Bianglala


Dakota Fanning dan TV Kita

Posted in Media by Dhani on the January 15th, 2007

Dunia entertainmen di negeri Abang Sam sedang gempar. Pasalnya, Dakota Fanning, aktris cilik berusia 12 tahun yang menjadi kesayangan jutaan orang itu, dalam film terbarunya akan memerankan adegan … (tahan napas sebentar) … perkosaan!

Kehebohan sudah muncul saat film bertitel Hounddog itu masih dalam tahap pengambilan gambar. Entah bagaimana ceritanya, skrip skenario film ini bocor ke tangan wartawan. Beberapa media mengulas dan kontroversi mulai merebak.

Puncaknya ketika New York Daily News, pada Juli 2006 lalu menulis bahwa:

”The screenplay for “Hounddog” – a dark story of abuse, violence and Elvis Presley adulation in the rural South, written and directed by Deborah Kampmeier – calls for Fanning’s character to be raped in one explicit scene and to appear naked or clad only in “underpants” in several other horrifying moments.”

Maaf, saya tidak sanggup menterjemahkan paragraf diatas.

Gelombang protes yang terjadi berhasil memaksa produser film ini untuk mundur, dan produksi sempat terhenti karena kehabisan dana. Setidaknya untuk sementara. Seperti biasanya, internet, email, dan — tentu saja — para blogger berperan sangat besar dalam hal ini. Namun kemudian, preview film ini, lengkap dengan adegan perkosaan yang diributkan, tahu-tahu dikabarkan akan diputar di festival film Sundance pada 22 Januari mendatang. Publik kembali terperangah, dan para blogger lagi-lagi kebakaran jenggot.

Kita tinggalkan sejenak kasus Fanning dan kembali ke tanah air. Disini, tayangan-tayangan kriminal di TV kita begitu sering menampilkan “rekonstruksi” adegan perkosaan dengan korban anak-anak. Dan gilanya, korban dalam reka ulang di TV ini, juga diperankan oleh … anak-anak. Ajaib, tidak ada protes, tidak ada keberatan dari pemirsa atau lembaga-lembaga berwenang. Semua seolah-olah menganggap itu sebagai hal yang wajar-wajar saja. Kasus Fanning menunjukkan kalau warga AS yang liberal bin sekular itu ternyata masih lebih concern dengan urusan beginian ketimbang kita-kita yang mengaku religius dan beradab.

Dalam adegan yang dihebohkan itu, menurut sang sutradara, Fanning hanya di-shoot dari bagian bahu ke atas dengan ekspresi wajah layaknya orang yang sedang, uh, diperkosa. Saat pengambilan gambar dilakukan, Fanning didampingi oleh orangtua dan gurunya, serta petugas dari organisasi perlindungan anak. Sutradara menjamin tidak ada ketelanjangan. Bahkan pada saat pengambilan gambar, Faning sebenarnya masih mengenakan pakaian walaupun dalam fim ia dikesankan, uh, telanjang. (Di sisi lain, saya perlu mengutip komentar salah seorang teknisi yang terlibat dalam proses pengambilan gambar: “I think a lot of people on set were wondering how they’d feel if it was their daughter acting that role.”)

Sebaliknya, adegan rekonstruksi perkosaan ala TV Indonesia diambil secara lebih eksplisit, atau kasarnya, “vulgar”. Saya tidak tahu, apakah prosedur seketat Fanning juga berlaku di sini. Sayangnya, hampir pasti tidak.

Saya mengetik posting ini sambil bertarung melawan rasa tidak nyaman yang muncul setiap membicarakan hal-hal yang “kurang pantas”. Tapi seorang kolumnis film di AS malah terang-terangan menulis bahwa ia merasa ingin muntah, dan bahkan muntahannya sudah mau keluar saat ia menulis tentang kasus Fanning. Ternyata saya masih kurang sensitif dibandingkan dia. Untung dia tidak hidup di Indonesia. Bisa-bisa dia akan lebih sering muntah di depan televisi.

Atau dia malahan jadi kebal?

11 Responses to 'Dakota Fanning dan TV Kita'

Subscribe to comments with RSS or TrackBack to 'Dakota Fanning dan TV Kita'.

  1. Septian said,

    on January 17th, 2007 at 1:05 pm

    wah, terima kasih atas infonya, saya suka tuh ama FAnning, lucu banget.
    tapi sayang dia ikut film gituan

  2. dhani said,

    on January 17th, 2007 at 2:49 pm

    Septian: Sebenarnya film yg dipersoalkan tsb bukan termasuk jenis film ‘gituan’. Konon ini film drama yg serius dan menuntut kemampuan akting yg prima dari pemerannya. Hanya saja, masyarakat AS yg -katanya- liberal itu ternyata sangat sensitif dg isu yg menyangkut eksploitasi seksual thd anak (jadi, bukan semata-mata karena faktor Fanning). Ini yg jadi point saya, krn kalau melihat kasus2 di Indonesia, ternyata kita sendiri malahan tidak ‘care’ dengan hal tersebut.

  3. Anonymous said,

    on January 24th, 2007 at 4:17 am

    mungkin otak orang-orang bahkan para ulama di indonesia belum sampai ke taraf itu. mereka bahkan kita saat ini mungkin masih memikirkan masalh perut. maklum saja mereka tidak sempat memikirkan masalah banyaknya adegan kekerasan yang banyak diekspos oleh media terutama tv. mungkin menurut mereka itu juga merupakan salah satu hiburan. jujur saja sewaktu sma aq sama teman2 sekost suka menonton SERGAP , bukan karena prihatin dengan banyaknya kasus kejahatan yang terjadi di negeri ini , melainkan karena lebih sebagai hiburan selepas otak kami harus bekerja keras mengerjakan soal-soal ujian. Itukah salah satu conyoh dari kurang sensitifnya orang-orang indonesia atau yah lbh spesifiknya aq dulu.

  4. mila said,

    on January 25th, 2007 at 9:57 am

    hiks… hiiiks..

  5. dhani said,

    on January 25th, 2007 at 11:46 am

    @anonymous (ini teh Rani yah?): Ya, sepertinya di negara2 maju dimana semuanya serba teratur, orang jadi lebih sensitif thd gejala2 sosial yg dianggap menyimpang. Di negara macam Indonesia yang semuanya serba amburadul, nurani jadi tumpul. Semuanya jadi cenderung memikirkan diri sendiri saja.

    @Mila: yah, begitulah. :(

  6. afin yuliani said,

    on January 29th, 2007 at 6:17 am

    jadi ingat tulisanku tentang pedofil beberapa waktu lalu, banyak kasus yang nggak terungkap di permukaan lho. sudah denger belum kalo bali jadi surganya pedofil, mereka diperkosa diperalat, dan gak ada yang mau ngungkap

  7. dhani said,

    on January 29th, 2007 at 11:32 am

    @Afin: Kebetulan saya tinggal di Bali, dan hal semacam ini udah lama jadi concern saya. Kamu betul sekali, Bali sekarang jadi surganya pedofil. Udah gitu, pelaku yang tertangkap kebanyakan orang asing. Mungkin krn ruang gerak mrk di negaranya sendiri sudah sangat terbatas, jadi mrk mencari negara2 yg aturannya masih longgar utk beraksi.

    Sayangnya, LSM/sukarelawan yg menangani para korban seolah2 dibiarkan bekerja sendiri tanpa perhatian pemerintah. Pemerintah sendiri nampaknya segan mengakui kasus2 pedofilia di Bali, krn bisa berpengaruh jelek thd pariwisata. Kalau sampai bocor ke dunia luar, bisa2 negara yg punya aturan keras thd pedofil -seperti Amerika Serikat- akan bersikap lebih tegas thd kita. Tidak mustahil kunjungan wisatawan ke Bali juga bakalan diboikot. Tambah berabe deh! :(

  8. jeffi said,

    on January 29th, 2007 at 4:28 pm

    Kita tinggalkan sejenak kasus Fanning dan kembali ke tanah air. Disini, tayangan-tayangan kriminal di TV kita begitu sering menampilkan “rekonstruksi” adegan perkosaan dengan korban anak-anak. < --- boss.. tolong diperjelas dong nama stasiun tv indonesia yang (katanya) sering tampilin tayangan-tayangan kayak gini.

    Selama ini gw perhatiin tayangan2 rekonstruksi adegan kayak yg lo bilang ini kaga ada ah yang vulgar seperti yang lo bilang. Jangan-jangan cuma khayalan lo aja? hahahha

    Tolok ukur vulgar elo apa? Dan kalo lo bisa bilang sesuatu yang merupakan fakta, sebut dong info yang jelasnya (misalnya nama stasiun TV nya, dsb)

  9. dhani said,

    on January 29th, 2007 at 5:51 pm

    @Jeffi: Saya tidak mau “berantem” dg pengacara stasiun TV bersangkutan :) . Untuk lebih jelas, silahkan baca teguran KPI di

    http://www.kpi.go.id/index.php?categoryid=51&p2_articleid=92

    Perhatikan paragraf terakhir:

    “…Banyak program faktual yang disiarkan lembaga penyiaran televisi swasta nampak tidak sensitif dengan penderitaan korban kekerasan dan kecelakaan ataupun keluarga korban, dengan menyajikan gambar closeup kondisi korban yang seringkali sangat mengenaskan, ataupun menyajikan rekonstruksi kekerasan secara terperinci, termasuk kekerasan seksual yang melibatkan anak-anak. Dalam hal ini, KPI meminta agar lembaga penyiaran senantiasa menghormati korban dan keluarga korban dengan tidak menyajikan tayangan yang mengeskploitasi secara sensasional penderitaan korban…”

    Kalau anda ingin tahu nama mata acara dan stasiun TV yg menyiarkannya:

    http://www.kpi.go.id/index.php?categoryid=51&p2_articleid=67

    “…KPI secara khusus juga memprihatinkan berbagai program berisikan laporan jurnalistik yang dengan leluasa menyajikan adegan-adegan rekonstruksi perkosaan yang seringkali melibatkan korban anak-anak dan remaja…”

    Sialnya, himbauan yg dikeluarkan sejak 2 tahun lalu ini kurang mendapat tanggapan dari stasiun2 TV. KPI juga jadi seperti macan ompong, aumannya keras, tapi giginya gak ada. Soal ukuran vulgar, saya membandingkan dg ukuran di AS saja. Adegan membuka resleting celana di film Hounddog dikritik habis disana. Disini, adegan memelorotkan celana malahan bisa tampil begitu saja di TV.

    Cukup jelas mas?

  10. asri zaidir said,

    on June 27th, 2007 at 5:43 am

    Suatu pagi di Lhokseumawe saya menonton salah satu saluran televisi yang sedang menampilkan tayangan pembunuhan isteri oleh suami.

    Dalam tragedi tersebut si suami yang merupakan pelaku pembunuhan ikut memilih mati bunuh diri setelah membunuh isterinya. Dalam beritanya, ternyata ada sang anak yang menjadi saksi aksi pembunuhan tersebut. Usianya kira-kira sepuluh tahun.

    Yang buat saya kaget bukan masalah pembunuhannya. Tapi saat itu dengan meng-Close Up wajah sang anak, stasiun televisi tersebut meminta si anak menceritakan detail kejadian saat orangtuanya bertengkar hingga sang ayah bunuh diri setelah membunuh ibunya.

    Aneh ya?Seorang anak yang sedang berduka dengan musibah yang menimpa keluarganya diharuskan mengingat kejadian dan menceritakannya. Sebagai orang yang lebih dewasa kita harusnya sadar bahwa si anak sedang dalam kondisi yang sangat tertekan. Bayangkan, dalam satu hari dia harus kehilangan dua orang yang sangat dia sayangi.

    Saya pernah menanyakan ini pada kawan yang kebetulan wartawan. Dia malah melegalkan wawancara media tersebut, dengan alasan si anak menjadi saksi.

    Aduh, kalau gitu untuk apa polisi?? Kenapa kita tidak mengambil kutipan dari pihak kepolisian? kalau memang curiga, kita bisa mewawancarai orang terdekat dari keluarga tersebut. Siapa tau ada yang sempat melihat kejadian atau tau akan latar belakang masalah hingga terjadi pembunuhan tersebut.

    Kalau pun mau di wawancara, ada baiknya si anak didampingi oleh seorang psikiater or psikolog. Media kita memang masih kedodoran dalam soal etika.

    Nah, untuk yang di AS, gimana nih? bukannya ada Konvensi Hak Anak yang sudah ditetapkan oleh dunia?? ada kurang lebih 40 pasal di dalam KHA tersebut. Silahkan baca, siapa tau ada yang harus dirubah pasal-pasalnya.

    Thanks ya udah kasih tempat untuk cuap-cuap!
    Jabat Erat,

    Asri

  11. islamarket said,

    on January 18th, 2009 at 2:41 pm

    padahal tadi saya mau cari jasa pengiriman DAKOTA, eh.. malah dapatnya tentang film tahan nafas.

Leave a Reply