Bianglala


Shoot For The Moon

Posted in Life, Wisdom by Dhani on the March 23rd, 2007

bamberg.jpg

“Shoot for the Moon. Even if You miss it You will land among the stars.”

(Les Brown)

Gambar: Teleskop refraktor “Bamberg” di Observatorium Bosscha, mengarah ke permukaan bulan. Difoto oleh saya pada Agustus 2006.

Selamatkan Bosscha!

Posted in Book, Education by Dhani on the March 22nd, 2007

Komunitas astronomi Indonesia, baik yang profesional maupun amatir, sudah lama dibikin “gemas” dengan pembangunan di kawasan Lembang, Bandung Utara yang semakin tidak terkendali serta sama sekali tidak mengindahkan kepentingan penelitan astronomi oleh Observatorium Bosscha. Pertumbuhan bangunan yang makin banyak di sekitar observatorium, seperti sudah berulang-ulang disebut, makin menyulitkan kegiatan observasi — akibat apa yang dalam istilah astronomi disebut “polusi cahaya”.

Sudah jelas ada perbedaan kepentingan antara Pemda setempat yang ingin memanfaatkan potensi wilayahnya untuk kepentingan ekonomi versus komunitas sains yang lebih mementingkan kondisi wilayah yang ideal untuk kepentingan penelitan astronomi. Kedua kepentingan ini sulit disatukan. Dalam hal ini penentunya cuma duit, dan semua tentu mafhum, kepentingan siapa yang lebih dekat dengan urusan isi kocek. :(

Sedikit kemajuan dicapai pada Mei 2006 lalu, ketika setelah bertahun-tahun berperkara di pengadilan hingga menempuh jalur kasasi, sertifikat hak milik untuk lahan seluas 54.895m di sekitar Observatorium Bosscha akhirnya diserahkan kepada ITB, lembaga yang menaungi Bosscha. Hal ini setidaknya bisa mengerem laju pertumbuhan bangunan yang tidak mustahil akan berdiri apabila tanah tersebut lepas dari tangan ITB. Namun diluar itu, lingkungan di sekitar observatorium sendiri dari waktu ke waktu tetap saja makin memburuk.

Buku “Selamatkan Bosscha!” diatas merupakan merupakan hasil karya tulis dan lukisan dari siswa-siswi Sekolah Dasar, yang didapat dari kegiatan menggambar dan menulis di Observatorium Bosscha bulan Juni 2006 yang lalu. Isi buku kecil yang diterbitkan oleh Resist Book, Yogyakarta, dengan editor Rahmat Jabril ini sarat dengan ungkapan keprihatinan anak-anak Indonesia terhadap kondisi Bosscha sekarang.

Rencananya, satu eksemplar buku ini akan diserahkan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Semoga lewat suara anak-anak ini sang Presiden akan terketuk hatinya untuk ikut turun tangan dalam upaya menyelamatkan Lembang dari tangan para “Kartarejasa” (kalau masih ingat, ini nama tokoh antagonis di film Petualangan Sherina yang diceritakan berusaha merebut lahan pertanian di sekitar Bosscha untuk dijadikan pemukiman).

Tentu saja, di Lembang masih tersedia cukup tanah untuk para pengusaha Kiyiosakian itu (seperti halnya sang “suhu”, para Kiyosakian tidak ambil perduli dengan urusan pendidikan dan ilmu pengetahuan; yang penting bagi mereka cuma bagaimana caranya menghasilkan uang). Tapi lahan untuk mereka tidak perlu terlalu luas, cukup seukuran 2×1 meter saja untuk tiap orang. Silahkan kalau mereka kepingin “berinvestasi” dengan itu. ;)

CATATAN: Gambar buku diatas saya “comot” tanpa izin dari buletin internal Observatorium Bosscha terbitan Oktober 2006.

Just Wave Hello

Posted in Art by Dhani on the March 20th, 2007

Just Wave Hello
(Ford Global Anthem)
Charlotte Church

Just leave all your troubles behind now
My way is clear and true
Reach into the light
That shines in you.

E giunta l’ora del desio (This is the hour of destiny)
All around the world
Questo e il momento dell’addio (This is the moment of goodbye)
All around the world
The dawn is rising on a new day
Time for us to go
The shadows fall and quickly fade away
Time to wave hello

It’s time to go now
Time to wave hello now
Let your dreams be wings
That fly as far as the stars

It’s time to wave hello
All around the world we go
Shadows fall behind us
As we follow the Sun
That moment has come
It’s time to wave hello

It’s time to go now
Time to wave hello now
Raise your hands and show the world
And tell everyone the moment has come
It’s time to wave hello.

Just wave hello, Just wave hello
Just wave hello

Migrasi

Posted in Blogging by Dhani on the March 13th, 2007

Ini adalah posting pertama setelah blog ini dimigrasikan ke situs ini dengan mesin Wordpress. Dua hari belakangan ini saya sibuk berkutat (di waktu-waktu senggang tentunya) untuk memigrasikan blog ini dari Blogspot yang dimotori Mesin Blogger ke situs ini dengan mesin Wordpress.

Ada beberapa alasan kenapa blog ini perlu dimigrasikan ke Wordpress. Pertama, di banyak kantor, Blogger/Blogspot sudah masuk ke dalam daftar situs yang di-ban. Ini cukup berpengaruh ke statistik kunjungan. Kalau pada situs-situs lain, puncak trafik harian biasanya terjadi di jam-jam kerja untuk kemudian menurun dari sore hingga malam, situs ini malahan kebalikannya. Di jam kantor sepi pengunjung, namun sore hingga malam, baru terjadi lonjakan.

Kedua, akhir-akhir ini saya mulai mendapat kesulitan saat posting, yang salah satu sebabnya karena Blogger keliru mengidentifikasi blog ini sebagai sebagai blog spam. Ini disusul dengan masalah dengan mesin Google: penurunan page rank yang lumayan drastis, dan bahkan menghilangnya beberapa halaman (termasuk halaman muka) dari indeks pencarian Google. Dugaan saya, blog ini memang patut dicurigai sebagai situs spam karena mengandung banyak kata kunci yang secara logis tidak semestinya berada dalam satu halaman web (kata kunci proton, elektron, atau neutrino seharusnya tidak berada dalam satu halaman dengan kata kunci semacam “Dakota Fanning”). Kita tahu bahwa ini adalah salah satu cara kerja situs spam, yang mengambil sembarang konten dari website lain untuk mengecoh pengakses yang masuk lewat mesin pencari.

Alasan lainnya adalah soal katagorisasi. Blogger versi baru memang sudah menyediakan fitur ini. Hanya saja, mengutak-atik template Blogger tidak semudah mengganti theme di Wordpress. Tapi, tanpa katagorisasi, blog ini akan lebih kelihatan seperti situs spam karena isinya yang tidak beraturan. Yang menarik, walaupun ada yang bilang kalau blog ini adalah blog sains, tapi setelah dihitung-hitung entri sains di blog ini ternyata hanya sekitar 40%. Sisanya adalah seperti kebanyakan blog lain, coretan-coretan sekenanya tentang satu dan lain hal.

Di sisi lain, katagorisasi membuat beberapa hal yang tadinya luput dari perhatian menjadi kelihatan. Misalnya, setelah melihat posting-posting di katagori Figure, baru saya sadar kalau orang-orang yg pernah saya tulis secara khusus dalam entri-entri di blog ini cuma ada dua jenis: ilmuwan dan … anak-anak :D

Ngoprek OpenSUSE 10.2

Posted in Life, Techno by Dhani on the March 3rd, 2007

Saya akui, walaupun OS Linux sudah cukup lama terpasang di komputer saya, namun penggunaannya sebatas sebagai “playground” saja, dan belum pernah dimanfaatkan secara serius. Kebetulan baru-baru ini saya mendapatkan DVD instalasi OpenSUSE 10.2. Karena sudah hampir setahun ini saya memakai Linux SUSE (yang sekarang sudah berganti nama menjadi OpenSUSE), maka terpikir juga oleh saya untuk mencoba memanfaatkannya secara lebih maksimal.

OpenSUSE 10.2, sebagaimana versi-versi pendahulunya, dipaketkan dengan dukungan yang sangat terbatas terhadap aplikasi multimedia. Penyebabnya siapa lagi kalau bukan para pengacara yang khawatir soal pernak-pernik paten dan hak cipta :(. Sementara itu, driver yang tersedia untuk berbagai peripheral seperti printer, scanner dan sebagainya, juga kurang begitu lengkap. Dengan demikian, usaha untuk membuat platform ini menjadi lebih layak pakai sepertinya akan cukup menantang.

Pertama-tama jelas harus ada akses internet. Dulu, waktu jamannya pakai modem dialup, saya akan mendapat kesulitan karena driver linux untuk modem internal saya tidak tersedia secara gratis. Untungnya sekarang saya sudah pakai ADSL (via Telkom Speedy). Tinggal login ke ADSL router melalui browser, dan sistem segera terkonfigurasi secara otomatis melalui mekanisme DHCP. Linux saya segera terkoneksi ke internet, dan batu sandungan pertama pun terlampaui.

Yang kedua, saya juga perlu tools untuk memonitor trafik internet supaya kuota Speedy saya tidak jebol. Setelah dicari-cari, ketemu dengan paket IPTraf yang sudah disertakan dalam DVD instalasi OpenSUSE. Biarpun masih pakai modus teks, dan harus dijalankan secara manual, tapi software ini ternyata lumayan membantu juga.

Selanjutnya, saya perlu sesuatu untuk mengisi kekosongan dan menghilangkan stress sementara mengoprek: Musik. OpenSUSE tidak menyediakan dukungan untuk format file MP3. Solusi yang paling gampang: Install Xmms, download libmp123.so dari sini dan masukkan ke direktori /usr/lib/xmms/Input. Mulus. Si Pinguin sekarang sudah bisa bernyanyi :).

Pekerjaan berikutnya sedikit lebih sulit. Menyediakan sarana untuk menyetel VCD/DVD. Perangkat lunak pemutar video memang disediakan dalam paket distribusi OpenSUSE, tapi dengan kemampuan yang sangat terbatas. Ketimbang “mengakali” paket yang sudah ada, saya memilih untuk mendownload tarball library Xine dan interface xine-ui dari sini, untuk kemudian dicompile sendiri. Kurang mulus. Sistem masih meminta beberapa library lain untuk melengkapi dependensi Xine. Masalah teratasi setelah sedikit ngoprek dan banyak trial-and-error. Perlu waktu satu jam lebih untuk mengcompile library dan interface Xine hingga siap pakai. Akhirnya saya bisa menyetel DVD dan membaca file-file video yang tersimpan di hard-disk, baik dalam format MPG maupun VOB. O ya. Setelah library Xine terinstall, program Amarok (player multimedia default di OpenSUSE) juga langsung bisa memainkan file MP3.

Xine cukup mumpuni untuk memutar DVD, tapi sialnya entah kenapa masih belum bisa memainkan VCD. Saat keping VCD dimasukkan ke drive, lampu indikator terus berkedip-kedip, dan data didalamnya tidak bisa dibaca sama sekali. Malas mengoprek Xine, saya putuskan untuk mencari software alternatif saja. Beberapa forum pengguna Linux di net menyarankan untuk memakai Mplayer, jadi saya habiskan beberapa waktu lagi untuk mendownload RPM Mplayer, menginstall, sambil melengkapi library yang dibutuhkan (dan tentu saja, saya tidak cukup “gila” untuk mendownload kode sumber untuk di-compile sendiri seperti pada pada Xine barusan).

Mplayer sudah terinstall, dan sekarang saya sudah bisa memainkan VCD di Linux dengan software ini. Tapi setiap akan menyetel VCD muncul pesan error “ioctl div1: invalid argument“. Penelusuran ke berbagai situs web memberi petunjuk kalau pesan ini hanyalah bug dari Mplayer dan cukup diabaikan saja karena tidak mengganggu jalannya program. Mplayer dapat meneruskan pemutaran VCD dengan mulus setelah saya menutup window pesan error tersebut.

Selesai dengan VCD/DVD, sekarang giliran printer yang dioprek. Vendor printer Canon Pixma iP1200 milik saya tidak menyediakan driver untuk Linux, walaupun printernya sendiri masih bisa dikenali pada setting hardware di YAST. Penelusuran lewat internet membawa saya ke situs ini untuk mendownload paket RPM TurboPrint. Jalan, tapi driver yang bisa didownload hanya versi gratisan dengan beberapa pembatasan yang menyebalkan. Kalau mau mendapatkan versi penuhnya, saya harus menyetor USD 39 ke pembuat programnya :(. Lebih mahal dari harga printernya (minus cartridge)! Untungnya saya masih punya printer lawas (Canon BJC265SP) yang ternyata bisa difungsikan dengan baik di Linux. Tapi hari gene masih pakai printer beginian?

Next, menghidupkan TV Tuner Card. Nah, disini saya “kena batunya”. Kebanyakan masalah dengan TV Card di Linux adalah soal driver. Dalam hal ini saya sebenarnya cukup beruntung karena TV Card saya yang berbasis chip Philips SAA7130 dapat dikenali dengan baik di Linux tanpa banyak cingcong (memakai modul SAA7134). Masalahnya justeru di software. Semua perangkat lunak TV yang disediakan OpenSUSE ternyata hanya mendukung saluran TV kabel, padahal saya tidak berlangganan TV kabel. Penelusuran informasi di internet tidak memberikan hasil yang berarti, hanya saran untuk melakukan trial-and-error konfigurasi terhadap seratusan lebih tipe TV Card dengan modul SAA7134 yang didukung oleh Linux. Maaf deh. Kapan-kapan sajalah.

Menyerah dengan TV Card, saya memutuskan memberi beberapa sentuhan akhir untuk si Pinguin. Pertama, menginstall driver untuk Video Card nVIDIA pada PC saya. Ini perlu dilakukan karena driver bawaan OpenSUSE tidak menyediakan dukungan OpenGL untuk tampilan 3D. Tidak ada kesulitan.

Lantas saya perlu menginstall beberapa perangkat lunak astronomi. Di versi-versi sebelumnya, OpenSUSE selalu menyediakan program Xephem yang biasa dipakai untuk perhitungan orbit benda-benda langit. Di OpenSUSE 10.2, perangkat lunak ini tidak lagi disertakan, bahkan saat proses upgrade, OpenSUSE dengan “lancang” menghapus paksa paket ini dari sistem. Sialan! Ketimbang mendownload source Xephem dari situs resminya untuk kemudian dibikin pusing saat mengcompile, saya pilih mendownload RPM-nya saja di situs ini untuk kemudian diinstall di sistem saya. Sukses.

Untuk peta bintang, OpenSUSE sudah menyediakan paket KStars, hanya saja tampilannya kurang begitu menarik. Alternatif yang bagus adalah program Stellarium. Tapi seperti juga Xephem, ketimbang menghabiskan waktu (dan kuota trafik internet) untuk mendownload tarball, saya pilih cara yang gampang saja: mencomot RPM Stellarium dari CD-ROM instalasi Linux Mandriva 2006 untuk dipasang di OpenSUSE :). Beres.

Hal-hal lain seperti mengimpor foto-foto dari kamera digital, juga bisa dilakukan tanpa kesulitan. Kamera digital Nikon saya bisa dikenali dengan baik oleh sistem, dan software Digikam yang tersedia di paket instalasi OpenSUSE berhasil mengimpor foto-foto dari kamera tanpa ada masalah. Percobaan merekam data ke media CD-R dan DVD-R juga berjalan mulus dengan bantuan software K3B (juga sudah tersedia dalam paket instalasi). Beberapa hal memang tidak bisa diharapkan di Linux, misalnya membaca DVD-R yang direkam secara multisession di Windows (menggunakan Nero 7.0). Rekaman sesi pertama bisa dibaca tanpa kesulitan, tapi begitu kita menambahkan sesi perekaman berikutnya, DVD itu tidak lagi bisa dibaca di Linux.

Masih ada beberapa penyesuaian minor lagi, tapi secara umum Linux saya sudah siap pakai. Yang saya butuhkan sekarang cuma waktu luang yang lebih leluasa untuk menghidupkan TV Card, dan transaksi kartu kredit senilai 39 Dolar untuk bisa memakai printer–yang notabene adalah kepunyaan saya sendiri :(.

Sedikit kesimpulan bisa saya tarik dari hasil ngoprek seharian ini. Para promotor Linux selalu “ngecap” tentang berbagai kelebihan OS yang satu ini, tapi saya punya pendapat berbeda. Kalau Anda tidak doyan ngoprek dan tidak punya akses internet yang leluasa, lupakan saja untuk memakai Linux. Kalau sekedar untuk bermain-main, mencoba pengalaman memakai platform lain dari yang biasa sih, tidak masalah. Tapi kalau berharap lebih dari itu, akses internet yang leluasa mutlak diperlukan. Saya kira kalau dipaksa untuk menggunakan software legal, para pemakai PC dari strata ekonomi kebanyakan akan lebih memilih untuk membeli lisensi software komersial ketimbang memakai Linux yang walaupun gratis tapi masih memerlukan browsing internet berjam-jam, mendownload ratusan megabyte software ditambah beberapa jam (atau bahkan hari) lagi untuk dioprek sebelum bisa dipakai secara penuh. Tentu saja saya berbicara dari sisi pemakai rumahan yang hanya memakai komputer untuk hal yang tidak “aneh-aneh”.

O ya. Saya memang punya blog khusus untuk urusan perkomputeran. Tapi posting ini sama sekali bukan model tulisan yang kepingin saya tempatkan disana (maka itu saya memilih menaruhnya di blog ini). Saya kira blog yang satu itu lebih baik diisi tulisan-tulisan yang “mencerdaskan” saja (tentu dalam pengertian subjektif saya). Mengoprek Linux, dalam pandangan subjektif saya pula, malahan seperti pekerjaan yang kurang cerdas — lebih mirip pekerjaan orang yang kurang kerjaan. Kalau dipikir-pikir, kita harus mengeluarkan waktu, tenaga, pikiran, dan kuota akses internet dalam jumlah tidak sedikit untuk hal-hal yang di platform lain cukup dikerjakan dengan beberapa kali klik mouse. Duh!

Btw, draft tulisan ini saya buat dengan OpenOffice.org Writer di Linux OpenSUSE, dan saya postingkan dengan browser Mozilla Firefox 2.0 di platform yang sama. Lantunan suara Alika (eks AFI Junior) dalam format MP3, yang saya rip dari CD originalnya menggunakan KAudioCreator dan dimainkan dengan Xmms, menemani saya menulis posting ini. Skrinsyut? Boleh. Ini dia (klik untuk memperbesar):