Saya akui, walaupun OS Linux sudah cukup lama terpasang di komputer saya, namun penggunaannya sebatas sebagai “playground” saja, dan belum pernah dimanfaatkan secara serius. Kebetulan baru-baru ini saya mendapatkan DVD instalasi OpenSUSE 10.2. Karena sudah hampir setahun ini saya memakai Linux SUSE (yang sekarang sudah berganti nama menjadi OpenSUSE), maka terpikir juga oleh saya untuk mencoba memanfaatkannya secara lebih maksimal.

OpenSUSE 10.2, sebagaimana versi-versi pendahulunya, dipaketkan dengan dukungan yang sangat terbatas terhadap aplikasi multimedia. Penyebabnya siapa lagi kalau bukan para pengacara yang khawatir soal pernak-pernik paten dan hak cipta :(. Sementara itu, driver yang tersedia untuk berbagai peripheral seperti printer, scanner dan sebagainya, juga kurang begitu lengkap. Dengan demikian, usaha untuk membuat platform ini menjadi lebih layak pakai sepertinya akan cukup menantang.

Pertama-tama jelas harus ada akses internet. Dulu, waktu jamannya pakai modem dialup, saya akan mendapat kesulitan karena driver linux untuk modem internal saya tidak tersedia secara gratis. Untungnya sekarang saya sudah pakai ADSL (via Telkom Speedy). Tinggal login ke ADSL router melalui browser, dan sistem segera terkonfigurasi secara otomatis melalui mekanisme DHCP. Linux saya segera terkoneksi ke internet, dan batu sandungan pertama pun terlampaui.

Yang kedua, saya juga perlu tools untuk memonitor trafik internet supaya kuota Speedy saya tidak jebol. Setelah dicari-cari, ketemu dengan paket IPTraf yang sudah disertakan dalam DVD instalasi OpenSUSE. Biarpun masih pakai modus teks, dan harus dijalankan secara manual, tapi software ini ternyata lumayan membantu juga.

Selanjutnya, saya perlu sesuatu untuk mengisi kekosongan dan menghilangkan stress sementara mengoprek: Musik. OpenSUSE tidak menyediakan dukungan untuk format file MP3. Solusi yang paling gampang: Install Xmms, download libmp123.so dari sini dan masukkan ke direktori /usr/lib/xmms/Input. Mulus. Si Pinguin sekarang sudah bisa bernyanyi :).

Pekerjaan berikutnya sedikit lebih sulit. Menyediakan sarana untuk menyetel VCD/DVD. Perangkat lunak pemutar video memang disediakan dalam paket distribusi OpenSUSE, tapi dengan kemampuan yang sangat terbatas. Ketimbang “mengakali” paket yang sudah ada, saya memilih untuk mendownload tarball library Xine dan interface xine-ui dari sini, untuk kemudian dicompile sendiri. Kurang mulus. Sistem masih meminta beberapa library lain untuk melengkapi dependensi Xine. Masalah teratasi setelah sedikit ngoprek dan banyak trial-and-error. Perlu waktu satu jam lebih untuk mengcompile library dan interface Xine hingga siap pakai. Akhirnya saya bisa menyetel DVD dan membaca file-file video yang tersimpan di hard-disk, baik dalam format MPG maupun VOB. O ya. Setelah library Xine terinstall, program Amarok (player multimedia default di OpenSUSE) juga langsung bisa memainkan file MP3.

Xine cukup mumpuni untuk memutar DVD, tapi sialnya entah kenapa masih belum bisa memainkan VCD. Saat keping VCD dimasukkan ke drive, lampu indikator terus berkedip-kedip, dan data didalamnya tidak bisa dibaca sama sekali. Malas mengoprek Xine, saya putuskan untuk mencari software alternatif saja. Beberapa forum pengguna Linux di net menyarankan untuk memakai Mplayer, jadi saya habiskan beberapa waktu lagi untuk mendownload RPM Mplayer, menginstall, sambil melengkapi library yang dibutuhkan (dan tentu saja, saya tidak cukup “gila” untuk mendownload kode sumber untuk di-compile sendiri seperti pada pada Xine barusan).

Mplayer sudah terinstall, dan sekarang saya sudah bisa memainkan VCD di Linux dengan software ini. Tapi setiap akan menyetel VCD muncul pesan error “ioctl div1: invalid argument“. Penelusuran ke berbagai situs web memberi petunjuk kalau pesan ini hanyalah bug dari Mplayer dan cukup diabaikan saja karena tidak mengganggu jalannya program. Mplayer dapat meneruskan pemutaran VCD dengan mulus setelah saya menutup window pesan error tersebut.

Selesai dengan VCD/DVD, sekarang giliran printer yang dioprek. Vendor printer Canon Pixma iP1200 milik saya tidak menyediakan driver untuk Linux, walaupun printernya sendiri masih bisa dikenali pada setting hardware di YAST. Penelusuran lewat internet membawa saya ke situs ini untuk mendownload paket RPM TurboPrint. Jalan, tapi driver yang bisa didownload hanya versi gratisan dengan beberapa pembatasan yang menyebalkan. Kalau mau mendapatkan versi penuhnya, saya harus menyetor USD 39 ke pembuat programnya :(. Lebih mahal dari harga printernya (minus cartridge)! Untungnya saya masih punya printer lawas (Canon BJC265SP) yang ternyata bisa difungsikan dengan baik di Linux. Tapi hari gene masih pakai printer beginian?

Next, menghidupkan TV Tuner Card. Nah, disini saya “kena batunya”. Kebanyakan masalah dengan TV Card di Linux adalah soal driver. Dalam hal ini saya sebenarnya cukup beruntung karena TV Card saya yang berbasis chip Philips SAA7130 dapat dikenali dengan baik di Linux tanpa banyak cingcong (memakai modul SAA7134). Masalahnya justeru di software. Semua perangkat lunak TV yang disediakan OpenSUSE ternyata hanya mendukung saluran TV kabel, padahal saya tidak berlangganan TV kabel. Penelusuran informasi di internet tidak memberikan hasil yang berarti, hanya saran untuk melakukan trial-and-error konfigurasi terhadap seratusan lebih tipe TV Card dengan modul SAA7134 yang didukung oleh Linux. Maaf deh. Kapan-kapan sajalah.

Menyerah dengan TV Card, saya memutuskan memberi beberapa sentuhan akhir untuk si Pinguin. Pertama, menginstall driver untuk Video Card nVIDIA pada PC saya. Ini perlu dilakukan karena driver bawaan OpenSUSE tidak menyediakan dukungan OpenGL untuk tampilan 3D. Tidak ada kesulitan.

Lantas saya perlu menginstall beberapa perangkat lunak astronomi. Di versi-versi sebelumnya, OpenSUSE selalu menyediakan program Xephem yang biasa dipakai untuk perhitungan orbit benda-benda langit. Di OpenSUSE 10.2, perangkat lunak ini tidak lagi disertakan, bahkan saat proses upgrade, OpenSUSE dengan “lancang” menghapus paksa paket ini dari sistem. Sialan! Ketimbang mendownload source Xephem dari situs resminya untuk kemudian dibikin pusing saat mengcompile, saya pilih mendownload RPM-nya saja di situs ini untuk kemudian diinstall di sistem saya. Sukses.

Untuk peta bintang, OpenSUSE sudah menyediakan paket KStars, hanya saja tampilannya kurang begitu menarik. Alternatif yang bagus adalah program Stellarium. Tapi seperti juga Xephem, ketimbang menghabiskan waktu (dan kuota trafik internet) untuk mendownload tarball, saya pilih cara yang gampang saja: mencomot RPM Stellarium dari CD-ROM instalasi Linux Mandriva 2006 untuk dipasang di OpenSUSE :). Beres.

Hal-hal lain seperti mengimpor foto-foto dari kamera digital, juga bisa dilakukan tanpa kesulitan. Kamera digital Nikon saya bisa dikenali dengan baik oleh sistem, dan software Digikam yang tersedia di paket instalasi OpenSUSE berhasil mengimpor foto-foto dari kamera tanpa ada masalah. Percobaan merekam data ke media CD-R dan DVD-R juga berjalan mulus dengan bantuan software K3B (juga sudah tersedia dalam paket instalasi). Beberapa hal memang tidak bisa diharapkan di Linux, misalnya membaca DVD-R yang direkam secara multisession di Windows (menggunakan Nero 7.0). Rekaman sesi pertama bisa dibaca tanpa kesulitan, tapi begitu kita menambahkan sesi perekaman berikutnya, DVD itu tidak lagi bisa dibaca di Linux.

Masih ada beberapa penyesuaian minor lagi, tapi secara umum Linux saya sudah siap pakai. Yang saya butuhkan sekarang cuma waktu luang yang lebih leluasa untuk menghidupkan TV Card, dan transaksi kartu kredit senilai 39 Dolar untuk bisa memakai printer–yang notabene adalah kepunyaan saya sendiri :(.

Sedikit kesimpulan bisa saya tarik dari hasil ngoprek seharian ini. Para promotor Linux selalu “ngecap” tentang berbagai kelebihan OS yang satu ini, tapi saya punya pendapat berbeda. Kalau Anda tidak doyan ngoprek dan tidak punya akses internet yang leluasa, lupakan saja untuk memakai Linux. Kalau sekedar untuk bermain-main, mencoba pengalaman memakai platform lain dari yang biasa sih, tidak masalah. Tapi kalau berharap lebih dari itu, akses internet yang leluasa mutlak diperlukan. Saya kira kalau dipaksa untuk menggunakan software legal, para pemakai PC dari strata ekonomi kebanyakan akan lebih memilih untuk membeli lisensi software komersial ketimbang memakai Linux yang walaupun gratis tapi masih memerlukan browsing internet berjam-jam, mendownload ratusan megabyte software ditambah beberapa jam (atau bahkan hari) lagi untuk dioprek sebelum bisa dipakai secara penuh. Tentu saja saya berbicara dari sisi pemakai rumahan yang hanya memakai komputer untuk hal yang tidak “aneh-aneh”.

O ya. Saya memang punya blog khusus untuk urusan perkomputeran. Tapi posting ini sama sekali bukan model tulisan yang kepingin saya tempatkan disana (maka itu saya memilih menaruhnya di blog ini). Saya kira blog yang satu itu lebih baik diisi tulisan-tulisan yang “mencerdaskan” saja (tentu dalam pengertian subjektif saya). Mengoprek Linux, dalam pandangan subjektif saya pula, malahan seperti pekerjaan yang kurang cerdas — lebih mirip pekerjaan orang yang kurang kerjaan. Kalau dipikir-pikir, kita harus mengeluarkan waktu, tenaga, pikiran, dan kuota akses internet dalam jumlah tidak sedikit untuk hal-hal yang di platform lain cukup dikerjakan dengan beberapa kali klik mouse. Duh!

Btw, draft tulisan ini saya buat dengan OpenOffice.org Writer di Linux OpenSUSE, dan saya postingkan dengan browser Mozilla Firefox 2.0 di platform yang sama. Lantunan suara Alika (eks AFI Junior) dalam format MP3, yang saya rip dari CD originalnya menggunakan KAudioCreator dan dimainkan dengan Xmms, menemani saya menulis posting ini. Skrinsyut? Boleh. Ini dia (klik untuk memperbesar):