Telkom Speedy
Barusan pasang link ADSL via Telkom Speedy di rumah. Pemakaian hari pertama ternyata agak mengecewakan. Kecepatan akses yang diiklankan bisa mencapai diatas 380 kbps, setelah diukur lewat bandwidtwh speedtest ternyata mentok pada 100-an kbps saja (“lokasi rumahnya agak jauh dari sentral telepon,” kata petugas yang memasang).
Telkom Speedy di Bali ternyata menggunakan ISP NanguraNet (tadinya saya kira menggunakan ISP dari Telkom sendiri, ternyata di KSO-kan pula). Akibatnya, saya terpaksa harus mempensiunkan seluruh account mail.telkom.net yang saya pakai selama ini–berhubung POP accountnya tidak bisa diakses diluar ISP Telkom. Karena Telkom Speedy tidak menyediakan fasilitas POP account, saya terpaksa beralih memakai POP account gratisan dari Gmail. Duh.
Parahnya lagi, untuk aktivasi account harus menggunakan browser Internet Explorer. Bahkan halaman web untuk memeriksa besarnya pemakaian cuma bisa diakses lewat IE. Itu artinya saya bakalan kesulitan untuk online dengan Linux. Bagaimana ini Telkom? Sepertinya masih banyak yang harus dibenahi nih!
Catatan:
Setelah sedikit optimasi, hari ini (sehari kemudian) Speedy akhirnya bisa melaju kencang sampai mendekati 400 kbps. Saya baru sadar kalau perangkat “modem” ADSL itu ternyata lebih cocok disebut router, lengkap dengan OS Linux yang terpasang didalamnya (kita bahkan bisa login ke perangkat itu lewat Telnet!). Mesti belajar lagi nih, he-he-he ;).
Eijkman dan Bosscha
Christiaan Eijkman (1858-1930), seorang ilmuwan berkebangsaan Belanda, memenangkan hadiah Nobel dalam bidang fisiologi (kedokteran) pada tahun 1929 atas penelitiannya yang mengungkap penyebab penyakit beri-beri, yaitu karena kekurangan bahan kaya nutrisi yang terdapat di pericarpium–kulit ari beras. Penemuan ini merupakan cikal bakal dari konsep vitamin yang kita kenal sekarang. Seperti yang sudah kita ketahui sejak di Sekolah Dasar dulu, bahan kaya nutrisi itu tidak lain adalah vitamin B.
Penelitian yang mengantarnya meraih Nobel itu dia lakukan di sebuah laboratorium permanen bernama Geneeskundig Laboratorium (laboratorium medis) yang berlokasi di bangsal Rumah Sakit Militer Batavia (sekarang RS Gatot Subroto, Jakarta). Laboratorium tersebut berdiri sejak 1988 yang pada jamannya merupakan lembaga riset prestisius berkelas dunia yang pernah ada di bumi Indonesia. Karena Eijkman tercatat sebagai direktur pertama disana, maka kelak laboratorium itu lebih dikenal sebagai Lembaga Eijkman.
Lembaga Eijkman sempat “mati suri” selama beberapa puluh tahun sebelum kemudian “dihidupkan” lagi pada 1993 sebagai Lembaga Biologi Molekuler Eijkman (LBME). Kini LBME masih merupakan salah satu lembaga penelitian biologi molekuler yang disegani di dunia internasional. Aneka subjek yang diteliti di lembaga ini mencakup penelitian terhadap berbagai penyakit infeksi, khususnya yang sering berjangkit di daerah tropis, serta penelitian terhadap keragaman human genom di Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, penelitian ini merupakan salah satu pelengkap untuk Human Genome Project, proyek raksasa yang dicanangkan pemerintah Amerika Serikat yang bertujuan untuk memetakan seluruh kode informasi genetika dalam pita DNA manusia.
* * *
Karel Albert Rudolf Bosscha (1865-1928) bukanlah seorang ilmuwan seperti halnya Eijkman. Ia hanyalah pengusaha perkebunan teh di Malabar dan Pengalengan, Jawa Barat. Namun dia juga dikenal sebagai orang yang peduli terhadap kesejahteraan masyarakat pribumi pada masa itu dan juga merupakan seorang pemerhati ilmu pendidikan khususnya astronomi.
Pada tahun 1923, Bosscha menjadi perintis dan penyandang dana pembangunan sebuah observatorium yang telah lama diharapkan oleh Nederlands-Indische Sterrenkundige Vereeniging, NISV (Perhimpunan Ahli Bintang Hindia Belanda). Kemudian ia bersama dengan Dr. J. Voute pergi ke Jerman untuk membeli Teleskop Refraktor Ganda Zeiss dan Teleskop Refraktor Bamberg. Pembangunan observatorium tersebut selesai dilaksanakan pada tahun 1928. Namun ia sendiri tidak sempat menyaksikan bintang melalui observatorium yang didirikannya karena keburu meninggal pada 26 November 1928, beberapa saat setelah dianugerahi penghargaan sebagai Warga Utama kota Bandung dalam upacara kebesaran yang dilakukan Gemente di Kota Bandung.
Sebagai penghargaan atas kontribusinya, observatorium yang ia dirikan dinamai sebagai observatorium Bosscha. Pada masanya, instrumen yang dimiliki observatorium Bosscha merupakan salah satu yang tercanggih di dunia. Bahkan hingga kini, observatorium Bosscha masih menjadi sebuah observatorium penting di belahan Bumi selatan. Teleskop Refraktor Ganda Zeiss masih merupakan instrumen utama observatorium ini dengan subjek penelitian mencakup pengamatan bintang ganda, planet, dan gugus galaktik.
* * *
Baik lembaga Eijkman maupun observatorium Bosscha adalah warisan pemerintahan penjajah Belanda. Perlu juga dicatat bahwa kedua institusi itu adalah lembaga riset terbaik pada masanya–tidak kalah dengan lembaga serupa yang berdiri di daratan Eropa (yang saat itu masih merupakan “kiblat” perkembangan sains dunia).
Memang, walau bagaimanapun penjajah adalah tetap penjajah. Tapi warisan mereka terhadap sais di negeri ini, antara lain lewat kedua institusi tersebut, tidak bisa dilupakan begitu saja. Paling tidak, ini menunjukkan komitmen yang tinggi dari pemerintah Belanda kala itu terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di tanah jajahannya. Sayangnya, komitmen serupa hampir-hampir tidak kita dapatkan dari pemerintah di era kemerdekaan sekarang.
Setelah kita terlepas dari penjajahan Belanda, adakah saintis Indonesia yang bisa seperti Eijkman, berhasil memperoleh hadiah Nobel atas riset yang dilakukannya di negeri ini? Atau akankah kelak ada dermawan seperti Bosscha yang rela mendonasikan sejumlah besar hartanya untuk kepentingan ilmu pengetahuan? Ada baiknya suasana “Agustusan” kali ini kita jadikan momentum untuk introspeksi. Mudah-mudahan di era kemerdekaan ini masih ada diantara kita, warga Indonesia, yang bisa seperti Eijkman atau Bosscha.
Bosscha Sekarang
Di sela-sela liburan di Bandung, Jumat sore lalu saya sempatkan untuk berkunjung ke observatorium Bosscha di Lembang. Saya mencatat ada beberapa hal baru disana dibandingkan kunjungan saya yang terakhir ke Bosscha, sekitar tahun 1998 lampau.
Diantara instrumen baru yang terpasang adalah teleskop GAO yang merupakan teleskop robotik hasil kerjasama dengan observatoium Gumma di Jepang. Telesop ini dikendalikan secara remote dari Gumma melalui internet. Sebaliknya, obs. Bosscha juga dapat memanfaatkan teleskop di Gumma, yang dikendalikan dari Lembang. Telesop ini diletakkan dalam sebuah rumah-teleskop kecil yang dicat warna metalik, agak mencolok, di sisi sebelah barat teleskop Unitron.
Teleskop refraktor Ganda Zeiss yang dahulu dipakai untuk pengamatan visual dan fotografi masih didedikaskan untuk pengamatan bintang ganda, namun sekarang telah sepenuhnya memanfaatkan detektor CCD (Chart Coupled Device) menggantikan pelat fotografi yang kini sudah tidak diproduksi lagi oleh perusahaan pembuatnya, Eastman Kodak.

Dalam gambar diatas, bisa dilihat kalau bagian eyepiece dari teleskop visual (sebelah kiri) telah dipasangi detektor VCCD (Video CCD). Pesawat TV yang kelihatan di latar belakang itu bukannya dipasang supaya para astronom dapat menonton siaran langsung sepak bola sambil meneropong :), melainkan sebagai piranti keluaran (output) dari perangkat ini. Sementara itu, plateholder pada teleskop fotografi (sebelah kanan) telah berganti dengan sebuah detektor CCD yang hasil keluarannya diteruskan ke seperangkat komputer di dalam ruangan itu.
Saya tidak sempat mengunjungi teleskop Schmidt Bimasakti yang letaknya memang terpisah agak jauh dari teleskop-teleskop lainnya di Bosscha. Karena satu-satunya teleskop survey di Asia Tenggara ini ini juga memanfaatkan pelat fotografi, maka bisa dipastikan teleskop ini juga harus diperlengkapi dengan instrumen CCD agar bisa terus dimanfaatkan.
Sementara itu, teleskop reflektor cassegrain GOTO sempat saya dengar mengalami kerusakan. Sebenarnya yang rusak bukan teleskopnya melainkan piranti kontrolnya, yang memanfaatkan seperangkat PC degan sistem opreasi DOS versi Jepang. Pada konferensi APRIM 2005 lalu di Bali, saya ingat ada penyaji makalah yang mengetengahkan topik penulisan ulang software pengendali untuk teleskop ini dibawah platform MS Windows, tapi saya tidak tahu bagaimana kelanjutannya sekarang.
Berbeda dengan beberapa tahun lalu, dimana para pengunjung observatorium lebih banyak dari kalangan peminat astronomi atau golongan yang cukup terpelajar, sekarang profil pengunjung malahan didominasi oleh kalangan yang sangat awam soal astronomi–kelihatan dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan saat sesi tanya-jawab sehabis acara ceramah astronomi. Saya beruntung karena penyaji ceramah kali ini adalah Dr. Premana W Premadi, salah seorang pakar kosmologi dan ekstra-galaksi dari ITB.
Satu hal yang memprihatinkan adalah semakin banyaknya bangunan yang berdiri di sekitar observatorium. Semestinya tidak boleh ada bangunan dalam jarak 4 km dari observatorium. Tapi sekarang, dalam jarak 500 meter sudah ada yang membangun villa. Konon kompleks observatorium Bosscha sendiri juga sudah menjadi incaran perusahaan pengembang yang ingin “menyulapnya” menjadi villa. Tapi tentu saja tidak semudah itu. Tidak seperti bangunan lainnya, observatorium bukanlah tempat yang bisa dibangun dimana saja, atau ditukar-guling sesuka hati. Belum lagi kalau melihat nilai sejarahnya. Wajar kalau pihak Bosscha besikukuh untuk mempertahankan observatrorium itu sampai kapanpun juga.
Kenapa tidak boleh ada bangunan di sekitar observatorium? Itu karena setiap bangunan tentu mengeluarkan cahaya di malam hari. Semakin banyak bangunan, semakin banyak pula cahaya yang terpancar keluar. Padahal, cahaya yang terlalu banyak disekitar akan mengganggu pengamatan dengan teleskop (para astronom biasa menyebutnya sebagai “polusi cahaya”). Dalam bahasa yang lebih teknis, bayaknya cahaya akan mengurangi “seing” (kenampakan) objek yang diamati. Ini tentu merugikan bagi kerja para astronom.
Sumber keprihatinan lainnya adalah banyaknya pengunjung di observatorium. Hal ini agak ironis karena para pengunjung ini juga memberikan kontribusi bagi biaya perawatan teleskop dan instrumen–yang tentu saja tidak murah–melalui uang tiket masuk yang mereka bayarkan. Sayangnya pengunjung yang terlalu banyak membuat kinerja observatorium sedikit terganggu. Masalahnya adalah panas yang tertinggal dari tubuh para pengunjung dalam gedung teleskop Zeiss (bangunan berkubah yang menjadi “maskot” observatorium itu). Sebelum teleskop bisa digunakan, para astronom harus menunggu agar suhu di dalam bangunan menjadi sama dengan suhu di luar. Ini penting agar tidak terjadi turbulensi pada lensa teleskop yang bisa mengganggu pengamatan. Dulu, waktu jumlah pengunjung belum sebanyak sekarang, proses ini hanya membutuhkan waktu setengah jam. Sekarang, biarpun sudah dua jam ditunggu, suhu didalam ruangan masih tetap hangat!
Liburan …

Jadi, begitulah. Setelah bete akibat 6 bulan tinggal di pulau Dewata, akhirnya saya memutuskan untuk berlibur. Emangnya orang Bali tidak butuh liburan? Dan tentu saja, Bali adalah tempat yang membosankan untuk berlibur. So, saya pilih menyambangi Bandung saja.
Apa istimewanya Bandung? Well, saya suka alam Jawa Barat yang (percayalah) jauuuh lebih indah dari Bali. Dan syukurlah, lautan sampah itu sudah tidak nampak lagi di Bandung. Oh iya. Foto diatas itu saya ambil kemarin di gunung Tangkuban Perahu. Punten!