11 Juni 1983 mungkin layak dicatat sebagai hari terburuk dalam sejarah astronomi Indonesia. Saat itu, gerhana matahari total menyapu wilayah Jawa dan Sumatera. Para astronom maupun peminat astronomi dari seluruh penjuru dunia berbondong-bondong datang ke Indonesia, untuk menyaksikan peristiwa langka yang mungkin hanya sekali seumur hidup mereka alami. Sebaliknya, kita di Indonesia, justeru diam ketakutan, mengurung diri didalam rumah. Propaganda mengenai bahaya menatap langsung gerhana matahari mampu membuat orang kehilangan akal sehat, lebih memilih untuk "menatap" gerhana lewat layar televisi ketimbang menyaksikan suasana saat gerhana dengan mata kepala sendiri.

Apa betul menyaksikan gerhana matahari total bisa mengakibatkan kebutaan? Menatap matahari dengan mata telanjang jelas berbahaya. Selain memancarkan cahaya terang benderang, matahari juga melepaskan energi berupa panas. Bila seseorang menatap matahari secara langsung dalam waktu yang cukup lama, maka energi panas matahari akan terkonsentrasi pada bagian tengah retina. Celakanya, bagian ini tidak memiliki reseptor rasa sakit. Kita tidak akan merasa apa-apa sampai jaringan retina mata secara harafiah "dimasak" oleh energi matahari. Akibatnya jelas, mata akan mengalami kerusakan permanen.

Untuk bisa menatap matahari secara langsung, kita harus menyingkirkan setidaknya 99,9968% dari energi yang diterima dari matahari. Angka ini (terutama pada dua digit terakhir itu) jelas bukan angka mistis yang turun dari langit. Besaran itu didapat dari hasil pengukuran yang akurat terhadap energi yang dipancarkan matahari berbanding yang mampu diterima oleh organ retina mata tanpa merusaknya. Ini bisa diperoleh lewat filter khusus untuk pengamatan matahari, yang hanya menyalurkan setidaknya 0,0032% cahaya (filter Shade 12). Cara-cara semacam melihat melalui film, pita magnetik, CD, gelas buram, dan sebagainya itu sebenarnya masih belum cukup aman untuk melindungi retina dari kerusakan.

Tapi itu bukan berarti kita harus mengurung diri dalam rumah saat terjadi gerhana. Berada diluar rumah pada saat gerhana matahari sama amannya (atau sama berbahayanya) dengan berada di luar rumah pada hari-hari biasa, sepanjang kita tidak menatap langsung ke arah matahari. Namun pada saat matahari berada dalam fase gerhana total, adalah aman untuk menatap matahari secara langsung (ingat, hanya pada saat fase total!).

Penjelasan ilmiahnya, karena walaupun ukuran (diameter) bulan 400 kali lebih kecil dari matahari, letaknya juga 400 kali lebih dekat. Dengan demikian, saat fase total, ketika bulan tepat berada segaris dengan matahari, ukuran bulan akan tepat sama besar dengan ukuran piringan matahari, dan secara efektif akan menghalangi bagian matahari yang paling terang dari pengelihatan. Saat itu kita bisa sejenak meninggalkan peralatan filter untuk menatap pemandangan langka itu: matahari dengan gemerlap koronanya yang bependar ditengah gelapnya langit siang hari.

Bagi yang sempat menyaksikan fase total gerhana 1983 dengan mata kepala sendiri, saya ucapkan selamat. Bagi yang saat itu memilih mengurung diri didalam rumah, jangan khawatir karena pulau Jawa dan sebagian Sumatera masih akan dilewati gerhana matahari total lagi pada Senin, 12 Januari 2252 nanti :) . Kalau keberatan menunggu terlalu lama, gerhana matahari total juga akan menyinggahi Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi pada Rabu, 9 Maret 2016 mendatang. ;)

Menyimpang sedikit dari topik; gambar gerhana matahari sering saya pakai sebagai pic saya di sejumlah layanan di internet seperti Tumblr atau MyBlogLog. Alasan saya menggunakan gambar ini sederhana saja. Gerhana matahari, adalah peristiwa astronomis, dan saya adalah seorang penggemar dunia astronomi. Alasan kedua, karena kata "gerhana matahari" itu adalah anagram tidak sempurna dari nama saya.