Ceritanya berawal ketika Niels Bohr, fisikawan yang dijuluki “orang besar dari Denmark” mengajukan suatu teori bahwa elektron mengelilingi inti dalam orbit-orbit tertentu. “Beri aku spektrum absorbsi, dan elektron itu akan kutemukan”. Pernyataan Bohr ini secara implisit menunjukkan sikapnya yang deterministik: Alam semesta dapat dipastikan.
Bencana datang ketika Werner Heisenberg, fisikawan teoretis asal Jerman, mendaftar sebagai mahasiswa bimbingan Bohr. Suatu saat pada 1922, anak muda 20 tahun itu dengan lancang mengajukan pernyataan kepada jenius Denmark itu dalam suatu kuliahnya: Karena elektron itu tidak akan pernah dapat dilihat oleh manusia maka kepastian dari keadaan elektron tersebut (posisi dan momentumnya) tidak akan pernah dapat dipastikan.
Pernyataan ini membuat Bohr terkesiap. Selesai kuliah, Bohr mengajak Heisenberg berjalan-jalan, berdiskusi mengenai fisika sambil melihat pemandangan alam Jerman. Bohr langsung sadar: anak muda ini bukan orang sembarangan.
Belakangan, Max Born, fisikawan teoritis ternama mengangkat Heisenberg sebagai Dosen di Gottingen. Ketika itu usianya baru 22 tahun. Tidak lama kemudian Bohr mengajaknya ke Copenhagen, kota yang pada masa itu dikenal sebagai salah satu pusat perkembangan fisika teoritis dunia. Pada 1927, Heisenberg merumuskan sebuah teori yang membawa dampak filosofis dan fundamental dalam dunia sains: Prinsip ketidakpastian. Kita tidak mungkin bisa memastikan dimana elektron berada karena kita tidak seluruhnya tahu masa kini! Apabila kita bisa mencari informasi keberadaan (posisi) elektron dengan sangat teliti, maka kita akan kehilangan kepastian mengenai momentumnya, yang artinya sulit menentukan dimana elektron itu berada pada waktu berikutnya. Sebaliknya, jika kita mengukur momentumnya dengan sangat teliti, maka kita akan kehilangan kepastian mengenai keberadaan elektron. Prinsip ini bukan merupakan akibat dari keterbatasan ketelitian instrumen manusia, akan tetapi merupakan sifat yang inheren (melekat) di dunia subatomik.
Dengan mengajukan teori ini, Heisenberg praktis telah menjungkirbalikkan determinisme fisika klasik. Prinsip ketidakpastian Heisenberg menunjukkan bahwa penyusun dari semua benda di alam bersifat takpasti. Meskipun dapat ditentukan akan tetapi tidak pernah dengan ketelitian 100%. Ini terobosan yang membuat geram para pendukung determinis, termasuk diantaranya Einstein. Dari sinilah keluar ucapan Einstein yang terkenal “Tuhan tidak bermain dadu dengan alam!” Meskipun Einstein berulangkali menyerang teori ketidakpastian Heisenberg (yang kini didukung oleh Bohr), Bohr dan Heisenberg selalu dapat menangkis serangannya.
Tuhan nampaknya benar-benar sedang bermain dadu. Sia-sia Einstein berusaha membendung teori kuantum. Kenyataannya, tidak (belum?) ada yang bisa menggantikan teori Heisenberg yang kelak melandasi mekanika kuantum, salah satu mahakarya fisika modern. Pemahaman struktur atomik, laser, black hole, superkonduktor hanyalah sedikit contoh dari penerapan teori kuantum. Richard Feynman, salah satu fisikawan terbaik yang pernah hidup membela prinsip ketidakpastian dengan mengatakan bahwa, “Prinsip ketidakpastian adalah salah satu fondasi fisika kuantum. Jika runtuh, maka runtuhlah fisika kuantum!”
Mengutip fisikawan Stephen W. Hawking, “Tuhan tidak hanya bermain dadu. Ia bahkan melemparnya ke tempat yang tidak kita ketahui.”



by ech
15 Apr 2007 at 03:01
hari ini mo nulis masalah sama, eh udah keduluan ;)
tapi aku tulis juga. tulisan diatas aku link tanpa izin. thx.
by sumodirjo
28 Apr 2007 at 04:34
Keren tulisannya mas. sering2 dong nulis seperti ini. dari dulu sampe sekarang saya suka sama matematika dan fisika, mungkin bukan suka kali ya, kagum atau apa lah, lha masalahnya sampe sekarang saya gak begitu paham sama matematika dan fisika, apalagi saya sekarang di dunia sos.
by septi
12 Jun 2007 at 09:08
Bagus…sangat mendidik, saya jadi inget jaman SMU (Lho kok?) Fisika saya dapet jelek melulu sih. Halaaaah.
Anyway sering-sering yah membahas hal beginian. Kan seru. Dan semoga kaum muslim di seluruh dunia menjadi lebih banyak mendapatkan ilmu pengetahuan.
Yuuuk mari!!
by yati
23 Aug 2007 at 04:04
Thanks…………. berat ya!!!!!
tulisannya aku muat dalam skripsiku ya
by naila
14 Nov 2007 at 10:51
i like it….. karena keren banget. sering2 ya nulis nya. insya Allah aku baca terus.leh kan?
by mang darpin
15 Nov 2007 at 10:58
saya masih tetap mencari cara memahami semua ini (looking for simple words)
dah baca yang punya hawking berulang-ulang juga gak ngerti2
bodo bawaan kali ya….
by be2k
10 Jun 2008 at 00:24
sepertinya einstein akhirnya menyadari kalau Tuhan sedang bermain dadu, dalam catatan terakhirnya:
“saya berhenti memakai kaus kaki disaat orang-orang meminta saya memakainya”
by Freddy
08 Apr 2009 at 12:01
postingnya bagus juga ko!
namun secara rumus akan lebih jelas lagi.
tahnks!
by walesa
15 Jul 2009 at 17:14
mmm.. jadi sebenarnya einstein pendukung teori kuantum atau bukan mas? kan dia juga pendukung teori max plank (kuanta-kuanta, E=hf).. so?? tapi dalam 4 interaksi dasar dalam fisika, kuantum juga kan bertolak belakang dengan relativitas.. jadi?? jadi???
by sani
19 Oct 2009 at 17:47
menurut saya tuhan itu tidak bermain dadu dengan alam ini karena ia mengatakan bahwa Ia telah menetapkan neraca pada ciptaannya yang berarti semuanya telah diperhitungkan. kalau manusia membuat teori ketidakpastian karena ia tidak mampu melihat elektron, itu karena ia selalu membandingkan ukuran segala sesuatu berdasarkan ukuran dirinya sendiri. Elektron terlalu kecil untuk dilihat manusia bukan berarti Tuhan juga ikut tidak mampu memastikan letaknya. Bahkan membuat sesuatu yang lebih kecil dari itu pun ia mampu. Bayangkan jika tuhan menciptakan sebuah makhluk yang perbandingan ukurannya dengan bumi kita sama dengan manusia dan elektron. Ia mencoba menghitung besar bumi tapi tidak bisa sehingga ia memutuskan bahwa ukuran bumi itu tidak pasti. padahal dengan ukuran kita, kita mampu untuk menghitungnya.
yah menurut saya sih begitu.