manusia dan kera besar. Informasi sekuens nukleotida paling lengkap sejauh ini berasal dari genom mitokondria yang berevolusi dengan pesat, yang sekuens DNA lengkapnya pada manusia, simpanse, dan gorila, sudah diperoleh. Diantara 16.000 posisi nukleotida dalam molekul, hanya sekitar 1.400 (8,8%) yang berbeda, antara manusia dan simpanse. Perkiraan perbedaan sekuens antara manusia dan gorila adalah 10,6%, dan antara gorila dan simpanse 10,3%. Di antara ketiga spesies ini, kemiripan terbesar adalah antara manusia dan simpanse.

Sebagai contoh, protein manusia dan simpanse berikut ini sering sama persis sekuens asam amino-nya (jumlah lokasi asam amino ditunjukkan dalam tanda kurung): fibrinopeptida (30); sitokrom c (104); lisozom (130); hemoglobin α (141); hemoglobin β (146); dan hemoglobin δ (146). Protein-protein yang nyaris serupa antara lain hemoglobin γ (1 substitusi asam amino dalam 146 lokasi); mioglobin (1 substitusi, 153 lokasi); anhidrase karbonat (3 substitusi, 264 lokasi); serum albumin (6 substitusi, 580 lokasi), dan transferin (8 substitusi, 647 lokasi). Total ada 2.486 dari 2.487 (99,2%) lokasi asam amino pada kesebelas protein itu yang identik, baik pada manusia maupun simpanse.

Saat spesies-spesies yang berkerabat memisah dari leluhur bersama, akumulasi perbedaan mutasi mereka cenderung terjadi dengan laju teratur yang dapat dikalibrasi. Dengan memanfaatkan metode laboratorium tertentu, spesies-spesies hidup dengan catatan fosil atau biogeografis yang cukup lengkap dapat ditelaah perbedaan molekulernya. Laju evolusi molekuler selanjutnya diperkirakan dengan membagi nilai perbedaan molekuler yang bersangkutan dengan jarak waktu dari leluhur bersama (sebagaimana yang didapat dari bukti biogeografis atau fosil yang independen).

Gabungan contoh-contoh semacam itu menunjukkan laju yang cukup teratur yang memungkinkan para ilmuwan menyusun konsep “jam molekuler” (molecular clock) yang berlaku bagi molekul, taksa (dari istilah “takson” pada “taksonomi”), atau prosedur pengujian tertentu. Kalibrasi jam molekuler bisa dipakai untuk memperkirakan masa pemisahan antar beberapa taksa yang masih hidup sekarang, apabila bukti fosil tidak memadai. Kita tahu bahwa laju evolusi DNA mitokondria (mtDNA) adalah kira-kira 2% dari perbedaan sekuens antara sepasang garis garis keturunan yang berkerabat per sejuta tahun. Dengan demikian, berdasarkan jam evolusioner tersebut, pemisahan filogenetis antara manusia dan simpanse diperkirakan terjadi pada 4,5 juta tahun lalu.

Para kreasionis umumnya beranggapan bahwa kemiripan genetis antara manusia dan kera besar bukanlah merupakan bukti telak bagi kesamaan leluhur evolusioner. Kemiripan ini bisa saja ditafsirkan sebagai pilihan Sang Pencipta untuk menciptakan organisme yang serupa dalam tindakan penciptaan yang berbeda. Sebenarnya ada sederet argumen filosofis untuk mematahkan anggapan tersebut, tapi karena disini kita bicara dalam ranah sains, maka sudah semestinya kita memakai argumen saintifik saja.

Kita ambil analogi dari dunia blog ;) . Misalkan saya menemukan entri dari blog lain yang isinya sama persis dengan entri pada blog saya. Saya tidak bisa begitu saja menuduh si pemilik blog melakukan copy-paste terhadap entri blog saya. Kenapa? Karena yang bersangkutan bisa saja berkelit bahwa materi yang ditulis pada kedua blog bersifat baku dan terbatas. Dengan demikian, kedua entri blog tersebut dapat dianggap merupakan hasil “penciptaan terpisah” oleh kedua penulis, bukannya plagiat asli dari teks “leluhur”.

Tapi ceritanya akan jadi lain apabila saya menemukan adanya kesalahan kecil, entah tata bahasa maupun ejaan, pada entri blog saya yang juga didapati pada entri blog yang diduga hasil plagiasi. Disini si plagiat bakalan sulit untuk berkelit.

Analogi ini juga berlaku pada “teks” genetis manusia dan kera. Genom organisme memang mengandung beberapa “kekeliruan” fungsional. Kekeliruan molekuler yang sangat terperinci kerap ditemukan dalam spesies-spesies yang mirip, dan karenanya menggugurkan skenario penciptaan terpisah dan justeru mendukung skenario sejarah evolusi.

Salah satu golongan kekeliruan molekuler yang parah adalah keberadaan pseudogen yang tidak punya fungsi apa-apa. “Bangkai gen” semacam ini sering ditemukan pada berbagai spesies yang diduga berkerabat dan punya kemiripan yang terperinci. Sebagai contoh, manusia dan kera besar sama-sama punya pseudogen yang terkait dengan gen fungsional yang menyandikan epsiolon imunoglobin (protein antibodi yang terlibat dalam mekanisme alergi). Tambahan lagi, pseudogen tersebut menempati lokasi yang sama, baik pada genom manusia maupun simpanse, suatu hal yang nyaris mustahil dalam hipotesis asal-usul terpisah. Contoh lain adalah pseudogen dalam inti sel yang nampaknya berpindah dari mitokondria. Kini “fosil” duplikat gen mitokondria dalam inti sel yang tak berfungsi itu terdapat pada beberapa primata, termasuk juga manusia.

Skenario kekeliruan molekuler ini memberikan implikasi yang kurang menguntungkan bagi penganut kreasionisme. Seolah-olah Tuhan adalah Pencipta yang ceroboh dengan melakukan copy-paste secara serampangan terhadap genom mahluk ciptaanNya. Sebaliknya, dalam pandangan evolusi, keadaan tersebut dipahami sebagai konsekuensi kesamaan leluhur semata, dimana pada sejarah filogenetis primata, pseudogen yang tak berfungsi muncul dan kemudian diwariskan kepada keturunannya — suatu penjelasan sederhana yang tidak perlu sampai merusak iman kepada Sang Pencipta.

14 Responses to 'Seberapa Mirip Manusia dengan Kera?'

Subscribe to comments with RSS or TrackBack to 'Seberapa Mirip Manusia dengan Kera?'.

  1. Jeepers said,

    on December 26th, 2007 at 4:41 pm

    Masih bingung apakah benar manusia mirip dengan kera atau kera nenek moyang na manusia sperti teori Drwin tentang evolusi

  2. dhani said,

    on December 26th, 2007 at 6:08 pm

    Secara genetis, manusia memang mirip dengan golongan kera besar (primata), dimana kemiripan paling besar didapati pada simpanse. Tidak benar kalau dikatakan kera adalah nenek moyang manusia. Darwin pun tidak pernah mengatakan demikian. Yang benar, menurut pandangan sains sekarang, spesies2 primata, termasuk diantaranya kera dan manusia, memisah dari suatu spesies yang dianggap sebagai “leluhur bersama” pada sekitar 4,5 juta tahun silam.

  3. crossover said,

    on December 28th, 2007 at 1:38 pm

    wahhh ntar jadi tambah banyak dunk penduduk dunia kalo kera mirip manusia dan takutnya lagi nanti tingkah laku manusia mirip kera :) hahahaha…….
    *liat aza tampang tukul*

  4. Lintasberita said,

    on January 3rd, 2008 at 3:27 pm

    Artikel-artikel di blog ini bagus-bagus. Coba lebih dipopulerkan lagi di Lintasberita.com akan lebih berguna buat pembaca di seluruh tanah air. Dan kami juga telah memiliki plugin untuk WordPress dengan installasi mudah. Salam!

    http://www.lintasberita.com/Sains/Seberapa_Mirip_Manusia_dengan_Kera/

  5. Syarief said,

    on January 12th, 2008 at 10:14 pm

    artikel di blog ini sangat bagus dan sangat berguna untuk menunjang peningkatan sains dan penyadaran. andai saja ini bisa terpublish dimana2 biar semua orang bisa membacanya. Andai pun diberi izin, aku ingin mempublikasikan beberapa tulisan dari sini di tempat sederhanaku. Tanpa seizinnya aku tidak akan melakukannya. Mohon jawaban via email atau blog sederhanaku. trima kasih

  6. afan said,

    on January 18th, 2008 at 4:56 pm

    kalau manusia dengan hewan lain seberapa besar tingkat kemiripannya? karena selama ini yg diekspos cuma dengan kera.

    misalnya kemiripan itu terjadi karena untuk menghirup oksigen yg sama?

  7. dhani said,

    on January 18th, 2008 at 7:51 pm

    @Afan: Pada prinsipnya, semakin dekat kekerabatan antar spesies, makin besar kemiripannya secara genetis. Spesies yang genetikanya paling mirip manusia memang adalah golongan kera besar (primata). Spesies lain yg kekerabatannya lebih jauh dg sendirinya punya perbedaan yg lebih besar.

    Kalau dikatakan kemiripan itu akibat menghirup oksigen yang sama, maka seharusnya semua spesies punya struktur genetis yg sama. Kenyataannya, semua organisme punya kekhasan sendiri2.

  8. e-fha said,

    on January 20th, 2008 at 7:27 am

    teori Darwin tugg,emank bertentangan dengan agama, tapi masih aja banyak yang mendukungnya. Kenapa???? Karena, di dunia ini kan banyak juga orang atheis. Untuk sekadar pengetahuan, kita jangan cuma memandang teori itu dari segi agama aja. Coba aja kita tilik artikel di atas yang mengupas teori Darwin dengan ilmu biologis pasti akan berbeda bukan?????

  9. dhani said,

    on January 20th, 2008 at 9:42 am

    @e-fha: Kata siapa teori Darwin bertentangan dengan agama? Apakah Anda sudah pernah betul2 mempelajari teori tersebut, atau cuma tahu dari “katanya” saja?

    Dalam sains, kita hanya mengenal dua macam “dalil”: eksperimen dan observasi. Mana yang sesuai dengan keduanya kita terima; yang bertentangan kita tolak.

  10. Euisry said,

    on February 8th, 2008 at 4:50 pm

    Salam, Pak. Tulisan2nya menarik, saya jadi ingin me-link situs ini di blog saya ^^.

    Membaca artikel di atas saya langsung teringat pada buku yang belum selesai saya baca, judulnya “The Genetic Gods” karya J.C Avise. Emang sumbernya dari situ ya?

    O iya, saya masih bingung apa bedanya mengatakan “nenek moyang manusia adalah kera” dengan “manusia dengan golongan kera besar memisah dari leluhur bersama”. Saya memang masih banyak bingung dengan beberapa istilah/kalimat ketika membaca buku ini.

  11. dhani said,

    on February 8th, 2008 at 6:09 pm

    Tulisan ini memang bersumber dari buku tersebut, atau tepatnya hasil elaborasi thd satu catatan kaki di buku itu.

    Anggapan bahwa manusia berasal dari kera itu sebenarnya adalah salah kaprah. Teori evolusi sendiri sekarang sudah banyak berubah, tidak lagi seperti yang dicetuskan Darwin hampir dua abad silam itu. Jadi, boleh dibilang teori evolusi itu sebenarnya berevolusi juga.

    Teori evolusi yang sekarang menyatakan bahwa baik manusia maupun kera memisah dari satu spesies “cikal bakal”. Bayangkan sebuah “pohon evolusi” dimana manusia berada pada salah satu ranting percabangannya, sementara primata seperti simpanse berada pada ranting lain dari percabangan yang sama. Ini berbeda dengan evolusi versi Darwin, dimana satu spesies berubah secara gradual menjadi spesies lain melalui mekanisme seleksi alam (dalam hal ini dari kera menjadi manusia). Semoga jelas.

  12. Euisry said,

    on February 11th, 2008 at 6:55 pm

    O, begitu. Makasih penjelasannya. Kalau dilihat dari penjelasan teori evolusi yg sekarang itu, salah tidak jika menyatakan manusia & kera berasal dari satu nenek moyang (nenek moyang bersama)?

    Kalau dari teori evolusi sekarang, mekanisme seleksi alam berlaku ga ya? Ah, baru dikit sih bacanya. Nani kalo udah trus nanya lagi boleh ga? Siapa tau males jawabnya…

  13. on October 5th, 2009 at 2:43 pm

    hy
    semua anak 3

  14. Komal said,

    on June 19th, 2010 at 5:19 pm

    wow….. amazing……
    tulisan2 di site ini bagus2….

Leave a Reply