Carl Sagan
Salah satu bagian masa kecil saya yang masih samar-samar melekat di ingatan, adalah sebuah acara TVRI yang sering saya tonton kala itu. Nama mata acaranya mirip dengan nama blog ini: Bianglala Dunia Ilmu. Walaupun judulnya berbahasa Indonesia, namun yang ditayangkan disini adalah film-film ilmu pengetahuan berbahasa Inggris yang bagi saya, seorang anak kecil yang baru duduk di kelas-kelas awal Sekolah Dasar, seperti punya daya tarik tersendiri, layaknya film kartun saja.
Saya masih ingat, kesan ketika menyaksikan kisah penjelajahan wahana Voyager yang menyambangi planet-planet di bagian luar tata surya, melihat gambar permukaan Mars yang dikirim ke Bumi dari wahana pendarat Viking, juga aneka hal-hal menakjubkan lainnya: rasi bintang, galaksi, maupun pemandangan di permukaan bulan yang muncul di layar televisi melalui acara ini. Dari sinilah ketertarikan saya terhadap astronomi mulai bertumbuh.
Namun waktu itu ada hal yang saya abaikan. Sosok yang membawakan acara ini, seorang laki-laki paruh baya yang bicara dengan nada antusias, menjelaskan berbagai hal yang muncul di layar. Nama lelaki ini baru saya kenal belasan tahun kemudian. Dialah Carl Sagan.
Sosok Carl Edward Sagan dalam ilmu astronomi mungkin bisa disejajarkan dengan Stephen Hawking pada fisika atau Richard Dawkins dalam biologi evolusioner. Seperti kedua nama yang disebut terakhir ini, Sagan adalah orang yang berjasa dalam mempopulerkan disiplin yang ditekuninya kepada kalangan non-ilmuwan. Berkat upayanya, astronomi tidak lagi dipandang sebagai disiplin ilmu yang eksklusif, namun juga sesuatu yang dapat dinikmati oleh siapa saja yang menaruh minat.
Diluar karir akademisnya sebagai astronom dan profesor ilmu astronomi di universitas Cornell, serta setumpuk profesi ilmiah lainnya, ia juga dikenal atas usahanya berbagi ilmu kepada masyarakat awam. Serial dokumenter televisi Cosmos, yang saya saksikan di masa kecil saya itu, beserta buku penyertanya dengan judul yang sama (pernah saya ulas di sini) adalah salah satu karya monumental Sagan. Cosmos adalah program yang berorientasi astronomi namun dengan perspektif yang sangat luas. Baik serial televisi maupun buku penyertanya tercatat sebagai salahsatu karya yang paling banyak ditonton maupun dibaca. Hingga kini, serial Cosmos telah diputar di 60 negara dengan jumlah penonton diperkirakan mencapai 600 juta orang, sementara bukunya mencatat bestseller di berbagai negara.
Buku-buku lain yang pernah ditulisnya mencakup Pale Blue Dot: A Vision of the Human Future in Space yang merupakan sekuel dari Cosmos. Juga buku-buku seperti Broca’s Brain: Reflections on the Romance of Science, The Dragons of Eden: Speculations on the Evolution of Human Intelligence, dimana untuk karya ini ia memenangkan hadiah Pulitzer. Sagan juga menulis sebuah novel fiksi-sains, Contact, yang kemudian diadaptasi ke layar lebar oleh Holywood dengan pemeran utama Jodie Foster. Sayangnya, sejauh yang saya ketahui, diantara buku-buku yang ia tulis, hanya Cosmos dan Contact yang pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Sagan bukan sekedar penulis popular. Sebagai akademisi, tidak kurang dari 600 makalah telah lahir dari tangannya. Ia adalah saintis pertama yang mengajukan hipotesis bahwa permukaan Titan, bulan terbesar Saturnus, menyimpan lautan dan danau dari hidrokarbon, dan bahwa awan tebal yang melingkupi Titan tersusun atas molekul organik yang kompleks. Selain itu, ia membantu menjelaskan efek rumah kaca sebagai penyebab tingginya suhu di permukaan Venus. Belakangan, Sagan juga gencar memperingatkan bahwa efek serupa dapat terjadi di permukaan Bumi dan mengakibatkan terjadinya pemanasan global. Ia juga menjelaskan fenomena badai di permukaan Mars sebagai akibat perubahan musim di planet tersebut.
Sagan memegang peranan penting dalam desain dan pengiriman wahana Mariner, Viking, Voyager, dan Galileo oleh NASA. Ia adalah orang dibalik piringan rekaman yang dibawa oleh wahana Voyager 1 dan 2. (saya pernah bercerita sedikit tentang rekaman tersebut di sini). Sebagai penghormatan terhadap kontribusinya, NASA menamai lokasi pendaratan wahana Mars Pathfinder di Mars menurut namanya: Carl Sagan Memorial Station.
Sebagai astronom yang percaya akan adanya kehidupan diluar Bumi, selama 12 tahun terakhir hidupnya, Sagan menjabat editor in chief pada jurnal Icarus, sebuah jurnal riset planeter profesional. Ia juga tercatat sebagai co-founder dan pimpinan dari Planetary Society, kelompok minat ruang angkasa terbesar di dunia dengan anggota mencapai lebih dari 1.000.000 orang dari 149 negara.
Carl Sagan tutup usia dalam usia 62 tahun pada 20 Desember 1996 akibat serangan penyakit kanker. Ia meninggalkan karya-karya yang menginspirasi dan membuka mata jutaan orang tentang jagat raya beserta beserta segenap keindahannya. Saya adalah salah seorang diantaranya.
The time will come when diligent research over long periods will bring to light things which now lie hidden. A single lifetime, even though entirely devoted to the sky, would not be enough for the investigation of so vast a subject . . . And so this knowledge will be unfolded only through long successive ages. There will come a time when our descendants will be amazed that we did not know things that are so plain to them . . . Many discoveries are reserved for ages still to come, when memory of us will have been effaced. Our universe is a sorry little affair unless it has in it something for every age to investigate . . . Nature does not reveal her mysteries once and for all.
- Seneca, Natural Questions,
Book 7, first century
(Sagan mengutip kalimat ini dalam pengantar untuk bukunya, Cosmos)
Palapa C1, Riwayatmu Kini
Bulan Februari 1996 Indonesia meluncurkan satelit komunikasi generasi ketiganya, Palapa C1. Peluncuran ini kemudian diikuti peluncuran satelit berikutnya, Palapa C2 pada bulan Mei di tahun yang sama. Tapi kalau kita perhatikan, semua layanan telekomunikasi dalam negeri sekarang dilayani oleh satelit Palapa C2, serta Telkom 1 dan 2. Lantas kemana Palapa C1 sekarang?
Ternyata Palapa C1 sekarang sudah bukan milik kita lagi. Ceritanya, beberapa saat setelah diluncurkan, ketahuan kalau Palapa C1 ternyata mengalami gangguan pada komponen kelistrikan yang menyebabkan satelit ini tidak bisa melakukan pengisian baterai. Tanpa baterai, satelit tersebut tidak akan memiliki cadangan daya listrik saat mengalami gerhana satelit (dikenal sebagai sun outage) yang biasanya terjadi dua kali dalam setahun.
Palapa C1 lantas dinyatakan tidak dapat berfungsi sesuai dengan misi yang direncanakan. Klaim asuransi segera dibayar, dan satelit ini berpindah tangan ke pihak perusahaan asuransi. Pada Januari 1999, kepemilikan satelit ini beralih ke Hughes Global Services, yang mengoperasikannya dengan nama HGS 3.
Berikutnya, sebuah perusahaan yang berbasis di AS, Kalitel, menyewa HGS 3 dari Hughes. Satelit ini kemudian dipindahkan ke orbit barunya, di 50º BT (yang terdaftar sebagai slot orbit satelit milik Turki) pada Desember 2000. Namanya pun berubah menjadi Anatolia 1.
Awal Agustus 2002, masa sewa satelit ini habis, dan satelit ini kembali berpindah tangan ke penyewa berikutnya, Pakistan, untuk masa pemakaian selama 5 tahun. Posisinya dipindah lagi ke 38º BT, dan namanya diganti lagi menjadi Paksat 1. Sebagai satelit komunikasi pertama yang dimiliki Pakistan, Paksat 1 dioperasikan sambil menunggu selesainya pembuatan satelit Paksat 2 yang rencananya akan menggantikan posisinya pada 2007 ini.
Menarik juga untuk diceritakan bahwa pada saat itu Pakistan sebenarnya telah memiliki 5 slot di orbit geostasioner. Sialnya, Pakistan masih belum mampu meluncurkan satelitnya sendiri. Akibatnya, 4 slot habis masa lisensinya karena tidak kunjung ditempati. Satu-satunya slot yang tersisa kemudian segera diisi oleh Paksat 1 sebelum lisensinya keburu hangus.