Dalam ilmu astronomi kita mengenal yang namanya objek “dwarf” — biasanya merujuk pada bintang yang massanya lebih kecil dari Matahari (white dwarf dan red dwarf), atau objek protobintang yang gagal membentuk bintang karena massanya tidak cukup untuk menyulut terjadinya reaksi fusi termonuklir (brown dwarf). Juga jangan lupa dengan kelompok dwarf planet dimana Pluto sekarang menjadi salahsatu anggotanya.

Tapi kali ini topiknya bukan astronomi, melainkan kebahasaan. Yang jadi persoalan, sampai sekarang masih belum ada konsensus untuk padanan kata dwarf dalam konteks astronomi dalam bahasa Indonesia. Akibatnya tulisan-tulisan astronomi populer berbahasa Indonesia sering menggunakan beberapa istilah yang berbeda untuk menyebut objek yang sama. Dari segi pendidikan astronomi, ini kurang baik karena berpotensi menimbulkan kebingungan.

Dalam publikasi teknis maupun populer, para astronom kita biasanya menggunakan kata “katai”, sementara beberapa lainnya, seperti fisikawan Prof. Yohanes Surya dalam berbagai tulisan fisika populernya cenderung memakai istilah “bajang”. Saya sendiri lebih suka menggunakan istilah “kerdil”, seperti halnya para astronom dari negeri jiran, Malaysia. Yang ajaib, kemarin saat menyiarkan berita tentang penemuan planet ekstrasolar Gliese 581 C, Metro TV memakai istilah “kurcaci merah” sebagai padanan untuk red dwarf (saya, yang waktu itu sedang asyik menyeruput kopi, nyaris tersedak begitu mendengar istilah itu disebut!)

Secara bahasa, baik istilah kerdil, katai, bajang, kurcaci, atau bahkan cebol sebenarnya bermakna sama. Namun dalam konteks astronomi, istilah yang secara “de facto” menjadi padanan untuk dwarf adalah katai. Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh pak Bambang Hidayat, seorang astronom senior kita. Konon beliau kurang begitu suka dengan penggunaan istilah kerdil lantaran istilah ini sering dikaitkan dengan kondisi kejiwaan (jiwa yang kerdil).

Sebagai catatan saja, astronomi adalah ilmu yang sangat menghormati tradisi, termasuk juga dalam penggunaan istilah. Sebagai contoh, walaupun sekarang kita tahu di Bulan tidak ada laut, tetapi istilah “mare” yang artinya laut tetap dipertahankan untuk menyebut dataran rendah di Bulan. Contoh lainnya adalah penggolongan kelas spektrum bintang, yang awalnya menurut abjad A, B, C, D, dst, ketika didapati bahwa urutan yg benar adalah O,B,A,F,G,K,M tidak serta-merta urutannya dirombak lagi. Yang paling “gres” adalah perdebatan mengenai Pluto, yang juga merupakan perdebatan antara mereka yang menginginkan kejelasan dengan yang ingin menghormati tradisi.

Saya sendiri sampai sekarang masih mempertahankan penggunaan istilah “kerdil” semata-mata karena alasan konsistensi. Sudah 6 tahun saya menulis blog tentang astronomi, dimana istilah ini selalu saya pakai. Tapi kalau suatu saat sudah ada konsensus yang tegas mengenai istilah mana yang harus dipakai, maka saya akan menurut saja.