Bianglala


Gerhana Matahari

Posted in Science by Dhani on the November 28th, 2007

11 Juni 1983 mungkin layak dicatat sebagai hari terburuk dalam sejarah astronomi Indonesia. Saat itu, gerhana matahari total menyapu wilayah Jawa dan Sumatera. Para astronom maupun peminat astronomi dari seluruh penjuru dunia berbondong-bondong datang ke Indonesia, untuk menyaksikan peristiwa langka yang mungkin hanya sekali seumur hidup mereka alami. Sebaliknya, kita di Indonesia, justeru diam ketakutan, mengurung diri didalam rumah. Propaganda mengenai bahaya menatap langsung gerhana matahari mampu membuat orang kehilangan akal sehat, lebih memilih untuk “menatap” gerhana lewat layar televisi ketimbang menyaksikan suasana saat gerhana dengan mata kepala sendiri.

Apa betul menyaksikan gerhana matahari total bisa mengakibatkan kebutaan? Menatap matahari dengan mata telanjang jelas berbahaya. Selain memancarkan cahaya terang benderang, matahari juga melepaskan energi berupa panas. Bila seseorang menatap matahari secara langsung dalam waktu yang cukup lama, maka energi panas matahari akan terkonsentrasi pada bagian tengah retina. Celakanya, bagian ini tidak memiliki reseptor rasa sakit. Kita tidak akan merasa apa-apa sampai jaringan retina mata secara harafiah “dimasak” oleh energi matahari. Akibatnya jelas, mata akan mengalami kerusakan permanen.

Untuk bisa menatap matahari secara langsung, kita harus menyingkirkan setidaknya 99,9968% dari energi yang diterima dari matahari. Angka ini (terutama pada dua digit terakhir itu) jelas bukan angka mistis yang turun dari langit. Besaran itu didapat dari hasil pengukuran yang akurat terhadap energi yang dipancarkan matahari berbanding yang mampu diterima oleh organ retina mata tanpa merusaknya. Ini bisa diperoleh lewat filter khusus untuk pengamatan matahari, yang hanya menyalurkan setidaknya 0,0032% cahaya (filter Shade 12). Cara-cara semacam melihat melalui film, pita magnetik, CD, gelas buram, dan sebagainya itu sebenarnya masih belum cukup aman untuk melindungi retina dari kerusakan.

Tapi itu bukan berarti kita harus mengurung diri dalam rumah saat terjadi gerhana. Berada diluar rumah pada saat gerhana matahari sama amannya (atau sama berbahayanya) dengan berada di luar rumah pada hari-hari biasa, sepanjang kita tidak menatap langsung ke arah matahari. Namun pada saat matahari berada dalam fase gerhana total, adalah aman untuk menatap matahari secara langsung (ingat, hanya pada saat fase total!).

Penjelasan ilmiahnya, karena walaupun ukuran (diameter) bulan 400 kali lebih kecil dari matahari, letaknya juga 400 kali lebih dekat. Dengan demikian, saat fase total, ketika bulan tepat berada segaris dengan matahari, ukuran bulan akan tepat sama besar dengan ukuran piringan matahari, dan secara efektif akan menghalangi bagian matahari yang paling terang dari pengelihatan. Saat itu kita bisa sejenak meninggalkan peralatan filter untuk menatap pemandangan langka itu: matahari dengan gemerlap koronanya yang bependar ditengah gelapnya langit siang hari.

Bagi yang sempat menyaksikan fase total gerhana 1983 dengan mata kepala sendiri, saya ucapkan selamat. Bagi yang saat itu memilih mengurung diri didalam rumah, jangan khawatir karena pulau Jawa dan sebagian Sumatera masih akan dilewati gerhana matahari total lagi pada Senin, 12 Januari 2252 nanti :) . Kalau keberatan menunggu terlalu lama, gerhana matahari total juga akan menyinggahi Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi pada Rabu, 9 Maret 2016 mendatang. ;)

Menyimpang sedikit dari topik; gambar gerhana matahari sering saya pakai sebagai pic saya di sejumlah layanan di internet seperti Tumblr atau MyBlogLog. Alasan saya menggunakan gambar ini sederhana saja. Gerhana matahari, adalah peristiwa astronomis, dan saya adalah seorang penggemar dunia astronomi. Alasan kedua, karena kata “gerhana matahari” itu adalah anagram tidak sempurna dari nama saya.

Nina Bobo …

Posted in Art, Education by Dhani on the November 17th, 2007

Baru-baru ini saya menaruh sebuah klip lagu ‘nina bobo’ berbahasa Jerman berikut liriknya di tumblelog saya. Yang paling saya suka dari lagu ini sebenarnya adalah liriknya — walaupun melodinya juga bagus sekali). Berikut adalah terjemahan bahasa Inggris dari lagu ini (saya sudah mencoba menterjemahkan ke bahasa Indonesia, tapi koq malahan terasa janggal, jadi saya pilih translate ke English saja):

Sleep, my little prince, fall asleep.
The lambs and birdies are resting,
the garden and meadow are silent,
and even the little bee hums no more.
Moon with a silver gleam
is pouring her light into the window.
Sleep by the silvery light,
sleep, my little prince, fall asleep.
Fall asleep, fall asleep!

Who is happier than you?
Nothing but amusement and rest!
Toys and sugar enough,
and even a stately coach to convey you;
everyone is careful and ready
so that my little prince will not shriek.
But what will the future bring?
Sleep, my little prince, fall asleep.
Fall aslep, fall asleep.

So sweet ;). Ok. Kita juga punya lagu “Nina Bobo”, tapi saya kurang suka lagu itu karena tiga alasan: Pertama, melodinya mencontek dari lagu himne Kristiani “Abide With Me” (Saya orang yang open minded, jadi masalahnya bagi saya bukan pada “himne Kristiani” itu, tapi karena dengan demikian lagu ini menjadi tidak orisinal, alias menjiplak karya bangsa lain). Alasan kedua, karena liriknya mengandung ancaman. “Kalau tidak bobo digigit nyamuk”. Alasan ketiga, masih berkaitan dengan lirik tersebut, yakni bertentangan dengan nalar. Tidur atau tidak toh nyamuk tetap akan menggigit!

Ok, saya bukan pakar pendidikan, tapi saya kira ketiga faktor itu membuat lagu nina bobo kita ini praktis kehilangan unsur mendidik didalamnya — kecuali kalau kita memang sengaja ingin mengajari anak kita untuk mencontek, menakut-nakuti, atau membodohi orang lain (Tapi kalau bagian ini terasa terlalu ekstrim, ya jangan terlalu dianggap serius lah).

Jadi, rasanya lebih baik kita cari alternatif lain untuk menidurkan anak-anak kita. Berikut adalah salah satu lagu nina bobo dari tradisi bangsa sendiri yang masih saya ingat. Judulnya, “Tidurlah Intan”.

Tidurlah intan, tidurlah tambatan jiwa
Hari sudah larut pejamkanlah mata

Tidurlah intan, tidurlah pualam bunda
Jangan bermain juga bergurau tertawa

Ibu t’lah penat asyik bernyanyi nyanyi
Menidurkanmu anakku jauhari

Tidurlah intan, tidurlah kekasih hati
Esok hari kita bergurau kembali.

Dibanding “Nina Bobo” saya masih suka lagu yang ini. Liriknya sederhana, lembut, tapi “berisi”. Yang paling penting, lagu ini melukiskan kasih sayang orangtua kepada sang anak, dan bukan orangtua yang suka menakut-nakuti atau membohongi anaknya. Lagu ini aslinya berirama keroncong, dan kalau tidak salah pernah dipopulerkan oleh Soendari Soekotjo.

Sayangnya, lagu ini kurang dikenal oleh orangtua jaman sekarang. Mungkin karena generasi sekarang yang kurang akrab dengan irama keroncong. Konon sih, mendengarkan alunan lagu keroncong saja memang sudah mengundang kantuk. Apatah lagi liriknya memang mengajak untuk tidur. Klop!

Jadi, selamat malam semuanya!

__
Catatan: Saya harap dalam tulisan ini saya tidak menyinggung perasaan siapa-siapa. Lagu “Nina Bobo” yang saya sorot disini setahu saya tidak jelas siapa penciptanya. Sepertinya lagu ini diadaptasi kedalam bahasa Indonesia pada jaman penjajahan Belanda — sangat mungkin melalui versi bahasa Belanda pula.