Bianglala


Petualangan Sang Jenius

Posted in Book, Figure by Dhani on the November 7th, 2006

Tahun 2002, penerbit Mizan pernah menerbitkan terjemahan buku Richard Feynman, Surely, You’re Joking, Mr. Feynman: Adventures of a Curious Character, dengan judul Cerdas Jenaka Cara Nobelis Fisika. Kini, setelah empat tahun berselang, terjemahan dari “sekuel” buku tersebut, ”What Do You Care What Other People Think”: Further Adventures of a Curious Character, telah diterbitkan oleh penerbit yang sama, dengan judul berbahasa Indonesia yang “gaul”: Feynman: Genius Fisika Paling Cool Sedunia.

Buku ini terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama, “Sosok yang Serba Ingin-Tahu”, berisi sejumlah anekdot khas Feynman, mirip seperti di bukunya yang pertama; dan bagian kedua, yang bagi saya paling menarik, diberi judul “Misi Bunuh Diri ke Washington”, berkisah seputar pengalaman Feynman saat menjadi anggota komisi penyelidikan atas musibah pesawat ulang alik Challenger pada 1986.

Walaupun agak mirip, namun buku ini sedikit berbeda dengan Surely…. Di bagian pertama buku ini memang kita masih bisa menikmati cara berkisah khas Feynman. Namun kini dia tidak selalu sedang bercanda. Disini Feynman banyak bercerita tentang orang-orang yang memiliki pengaruh besar dalam hidupnya, diantaranya adalah ayahnya dan isteri pertamanya, Arlene. Sedangkan di bagian kedua, kita akan melihat sosok Feynman sebagai seorang fisikawan nyentrik dengan integritas yang luar biasa saat mengungkap misteri penyebab meledaknya pesawat ulang-alik Challenger yang menewaskan ketujuh awaknya pada Februari 1986. Sayangnya, inilah petualangan besar Feynman yang terakhir. Fisikawan jenius ini meninggal dua tahun kemudian (1988) karena serangan kanker.

Seperti juga pada buku pertama, Mizan lagi-lagi melakukan sensor terhadap beberapa kisah yang tidak sesuai dengan “idealisme” mereka. (Kebiasaan buruk Mizan ini belakangan membuat saya kehilangan kepercayaan terhadap buku-buku terjemahan yang mereka terbitkan). Lantas, entah atas pertimbangan apa, Mizan memilih desain sampul berwarna mencolok untuk buku ini. Akibatnya, sepintas buku ini jadi kelihatan seperti teenlit ketimbang buku sains. Saya sendiri tidak sengaja menemukan buku ini di Gramedia, “tercecer” di antara buku-buku remaja. Rupanya bukan cuma Gramedia yang keliru menempatkan buku ini. Di sebuah toko buku lain, saya menemukan buku ini juga dipajang diantara novel-novel percintaan khas remaja.

Mizan menjanjikan untuk menerbitkan terjemahan tiga buku lainnya dari Feynman: Feynman Lectures of Physics, Six Easy Pieces, dan QED, the Strange Theory of Light and Matter. Mudah-mudahan Mizan bersedia menerbitkan terjemahan ketiga buku tersebut secara apa adanya tanpa disensor segala. Ketiga buku tersebut jelas berbeda dari Genius Fisika… maupun Cerdas Jenaka… karena isinya betul-betul bicara fisika.

Khusus untuk terjemahan QED, saya tidak berharap banyak dari buku ini karena teori QED (Quantum Electrodynamics, Elektrodinamika Kuantum) tergolong teori fisika yang rumit dan sulit dimengerti atau dijelaskan dalam bahasa awam. Adalah teori QED yang mengantarkan Feynman memperoleh Nobel Fisika pada 1965 (bersama dengan fisikawan AS, Julian Schwinger dan fisikawan Jepang, Tomonaga Shinichiro). Ironisnya, Feynman yang dikenal jagoan bercerita itu malahan mengaku tidak bisa menjelaskan teorinya sendiri dalam bahasa yang sederhana. Mungkin buku itu hanya akan saya beli untuk melengkapi kepustakaan buku-buku sains saya saja.

Inspirasi

Posted in Wisdom by Dhani on the November 6th, 2006

Dance, as though no one is watching you.
Love, as though you have never been hurt before.
Sing, as though no one can hear you.
Work, as though you don’t need the money.
Live, as though heaven is on the earth.

(Jalaluddin Rumi)

Antara Sains dan Agama

Posted in Social by Dhani on the November 1st, 2006

Sudah sejak lama saya memutuskan untuk bersikap sekular saat menulis tentang sains. Artinya, saya berusaha untuk tidak mengkait-kaitkan bahasan soal sains dengan paham keagamaan, maupun menghubung-hubungkan aneka fakta sains dengan ayat-ayat kitab suci agama yang saya anut. Tentu saja hal ini bukannya tanpa alasan.

Bagaimanapun, ada perbedaan antara cara berpikir sains dengan agama. Agama bisa berjalan dengan keyakinan, sebuah faith, sementara sains malahan dimulai dari skeptisisme: keragu-raguan terhadap segala hal. Justru skeptisisme inilah yang membuat sains maju terus. Karenanya, adalah tidak mungkin bagi kita untuk mencampur adukkan pola pikir sains dengan agama. Sains pada dasarnya memang sekular.

Dengan demikian, seharusnya tidak perlu ada istilah “sains Islami” atau semacamnya. Ilmu pengetahuan pada dasarnya harus bisa diuji oleh semua orang tanpa memandang keyakinannya. Baik umat Islam atau Kristiani harus mau menerima fakta bahwa satu molekul air terdiri dari dua atom hidrogen dan satu atom oksigen. Entah penganut Hindu atau Buddha tetap harus setuju bahwa Bumi beredar mengelilingi Matahari, karena memang demikianlah yang telah dibuktikan oleh sains. Tidak perlu ada Kimia Kristiani atau Astronomi Hindu, misalnya.

Namun ini juga bukan berarti kita sama-sekali memisahkan agama dari ilmu pengetahuan. Belajar sains adalah juga belajar untuk rendah hati, mau mengakui kekurangan dan keterbatasan kita sebagai mahluk ciptaan-Nya. Dengan belajar sains, kita juga belajar “membaca” ayat-ayat Kauniyah yang tersebar di alam semesta. Kita belajar sains untuk memajukan harkat kemanusiaan, dalam rangka mengemban misi sebagai khalifah di muka bumi. Semua itu sejalan belaka dengan ajaran agama–tanpa kita harus mencocok-cocokkan fakta sains dengan ayat-ayat kitab suci.

Sains yang sekular juga dapat mempertebal keimanan, namun iman juga dapat goyah oleh sains yang dicampur adukkan dengan agama. Taruhlah beberapa pendakwah agama yang secara sembrono mengkaitkan fenomena alamiah dengan ayat-ayat kitab suci yang sebenarnya kurang relevan. Bagi yang punya dasar agama namun awam sains, ini akan menyesatkan. Di pihak lain, bagi yang paham sains tanpa bekal agama, akan menjadi tertawaan.

Sungguh indah kalau pengetahuan sains juga digunakan untuk memahami ayat Qur’aniyah (tertulis Al-Quran) dan ayat Kauniyah (di alam semesta). Namun, dalam hal ilmu pengetahuan, argumentasi saintifiklah yang dikemukakan. Argumentasi Qur’aniyah biarlah di dalam kalbu sebagai motivator untuk terus menggali rahasia alam.