Dunia entertainmen di negeri Abang Sam sedang gempar. Pasalnya, Dakota Fanning, aktris cilik berusia 12 tahun yang menjadi kesayangan jutaan orang itu, dalam film terbarunya akan memerankan adegan … (tahan napas sebentar) … perkosaan!

Kehebohan sudah muncul saat film bertitel Hounddog itu masih dalam tahap pengambilan gambar. Entah bagaimana ceritanya, skrip skenario film ini bocor ke tangan wartawan. Beberapa media mengulas dan kontroversi mulai merebak.

Puncaknya ketika New York Daily News, pada Juli 2006 lalu menulis bahwa:

”The screenplay for “Hounddog” – a dark story of abuse, violence and Elvis Presley adulation in the rural South, written and directed by Deborah Kampmeier – calls for Fanning’s character to be raped in one explicit scene and to appear naked or clad only in “underpants” in several other horrifying moments.”

Maaf, saya tidak sanggup menterjemahkan paragraf diatas.

Gelombang protes yang terjadi berhasil memaksa produser film ini untuk mundur, dan produksi sempat terhenti karena kehabisan dana. Setidaknya untuk sementara. Seperti biasanya, internet, email, dan — tentu saja — para blogger berperan sangat besar dalam hal ini. Namun kemudian, preview film ini, lengkap dengan adegan perkosaan yang diributkan, tahu-tahu dikabarkan akan diputar di festival film Sundance pada 22 Januari mendatang. Publik kembali terperangah, dan para blogger lagi-lagi kebakaran jenggot.

Kita tinggalkan sejenak kasus Fanning dan kembali ke tanah air. Disini, tayangan-tayangan kriminal di TV kita begitu sering menampilkan “rekonstruksi” adegan perkosaan dengan korban anak-anak. Dan gilanya, korban dalam reka ulang di TV ini, juga diperankan oleh … anak-anak. Ajaib, tidak ada protes, tidak ada keberatan dari pemirsa atau lembaga-lembaga berwenang. Semua seolah-olah menganggap itu sebagai hal yang wajar-wajar saja. Kasus Fanning menunjukkan kalau warga AS yang liberal bin sekular itu ternyata masih lebih concern dengan urusan beginian ketimbang kita-kita yang mengaku religius dan beradab.

Dalam adegan yang dihebohkan itu, menurut sang sutradara, Fanning hanya di-shoot dari bagian bahu ke atas dengan ekspresi wajah layaknya orang yang sedang, uh, diperkosa. Saat pengambilan gambar dilakukan, Fanning didampingi oleh orangtua dan gurunya, serta petugas dari organisasi perlindungan anak. Sutradara menjamin tidak ada ketelanjangan. Bahkan pada saat pengambilan gambar, Faning sebenarnya masih mengenakan pakaian walaupun dalam fim ia dikesankan, uh, telanjang. (Di sisi lain, saya perlu mengutip komentar salah seorang teknisi yang terlibat dalam proses pengambilan gambar: “I think a lot of people on set were wondering how they’d feel if it was their daughter acting that role.”)

Sebaliknya, adegan rekonstruksi perkosaan ala TV Indonesia diambil secara lebih eksplisit, atau kasarnya, “vulgar”. Saya tidak tahu, apakah prosedur seketat Fanning juga berlaku di sini. Sayangnya, hampir pasti tidak.

Saya mengetik posting ini sambil bertarung melawan rasa tidak nyaman yang muncul setiap membicarakan hal-hal yang “kurang pantas”. Tapi seorang kolumnis film di AS malah terang-terangan menulis bahwa ia merasa ingin muntah, dan bahkan muntahannya sudah mau keluar saat ia menulis tentang kasus Fanning. Ternyata saya masih kurang sensitif dibandingkan dia. Untung dia tidak hidup di Indonesia. Bisa-bisa dia akan lebih sering muntah di depan televisi.

Atau dia malahan jadi kebal?