Bianglala


Ahmed Zewail: Perjalanan Melalui Waktu

Posted in Book, Figure, Science by Dhani on the October 24th, 2007

Suatu waktu, iseng-iseng saya memberi tebakan ke seorang teman: kira-kira apa profesi orang yang wajahnya ada di sampul buku ini. Jawabnya: “Aah, palingan juga orang politik!” (politisi maksudnya, -red). Padahal, kalau dia kenal betul dengan saya, dia pasti tahu kalau jawaban itu tidak mungkin benar. You know, saya sudah lama kehilangan minat dengan para politisi, apalagi politisi timur tengah. Jelas hampir mustahil mendapati saya membaca buku biografi politisi.

Lantas siapa beliau sebenarnya? Clue: Dia adalah salah satu diantara dua ilmuwan muslim yang pernah mendapatkan hadiah Nobel sains. Yang pertama adalah Abdus Salam, peraih Nobel Fisika tahun 1979, dan yang kedua adalah orang ini. Perkenalkan: Profesor Ahmed Zewail, ilmuwan AS berkebangsaan Mesir, peraih nobel Kimia pada 1999.

“Perjalanan Melalui Waktu: Jalan-Jalan Kehidupan menuju Hadiah Nobel” adalah judul biografinya dalam edisi Indonesia (diterbitkan pada 2004 oleh Yayasan Obor Indonesia). Dalam edisi bahasa Inggris, buku ini diterbitkan dengan judul “Voyage Through Time: Walks of Life to the Nobel Prize” (American University in Cairo Press, 2002). Selain dalam bahasa Inggris dan Indonesia, buku ini juga telah diterjemahkan kedalam 11 bahasa lainnya, termasuk bahasa Arab, Cina, Prancis, Jerman, Hindi, Korea, Rusia, hingga bahasa Spanyol.

Kisah dalam buku ini berawal dari langkah-langkah pertama Zewail di Damanhur, sebuah kota Delta di tepi sungai Nil, Mesir, dan berujung pada penemuan besar dalam Sains di California Institute of Technology (Caltech), di Pasadena,California, AS. Perjalanan itu berlanjut dengan menggembirakan di Stockholm, Swedia, dengan dianugerahkannya hadiah Nobel Kimia tahun 1999. Adalah suatu paradoks bahwa dalam perjalanan panjang kehidupan maupun kariernya, Zewail justeru menjelajahi dunia femtosecond, suatu skala waktu yang lamanya kurang dari sekedipan mata.

Adalah penemuan berupa teknik pemotretan dan kamera laser untuk memantau pergerakan atom-atom dalam reaksi kimia yang mengantar Zewail meraih penghargaan prestisius tersebut. Bukan sembarang kamera tentu saja, melainkan kamera yang bekerja pada kecepatan femtodetik, suatu skala kecepatan dimana reaksi reaksi kimia terjadi. Satu Femtodetik setara 10-15 detik, atau sepersejuta dari sepersemilyar detik! Tidak heran apabila kamera ini disebut-sebut sebagai kamera tercepat di dunia.

Kamera laser hasil penemuan Professor Zewail bekerja dengan memadukan dua berkas sinar yang dihasilkan molekul-molekul dalam sebuah ruang vakum. Laser tersebut kemudian menginjeksikan dua sinyal. Pertama, sinyal pompa, yang mengeksitasi molekul ke tingkat energi yang lebih tinggi, dan yang kedua,sinyal sampel, yang mendeteksi molekul berdasarkan panjang gelombangnya. Peneliti dapat memvariasikan waktu interval antara dua pulsa untuk menetapkan berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh molekul untuk berpindah.

Penelitian Professor Zewail kemudian melahirkan cabang baru di bidang kimia yang dinamai femtokimia (femtochemistry). Sebelum perkembangan femtokimia, kita hanya dapat berteori tentang bagaimana atom-atom bertemu dan bergabung. Kamera laser hasil penemuan Zewail memungkinkan para peneliti untuk mengamati beragam reaksi kimia dalam gerak lambat. Dengan demikian terjawablah pertanyaan-pertanyaan penting seperti bagaimana temperatur mempengaruhi reaksi dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi terjadinya suatu reaksi.

Ditulis dalam gaya bertutur yang lugas dan fasih, buku setebal 506 halaman (+ xxix) ini bukan sekedar otobiografi yang hanya memuat perjalanan hidup penulisnya. Di beberapa bagian, buku ini lebih mirip dengan tulisan sains popular seputar prinsip-prinsip femtokimia, sementara di bagian lain termuat pula pandangan pribadi Zewail, mulai dari beragam isu-isu global hingga pendidikan sains.

Recommended bagi pecinta bacaan tentang pernak-pernik sains dan saintis. Not recommended bagi penggemar buku-buku model Kiyosaki – yang topiknya melulu berkisar pada uang, uang, dan uang – tipikal buku yang semakin lama semakin membuat saya malas pergi ke toko buku beneran, dan lebih memilih belanja di toko buku virtual saja.

Akhirnya, OpenSUSE 10.3

Posted in Life, Techno by Dhani on the October 19th, 2007

Tanggal 4 Oktober 2007 lalu, Linux openSUSE 10.3 resmi diluncurkan. Untuk saya, yang sudah setahun lebih menjadi pengguna distro asal Jerman tersebut (setelah “murtad” dari Linux Mandriva), kemunculannya sudah lama ditunggu-tunggu. Atas bantuan mas Vavai dari komunitas openSUSE Indonesia, DVD instalasi saya peroleh pada 11 Oktober, dan langsung diinstall malam hari itu juga.

Satu hal yang perlu dicatat (dengan font Times New Roman Bold ukuran 72 point :) ), versi ini bekerja lebih cepat dari pendahulunya. I mean jauh lebih cepat. Pengalaman saya dengan versi 10.2, penambahan RAM dari 256 MB ke 512 MB nyaris tidak mempengaruhi unjuk kerja sistem (alias masih tetap slow-slow saja), kali ini untuk pertama kalinya openSUSE bisa berlari kencang diatas mesin saya (heran, koq selama ini saya betah betah bekerja di sistem macam itu yah).

Dukungan multimedia kali ini tersedia out-of-the-box via software multimedia player Amarok. Nggak bener-bener instan sih. Masih perlu download juga. Tapi paling tidak prosedurnya sudah jauh lebih sederhana ketimbang versi sebelumnya. Begitu amarok membuka file MP3 untuk pertama kalinya, langsung kita diarahkan ke link untuk mendownload plugin untuk memainkan MP3. Selesai. Untuk yang nggak mau repot bisa memakai RealPlayer sebagai alternatif untuk ber-MP3 ria.

Kalau sebelumnya openSUSE 10.2 saya mesti dioprek habis-habisan dulu supaya bisa layak pakai, kali ini saya pilih potong kompas saja dengan memanfaatkan online repository. Nggak perlu compile source, nggak usah pusing nyari-nyari library di luaran. Tinggal pilih paket yang perlu diinstall lewat Software Manager YAST. Proses instalasi bisa dipersingkat, tapi kuota pemakaian Speedy terancam jebol :( .

Untuk desktop manager, seperti biasanya, saya pilih KDE. Tidak ada alasan khusus, cuma soal keterbiasaan saja. Semula ada selentingan kalau openSUSE 10.3 akan dipaket dengan KDE 4, yang saat ini masih versi beta. Sempat bikin ragu juga untuk mengupgrade. Ternyarta KDE 4 cuma sebagai opsi instalasi. By default, openSUSE tetap menggunakan KDE 3.x (lupa berapa nilai x nya :) ). Tapi beberapa aplikasi KDE4 juga sudah dipaket dalam instalasi default, terutama pada paket KDE Games. KDE Edu menghilang dari CD instalasi, tapi masih bisa didownload dari repository (dengan engine KDE 4). Saya sendiri hanya menggunakan Kstars dan Kalzium. Software favorit saya, Xephem dan Stellarium juga bisa diinstall tanpa kesulitan (Stellarium 0.90 meminta library, saya lupa tepatnya apa, tapi untungnya masih bisa dicari di online repository).

Apa lagi yah. BootManager, splash screen, dan default wallpaper ganti warna dari biru ke hijau; OpenOffice memakai versi 2.3.0; Xmms menghilang dari instalasi default tapi masih bisa didownload dari repository (sudah sekalian dengan support MP3); Ada perubahan cara instalasi driver 3D VGA Nvidia (di versi sebelumnya menggunakan binaries yang dijalankan dari konsol, tapi sekarang driver langsung didownload dari site Nvidia melalui additional repository); Etc, dll, dan sebagainya. Pokoknya keren dah!

Last but not least, supaya nggak basbang, ini saya sertakan screenshoot desktop openSUSE saya (klik untuk memperbesar).

Amazon dot Com

Posted in Life by Dhani on the October 5th, 2007

Kalau saya harus memesan sesuatu, entah buku atau CD, dari Amazon.com, itu artinya saya sudah tidak punya harapan untuk memperoleh barang-barang itu lewat toko konvensional disini. Saya mungkin lebih banyak menghabiskan waktu di depan internet daripada kebanyakan orang, tapi transaksi online masih bukan pilihan utama untuk saya, kecuali kalau terpaksa.

Transaksi di internet memang nyaman, tapi tidak selalu mulus. Misalnya saja insiden yang saya alami saat terakhir kali belanja di Amazon, beberapa bulan lalu. Buku yang saya pesan tidak kunjung sampai sesuai jadwal. Kalau sudah begini, apa yang harus dilakukan? Komplain ke Amazon, tentu saja.

Lantas saya mendapat jawaban seperti ini:

I am sorry that you have not yet received your order #103-5553935-
0361445. I see that the order summary in Your Account estimated it
would be delivered by June 01, 2007 - June 13, 2007 to the following
address:

[alamat saya, -red]

There is no tracking number available for this service.

It’s been our experience that the majority of late packages arrive
just three or four business days after the estimated delivery date.
Therefore, we would like to ask that you wait until close of
business on June 19, 2007 for this shipment to arrive.

Packages shipped via DHL Deutsche Post are sent to Deutsche Post’s
nearest regional shipping hub and then delivered to customers by
their local postal authorities. When tracking is available for a
DHL Deutsche Post shipment, the package is tracked until it reaches
the destination country, but the final delivery is handled by your
local postal service. Please check with your local post office to
confirm that the package is lost.

Dan bagusnya lagi:

To compensate for the inconvenience caused I have requested a full
refund of the shipping charges for this order. I’ve requested a
refund of $6.48 to your credit card. This refund should go through
within 3 to 5 business days. You should see it as a credit on your
next credit card billing statement.

Seperti yang diminta, saya menunggu sampai tanggal 19 Juni. Namun ternyata kiriman tidak kunjung sampai. Jadi, saya kembali mengajukan komplain. Ini hasilnya:

I’m sorry, but it appears that your order has been lost in shipping.

I’ve placed a new order for the items to be shipped to you as soon as
possible.

We are facing a peculiar issue where the shipments are held up at
customs since the value of these replacement orders are $0.00.

We are trying to work out a solution to resolve this issue. In order
to avoid unnecessary delay or the shipment being returned to us due
to customs requirement, we have started charging the replacement
order.

We will be issuing the refund proactively from the original order to
your account.

I’ve placed a new order for the items to be shipped to you as soon as
possible. The charge for this order is $25.97. This same amount will
be refunded to your original order. Both the charge and refund will
be applied to the credit card used on the original order.

Here are the order details:

Order Number: (#103-9861069-4715867)
Estimated Delivery Date: Expedited International Shipping

Barang pengganti saya terima hanya dalam waktu seminggu. Sekitar dua minggu kemudian, barang yang pertama kali dipesan akhirnya menyusul tiba. Layanan yang bagus, huh?

Tapi tunggu dulu kejutan berikutnya.

Beberapa waktu lalu, saat melakukan pemesanan lagi, saya dibikin kaget karena dikenakan ongkos kirim yang jauh lebih besar dari biasanya. Terakhir kali melakukan pemesanan, saya dikenakan biaya pengiriman sebesar $6.48 untuk transaksi senilai $13. Kali ini, untuk item seharga sekitar $10 saya dikenakan bea sampai $12. Gile benerr!

Karena keberatan dengan besarnya biaya pengiriman, pesanan saya batalkan saja sambil mencari alternatif yang lebih masuk akal. Karena terakhir kali pesanan saya di Amazon dikirim lewat DHL Deutsche Post (Jerman), jadi saya putuskan untuk mencoba peruntungan dengan bertransaksi lewat Amazon Jerman saja.

Untungnya dimanapun juga, Amazon menggunanakan database pelanggan yang sama. Account di Amazon US bisa dipakai di Amazon Jerman tanpa harus mendaftar ulang. Jadi, dengan modal bahasa Jerman yang pas-pasan, saya coba melakukan pemesanan disana.

Hasilnya? Lebih buruk lagi. Di Amazon Jerman, Item yang sama dijual seharga sekitar EUR 8, dengan biaya pengiriman EUR 14. Waduh! Sialnya lagi, mail konfirmasi pemesanan terlambat saya terima (ada delay di mailserver). Akibatnya, saat email billing akhirnya tiba di mailbox saya, barang sudah terlanjur disiapkan untuk dikirim dan pesanan sudah tidak bisa dibatalkan (“Wir bereiten diese(n) Artikel gerade für den Versand vor, daher sind Änderungen oder Stornierungen nicht mehr möglich.”). Ya sudah, pasrah saja.

Kenapa ongkos kirim bisa naik sampai dua kali lipat ketimbang biasanya? Dugaan saya, karena kenaikan biaya asuransi akibat besarnya resiko kehilangan atau keterlambatan. Lantas siapa yang bisa disalahkan? Jelas bukan Amazon. Sebaik apapun praktek bisnis mereka, tetap saja harus berorientasi profit dan berupaya menekan kerugian. Jadi, yang patut dicurigai menurut saya ada dua pihak: (1) Pos Indonesia, dan (2) bea cukai.

Well, saya tidak perlu banyak komentar tentang buruknya layanan publik disini, jadi cerita soal itu saya “cut” sampai disini saja. Mending tunggu saja sampai pesanan saya sampai. Berharap terlambat lagi, supaya bisa minta penggantian ongkos kirim? Rasanya tidak. Kalaupun terlambat, lebih baik ditunggu saja. Ketimbang harus komplain, dan lantas kapan-kapan dibikin pusing dengan kenaikan biaya pengiriman. Sabar sajalah.