Humason

Pada awal abad ke-20, sebuah teleskop yang saat itu merupakan yang terbesar di dunia dibangun di Gunung Wilson, AS. Dari tempat ini, langit jernih kota Los Angeles bisa dilihat dengan jelas. Bagian-bagian teleskop harus dibawa ke puncak gunung dan ini menjadi tugas bagi keledai. Seorang kusir bernama Milton Humason ikut membawa peralatan mekanik dan optik, juga para ilmuwan dan insinyur ke puncak Gunung Wilson. Humason membawa regu keledainya dengan menunggang kuda bersama anjing terrier putihnya yang berdiri tepat di belakang pelana kudanya, dengan kaki depannya diletakkan di atas pundak Humason.
Humason adalah seorang pejudi ulung, dan perayu wanita nomor wahid. Pendidikan formal yang diikutinya tidak pernah melebihi kelas 2 SMP. Tetapi ia seorang yang cemerlang dan selalu ingin tahu tentang peralatan yang ikut dibawanya dengan susah payah ke atas. Humason selalu bersama dengan putri salah seorang insinyur observatorium, yang berkeberatan putrinya bergaul dengan seorang pemuda yang ambisinya tidak pernah melebihi ambisi seorang tukang menguliti keledai.
Humason lantas ikut bekerja serabutan di observatorium, dari asisten tukang listrik, pembersih ruangan, sampai pembersih lantai teleskop dimana ia ikut dalam pembangunannya. Suatu sore, demikian dikisahkan, asisten teleskop yang bertugas malam jatuh sakit. Humason lantas ditanya apakah ia mau menggantikannya. Setelah Humason bersedia, ternyata ia menunjukkan ketrampilan yang sangat tinggi dan sangat berhati-hati dalam menangani peralatan yang dipegangnya. Ia pun segera menjadi operator teleskop permanen dan pembantu pengamat.
Sesudah perang dunia pertama, datanglah ke observatorium Gunung Wilson seorang yang kelak menjadi terkenal. Namanya adalah Edwin Hubble. Ia adalah orang pertama yang memberikan bukti final bahwa apa yang saat itu disebut “nebula spiral” sebenarnya adalah sekelompok besar bintang, sebuah galaksi sebagaimana galaksi kita, Bimasakti. Ia juga merumuskan standar jarak bintang (stellar standard candle) yang diperlukan untuk menentukan jarak antar galaksi. Hubble dan Humason segera menjadi pasangan yang harmonis dalam bekerja di belakang teleskop.
Dibawah arahan astronom Vesto M. Slipher dari Observatorium Lowell, mereka berdua mulai mengukur spektra galaksi-galaksi yang terletak sangat jauh. Dengan segera nampak bahwa Humason adalah seorang pengukur spektrum galaksi yang terbaik diantara astronom manapun di dunia. Ia kemudian menjadi staf penuh Observatorium Gunung Wilson, banyak belajar tentang landasan-landasan ilmiah pekerjaaanya, dan akhirnya meninggal dunia pada 1972 sebagai orang kaya dalam pandangan ilmu pengetahuan, khususnya astronomi.
Dalam gambar di atas, Milton Humason berdiri paling kiri. Di sebelahnya berturut-turut adalah Edwin Hubble, Charles St. John, Albert Michelson, Albert Einstein, W. W. Campbell, dan Walter Adams. Foto ini diambil pada tahun 1931, saat Einstein berkunjung ke Observatorium Gunung Wilson. Diantara semuanya, Humason, tentu saja, adalah yang paling rendah tingkat pendidikannya. Namun disini ia mampu berdiri sejajar–baik dalam artian harafiah maupun kiasan–dengan para ilmuwan kelas dunia lainnya!
on February 1st, 2007 at 8:45 am
Banyak hikmah dari true story ini. seperti diingatkan. tidak ada yang tidak mungkin jika qta bersungguh-sungguh. trims dhani.
on February 6th, 2007 at 6:56 am
Success is 90% perspiration and 10% inspiration. Ternyata, ketekunan,kesungguh-sungguhan, keuletan dapat mengalahkan kecerdasan dan kepintaran seperti dicontohkan Humason. Jadi hikmah buat kita semua.
on February 6th, 2007 at 6:56 am
gw kira orang pinter jaman dulu rambutnya model2 einstein semua gitu dhan.. tyt ngga. hehe
masih inget si titian alam kan bos?
on February 9th, 2007 at 1:41 pm
@Mila & Hendro: Ya, memang banyak hikmah yg bisa dipetik dari kisah Humason ini. Tapi sengaja tidak saya tulis, agar masing2 pembaca bisa menemukan dan merenungkannya sendiri.
@Balq: Yg ada di buku2 itu kan model rambut Einstein setelah tuwir. Waktu mudanya dia itu perlente loh
. Anyway, tentu aja masih ingat ama ente. Selama ini bertapa dimana aja boss?
on February 16th, 2007 at 6:47 am
menarik. saya suka sekali fotonya, dan coba bayangin apa yang mereka obrolkan sebelum berpose untuk foto ini.