Bianglala


Humason

Posted in Figure by Dhani on the January 31st, 2007


Pada awal abad ke-20, sebuah teleskop yang saat itu merupakan yang terbesar di dunia dibangun di Gunung Wilson, AS. Dari tempat ini, langit jernih kota Los Angeles bisa dilihat dengan jelas. Bagian-bagian teleskop harus dibawa ke puncak gunung dan ini menjadi tugas bagi keledai. Seorang kusir bernama Milton Humason ikut membawa peralatan mekanik dan optik, juga para ilmuwan dan insinyur ke puncak Gunung Wilson. Humason membawa regu keledainya dengan menunggang kuda bersama anjing terrier putihnya yang berdiri tepat di belakang pelana kudanya, dengan kaki depannya diletakkan di atas pundak Humason.

Humason adalah seorang pejudi ulung, dan perayu wanita nomor wahid. Pendidikan formal yang diikutinya tidak pernah melebihi kelas 2 SMP. Tetapi ia seorang yang cemerlang dan selalu ingin tahu tentang peralatan yang ikut dibawanya dengan susah payah ke atas. Humason selalu bersama dengan putri salah seorang insinyur observatorium, yang berkeberatan putrinya bergaul dengan seorang pemuda yang ambisinya tidak pernah melebihi ambisi seorang tukang menguliti keledai.

Humason lantas ikut bekerja serabutan di observatorium, dari asisten tukang listrik, pembersih ruangan, sampai pembersih lantai teleskop dimana ia ikut dalam pembangunannya. Suatu sore, demikian dikisahkan, asisten teleskop yang bertugas malam jatuh sakit. Humason lantas ditanya apakah ia mau menggantikannya. Setelah Humason bersedia, ternyata ia menunjukkan ketrampilan yang sangat tinggi dan sangat berhati-hati dalam menangani peralatan yang dipegangnya. Ia pun segera menjadi operator teleskop permanen dan pembantu pengamat.

Sesudah perang dunia pertama, datanglah ke observatorium Gunung Wilson seorang yang kelak menjadi terkenal. Namanya adalah Edwin Hubble. Ia adalah orang pertama yang memberikan bukti final bahwa apa yang saat itu disebut “nebula spiral” sebenarnya adalah sekelompok besar bintang, sebuah galaksi sebagaimana galaksi kita, Bimasakti. Ia juga merumuskan standar jarak bintang (stellar standard candle) yang diperlukan untuk menentukan jarak antar galaksi. Hubble dan Humason segera menjadi pasangan yang harmonis dalam bekerja di belakang teleskop.

Dibawah arahan astronom Vesto M. Slipher dari Observatorium Lowell, mereka berdua mulai mengukur spektra galaksi-galaksi yang terletak sangat jauh. Dengan segera nampak bahwa Humason adalah seorang pengukur spektrum galaksi yang terbaik diantara astronom manapun di dunia. Ia kemudian menjadi staf penuh Observatorium Gunung Wilson, banyak belajar tentang landasan-landasan ilmiah pekerjaaanya, dan akhirnya meninggal dunia pada 1972 sebagai orang kaya dalam pandangan ilmu pengetahuan, khususnya astronomi.

Dalam gambar di atas, Milton Humason berdiri paling kiri. Di sebelahnya berturut-turut adalah Edwin Hubble, Charles St. John, Albert Michelson, Albert Einstein, W. W. Campbell, dan Walter Adams. Foto ini diambil pada tahun 1931, saat Einstein berkunjung ke Observatorium Gunung Wilson. Diantara semuanya, Humason, tentu saja, adalah yang paling rendah tingkat pendidikannya. Namun disini ia mampu berdiri sejajar–baik dalam artian harafiah maupun kiasan–dengan para ilmuwan kelas dunia lainnya!

Dakota Fanning dan TV Kita

Posted in Media by Dhani on the January 15th, 2007

Dunia entertainmen di negeri Abang Sam sedang gempar. Pasalnya, Dakota Fanning, aktris cilik berusia 12 tahun yang menjadi kesayangan jutaan orang itu, dalam film terbarunya akan memerankan adegan … (tahan napas sebentar) … perkosaan!

Kehebohan sudah muncul saat film bertitel Hounddog itu masih dalam tahap pengambilan gambar. Entah bagaimana ceritanya, skrip skenario film ini bocor ke tangan wartawan. Beberapa media mengulas dan kontroversi mulai merebak.

Puncaknya ketika New York Daily News, pada Juli 2006 lalu menulis bahwa:

”The screenplay for “Hounddog” - a dark story of abuse, violence and Elvis Presley adulation in the rural South, written and directed by Deborah Kampmeier - calls for Fanning’s character to be raped in one explicit scene and to appear naked or clad only in “underpants” in several other horrifying moments.”

Maaf, saya tidak sanggup menterjemahkan paragraf diatas.

Gelombang protes yang terjadi berhasil memaksa produser film ini untuk mundur, dan produksi sempat terhenti karena kehabisan dana. Setidaknya untuk sementara. Seperti biasanya, internet, email, dan — tentu saja — para blogger berperan sangat besar dalam hal ini. Namun kemudian, preview film ini, lengkap dengan adegan perkosaan yang diributkan, tahu-tahu dikabarkan akan diputar di festival film Sundance pada 22 Januari mendatang. Publik kembali terperangah, dan para blogger lagi-lagi kebakaran jenggot.

Kita tinggalkan sejenak kasus Fanning dan kembali ke tanah air. Disini, tayangan-tayangan kriminal di TV kita begitu sering menampilkan “rekonstruksi” adegan perkosaan dengan korban anak-anak. Dan gilanya, korban dalam reka ulang di TV ini, juga diperankan oleh … anak-anak. Ajaib, tidak ada protes, tidak ada keberatan dari pemirsa atau lembaga-lembaga berwenang. Semua seolah-olah menganggap itu sebagai hal yang wajar-wajar saja. Kasus Fanning menunjukkan kalau warga AS yang liberal bin sekular itu ternyata masih lebih concern dengan urusan beginian ketimbang kita-kita yang mengaku religius dan beradab.

Dalam adegan yang dihebohkan itu, menurut sang sutradara, Fanning hanya di-shoot dari bagian bahu ke atas dengan ekspresi wajah layaknya orang yang sedang, uh, diperkosa. Saat pengambilan gambar dilakukan, Fanning didampingi oleh orangtua dan gurunya, serta petugas dari organisasi perlindungan anak. Sutradara menjamin tidak ada ketelanjangan. Bahkan pada saat pengambilan gambar, Faning sebenarnya masih mengenakan pakaian walaupun dalam fim ia dikesankan, uh, telanjang. (Di sisi lain, saya perlu mengutip komentar salah seorang teknisi yang terlibat dalam proses pengambilan gambar: “I think a lot of people on set were wondering how they’d feel if it was their daughter acting that role.”)

Sebaliknya, adegan rekonstruksi perkosaan ala TV Indonesia diambil secara lebih eksplisit, atau kasarnya, “vulgar”. Saya tidak tahu, apakah prosedur seketat Fanning juga berlaku di sini. Sayangnya, hampir pasti tidak.

Saya mengetik posting ini sambil bertarung melawan rasa tidak nyaman yang muncul setiap membicarakan hal-hal yang “kurang pantas”. Tapi seorang kolumnis film di AS malah terang-terangan menulis bahwa ia merasa ingin muntah, dan bahkan muntahannya sudah mau keluar saat ia menulis tentang kasus Fanning. Ternyata saya masih kurang sensitif dibandingkan dia. Untung dia tidak hidup di Indonesia. Bisa-bisa dia akan lebih sering muntah di depan televisi.

Atau dia malahan jadi kebal?

LAPAN-TUBSAT

Posted in Techno by Dhani on the January 11th, 2007

Tanpa banyak gembar-gembor pemberitaan, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) berhasil meluncurkan satelit pertama yang dibuat oleh putra Indonesia. LAPAN-TUBSAT, satelit dengan bobot 57 kg ini sukses meluncur dari Satish Dhawan Space Center (SDSC) Sriharikota, India, Rabu, 10 Januari lalu pukul 9.23 waktu India atau pukul 10.53 WIB.

Satelit pertama yang lebih dari 60 persennya dirakit sendiri oleh insinyur-insinyur Indonesia ini diluncurkan dengan menumpang roket Polar Satellite Launch Vehicle-C7 bersama dengan dua satelit lain milik India dan Argentina, serta sebuah kapsul penelitian antariksa milik India. Pada 15.30 WIB, sinyal dari LAPAN-TUBSAT berhasil di-track dari Stasiun Bumi Berlin, Jerman, dan berikutnya pada pukul 21.30 WIB di hari yang sama, satelit itu berhasil di-track dari stasiun Bumi Rumpin, Bogor, dari mana satelit itu selajutnya dikendalikan.

Satelit, atau tepatnya satelit mikro (mikrosat) hasil kerjasama LAPAN dengn Technical University of Berlin ini memang belum selevel satelit-satelit buatan negara maju. Dengan dimensi hanya 45 x 45 x 27 cm, LAPAN-TUBSAT membawa sistem transmisi data S-band, sebuah video kamera berwarna resolusi tinggi hingga 5 meter dengan swath (luas cakupan) 3,5 kilometer, video kamera berwarna resolusi rendah 200 meter dengan swath 81 kilometer, dan sistem penyimpan dan penerus pesan pendek dengan transmisi telemetry & telecommand pada frekuensi UHF dengan bandrate 1200 bps (bit perdetik).

Sebagai satelit surveillance, LAPAN-TUBSAT dapat digunakan untuk melakukan pemantauan langsung situasi di Bumi seperti kebakaran hutan, gunung berapi, banjir, menyimpan dan meneruskan pesan komunikasi dari dan ke berbagai pelosok yang cukup banyak di Indonesia, serta untuk misi komunikasi bergerak.

Sebenarnya dalam hal teknologi persatelitan, Indonesia sudah tertinggal dari Malaysia yang sejak 1998 telah meluncurkan satelit Mikronya, Tiungsat. Satelit ini merupakan hasil kerjasama Malaysia dengan Universitas Surrey, di Inggris. Malaysia bahkan sedang berancang-ancang untuk meluncurkan satelit mikro generasi keduanya yang lebih canggih yang dinamai RazakSat.

Tapi, seperti kata pepatah, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, semoga keberhasilan LAPAN ini menjadi awal yang baik bagi Indonesia untuk mulai menekuni teknologi satelit. Selamat buat LAPAN.

Etika Koran Tempo

Posted in Blogging, Life by Dhani on the January 4th, 2007

Lagi-lagi saya menemukan tulisan yang berasal dari situs saya muncul di surat kabar. Artikel berjudul “Ihwal Bintang Berekor”, dimuat dalam rubrik Ilmu dan Teknologi di Koran Tempo terbitan Rabu, 25 Februari 2004. Memang sudah cukup lama juga, tapi baru belakangan ini saya ketahui.

Tapi kalau Anda mengira bahwa saya akan melanjutkan tulisan ini dengan sumpah-serapah sebagaimana blogger lain yang tulisannya dijiplak mentah-mentah oleh media massa, maaf, tebakan Anda salah! Alamat situs yang memuat tulisan aslinya, dhani.singcat.com, tercantum dengan jelas di akhir artikel. Tapi bukan itu yang membuat saya merasa perlu untuk mengangkat topik ini lagi–walaupun sebenarnya paling segan menulis topik yang sama sampai berulang-ulang.

Tulisan itu, yang tampil di Koran Tempo, sudah diedit dan “diperas” sedemikian rupa, sehingga saya sendiri sudah tidak bisa mengenalinya lagi sebagai tulisan yang berasal dari saya. Tidak ada lagi “style” saya yang tersisa disana. Tulisan itu juga termuat secara online di halaman web yang diproteksi oleh password sehingga kemungkinan untuk ketahuan oleh saya sangat kecil. Sekalipun demikian, Koran Tempo tetap memilih untuk menjunjung etika jurnalistik dengan menampilkan alamat situs sumber tulisannya. Salut!

Banyak suratkabar atau majalah, apalagi yang berskala nasional, nampaknya malu mengakui bahwa artikel yang dimuatnya berasal dari blog yang ditulis oleh orang tak dikenal. Paling-paling si wartawan akan menyatakan bahwa tulisan itu berasal “dari berbagai sumber”, walaupun sebenarnya hanya copy-paste dari satu tulisan. Tapi Koran Tempo adalah perkecualian.

Sebagai catatan, Sebelumnya Koran Tempo pernah juga memuat tulisan tentang Marie Currie dari blog ini, dan URL blog ini diterakan dengan jelas di akhir tulisan sebagai salah satu referensi (selengkapnya pernah saya singgung sedikit di sini). Ditengah keluhan beberapa blogger yang tulisannya “dicuri” secara semena-mena untuk kemudian tahu-tahu muncul secara anonim di media massa, kebijakan Koran Tempo ini jelas perlu kita hargai.