Buku Terjemahan
Saya sudah membaca buku Surely You Are Joking Mr. Feynman sebelum membaca terjemahan Indonesianya yang diterbitkan oleh penerbit Mizan. Jadi, saya tahu bahwa tidak semua bagian dari edisi Inggris ada di terjemahan Indonesianya. Setidaknya ada dua kisah dari bagian keempat buku ini yang tidak termuat dalam terjemahan Indonesia. Bisa jadi pihak penerbit atau penerjemah buku ini menganggap kisah petualangan Feynman dengan “cewek nakal” dan yang semacamnya itu tidak cukup layak untuk dikonsumsi pembaca Indonesia.
Saya sendiri sebenarnya kurang setuju dengan gagasan untuk menyensor buku terjemahan. Bagaimanapun pembaca berhak untuk menilai sendiri apa yang dibaca tanpa harus diarahkan oleh pihak penerbit atau penerjemah. Sempat terlintas gagasan sinting untuk menerjemahkan sendiri kedua kisah itu, menaruhnya di sebuah website, lantas mengumumkan ke komunitas-komunitas fisika, bahwa buku terjemahan Surely… itu tidak lengkap, dan silahkan baca bagian yang disensor di website berikut. Tapi belakangan niat jelek itu terpaksa saya urungkan begitu saya tahu siapa yang menerjemahkan buku ini [Saya toh tidak kepingin merusak silaturahmi yang sudah terlanjur terjalin, walaupun cuma lewat media email].
Soal “moralitas” sebenarnya tidak selalu menjadi pertimbangan dalam urusan sensor buku terjemahan. Tingginya ongkos produksi dan distribusi buku sering membuat penerbit terpaksa “memotong” sebagian isi buku yang dianggap kurang signifikan untuk menjaga agar harga jualnya tidak terlampau tinggi. Di suatu kesempatan, saya agak kecewa melihat terjemahan buku teks Fisika karangan Paul Tipler (biasa dipakai sebagai buku ajar fisika dasar di perguruan tinggi) yang ternyata tidak menyertakan bab tentang astrofisika — bagian yang malahan menurut saya paling menarik. Mungkin astrofisika memang tidak terlalu penting untuk diajarkan kepada mahasiswa disini, tapi mahasiswa jadi kehilangan kesempatan untuk belajar sesuatu yang baru, sesuatu yang mungkin menarik perhatian mereka. Ini rasanya tidak sebanding dengan beberapa ribu rupiah yang bisa dihemat dengan tidak menyertakan bab itu dalam edisi Indonesia.
Masalah dengan buku terjemahan tidak hanya soal pemotongan bagian-bagian tertentu. Mungkin kita juga sudah sering mendengar tentang kualitas terjemahan yang payah. Kadang-kadang, waktu saya membaca sebuah buku terjemahan, saya malahan cenderung punya perasaan bahwa mungkin buku itu akan lebih mudah dicerna apabila dibaca dalam bahasa aslinya saja ketimbang melalui terjemahan Indonesianya yang amburadul itu. Saya tidak tahu banyak soal bisnis perbukuan. Saya cuma bisa menduga-duga saja penyebabnya. Mungkin saja buku itu diterjemahkan oleh penerjemah yang tidak memiliki latar belakang pengetahuan yang cukup tentang tema buku yang diterjemahkannya (misalnya buku Fisika yang diterjemahkan oleh orang yang berlatar belakang sastra). Dalam hal ini, terjemahan jadi cenderung harfiah, dan tidak sesuai konteksnya. Ada juga selentingan bahwa buku-buku semacam ini diterjemahkan oleh penerjemah freelance secara borongan. Akibatnya tentu bisa ditebak. Kerja yang asal-asalan jelas tidak bisa membuahkan hasil yang maksimal.
Persoalan lainnya, kenapa terjemahan Harry Potter bisa terbit hanya berselang beberapa bulan setelah edisi Inggrisnya dirilis, sementara Cosmos-nya carl Sagan perlu waktu 15 tahun sebelum sempat diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia (sampai pengarangnya keburu meninggal pula)? Lantas, kenapa pula di toko-toko buku kita bisa menemukan beraneka versi terjemahan dari buku yang sama karangan Kahlil Gibran, sementara bukunya Stephen Hawking nyaris tidak pernah diterjemahkan (kecuali A Brief History of Time). Sempat saya lihat terjemahan Theory of Everything yang diterbitkan oleh sebuah penerbit Jogja, tapi asal tahu saja bahwa buku itu sebenarnya hanyalah kumpulan manuskrip yang ditulis oleh Hawking semata-mata untuk bahan kuliah. Buku itu terbit sama sekali tanpa sepengetahuan atau ijin Hawking. Isinya juga tidak ada yang baru, hanya mencomot sana-sini dari A Brierf History…
Balik lagi ke awal tulisan ini. Sepintas di sebuah acara TV, saya lihat seorang remaja juara Olimpiade Fisika yang saat diwawancarai mengaku mengidolakan Feynman. Bisa saya pastikan, dia tidak memutuskan menjadikan Feynman sebagai tokoh idola karena karyanya. Feynman memang cemerlang, tapi kontribusi ilmiahnya sebagai fisikawan teori tidak seberapa besar (dia cuma pernah menulis 37 paper riset selama kariernya–jumlah yang sangat sedikit untuk ukuran fisikawan kelas Nobel). Mungkin anak itu terinspirasi dari salah satu buku Feynman. Kalau dia memutuskan untuk mengidolakan Feynman setelah membaca Feynman’s Rainbow, atau bahkan The Feynman Lectures on Physics, ya tidak mengapa. Tapi kalau setelah membaca Surely… mungkin kita harus bertanya dulu, yang edisi Inggris atau Indonesia, karena kalau dia baca edisi Inggrisnya, alih-alih mengidolakan. Bisa-bisa dia malahan antipati. Disinilah sensor buku terjemahan malahan berujung pada misleading, memberikan gambaran yang tidak utuh bagi pembaca terhadap subjek atau si pengarang buku bersangkutan.