Bianglala


Padanan Istilah “Dwarf” dalam Astronomi

Posted in Life by Dhani on the April 26th, 2007

Dalam ilmu astronomi kita mengenal yang namanya objek “dwarf” — biasanya merujuk pada bintang yang massanya lebih kecil dari Matahari (white dwarf dan red dwarf), atau objek protobintang yang gagal membentuk bintang karena massanya tidak cukup untuk menyulut terjadinya reaksi fusi termonuklir (brown dwarf). Juga jangan lupa dengan kelompok dwarf planet dimana Pluto sekarang menjadi salahsatu anggotanya.

Tapi kali ini topiknya bukan astronomi, melainkan kebahasaan. Yang jadi persoalan, sampai sekarang masih belum ada konsensus untuk padanan kata dwarf dalam konteks astronomi dalam bahasa Indonesia. Akibatnya tulisan-tulisan astronomi populer berbahasa Indonesia sering menggunakan beberapa istilah yang berbeda untuk menyebut objek yang sama. Dari segi pendidikan astronomi, ini kurang baik karena berpotensi menimbulkan kebingungan.

Dalam publikasi teknis maupun populer, para astronom kita biasanya menggunakan kata “katai”, sementara beberapa lainnya, seperti fisikawan Prof. Yohanes Surya dalam berbagai tulisan fisika populernya cenderung memakai istilah “bajang”. Saya sendiri lebih suka menggunakan istilah “kerdil”, seperti halnya para astronom dari negeri jiran, Malaysia. Yang ajaib, kemarin saat menyiarkan berita tentang penemuan planet ekstrasolar Gliese 581 C, Metro TV memakai istilah “kurcaci merah” sebagai padanan untuk red dwarf (saya, yang waktu itu sedang asyik menyeruput kopi, nyaris tersedak begitu mendengar istilah itu disebut!)

Secara bahasa, baik istilah kerdil, katai, bajang, kurcaci, atau bahkan cebol sebenarnya bermakna sama. Namun dalam konteks astronomi, istilah yang secara “de facto” menjadi padanan untuk dwarf adalah katai. Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh pak Bambang Hidayat, seorang astronom senior kita. Konon beliau kurang begitu suka dengan penggunaan istilah kerdil lantaran istilah ini sering dikaitkan dengan kondisi kejiwaan (jiwa yang kerdil).

Sebagai catatan saja, astronomi adalah ilmu yang sangat menghormati tradisi, termasuk juga dalam penggunaan istilah. Sebagai contoh, walaupun sekarang kita tahu di Bulan tidak ada laut, tetapi istilah “mare” yang artinya laut tetap dipertahankan untuk menyebut dataran rendah di Bulan. Contoh lainnya adalah penggolongan kelas spektrum bintang, yang awalnya menurut abjad A, B, C, D, dst, ketika didapati bahwa urutan yg benar adalah O,B,A,F,G,K,M tidak serta-merta urutannya dirombak lagi. Yang paling “gres” adalah perdebatan mengenai Pluto, yang juga merupakan perdebatan antara mereka yang menginginkan kejelasan dengan yang ingin menghormati tradisi.

Saya sendiri sampai sekarang masih mempertahankan penggunaan istilah “kerdil” semata-mata karena alasan konsistensi. Sudah 6 tahun saya menulis blog tentang astronomi, dimana istilah ini selalu saya pakai. Tapi kalau suatu saat sudah ada konsensus yang tegas mengenai istilah mana yang harus dipakai, maka saya akan menurut saja.

Tuhan Memang Sedang Bermain Dadu

Posted in Science by Dhani on the April 14th, 2007

Ceritanya berawal ketika Niels Bohr, fisikawan yang dijuluki “orang besar dari Denmark” mengajukan suatu teori bahwa elektron mengelilingi inti dalam orbit-orbit tertentu. “Beri aku spektrum absorbsi, dan elektron itu akan kutemukan”. Pernyataan Bohr ini secara implisit menunjukkan sikapnya yang deterministik: Alam semesta dapat dipastikan.

Bencana datang ketika Werner Heisenberg, fisikawan teoretis asal Jerman, mendaftar sebagai mahasiswa bimbingan Bohr. Suatu saat pada 1922, anak muda 20 tahun itu dengan lancang mengajukan pernyataan kepada jenius Denmark itu dalam suatu kuliahnya: Karena elektron itu tidak akan pernah dapat dilihat oleh manusia maka kepastian dari keadaan elektron tersebut (posisi dan momentumnya) tidak akan pernah dapat dipastikan.

Pernyataan ini membuat Bohr terkesiap. Selesai kuliah, Bohr mengajak Heisenberg berjalan-jalan, berdiskusi mengenai fisika sambil melihat pemandangan alam Jerman. Bohr langsung sadar: anak muda ini bukan orang sembarangan.

Belakangan, Max Born, fisikawan teoritis ternama mengangkat Heisenberg sebagai Dosen di Gottingen. Ketika itu usianya baru 22 tahun. Tidak lama kemudian Bohr mengajaknya ke Copenhagen, kota yang pada masa itu dikenal sebagai salah satu pusat perkembangan fisika teoritis dunia. Pada 1927, Heisenberg merumuskan sebuah teori yang membawa dampak filosofis dan fundamental dalam dunia sains: Prinsip ketidakpastian. Kita tidak mungkin bisa memastikan dimana elektron berada karena kita tidak seluruhnya tahu masa kini! Apabila kita bisa mencari informasi keberadaan (posisi) elektron dengan sangat teliti, maka kita akan kehilangan kepastian mengenai momentumnya, yang artinya sulit menentukan dimana elektron itu berada pada waktu berikutnya. Sebaliknya, jika kita mengukur momentumnya dengan sangat teliti, maka kita akan kehilangan kepastian mengenai keberadaan elektron. Prinsip ini bukan merupakan akibat dari keterbatasan ketelitian instrumen manusia, akan tetapi merupakan sifat yang inheren (melekat) di dunia subatomik.

Dengan mengajukan teori ini, Heisenberg praktis telah menjungkirbalikkan determinisme fisika klasik. Prinsip ketidakpastian Heisenberg menunjukkan bahwa penyusun dari semua benda di alam bersifat takpasti. Meskipun dapat ditentukan akan tetapi tidak pernah dengan ketelitian 100%. Ini terobosan yang membuat geram para pendukung determinis, termasuk diantaranya Einstein. Dari sinilah keluar ucapan Einstein yang terkenal “Tuhan tidak bermain dadu dengan alam!” Meskipun Einstein berulangkali menyerang teori ketidakpastian Heisenberg (yang kini didukung oleh Bohr), Bohr dan Heisenberg selalu dapat menangkis serangannya.

Tuhan nampaknya benar-benar sedang bermain dadu. Sia-sia Einstein berusaha membendung teori kuantum. Kenyataannya, tidak (belum?) ada yang bisa menggantikan teori Heisenberg yang kelak melandasi mekanika kuantum, salah satu mahakarya fisika modern. Pemahaman struktur atomik, laser, black hole, superkonduktor hanyalah sedikit contoh dari penerapan teori kuantum. Richard Feynman, salah satu fisikawan terbaik yang pernah hidup membela prinsip ketidakpastian dengan mengatakan bahwa, “Prinsip ketidakpastian adalah salah satu fondasi fisika kuantum. Jika runtuh, maka runtuhlah fisika kuantum!”

Mengutip fisikawan Stephen W. Hawking, “Tuhan tidak hanya bermain dadu. Ia bahkan melemparnya ke tempat yang tidak kita ketahui.”

Tumblelog

Posted in Blogging by Dhani on the April 14th, 2007

Kalau sudah lupa bagaimana “rupa” blog di masa-masa awal dulu, silahkan jenguk blog Refleksi. Ini adalah salah satu diantara sedikit blog Indonesia dari angkatan awal 2000-an yang masih bertahan. Bukan hanya blognya yang masih dipertahankan, melainkan juga style blogging masa itu. Seperti kebanyakan blog saat itu, Refleksi dibuat dengan mesin Blogger. Tidak ada fasilitas komentar, tidak ada katagorisasi, bahkan sampai beberapa bulan lalu, posting-postingnya tidak diberi judul!

Tumblelog adalah pendekatan yang mirip dengan blog generasi awal. Posting-posting ditulis apa adanya tanpa banyak basa-basi. Isinya cukup gambar, kutipan, atau link. Posting reguler cukup berupa satu-dua baris tulisan, atau paling panjang hanya satu paragraf singkat. Tidak ada fasilitas komentar, bahkan tidak ada sarana untuk melacak jejak pengunjung. Definisi yang populer menyebut tumblelog sebagai “a quick and dirty stream of consciousness, a bit like a remaindered links style linklog but with more than just links”. Lebih lengkap tentang tumblelog bisa dibaca di situs Wikipedia.

Sejak bulan lalu, saya telah membuat dan mengisi tumblelog saya. Apabila berkenan, sila dikunjungi dan dilihat-lihat. Alamatnya di: http://dhani.tumblr.com.

Yang Perlu Diketahui Tentang Sains

Posted in Science by Dhani on the April 6th, 2007

Sains adalah kuantitatif. Sains tidak hanya bicara tentang Bumi yang mengelilingi Matahari, melainkan juga periode orbit, jarak rata-rata, perihelion dan aphelion, serta parameter fisik lain yang sifatnya terukur. Seseorang boleh saja datang dan mengajukan teori Geosentris, tapi ia tidak boleh mengatakan bahwa teorinya berasal, entah dari “wangsit” atau berdasarkan pemahaman terhadap isi kitab suci tertentu. Yang harus dilakukannya adalah menunjukkan data kuantitatif yang dapat dikonfirmasi melalui penelitian berdasarkan metodologi ilmiah (kalau benar Matahari yang mengelilingi Bumi, maka dalam jarak berapakah ia mengorbit, berapa lamakah periode orbitnya, dan yang paling penting, darimana angka-angka itu diperoleh?)

Sains bukan sekedar kumpulan fakta. Sains tidak semata-mata hafalan tentang urut-urutan planet, struktur atom, klasifikasi organisme hidup, atau semacamnya. Sains juga mencakup konsep yang tidak bisa dijelaskan dalam bahasa sehari-hari. Sebagian konsep sains harus dijabarkan dalam “bahasa” matematis; sebagian lagi melalui permodelan yang mungkin tidak relevan dengan hal-hal yang biasa kita jumpai dalam “dunia nyata”. Pemahaman yang mendalam tentang sains tidak bisa diperoleh hanya dari membaca buku-buku atau menelusuri situs-situs web tentang pengetahuan populer, melainkan harus melalui jalur akademik.

Sains adalah proses. Asal kata sains adalah “scire”, bahasa Latin yang artinya “untuk mengetahui”. Sementara ensiklopedia mendefinisikan sains sebagai studi sistematis terhadap apapun yang bisa dipelajari, diuji, dan dibuktikan. Dengan demikian, bicara tentang sains berarti bicara tentang proses, bukannya hasil. Fakta-fakta sains yang kita kenal sebenarnya adalah produk sains, bukannya sains itu sendiri.

Sains adalah kerja nyata. Para saintis tidak bekerja dengan hanya membaca buku-buku, lantas langsung meloncat ke kesimpulan dengan melahirkan teori baru. Setiap produk sains lahir setelah melalui eksperimen dan observasi yang memakan waktu lama, baik di laboratorium maupun lembaga penelitian, dan setelah melalui proses pengujian, pembuktian, hingga koreksi oleh mereka yang benar-benar berkompeten dalam disiplin ilmunya. Mengajukan suatu teori — katakanlah teori Geosentris — dengan hanya berdasar pada ayat-ayat kitab suci, apalagi tanpa latar belakang keilmuan yang sesuai, sama sekali bertentangan dengan prinsip sains.

Sains itu universal. Yang disebut-sebut sebagai “sains Islami” itu sebenarnya tidak ada. Nuff said.

___
Catatan: Tulisan ini diilhami oleh diskusi di blog Harry Sufehmi dan Roffi.

Major New Scientific Discovery

Posted in Jokes by Dhani on the April 1st, 2007

Begin forwarded message:

For immediate release

The discovery of the heaviest element yet known to science!

A major research institution has recently announced the discovery of the heaviest element yet known to science. The new element has been named “Governmentium.”

Governmentium has 1 neutron, 12 assistant neutrons, 75 deputy neutrons, and 11 assistant deputy neutrons, giving it an atomic mass of 312.

These particles are held together by forces called Morons, which are surrounded by vast quantities of Lepton-like particles called peons.

Since Governmentium has no electrons, it is inert. However, it can be detected, as it impedes every reaction with which it comes into contact. A minute amount of Governmentium causes 1 reaction to take over 4 days to complete, when it would normally take less than a second.

GOVERNMENTIUM has a normal 1/2-life of 4 years; it does not decay, but instead undergoes a reorganization in which a portion of the assistant neutrons and deputy neutrons exchange places.

In fact, Governmentium’s mass will actually increase over time, since each reorganization will cause more morons to become Neutrons, forming isodopes.

This characteristic of moron-promotion leads some scientists to believe that Governmentium is formed whenever morons reach a certain quantity in concentration. This hypothetical quantity is referred to as “Critical Morass!”

When catalyzed with money, Governmentium becomes Administratium-an element which radiates just as much energy, since it has 1/2 as many peons but twice as many morons.

End of forward