Lagi Soal Teori Evolusi
Beberapa bulan terakhir ini saya membaca sejumlah buku tentang teori evolusi. Dan kali ini saya harus menyelesaikan buku yang paling berat: “The Origin of Species”, karya Charles Darwin, mbah-nya teori evolusi itu sendiri. Yang saya baca adalah edisi terjemahan Indonesia, yang pertama kali diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia pada 2003 dan dicetak ulang pada tahun 2007 ini.
Saya masih belum bisa bercerita banyak tentang buku itu karena sekarang saya masih stuck di bab-bab awal, dan sepertinya perlu waktu cukup lama sampai buku tebal ini (504 + xxxv halaman) selesai saya baca. Kali ini saya cuma kepingin sedikit omong-omong soal teori evolusi.
Kita tahu bahwa kitab suci agama samawi (Yahudi-Kristen-Islam) menegaskan bahwa segenap mahluk di muka Bumi, termasuk juga manusia, tercipta secara seketika tanpa proses apapun. Semua muncul begitu saja dari ketiadaan. Dengan demikian, teori evolusi yang menjelaskan bahwa segenap organisme hidup muncul melalui suatu proses tertentu, ditempatkan dalam posisi berseberangan dengan dogma agama. Muncullah aneka rupa penentangan terhadap teori ini, baik dengan menggunakan dalil agama maupun sains (atau mungkin lebih tepat kalau kita sebut “pseudosains”).
Namun kalau kita perhatikan, tentangan terhadap teori evolusi umumnya hanya dilatari anggapan bahwa evolusi tidak sejalan dengan iman keagaman yang dianut, dan karenanya pasti salah dan harus ditolak — seringkali tanpa didasari oleh pemahamanan yang memadai tentang teori evolusi itu sendiri. Upaya-upaya ini juga kerap dilakukan dengan membawa dalil-dalil keagamaan, yang kemudian dibungkus dengan jargon-jargon bombastis seperti “keruntuhan teori evolusi” atau yang semacamnya. Padahal, tentu saja, semua saintis sepakat bahwa teori evolusi sampai saat ini masih kokoh, dan sama sekali belum runtuh.
Dalam pandangan para penentangnya, teori evolusi diartikan secara sempit sebagai teori yang menjelaskan bahwa manusia berasal dari kera. Padahal, teori evolusi sesungguhnya adalah teori yang kompleks. Diperlukan berjilid-jilid buku tebal untuk menjelaskannya. Mahasiswa biologi perlu beberapa semester untuk mendalaminya. Secara logika, nyaris tidak masuk akal kalau semua itu cuma omong kosong belaka.
Dari membaca buku-buku tentang evolusi, saya mendapat kesan bahwa teori evolusi secara ilmiah bisa dipertanggung jawabkan. Kalau kita baca buku-buku karya para ilmuwan-penulis pro Darwin, seperti Richard Dawkins (yang sampai dijuluki sebagai “tukang pukul Darwin” akibat kegigihannya membela teori evolusi) hingga Richard Leakey (antropolog dari keluarga Leakey yang legendaris itu), kita akan mendapati bahwa teori evolusi memiliki fondasi yang cukup kokoh – dilihat dari metodologi dan penjabarannya. Sama sekali tidak seperti yang digembar-gemborkan oleh para penentangnya itu.
Tapi okelah, biologi evolusioner sama sekali bukan bidang saya. Jadi, soal valid tidaknya teori evolusi, biarlah menjadi urusan para akademisi yang memang mendedikasikan waktunya untuk hal tersebut. Tidak perlu “berkoar-koar” menolak atau menerima sesuatu yang sebenarnya tidak sepenuhnya kita pahami.
Hanya saja, alangkah baiknya apabila debat seputar teori evolusi bisa kita sikapi seperti halnya teori kontroversial lain, teori string misalnya, dimana kita boleh berbeda pendapat tanpa harus menyebut pihak yang berseberangan sebagai “kafir” atau semacamnya. Juga, saya rasa sebaiknya soal agama tidak perlu dibawa-bawa dalam posting kali ini. Tentu saja, saya orang beragama dan percaya Tuhan. Tapi soal iman bagi saya adalah masalah hati, dan soal-soal pribadi semacam itu sudah diluar porsi blog ini.
Btw, sekalian woro-woro, saya baru saja membuka “rak buku virtual” saya di www.shelfari.com/dhani/shelf. Saya senang sekali kalau ada yang bisa diajak diskusi tentang buku-buku yang saya pasang disana – tentu juga termasuk buku-buku bertema evolusi. Saya tunggu!
Boléro
Untaian nada bernuansa Mediteranian itu mengalun berulang-ulang. Klarinet, bassoon, E-flat klarinet, oboe, trumpet, saksofon, horn, trombon, bergantian dimainkan secara solo. Sementara di latar belakang, lamat-lamat terdengar suara perkusi, diiringi biola yang dimainkan secara pizzicato (dipetik). Ritmis.
Lantas sebelum kita keburu mengantuk, kita bisa merasakan bahwa untaian nada-nada yang masih itu-itu juga kini kedengaran kian menggelegar. Suara perkusi mulai terasa lebih bertenaga, dan brass serta string mulai mengisi ruang.
Menjelang akhir komposisi, semua terasa berbeda. Melodi yang masih itu-itu juga dimainkan dengan makin bersemangat. Makin riuh rendah. Dan akhirnya, seluruh orkestra dimainkan bersama, menciptakan akhir yang menggelegar, sangat jauh dari bagian pembuka. Namun masih dengan melodi yang sama.
Boléro, komposisi sepanjang 13 menit lebih gubahan Maurice Ravel mengisi ruangan ini, menemani malam yang senyap, di depan layar komputer dengan sebuah tulisan agak panjang untuk blog Astronomy yang baru saja selesai.