Speedy Mulai Berulah
Sudah beberapa bulan saya melanggan Telkom Speedy, dan selama ini belum pernah ada masalah serius. Tidak seperti kebanyakan pengguna Speedy yang memakai ISP Astinet Telkom, saya menggunakan ISP NanguraNet yang dioperasikan oleh Kopkar PT Telkom Siporennu yang berbasis di Makassar. Walaupun bandwidthnya lebih kecil ketimbang Astinet, tapi performanya tidak mengecewakan. Malahan dalam beberapa hal ISP yang satu ini masih lebih handal dari Astinet. Contohnya ketika beberapa bulan lalu Jakarta dilanda banjir dan jaringan internet Telkom mati total, Speedy saya sama sekali tidak terganggu. Begitu pula ketika akses internet di Bali sempat terputus akibat gempa bumi yang melanda NTB beberapa hari lalu, internet di rumah tetap lancar.
Tapi bulan ini sepertinya kesabaran saya sedang diuji. Dalam tagihan bulan ini, entah kenapa penggunaan Speedy saya masih dikenakan tarif lama. Abonemen yang seharusnya sudah turun hingga Rp. 200.000 masih ditagihkan Rp. 300.000. Quota masih 750 MB dengan biaya overquota Rp. 700/MB. Sampai saat ini saya masih sibuk mengurus klaim restitusi kelebihan ongkos tagihan tersebut. Itu satu.
Berikutnya, performa ISP juga mulai mengalami penurunan yang cukup drastis. Kalau selama ini saya bisa melakukan download dengan rate diatas 30-an KB/sec, bahkan sampai 40 KB/sec — yang merupakan kecepatan tertinggi yang secara teori bisa dicapai oleh layanan Speedy — sekarang ini bisa sampai 20 KB/sec saja sudah untung. Ini belum termasuk masalah koneksi yang sering putus secara tiba-tiba, atau bahkan mati total selama beberapa jam. Tadinya saya kira ini tejadi pada semua pelanggan Speedy, tapi saya perhatikan koneksi internet di kantor yang menggunakan Speedy dari Astinet ternyata normal-normal saja.
Puncaknya hari ini, ketika saya berkali-kali gagal mendownload attachment sebesar 20 MB dari mailserver kantor. Padahal isinya file-file kerja yang mesti cepat-cepat di-follow up malam ini juga. Upaya download berulangkali terputus karena server timeout. Kecepatan download juga hanya berkisar 2 KB/sec. Akhirnya, apa boleh buat saya terpaksa memakai jalur alternatif, menggunakan layanan diap-up TelkomNet Instan. Untungnya, kendati sudah berbulan-bulan tidak dipakai, modem internal di PC saya ternyata masih berfungsi dengan baik. File attachment bisa didownload dengan kecepatan sekitar 4,5 - 4,6 KB/sec. Mengingat masalah yang saya hadapi dengan Speedy barusan, rasanya kecepatan segitu sudah kencang banget!
Kadang-kadang saya merasa Telkom agak kurang adil terhadap pelanggan lamanya. Dalam promosi Formula 5, pelanggan baru bisa menikmati diskon biaya abonemen hingga 50%, sementara pelanggan lama tetap harus membayar penuh. Setelah upaya promosi berhasil menggaet banyak pelanggan baru, kini layanan yang turun, dan pelanggan lama juga terkena imbasnya.
Okelah, Telkom bisa saja memberikan ganti rugi. Tapi bagaimana dengan kerugian imaterial yang dialami pelanggan macam saya yang harus bergadang semalaman menunggui proses download attachment raksasa (yang saat posting ini saya ketik masih terus berjalan)? Seandainya Speedy sedang lancar, file seukuran itu bisa didownload dalam 15 menit, atau bahkan kurang. Sekarang, TelkomNet Instan telah terkoneksi selama 49 menit; baru 12 MB dari 20 MB file yang telah terdownload. Waktu sudah menunjukkan hampir jam setengah dua dini hari. Duh. ![]()
Orbit Geostasioner
Katanya satelit itu bergerak mengorbit Bumi, lantas kenapa antena parabola selalu mengarah ke titik yang sama di angkasa? Penjelasan kualitatifnya adalah karena antena parabola mengarah ke satelit komunikasi, dan satelit komunikasi menempati orbit geostasioner. Orbit geostasioner adalah suatu titik di atas garis katulistiwa dimana satelit mengorbit bumi dengan periode yang persis sama dengan periode rotasi bumi. Konsekuensinya, satelit seolah-olah selalu menggantung pada “kaplingnya” di atas permukaan Bumi.
Tapi tentu saja, sains itu kuantitatif, jadi kita tidak cukup sebatas berbicara tentang fakta-fakta kualitatif. Dalam hal ini, besaran kuantitatifnya adalah ketinggian orbit satelit dan seberapa cepat satelit itu mengorbit. Hal-hal semacam ini hanya bisa kita pahami apabila disajikan secara matematis melalui serangkaian perhitungan dan pengukuran.
O, ya. Sebelum kita lanjutkan, saya perlu mengingatkan bahwa penjelasan ini melibatkan serangkaian perhitungan yang didasarkan atas fakta bahwa Bumi kita adalah sebuah benda angkasa yang berbentuk bundar dan berotasi pada sumbunya. Jadi, bagi yang beranggapan Bumi itu datar, atau tidak berotasi, lebih baik tinggalkan saja blog ini sekarang juga!
Masih mau membaca lebih lanjut? Ok. Kita mulai saja. Sebenarnya hitung-hitungannya tidak sulit koq. Anak SMA juga pasti bisa mengerti, jadi jangan keburu keder dulu :). Setiap benda yang melakukan gerak orbit sirkular (melingkar) membutuhkan akselerasi sentripetal untuk mempertahankan orbitnya. Dalam kasus satelit yang mengorbit, akselerasi sentripetal didapat dari gaya gravitasi. Untuk menghitung seberapa tinggi orbit geostasioner itu, kita bisa mulai dari persamaan ini:
Fsentripetal = Fgravitasional
Dalam hal ini kita berpegang pada fakta bahwa satu periode orbit setara dengan satu hari sideral (waktu dimana Bumi tepat berotasi 360°).
Selanjutnya, dengan hukum gerak kedua dari Newton, kita bisa mengganti gaya F dengan massa dari objek dikalikan dengan akselerasi yang dialami suatu benda akibat gaya itu:

Perhatikan bahwa dalam persamaan diatas, massa satelit, msat, muncul pada kedua ruas. Jadi, pekerjaan menghitung ketinggian satelit bisa disederhanakan menjadi menghitung suatu titik dimana akselerasi sentripetal yang berasal dari gerakan mengorbit dan akselerasi gravitasional yang berasal dari gravitasi bumi berada pada besaran yang sama.
Besaran akselerasi sentripetal adalah:

Dimana ω adalah kecepatan sudut (dinyatakan dalam satuan radian per detik), dan r adalah jari-jari orbital (dalam satuan meter), diukur dari pusat massa Bumi.
Besaran akselerasi gravitasional adalah:

Dimana MBumi adalah massa Bumi dalam kilogram, dan G adalah konstanta gravitasional.
Kalau kedua akselerasi ini kita gabungkan, maka kita peroleh:


Kita bisa menyatakan dengan cara yang sedikit berbeda dengan mengganti G · M dengan µ, konstanta gravitasi geosentris:

Kecepatan sudut ω dapat dihitung dengan membagi sudut yang dijalani dalam sekali orbit (360° = 2 · p rad) dengan periode orbit (waktu yang diperlukan untuk satu kali orbit, yaitu sehari sideral, yang lamanya 86164,09054 detik). Dari sini kita dapati:

Dari sini kita peroleh besaran jari-jari orbital sebesar 42.164 km. Apabila dikurangi dengan jari-jari Bumi pada katulistiwa, sebesar 6.378 km, kita dapati angka 35.786 km. Ini adalah ketinggian orbit satelit geostasioner.
Kecepatan orbital (seberapa cepat satelit mengorbit di angkasa) dihitung dengan mengalikan kecepatan sudut dengan jari-jari orbit:
υ = ω · r = 3,07466 km/det
Apakah ini hanya teori? Tidak! Kenyataannya ratusan satelit komunikasi telah meluncur dan menempati orbit diatas katulistiwa berdasarkan perhitungan diatas. Jadi, setiap kali Anda mengangkat telepon, menonton televisi, atau mengakses internet (seperti yang saat ini sedang Anda lakukan), ingat-ingatlah bahwa anda bisa menikmati itu semua berkat adanya gerak rotasi Bumi.
Krakatau
Kalau sekarang kita masih terkaget-kaget dengan tsunami Aceh yang konon adalah bencana alam terdahsyat di era modern, nenek moyang kita (setidaknya tiga atau empat generasi lampau lah) sudah kaget duluan dengan peristiwa letusan Krakatau. Sama-sama di kepulauan Nusantara, dan sama-sama di ujung Sumatra pula :).
Buku ini, Krakatau: Ketika Dunia Meledak , 27 Agustus 1883 (Judul Asli: Krakatoa: The Day The World Exploded: August 27, 1883), ditulis oleh Simon Winchester, menceritakan dengan gamblang, bagaimana letusan krakatau mempengaruhi berbagai aspek kehidupan pada masa itu hingga masa kini.
Buat yang masih percaya kalau Krakatau adalah letusan gunung api terbesar sepanjang sejarah, sepertinya harus cepat-cepat merevisi pandangannya. Sekarang kita tahu kalau letusan Krakatau “hanya” menempati urutan kelima sebagai letusan terbesar dalam sejarah geologi planet ini. Kalau dihitung dari banyaknya materi yang dilontarkan dan ketinggian yang dicapai oleh lontaran material itu, maka letusan gunung Toba dan Tambora, juga di Indonesia, serta gunung Taupo di Selandia Baru dan Katmai di Alaska jauh lebih dahsyat. Tapi, semua bencana itu terjadi jauh di masa lampau, dengan akibat langsung yang lebih kecil pada umat manusia. Letusan krakatau terjadi di era ketika teknologi komunikasi mulai berkembang, dan sains mulai mengambil tempatnya dalam peradaban dunia.
Walaupun banyak membahas aspek-aspek geologis dari letusan Krakatau — tentu, karena sang penulis memang berlatar belakang Geologi — namun buku ini tidak sepenuhnya bicara tentang sains. Dalam bukunya ini, Winchester juga banyak bercerita tentang bagaimana letusan Krakatau mempengaruhi segi sosial dan budaya masyarakat Hindia Belanda maupun dunia kala itu. Dengan fasihnya Winchester menyuguhkan berbagai kisah yang relevan, mulai dari ramalan Ronggowarsito hingga pergerakan Islam di Banten, mulai dari sajak-sajak para penyair romantik Inggris hingga lukisan lansekap Amerika aliran Hudson River.
Bagi saya pribadi, bagian yang paling menarik justeru adalah bahasan mengenai bagaimana kehidupan mulai berkembang di pulau Krakatau setelah mengalami pemusnahan dan kehancuran total pasca letusan, dan bagaimana evolusi ikut “bermain” disini. Dari segi itu, pembaca yang masih saja nyinyir dengan teori Evolosi mungkin tidak akan terlalu suka dengan buku ini. (Ngomong-ngomong, teori evolusi saat ini adalah teori mainstream, dan kaum penentangnya kemungkinan tidak akan punya bacaan lain selain Harun Yahya).
Oh ya. Bagi yang masih bermusuhan dengan Darwin ;), ada satu nama lagi yang boleh juga dipertimbangkan untuk dijadikan sasaran tembak: Alfred Russell Wallace. Dia pendukung Setia Charles Darwin yang namanya diabadikan untuk garis maya yang membatasi dua kawasan Biologis yang walaupun berdekatan, tapi sangat sangat berbeda dalam keragaman hayatinya. Kebetulan Garis Wallace juga memotong wilayah Indonesia, dan uniknya, walaupun masih kontroversial dan hanya berperan minor dalam teori evolusi organisme hidup, namun secara tidak sadar Garis Wallace justeru berperan penting dalam teori lempeng tektonik — teori evolusi Bumi! Untuk lengkapnya, silahkan baca buku ini sendiri sajalah :).
Indonesia memang sejak dulu telah menjadi land of disaster. Buku ini menyadarkan kita, bahwa bencana dahsyat memang merupakan bagian dari sejarah geologis tempat yang kita huni sekarang ini. Letusan Krakatau, Tambora, serta Toba, atau tsunami Aceh, hanyalah salah satunya. Yang sesudahnya, tinggal tunggu waktu saja. Jadi, waspadalah!