Beberapa entri terakhir di blog ini penuh dengan teori-teori sains. Sepertinya sudah waktunya untuk sedikit refreshing barang sejenak. Lupakan dulu soal evolusi, teori kuantum, game theory, dan kawan-kawannya itu. Sekarang kita talk yang ringan-ringan sajalah. Soal musik.

The Vienna Boys’ Choir (Die Wiener Sängerknaben) adalah kelompok paduan suara (choir) anak-anak lelaki bersuara sopran yang biasanya membawakan komposisi choral dari periode klasik maupun lagu-lagu rakyat. Nah, bagaimana seandainya mereka menyanyikan lagu-lagu pop, atau bahkan rock, macam yang dibawakan oleh Madonna atau Metalicca?

Hasilnya bisa dilihat di album CD yang satu ini, Viena Boys Choir Goes Pop (2002). Album ini termasuk kontroversial. Para pengomentar di Amazon.com terpecah dalam dua kutub yang sama-sama ekstrem, antara yang sangat memuji dan sangat mencela. Walaupun semula sempat ragu-ragu, tapi akhirnya saya pesan juga CD ini dari Amazon, cuma karena didorong rasa penasaran.

Pendapat saya? Saya nggak bakalan bilang CD ini bagus! Pertama, lagu-lagunya nggak gue banget. Untung ada Only Time. Menurut saya sih, lagu yang aslinya dibawakan oleh Enya ini adalah satu-satunya komposisi di album ini yang pantas dinyanyikan oleh choir asal Austria tersebut. Yang juga rada mendingan adalah Nothing Else Matters nya Metalicca. Interpretasi terhadap lagu ini cukup lumayan. Lagu berirama rock ini jadi terkesan lebih lembut di tenggorokan para bocah yang terkenal dengan seragam pelautnya itu. Hanya saja, saya merasa sedikit terganggu dengan logat Austria yang kental dari sang solis.

Tapi lagu-lagu lainnya (maaf) payah. My Heart Will Go On nya Celine Dion misalnya. Sebenarnya interpretasi terhadap lagu ini tidak jelek-jelek amat. Tapi sayangnya, dalam komposisi ini, unsur choir malahan tidak terlalu ditonjolkan, sementara aransemen dibalut dengan musik techno yang nge-beat. Sangat tidak cocok! Untuk track yang lain, mendengar intronya saja sudah membuat saya jadi hil-fil :(. Secara umum, aransemen musik pada album ini terlalu ramai dan cenderung menutupi karakter suara penyanyi — yang seharusnya lebih ditonjolkan. Para anggota choir juga tidak tampil dengan performa terbaiknya; mungkin karena jenis musik yang mereka bawakan sebenarnya tidak sesuai dengan karakter vokal mereka.

Konon album ini mencatat rekor penjualan yang fantastis di daratan Eropa. Tapi kita-kita, penikmat musik klasik, jelas punya pendapat lain. Tenang sajalah. Kita memang sudah terbiasa menjadi minoritas yang tampil beda. Tentu saja, kalau album ini dibilang sebagai suatu kesalahan, itu bukan kesalahan anak-anak anggota choir, tapi orang-orang dewasa yang berada di balik produksi album ini: para produser, arranger, dan sutradara. Seorang pereview di Amazon terang-terangan mengutuk: How dare those people use such marvellous voices to create such ugly thing?

Well, setelah resensi singkat ini, saya kembali ke karakter asli saya. Innsbruck, Ich Muss Dich Lassen (Innsbruck, I Must Leave You), yang dibawakan kelompok choir yang sama sekarang sedang mengalun di ruangan saya. Tidak ada instrumen; hanya choir acapella yang melantunkan komposisi indah yang digubah Heinrich Isaac pada sekitar abad ke-15. That’s what I call music! Kuno yah saya. Ha-ha-ha.

O, ya. dibawah ini adalah klip Only Time oleh Vienna Boys Choir, satu-satunya komposisi di album ini yang masih bisa diterima oleh telinga saya.