Tampilan Baru, Blog Baru
Beberapa hari belakangan, blog ini mulai tampil dengan wajah baru. Pertimbangannya bukan sekedar soal estetika, tapi juga sekalian memanfaatkan fitur-fitur baru dari Blogger (RSS Feed, penggunaan blogsearch dari Google, dst) yang masih belum sempat diadopsi oleh blog ini.
Hampir tiga tahun online, tampilan blog ini termasuk jarang dikutak-katik. Selalu setia dengan HTML standar yang simpel. Biarpun tampilan yang sekarang kelihatan agak lebih “meriah”, tapi sedikit banyak saya masih mempertahankan kombinasi warna dari logo lama yang didominasi oleh paduan warna merah, jingga, dan kuning (tiga spektrum warna teratas dari bianglala). Beda yang paling mencolok, desain yang sekarang menganut aliran tanpa tabel, alias sepenuhnya mengandalkan CSS.
Oh, ya. Tampilan baru ini juga tidak lagi menyertakan profil pemilik blog. Saya pikir, ketimbang menulis panjang-lebar profil saya disini (yang bisa saja diartikan macam-macam oleh pembacanya), mendingan saya berusaha supaya setiap posting disini betul-betul mewakili diri saya. Kalau ada yang pernah membaca semua, atau sebagian isi blog ini, dia mungkin sudah bisa mendapat gambaran tentang diri saya: soal minat, kecenderungan, selera akan musik, buku bacaan, dsb. Sejauh ini, semua entri blog ini selalu ditulis dengan latar belakang minat yang kuat. Ini juga menjelaskan kenapa tidak ada tulisan tentang bola disini biarpun sekarang sedang musim piala dunia.
Mumpung lagi sempat, sekarang saya juga sedang sibuk membenahi situs dan blog yang lama terbengkalai. Blog Refleksi juga sekarang mulai diupdate kembali (dan sekarang sudah mendukung RSS Feed). Lantas, ada lagi yang baru: blog Info Astronomi yang baru saja selesai disetup. Blog ini saya khususkan untuk menampung berita-berita seputar peristiwa keruang-angkasaan. Berbeda dengan blog saya yang lain, blog baru ini memanfaatkan mesin WordPress. Sementara ini isinya masih belum banyak. Semoga saja saya masih punya waktu untuk memperbarui isinya secara teratur.
Gempa Semalam
Semalam, sekitar jam setengah satu dini hari (WITA), waktu sedang lembur di depan layar komputer, sesaat saya dikejutkan oleh bunyi gemuruh. Dinding-dinding rumah terasa bergetar, persis kalau ada truk besar yang sedang lewat.
Terus terang, saya kurang “ngeh” soal apa yang sedang terjadi. Karena peristiwa tersebut berlalu dengan cepat, maka lantas saya tidak terlalu memikirkannya lagi, dan malahan kembali sibuk dengan kode-kode ASP di layar monitor. Cuma, ada satu hal aneh yang saya ingat. Waktu itu, rumah saya mendadak dipenuhi oleh kecoak yang muncul entah dari mana. Sebagian bahkan terbang kian kemari di dalam ruangan. Geli campur jijik rasanya melihat pemandangan yang tidak sedap itu.
Belakangan, setelah mengecek ke Informasi Gempa bumi di situs BMG baru saya sadar bahwa saya semalam sempat merasakan gempa berkekuatan 4,5 skala richter walaupun hanya beberapa detik (mungkin sekitar dua-tiga detik). Persisnya gempa terjadi pada jam 23:36 WIB, berpusat di laut 116 km selatan Denpasar dengan kedalaman 33 km.
Gempa semacam ini sebenarnya cukup sering terjadi di Bali (saya juga sudah berkali-kali menulisnya di sini, terutama di bulan-bulan pertama pasca tsunami dulu). Tapi pengalaman dengan kecoak semalam adalah hal yang baru bagi saya. Kapan-kapan, kalau kebetulan melihat kecoak dalam jumlah banyak mendadak muncul, saya sebaiknya waspada. Saya memang pernah membaca bahwa hewan-hewan tertentu punya kepekaan khusus terhadap gejala-gejala alam seperti gempa, tapi baru sekarang saya membuktikannya sendiri.
Dunia Pendidikan Kita
Dalam pidato Ilmiah purna-tugasnya (27 November 2004), pak Bambang Hidayat, salah seorang astronom senior Indonesia, mengisahkan:
”… Bagi seorang yang menamatkan pendidikan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas tahun 1953 sebenarnya tersedia kebebasan untuk memasuki fakultas apa saja yang ada pada waktu itu, tanpa harus mempergunakan ujian saringan masuk. Pemegang ijasah SLA dengan bangga dapat membaca pada akhir alinea diktum kelulusannya yang menjamin dirinya untuk memperoleh pendidikan tinggi. Berbeda dengan ijasah sekarang yang tidak memberi jaminan apapun kecuali menyediakan kesempatan saringan test masuk pendidikan tinggi…”
Pak Bambang pasti hanya bermaksud merendah. Untuk ukuran tahun 1953, menikmati pendidikan hingga tingkat SLA (sekarang SMA) bukanlah keberuntungan setiap anak. Begitupun untuk menembus ketatnya ujian kenaikan kelas maupun kelulusan. Bagi seorang siswa sekolah di masa itu, tidak naik kelas ataupun tidak lulus ujian akhir adalah hal yang lazim belaka; bukan semacam “aib” seperti pandangan orang sekarang. Sangat wajar bila siapapun yang mampu menamatkan ujian SLA memang dijamin punya kualifikasi yang memadai untuk menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Sayangnya, sistem semacam itu sulit dipertahankan. Ketatnya ujian kenaikan kelas atau kelulusan tentu berakibat pada penumpukan siswa yang tinggal kelas atau tidak lulus. Padahal, kemampuan pemerintah untuk menyediakan sarana pendidikan, baik gedung sekolah maupun ruangan kelas, masih terbatas. Akhirnya, standar kelulusan terpaksa diturunkan. Sebagai gantinya, untuk menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi, siswa masih diwajibkan untuk melewati test saringan. “Kemewahan” yang pernah dialami pak Bambang pada tahun 1950-an itupun sekarang tinggal kenangan.
Standar kelulusan lantas turun sedemikian rendah, hingga ujian kelulusan (yang saat itu disebut Evaluasi belajar Tahap Akhir Nasional, Ebtanas) nyaris hanya berupa formalitas. Siswa dijamin lulus walaupun hanya mengantongi nilai yang sangat rendah, alih-alih pas-pasan. “Perjuangan” yang sesungguhnya baru terjadi saat siswa mendaftar ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Berbahagialah mereka yang cerdas, dengan hasil ujian akhir (yang dikenal dengan Nilai Ebtanas Murni, NEM) yang tinggi. Mereka dapat dengan mudah menembus seleksi masuk ke ke sekolah-sekolah “favorit”. Bagi mereka yang lulus dengan NEM rendah, asalkan orangtuanya cukup mampu untuk membayar sejumlah uang, masih ada harapan bagi mereka untuk masuk ke sekolah yang berkualitas. Di sisi lain, bagi siswa yang ber-NEM pas-pasan dan berasal dari keluarga kurang mampu terpaksa harus puas dengan menjadi murid sekolah “pinggiran” dengan mutu pendidikan ala-kadarnya.
Bagi lulusan SMA dan sederajat, lulus ujian akhir hanyalah satu tahap sebelum menghadapi ujian lain yang lebih menentukan. Mereka mesti bersaing memperebutkan kursi Perguruan Tinggi Negeri yang jumlahnya terbatas, dengan harapan bisa menempuh pendidikan tinggi dengan biaya terjangkau, karena sebagian ongkos yang seharusnya mereka keluarkan akan ditanggung oleh pemerintah dalam bentuk subsidi.
Dunia pendidikan kita sudah berpuluh tahun berjalan dengan sistem yang tidak ideal itu. Tapi syukurlah, usaha perbaikan telah berjalan sejak beberapa tahun belakangan. Kenaikan standar kelulusan adalah salah satu diantaranya. Harus diakui, usaha ini juga memakan banyak korban, ribuan adik-adik kita yang gagal lulus ujian kelulusan — yang kini bernama Ujian Nasional — karena nilai-nilai yang tidak memenuhi syarat. Saya tentu prihatin dengan nasib yang menimpa mereka. Namun demikain, saya termasuk yang meyakini bahwa dalam hal ini pemerintah telah mengambil langkah yang benar.
Hari ini saya melihat di surat kabar, pengumuman dari Departemen Pendidikan Nasional yang menghimbau perguruan tinggi agar tidak melakukan test seleksi penerimaan mahasiswa baru untuk mata pelajaran yang sudah diujikan dalam Ujian Nasional. Saya teringat lagi dengan kisah pak Bambang Hidayat yang saya kutip di awal tulisan ini. Mudah-mudahan ini menjadi sebuah awal yang baik. Tidak mustahil dengan tingginya standar kelulusan yang ditetapkan, kelak para lulusan SMA di masa depan bisa mengikuti jejak para “senior” mereka di tahun 1950-an, yang bangga dengan adanya jaminan memperoleh pendidikan tinggi tanpa harus melalui saringan test masuk.
Dream A Dream
Ini lirik lagu yang pernah dipopulerkan penyanyi Inggris Charlotte Church — waktu dia masih imut dan berada di jalur klasik (sebelum dia beranjak dewasa, pindah ke jalur pop, menjiplak gaya Brittney, dan akhirnya jadi bulan-bulanan tabloid gossip di Inggris). Anyway, ini salah satu lagu favorit saya ;).

DREAM A DREAM
(Charlotte Church & Billy Gilman)
When the night is still
And the sea is calm
Lonely shadow, you call upon me
Lay by my side
Fear not tonight
Lonely shadow, you’ll find a new light
Dream a dream
And see through angel’s eyes
A place where we can fly away
Ride with me upon a shining star,
Above the moonlit sky
We will find elysium
Hear the nightingale
Sing a lullaby
Lonely shadow, you’ll find a new light
Dawn will be kind,
All will be bright,
Lonely shadow, rise from the darkness
Dream a dream, etc.
Spongebob

Pecahan batu meteorit ini ditemukan oleh Rover Opportunity di dataran Meridiani Planum, planet Mars. Dengan ukuran kurang lebih sebesar bola basket, meteorit ini sebagian besar tersusun atas kandungan besi dan nikel. Para ilmuwan NASA menamainya: Spongebob. (Gambar: NASA/JPL/Cornell)
"Pernak-Pernik" Gempa Jogja
Cerita soal gempa Jogja mungkin sudah jadi berita “basi”. Tapi okelah, ini kan blog, bukannya situs berita. Jadi? Ya, berikut ini ada serangkaian analisis yang saya peroleh dari sebuah milis sains. Karena format aslinya masih dalam bentuk yang lumayan teknis, jadi di blog ini saya sajikan versi “light”-nya saja dengan beberapa detil teknis saya hilangkan demi kenyamanan membacanya.
Soal episentrum dan magnitudo gempa, Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) mencatat gempa Yogya memiliki magnitude 5,9 Skala Richter dengan posisi episentrum 37 km di selatan Yogya, tepat didasar Samudera Hindia pada koordinat 8,26° LS 110,31° BT, dengan kedalaman sumber gempa 33 km dari permukaan laut. Data dari United States Geological Survey (USGS) sedikit lebih lengkap, dimana gempa ini memiliki body-wave magnitude (Mb) 6,0 skala Richter, surface magnitude (Ms) 6,3 skala Richter dan moment magnitude (Mw) 6,3 skala Magnitudo. Namun posisi episentrumnya berbeda jauh dengan data BMG, sebab terletak 20 km selatan Yogya, atau persis di bawah Parangtritis - Samas, tepatnya pada koordinat 8,007° LS 110,286° dengan kedalaman 35 km. Data lainnya diperoleh dari EMSC (Eropa) — menyatakan pusat gempa justru ada di sebelah timur Yogya, tepatnya di bawah kawasan Piyungan - Patuk pada koordinat 7,851° LS 110,463° BT sejauh 12 km dari Yogya. Namun ketiga lembaga itu sama2 menyatakan bahwa gempa tektonik ini berasal dari pure strike-slip alias pergeseran mendatar, bukan gerak naik/turun sebagaimana yang biasa terjadi pada zona subduksi.
Lepas dari pihak mana yang paling akurat, posisi2 episentrum ini cukup menarik. Episentrum-nya USGS berada tepat di sebuah patahan yang berarah timur laut - barat daya dan membentang mulai dari kawasan utara Candi Prambanan hingga ke muara Sungai Opak. Episentrum-nya EMSC berada persis di bawah bukit2 kapur Pegunungan Sewu yang menjadi bagian horst patahan ini. Sementara episentrum-nya BMG, ternyata juga terletak di sekitar garis imajiner perpanjangan patahan ini ke selatan, menerus ke Samudera Hindia.
Apa yang bisa diartikan dari sini? (Hampir pasti) bisa dikatakan gempa kuat di Yogya berkaitan dengan aktivitas patahan Sungai Opak ini. Mungkin hal ini juga yang bisa menjelaskan mengapa daerah dengan kerusakan terparah (dan korban jiwa terbesar) ada di sumbu imajiner Bantul - Klaten, karena memang patahan ini membentang dari Bantul selatan hingga Klaten selatan (kawasan Prambanan).
Tentang patahan ini, bila anda pernah berwisata ke Parangtritis, sebelum memasuki gerbang kawasan wisata itu anda akan melintasi jembatan gantung yang membentang di atas sebuah sungai. Itulah Sungai Opak. Selain melintasi sungai, persis di jembatan ini anda sebenarnya juga sedang melintasi patahan Sungai Opak, yang terpendam di bawah endapan vulkanik Gunung Merapi. Panorama di sebelah selatan jembatan tadi berbeda dibanding sebelah utara yang relatif datar. Selain bukit2 kapur, di sini juga terdapat mata air panas (hot springs) Parangwedang, yang tidak berkaitan dengan aktivitas vulkanik ataupun post-vulkanik, namun disebabkan oleh patahan. Rupanya ruang di bawah horst diisi oleh magma, namun bidang patahannya masih cukup kuat untuk menahan tekanan magma - beda dengan patahan sejenis di utara, yang tak sanggup menahan tekanan magma hingga magma bisa muncul ke permukaan Bumi lewat bidang patahan dan terbentuklah jajaran gunung-gunung api Merapi, Merbabu dan Ungaran. Meski begitu magma di bawah horst tadi sudah cukup mampu untuk memanaskan air bawah tanah, yang kemudian keluar melewati bidang patahan sebagai air panas.
Patahan ini pernah diteliti di akhir 1980-an dan disimpulkan bahwa ia telah mati. Sehingga tidak pernah diperhitungkan sebagai salah satu potensi bahaya bagi Yogyakarta dan sekitarnya. Fokus potensi bahaya di Yogya kemudian lebih ditekankan pada ancaman letusan Merapi serta gerakan tanah. Gempa tektonik — kalaupun ada — dianggap diletupkan oleh zona subduksi yang berada 300 km di selatan Yogya.
Kini patahan itu (nampaknya) hidup kembali. Dan di sana, di bawah lembah Sungai Opak, gempa2 susulan terus berkejaran. Sekilas pergeseran patahan ini memang tidak besar. Bila gempa megathrust 26 Desember 2004 menimbulkan pergeseran (rata-rata) 15 m dan (maksimal) 20 m, di gempa Yogya ‘hanya’ 5 - 10 cm. Namun bila kita bandingkan pergeseran ini dengan pergerakan patahan2 sejenis, yang banyak eksis di Jawa Barat seperti patahan Lembang - Cimandiri - Baribis, dimana kecepatannya (rata-rata) 0,2 mm /tahun, maka nampak pergeserannya cukup besar.
Kita tidak tahu apa yang menyebabkan patahan ini hidup kembali. Bisa jadi ini merupakan bagian dari rentetan yang dipicu gempa berbuntut tsunami di Aceh. Atau mungkin juga akibat aktivitas Merapi yang memang sedang memuncak setelah istirahat berkepanjangan selama 5 tahun belakangan (hal yang memang tidak biasa). Kita juga tidak tahu pengaruh getaran gempanya bagi dapur2 magma jajaran gunung2 api Merapi, Merbabu dan Lawu. Yang kita harapkan, semoga tidak terjadi hal yang lebih buruk lagi.
Kita bisa belajar dari pengalaman rakyat Philipina, dimana sebuah gempa besar pada pertengahan Juli 1990 — yang menghancurleburkan kawasan Baguio — dengan pusat berjarak 100 km dari Gunung Pinatubo ternyata sanggup membangunkan gunung api tersebut yang telah 600 tahun terlelap (dan tererosi berat) dengan munculnya erupsi freatik pada awal April 1991 yang terus berkembang hingga puncaknya menghasilkan letusan dahsyat ultraplinian pada pertengahan Juni 1991 dengan semburan abu mencapai ketinggian 34 km!
Itu tadi berkaitan dengan episentrum gempa. Sekarang kita bicara soal pernak-pernik lain yang berkaitan dengan gempa Jogja.
Berdasarkan hitung-hitungan matematis (yang tentu saja tidak perlu saya copy-paste disini), besar energi yang dilepaskan oleh gempa Jogja berkisar antara 4,467 . 10^13 Joule - 1,778 . 10^14 Joule atau setara dengan 11 — 43 kiloton TNT. Bila dihitung berdasarkan persamaan yang lebih kompleks, kita akan mendapati besarnya energi (E) = 1,409 . 10^14 Joule atau 34 kiloton TNT dengan momen seismik (Mo) = 2,818 . 10^25 dyne-cm. USGS malah mencatat momen seismik lebih besar (4,2 . 10^25 dyne-cm, atau hampir dua kali lipat). Sebagai pembanding, letusan bom Little Boy di atas Hiroshima pada akhir Perang Dunia II melepaskan energi sebesar 19 - 20 kiloton TNT. Artinya, energi gempa ini memang cukup besar.
Intensitas gempa di hiposentrum diperhitungkan sebesar 8 - 9 MMI. Data yang dihimpun BMG menunjukkan intensitas gempa di kota Yogya mencapai 5 - 6 MMI. Sementara di Semarang mencapai 3 MMI atau setara dengan getaran yang diakibatkan lewatnya truk besar. Dengan persamaan yang menunjukkan hubungan antara intensitas gempa berbanding jarak dari hiposentrum, maka bisa dihitung bahwa intensitas gempa di Bantul mencapai 6 MMI, di Malang 1 MMI dan Jakarta nol. Kita juga bisa menghitung hubungan antara intensitas setempat dengan percepatan tanah maksimal dalam satuan cm/detik^2. Dari sini kita kita memperoleh angka-angka percepatan di Bantul mencapai 12 % G, di Yogya 6 % G, di Semarang 1 % G dan di Malang 0,24 % G.
Data berbeda diajukan USGS. Lewat laporan 40 responden USGS Community Internet Intensity Map yang berada di 18 kota berbeda di Pulau Jawa, didapatkan intensitas gempa di kota Yogya mencapai 8 MMI, Solo 5 MMI, Semarang 5 MMI, Purworejo - Kebumen 7 MMI, Malang 4 - 5 MMI, Surabaya dan Jakarta masing2 2 - 3 MMI. Untuk data ini, didapatkan koefisien atenuasi (k) = -0,00328. Sehingga setelah dihitung, intensitas di Bantul mencapai 8 MMI dengan percepatan 38 % G, Yogya 8 MMI dengan percepatan 35 % G, Magelang - Klaten 7 MMI dengan percepatan 17 dan 31 % G, Malang 4 MMI dengan percepatan 1,9 % G dan Jakarta 2 MMI dengan percepatan 0,5 % G.
Pada intensitas 8 MMI, dengan percepatan > 34 % G, terjadi potensi kerusakan yang menengah hingga parah. Intensitas 7 MMI memiliki percepatan 18 - 34 % G mengasilkan potensi kerusakan menengah. Intensitas 6 MMI dengan percepatan 9,2 - 18 % G menghasilkan potensi kerusakan yang ringan. Potensi kerusakan paling ringan dimiliki intensitas 5 MMI dengan percepatan < 9,2 % G.
Terakhir, adalah potensi munculnya tsunami akibat gempa. Isu tsunami sebenarnya bisa dimentahkan bila kita mengetahui bahwa kota Yogya dan sekitarnya berada pada ketinggian 114 m dari permukaan laut dan puluhan km dari garis pantai, sehingga hampir tidak mungkin air laut bisa mencapai kota ini, kecuali jika tsunami itu memiliki ketinggian > 500 meter, alias megatsunami, sejenis tsunami yang hanya bisa muncul akibat tumbukan komet / asteroid raksasa ke lautan..
Iida (1958) menyebutkan tsunami (yang signifikan / merusak) hanya akan terjadi bila magnitude gempa mencapai M = 6,42 + 0,01 H dengan H adalah kedalaman hiposentrum (dalam km). Selain itu dalam pergeseran patahan harus terdapat komponen pergerakan vertikal (dip-slip) selain komponen pergerakan lateral (strike-slip). Dalam kasus gempa Yogya, dengan patahan sepanjang 100 km, lebar 20 km, pergeseran rata-rata 5 - 7,5 cm, komponen dip-slip nya diperhitungkan sebesar 1,4 - 2,2 cm. Dengan demikian energi tsunami nya mencapai 6,136 .10^8 Joule hingga 1,515 . 10^9 Joule atau 150 –œ 360 kilogram TNT saja, alias lebih kecil dibanding energi yang tersimpan dalam sebuah bom konvensional yang selalu ditenteng ke mana2 oleh skuadron pesawat tempur. Untuk bisa menghasilkan tsunami yang merusak, dengan hiposentrum gempa sedalam 33 km itu, maka magnitude gempanya harus > 6,7 skala Richter.
Dengan energi sekecil itu, bila kita mengikuti model pembangkitan tsunami seperti yang dipaparkan Samuel Glasstone dan Philip Dolan (1972) - dari hasil eksperimen detonasi senjata nuklir bawah permukaan laut - kita mendapatkan bahwa pada jarak 10 km dari episentrum, pada tempat yang berupa laut dalam (kedalamannya > 1.000 meter), maka tinggi tsunami produk gempa Yogya kemarin itu hanya 0,2 - 0,4 cm. Jika pada jarak 10 km itu ternyata tidak lagi berupa laut dalam, namun garis pantai, dengan faktor penguatan gelombang (run up) 40 kali lipat (ini sudah nilai maksimal) oleh pendangkalan dasar laut dan berdesakannya massa air laut sebelum mencapai bibir pantai, maka tinggi tsunami di bibir pantai mencapai 8 - 16 cm saja. Dengan persamaannya Bretschneider dan Wybro, tsunami setinggi ini hanya akan menggenangi daratan hingga sejauh 2,6 - 5,6 meter dari bibir pantai. Sehingga potensi bahayanya adalah nol.
Bangun!
Pulau Bali, bagi banyak orang adalah sumber inspirasi. Tapi bagi saya justeru sebaliknya. Atmosfir Bali membuat seluruh mood dan inspirasi seperti terbang, melayang entah ke mana. Mungkin Bali memang bukan tempat yang baik untuk memikirkan hal-hal semacam astronomi, atau fisika. Praktis, sejak enam bulan terakhir, waktu yang saya lewatkan di Bali, saya nyaris tidak ada waktu untuk aktivitas intelektual. Website dan weblog pun terlantar tanpa tersentuh perubahan.
Menulis memang perlu suasana yang mendukung. Kalau saya penulis novel atau artikel tentang seni-budaya, Bali mungkin salah satu tempat paling inspiratif yang ada di kolong jagat. Sebaliknya, untuk tulisan-tulisan macam yang sering tampil di blog ini maupun blog saudaranya, Bali sama sekali tidak memberikan inspirasi apa-apa.
Tapi bagi penulis majalah Playboy Indonesia, kalau bukan inspirasi, Bali paling tidak juga menjanjikan keamanan, sesuatu yang tidak mungkin bisa mereka dapatkan di tempat semacam Jakarta. Dan inilah yang paling penting. Berhubung masih diluar jangkauan dari para “preman berjubah” (plus berpeci, berjenggot, dan “bertaqwa”), maka Bali adalah tempat yang logis untuk menjadi lokasi markas mereka. Maka jadilah edisi kedua majalah kontroversial ini terbit dari pulau dewata.
Pulau yang satu ini sebenarnya bukan tempat yang asing bagi saya. Saya sudah tinggal disini sejak tahun 1980-an (saya masih SD waktu itu!), saat Kuta masih jadi pantai nudis dimana para turis bule berjemur tanpa sehelai benangpun [efek sampingnya, saya jadi “kebal” dengan pemandangan macam itu, apalagi sekarang saya berkantor di daerah Kuta, dan saya bosan melihat perempuan berkulit putih mondar-mandir berbikini atau bahkan dengan bagian atas tubuh dibiarkan terbuka]. Masuk akal juga kalau Bali juga termasuk propinsi yang paling getol menentang Rencana Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU-APP).
Tapi soal-soal rumit semacam isu Playboy dan RUU-APP kayaknya juga bukan porsi blog ini. Blog ini sebetulnya lebih cocok bicara tentang hal-hal remeh saja. Macam cerita tentang aktivitas lempeng tektonik yang bisa memancing gejala vulkanis gunung berapi, insektisida berbahaya yang dikandung merek obat nyamuk yang barusan ditarik dari peredaran, cerita seputar komposisi kimia pil Ecstasy, atau isu-isu sejenis. Yah, soal-soal spele sajalah.
So? The show must go on. Setelah tidur 6 bulan, kayaknya blog ini mesti dibangunkan lagi. Mulai dari sekarang.