<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Dakota Fanning dan TV Kita</title>
	<atom:link href="http://blog.dhani.org/2007/01/dakota-fanning-dan-tv-kita/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.dhani.org/2007/01/dakota-fanning-dan-tv-kita/</link>
	<description>Pendar-Pendar Kehidupan</description>
	<lastBuildDate>Wed, 25 Jan 2012 06:23:48 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
	<item>
		<title>By: islamarket</title>
		<link>http://blog.dhani.org/2007/01/dakota-fanning-dan-tv-kita/comment-page-1/#comment-1997</link>
		<dc:creator>islamarket</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 18 Jan 2009 07:41:18 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.dhani.org/?p=137#comment-1997</guid>
		<description>padahal tadi saya mau cari jasa pengiriman DAKOTA, eh.. malah dapatnya tentang film tahan nafas.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>padahal tadi saya mau cari jasa pengiriman DAKOTA, eh.. malah dapatnya tentang film tahan nafas.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: asri zaidir</title>
		<link>http://blog.dhani.org/2007/01/dakota-fanning-dan-tv-kita/comment-page-1/#comment-326</link>
		<dc:creator>asri zaidir</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 27 Jun 2007 05:43:57 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.dhani.org/?p=137#comment-326</guid>
		<description>Suatu pagi di Lhokseumawe saya menonton salah satu saluran televisi yang sedang menampilkan tayangan pembunuhan isteri oleh suami. 

Dalam tragedi tersebut si suami yang merupakan pelaku pembunuhan ikut memilih mati bunuh diri setelah membunuh isterinya. Dalam beritanya, ternyata ada sang anak yang menjadi saksi aksi pembunuhan tersebut. Usianya kira-kira sepuluh tahun. 

Yang buat saya kaget bukan masalah pembunuhannya. Tapi saat itu dengan meng-Close Up wajah sang anak, stasiun televisi tersebut meminta si anak menceritakan detail kejadian saat orangtuanya bertengkar hingga sang ayah bunuh diri setelah membunuh ibunya.

Aneh ya?Seorang anak yang sedang berduka dengan musibah yang menimpa keluarganya diharuskan mengingat kejadian dan menceritakannya. Sebagai orang yang lebih dewasa kita harusnya sadar bahwa si anak sedang dalam kondisi yang sangat tertekan. Bayangkan, dalam satu hari dia harus kehilangan dua orang yang sangat dia sayangi.

Saya pernah menanyakan ini pada kawan yang kebetulan wartawan. Dia malah melegalkan wawancara media tersebut, dengan alasan si anak menjadi saksi.

Aduh, kalau gitu untuk apa polisi?? Kenapa kita tidak mengambil kutipan dari pihak kepolisian? kalau memang curiga, kita bisa mewawancarai orang terdekat dari keluarga tersebut. Siapa tau ada yang sempat melihat kejadian atau tau akan latar belakang masalah hingga terjadi pembunuhan tersebut.

Kalau pun mau di wawancara, ada baiknya si anak didampingi oleh seorang psikiater or psikolog. Media kita memang masih kedodoran dalam soal etika.

Nah, untuk yang di AS, gimana nih? bukannya ada Konvensi Hak Anak yang sudah ditetapkan oleh dunia?? ada kurang lebih 40 pasal di dalam KHA tersebut. Silahkan baca, siapa tau ada yang harus dirubah pasal-pasalnya.

Thanks ya udah kasih tempat untuk cuap-cuap!
Jabat Erat,

Asri</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu pagi di Lhokseumawe saya menonton salah satu saluran televisi yang sedang menampilkan tayangan pembunuhan isteri oleh suami. </p>
<p>Dalam tragedi tersebut si suami yang merupakan pelaku pembunuhan ikut memilih mati bunuh diri setelah membunuh isterinya. Dalam beritanya, ternyata ada sang anak yang menjadi saksi aksi pembunuhan tersebut. Usianya kira-kira sepuluh tahun. </p>
<p>Yang buat saya kaget bukan masalah pembunuhannya. Tapi saat itu dengan meng-Close Up wajah sang anak, stasiun televisi tersebut meminta si anak menceritakan detail kejadian saat orangtuanya bertengkar hingga sang ayah bunuh diri setelah membunuh ibunya.</p>
<p>Aneh ya?Seorang anak yang sedang berduka dengan musibah yang menimpa keluarganya diharuskan mengingat kejadian dan menceritakannya. Sebagai orang yang lebih dewasa kita harusnya sadar bahwa si anak sedang dalam kondisi yang sangat tertekan. Bayangkan, dalam satu hari dia harus kehilangan dua orang yang sangat dia sayangi.</p>
<p>Saya pernah menanyakan ini pada kawan yang kebetulan wartawan. Dia malah melegalkan wawancara media tersebut, dengan alasan si anak menjadi saksi.</p>
<p>Aduh, kalau gitu untuk apa polisi?? Kenapa kita tidak mengambil kutipan dari pihak kepolisian? kalau memang curiga, kita bisa mewawancarai orang terdekat dari keluarga tersebut. Siapa tau ada yang sempat melihat kejadian atau tau akan latar belakang masalah hingga terjadi pembunuhan tersebut.</p>
<p>Kalau pun mau di wawancara, ada baiknya si anak didampingi oleh seorang psikiater or psikolog. Media kita memang masih kedodoran dalam soal etika.</p>
<p>Nah, untuk yang di AS, gimana nih? bukannya ada Konvensi Hak Anak yang sudah ditetapkan oleh dunia?? ada kurang lebih 40 pasal di dalam KHA tersebut. Silahkan baca, siapa tau ada yang harus dirubah pasal-pasalnya.</p>
<p>Thanks ya udah kasih tempat untuk cuap-cuap!<br />
Jabat Erat,</p>
<p>Asri</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: dhani</title>
		<link>http://blog.dhani.org/2007/01/dakota-fanning-dan-tv-kita/comment-page-1/#comment-71</link>
		<dc:creator>dhani</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 29 Jan 2007 17:51:05 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.dhani.org/?p=137#comment-71</guid>
		<description>@Jeffi: Saya tidak mau &quot;berantem&quot; dg pengacara stasiun TV bersangkutan :). Untuk lebih jelas, silahkan baca teguran KPI di&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=http://www.kpi.go.id/index.php?categoryid=51&amp;p2_articleid=92&gt;http://www.kpi.go.id/index.php?categoryid=51&amp;p2_articleid=92&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan paragraf terakhir:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;...Banyak program faktual yang disiarkan lembaga penyiaran televisi swasta nampak tidak sensitif dengan penderitaan korban kekerasan dan kecelakaan ataupun keluarga korban, dengan menyajikan gambar closeup kondisi korban yang seringkali sangat mengenaskan, ataupun menyajikan &lt;b&gt;rekonstruksi kekerasan secara terperinci, termasuk kekerasan seksual yang melibatkan anak-anak&lt;/b&gt;. Dalam hal ini, KPI meminta agar lembaga penyiaran senantiasa menghormati korban dan keluarga korban dengan tidak menyajikan tayangan yang mengeskploitasi secara sensasional penderitaan korban...&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau anda ingin tahu nama mata acara dan stasiun TV yg menyiarkannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=http://www.kpi.go.id/index.php?categoryid=51&amp;p2_articleid=67&gt;http://www.kpi.go.id/index.php?categoryid=51&amp;p2_articleid=67&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;...KPI secara khusus juga memprihatinkan berbagai program berisikan laporan jurnalistik yang dengan leluasa menyajikan adegan-adegan &lt;b&gt;rekonstruksi perkosaan yang seringkali melibatkan korban anak-anak dan remaja&lt;/b&gt;...&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sialnya, himbauan yg dikeluarkan sejak 2 tahun lalu ini kurang mendapat tanggapan dari stasiun2 TV. KPI juga jadi seperti macan ompong, aumannya keras, tapi giginya gak ada. Soal ukuran vulgar, saya membandingkan dg ukuran di AS saja. Adegan membuka resleting celana di film Hounddog dikritik habis disana. Disini, adegan memelorotkan celana malahan bisa tampil begitu saja di TV. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas mas?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@Jeffi: Saya tidak mau &#8220;berantem&#8221; dg pengacara stasiun TV bersangkutan :). Untuk lebih jelas, silahkan baca teguran KPI di</p>
<p><a href=http://www.kpi.go.id/index.php?categoryid=51&#038;p2_articleid=92>http://www.kpi.go.id/index.php?categoryid=51&#038;p2_articleid=92</a></p>
<p>Perhatikan paragraf terakhir:</p>
<p>&#8220;&#8230;Banyak program faktual yang disiarkan lembaga penyiaran televisi swasta nampak tidak sensitif dengan penderitaan korban kekerasan dan kecelakaan ataupun keluarga korban, dengan menyajikan gambar closeup kondisi korban yang seringkali sangat mengenaskan, ataupun menyajikan <b>rekonstruksi kekerasan secara terperinci, termasuk kekerasan seksual yang melibatkan anak-anak</b>. Dalam hal ini, KPI meminta agar lembaga penyiaran senantiasa menghormati korban dan keluarga korban dengan tidak menyajikan tayangan yang mengeskploitasi secara sensasional penderitaan korban&#8230;&#8221;</p>
<p>Kalau anda ingin tahu nama mata acara dan stasiun TV yg menyiarkannya:</p>
<p><a href=http://www.kpi.go.id/index.php?categoryid=51&#038;p2_articleid=67>http://www.kpi.go.id/index.php?categoryid=51&#038;p2_articleid=67</a></p>
<p>&#8220;&#8230;KPI secara khusus juga memprihatinkan berbagai program berisikan laporan jurnalistik yang dengan leluasa menyajikan adegan-adegan <b>rekonstruksi perkosaan yang seringkali melibatkan korban anak-anak dan remaja</b>&#8230;&#8221;</p>
<p>Sialnya, himbauan yg dikeluarkan sejak 2 tahun lalu ini kurang mendapat tanggapan dari stasiun2 TV. KPI juga jadi seperti macan ompong, aumannya keras, tapi giginya gak ada. Soal ukuran vulgar, saya membandingkan dg ukuran di AS saja. Adegan membuka resleting celana di film Hounddog dikritik habis disana. Disini, adegan memelorotkan celana malahan bisa tampil begitu saja di TV. </p>
<p>Cukup jelas mas?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: jeffi</title>
		<link>http://blog.dhani.org/2007/01/dakota-fanning-dan-tv-kita/comment-page-1/#comment-70</link>
		<dc:creator>jeffi</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 29 Jan 2007 16:28:36 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.dhani.org/?p=137#comment-70</guid>
		<description>Kita tinggalkan sejenak kasus Fanning dan kembali ke tanah air. Disini, tayangan-tayangan kriminal di TV kita begitu sering menampilkan â€œrekonstruksiâ€ adegan perkosaan dengan korban anak-anak. &lt;--- boss.. tolong diperjelas dong nama stasiun tv indonesia yang (katanya) sering tampilin tayangan-tayangan kayak gini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini gw perhatiin tayangan2 rekonstruksi adegan kayak yg lo bilang ini kaga ada ah yang vulgar seperti yang lo bilang. Jangan-jangan cuma khayalan lo aja? hahahha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tolok ukur vulgar elo apa? Dan kalo lo bisa bilang sesuatu yang merupakan fakta, sebut dong info yang jelasnya (misalnya nama stasiun TV nya, dsb)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kita tinggalkan sejenak kasus Fanning dan kembali ke tanah air. Disini, tayangan-tayangan kriminal di TV kita begitu sering menampilkan â€œrekonstruksiâ€ adegan perkosaan dengan korban anak-anak. < --- boss.. tolong diperjelas dong nama stasiun tv indonesia yang (katanya) sering tampilin tayangan-tayangan kayak gini.</p>
<p>Selama ini gw perhatiin tayangan2 rekonstruksi adegan kayak yg lo bilang ini kaga ada ah yang vulgar seperti yang lo bilang. Jangan-jangan cuma khayalan lo aja? hahahha</p>
<p>Tolok ukur vulgar elo apa? Dan kalo lo bisa bilang sesuatu yang merupakan fakta, sebut dong info yang jelasnya (misalnya nama stasiun TV nya, dsb)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: dhani</title>
		<link>http://blog.dhani.org/2007/01/dakota-fanning-dan-tv-kita/comment-page-1/#comment-69</link>
		<dc:creator>dhani</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 29 Jan 2007 11:32:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.dhani.org/?p=137#comment-69</guid>
		<description>@Afin: Kebetulan saya tinggal di Bali, dan hal semacam ini udah lama jadi concern saya. Kamu betul sekali, Bali sekarang jadi surganya pedofil. Udah gitu, pelaku yang tertangkap kebanyakan orang asing. Mungkin krn ruang gerak mrk di negaranya sendiri sudah sangat terbatas, jadi mrk mencari negara2 yg aturannya masih longgar utk beraksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, LSM/sukarelawan yg menangani para korban seolah2 dibiarkan bekerja sendiri tanpa perhatian pemerintah. Pemerintah sendiri nampaknya segan mengakui kasus2 pedofilia di Bali, krn bisa berpengaruh jelek thd pariwisata. Kalau sampai bocor ke dunia luar, bisa2 negara yg punya aturan keras thd pedofil -seperti Amerika Serikat- akan bersikap lebih tegas thd kita. Tidak mustahil kunjungan wisatawan ke Bali juga bakalan diboikot. Tambah berabe deh! :(</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@Afin: Kebetulan saya tinggal di Bali, dan hal semacam ini udah lama jadi concern saya. Kamu betul sekali, Bali sekarang jadi surganya pedofil. Udah gitu, pelaku yang tertangkap kebanyakan orang asing. Mungkin krn ruang gerak mrk di negaranya sendiri sudah sangat terbatas, jadi mrk mencari negara2 yg aturannya masih longgar utk beraksi.</p>
<p>Sayangnya, LSM/sukarelawan yg menangani para korban seolah2 dibiarkan bekerja sendiri tanpa perhatian pemerintah. Pemerintah sendiri nampaknya segan mengakui kasus2 pedofilia di Bali, krn bisa berpengaruh jelek thd pariwisata. Kalau sampai bocor ke dunia luar, bisa2 negara yg punya aturan keras thd pedofil -seperti Amerika Serikat- akan bersikap lebih tegas thd kita. Tidak mustahil kunjungan wisatawan ke Bali juga bakalan diboikot. Tambah berabe deh! :(</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: afin yuliani</title>
		<link>http://blog.dhani.org/2007/01/dakota-fanning-dan-tv-kita/comment-page-1/#comment-68</link>
		<dc:creator>afin yuliani</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 29 Jan 2007 06:17:59 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.dhani.org/?p=137#comment-68</guid>
		<description>jadi ingat tulisanku tentang pedofil beberapa waktu lalu, banyak kasus yang nggak terungkap di permukaan lho. sudah denger belum kalo bali jadi surganya pedofil, mereka diperkosa diperalat, dan gak ada yang mau ngungkap</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>jadi ingat tulisanku tentang pedofil beberapa waktu lalu, banyak kasus yang nggak terungkap di permukaan lho. sudah denger belum kalo bali jadi surganya pedofil, mereka diperkosa diperalat, dan gak ada yang mau ngungkap</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: dhani</title>
		<link>http://blog.dhani.org/2007/01/dakota-fanning-dan-tv-kita/comment-page-1/#comment-67</link>
		<dc:creator>dhani</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 25 Jan 2007 11:46:40 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.dhani.org/?p=137#comment-67</guid>
		<description>@anonymous (ini teh Rani yah?): Ya, sepertinya di negara2 maju dimana semuanya serba teratur, orang jadi lebih sensitif thd gejala2 sosial yg dianggap menyimpang. Di negara macam Indonesia yang semuanya serba amburadul, nurani jadi tumpul. Semuanya jadi cenderung memikirkan diri sendiri saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;@Mila: yah, begitulah. :(</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@anonymous (ini teh Rani yah?): Ya, sepertinya di negara2 maju dimana semuanya serba teratur, orang jadi lebih sensitif thd gejala2 sosial yg dianggap menyimpang. Di negara macam Indonesia yang semuanya serba amburadul, nurani jadi tumpul. Semuanya jadi cenderung memikirkan diri sendiri saja.</p>
<p>@Mila: yah, begitulah. :(</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: mila</title>
		<link>http://blog.dhani.org/2007/01/dakota-fanning-dan-tv-kita/comment-page-1/#comment-66</link>
		<dc:creator>mila</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 25 Jan 2007 09:57:59 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.dhani.org/?p=137#comment-66</guid>
		<description>hiks... hiiiks..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>hiks&#8230; hiiiks..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Anonymous</title>
		<link>http://blog.dhani.org/2007/01/dakota-fanning-dan-tv-kita/comment-page-1/#comment-65</link>
		<dc:creator>Anonymous</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 24 Jan 2007 04:17:49 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.dhani.org/?p=137#comment-65</guid>
		<description>mungkin otak orang-orang bahkan para ulama di indonesia belum sampai ke taraf itu. mereka bahkan kita saat ini mungkin masih memikirkan masalh perut. maklum saja mereka tidak sempat memikirkan masalah banyaknya adegan kekerasan yang banyak diekspos oleh media terutama tv. mungkin menurut mereka itu juga merupakan salah satu hiburan. jujur saja sewaktu sma aq sama teman2 sekost suka menonton SERGAP , bukan karena prihatin dengan banyaknya kasus kejahatan yang terjadi di negeri ini , melainkan karena lebih sebagai hiburan selepas otak kami harus bekerja keras mengerjakan soal-soal ujian. Itukah salah satu conyoh dari kurang sensitifnya orang-orang indonesia atau yah lbh spesifiknya aq dulu.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>mungkin otak orang-orang bahkan para ulama di indonesia belum sampai ke taraf itu. mereka bahkan kita saat ini mungkin masih memikirkan masalh perut. maklum saja mereka tidak sempat memikirkan masalah banyaknya adegan kekerasan yang banyak diekspos oleh media terutama tv. mungkin menurut mereka itu juga merupakan salah satu hiburan. jujur saja sewaktu sma aq sama teman2 sekost suka menonton SERGAP , bukan karena prihatin dengan banyaknya kasus kejahatan yang terjadi di negeri ini , melainkan karena lebih sebagai hiburan selepas otak kami harus bekerja keras mengerjakan soal-soal ujian. Itukah salah satu conyoh dari kurang sensitifnya orang-orang indonesia atau yah lbh spesifiknya aq dulu.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: dhani</title>
		<link>http://blog.dhani.org/2007/01/dakota-fanning-dan-tv-kita/comment-page-1/#comment-64</link>
		<dc:creator>dhani</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 17 Jan 2007 14:49:46 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.dhani.org/?p=137#comment-64</guid>
		<description>Septian: Sebenarnya film yg dipersoalkan tsb bukan termasuk jenis film &#039;gituan&#039;. Konon ini film drama yg serius dan menuntut kemampuan akting yg prima dari pemerannya. Hanya saja, masyarakat AS yg -katanya- liberal itu ternyata sangat sensitif dg isu yg menyangkut eksploitasi seksual thd anak (jadi, bukan semata-mata karena faktor Fanning). Ini yg jadi point saya, krn kalau melihat kasus2 di Indonesia, ternyata kita sendiri malahan tidak &#039;care&#039; dengan hal tersebut.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Septian: Sebenarnya film yg dipersoalkan tsb bukan termasuk jenis film &#8216;gituan&#8217;. Konon ini film drama yg serius dan menuntut kemampuan akting yg prima dari pemerannya. Hanya saja, masyarakat AS yg -katanya- liberal itu ternyata sangat sensitif dg isu yg menyangkut eksploitasi seksual thd anak (jadi, bukan semata-mata karena faktor Fanning). Ini yg jadi point saya, krn kalau melihat kasus2 di Indonesia, ternyata kita sendiri malahan tidak &#8216;care&#8217; dengan hal tersebut.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

