Relativitas
Penerbit KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) nampaknya sedang keranjingan menerbitkan buku-buku bertema fisika. Kali ini, KPG menerbitkan terjemahan dari karya monumental Albert Einstein: Relativitas, Teori Khusus dan Umum.
Buku ini diterjemahkan oleh Liek Wilardjo, guru besar emeritus bidang fisika di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, dari edisi berbahasa Inggris terjemahan L.W. Lawson, Relativity. Naskah asli buku ini ditulis oleh Einstein dalam bahasa Jerman. Namun penterjemahan ke bahasa Indonesia melalui edisi berbahasa Inggris diharapkan tidak mengurangi bobot buku ini, mengingat Einstein sendiri ikut mengawasi proses penterjemahan karyanya kedalam bahasa Inggris, sehingga akurasinya relatif terjamin.
Einstein menulis buku ini khusus untuk pembaca yang kurang akrab dengan matematika. Dalam bukunya ini, Einstein menjelaskan secara popular gagasan-gagasan pokok dalam relativitas khusus dan umum sebagaimana proses kreatif penemuan teori itu. Seperti diakui oleh Einstein dalam prakatanya, ia berusaha untuk menyajikan teori relativitas dalam bentuk yang paling sederhana dan paling mudah dipahami serta, secara keseluruhan, dalam urutan dan hubungan sebagaimana gagasan-gagasan itu sebenarnya muncul. Dalam hal ini, ia sangat mengutamakan kejernihan, sehingga tidak dapat dihindari terjadinya pengulangan-pengulangan dalam isinya. Demi kejernihan pula, Einstein sampai tidak menaruh perduli soal keanggunan penyajiannya (mengutip fisikawan teori L. Boltzmann, “perkara keanggunan biarlah kita serahkan saja kepada penjahit dan tukang sepatu”).
Menjelaskan Teori Relativitas kepada kaum awam terdidik secara popular dan nyaris tanpa persamaan matematika samasekali bukan hal yang mudah. Kesulitan utamanya adalah karena relativitas adalah teori yang matematis. Teori itu dipaparkan dalam bahasa Matematika; terlebih-lebih lagi teori Relativitas Umum lazimnya tidak diungkapkan dalam geometri Euklidesan melainkan Riemennan atau Lobachevskian, dengan menggunakan kalkulus tensor dalam ruang-waktu caturmatra (berdimensi-empat).
Kendati lewat karya ini Einstein dinilai berhasil menjelaskan teori relativitasnya kepada kalangan awam terdidik, tapi itu bukan berarti pembaca dijamin akan mampu memahaminya dengan mudah. Buku ini masih mengandung persamaan-persamaan matematis walaupun jumlahnya relatif sedikit. Membaca buku ini membutuhkan kesabaran dan kemampuan yang besar. Pembaca juga dituntut untuk memiliki daya abstraksi yang kuat. Relativitas sangat kaya akan kalimat berawalkan “Bayangkan …” Eintein biasa menyebutnya Gedankenexperiment, suatu percobaan pemikiran.
Buku Einstein ini merupakan sebuah karya klasik yang tidak akan usang, tetapi disana-sini terasa “kekunoannya”. Istilah “massa elektrik”, misalnya, terlalu kuno sehingga oleh penerjemah terpakasa diganti dengan “muatan elektrik” sebagaimana yang sering dipakai para fisikawan sekarang. Istilah “ponderable bodies” yang dipakai dalam terjemahan Inggris juga terkesan kuno. Istilah yang lazim dipakai sekarang adalah “material bodies” atau “bodies” saja, atau bisa juga “massive particles” apabila bendanya berupa zarah (partikel).
Buku yang relatif tipis ini (xv + 198 halaman) dapat diperoleh di toko-toko buku dengan harga relatif terjangkau, Rp. 35.000 sebelum kenaikan BBM. Toko buku langganan saya memberikan diskon yang relatif lumayan: 15%. Maaf kalau dalam resensi ini semuanya serba relatif. Namanya juga buku tentang relativitas :).
Next Sherina
Mulanya waktu secara tidak sengaja saya menyaksikan klip lagu Kunang-Kunang yang ditayangkan TV anak SpaceToon. Mendengar karakter suara pelantunnya, Rebecca, saya langsung merasa bahwa album yang satu ini cukup layak beli.
Mencari CD-nya di toko musik malahan jadi cerita tersendiri. Saya sempat kesulitan menemukan album ini diantara deretan CD yang dipajang. Walaupun sudah berkeliling mencari di deret lagu anak-anak hingga lagu pop, eh, koq nggak nemu-nemu juga. Sampai akhirnya, nyaris kebetulan, saya melihat CD yang saya cari-cari itu bertengger di … deretan lagu-lagu rohani! Salah tempat rupanya.
Album ini terdiri dari 10 lagu dengan warna musik yang beragam, mulai dari Orkestra (Kunang-Kunang, Matahari Bulan dan Bintang, Just for You, Ibu, Medley Tanah Air-Indonesia Pusaka), Pop (Adik Kecilku, Mungkin Esok) Big band/cabaret (Istana Pasir), Jazzy (Bunga), hingga disko (Happy Birthday). Aransemen orkestrasi yang digarap oleh Doddy Sukaman tidak terlalu “berat” seperti pada aransemen lagu-lagu Sherina, misalnya, tetapi tetap terasa megah. Khusus untuk lagu Just for You, aransemen yang minimal (piano dan string) malahan berhasil menonjolkan karakter khusus pada suara Rebecca yang tidak begitu kelihatan di lagu-lagu lainnya (saya sulit melukiskannya disini, baiknya didengarkan sendiri saja).
Bicara soal karakter suara, bocah kelas 6 SD ini sudah membuktikannya lewat prestasinya di ajang yang berkelas Internasional. Rebecca pernah meraih Silver Medal Children Choir Olympics di Busan Korea [Oktober 2002] dan Silver Medal Choir & Folklore Instrumental Accompaniment di Bremen Jerman [Juli 2004]. Suara khas anak-anaknya melengking dengan kemampuan untuk menggapai nada-nada tinggi.
Kendati pada dasarnya berisi lagu untuk anak-anak, namun album ini mengambil segmen yang universal. Lirik lagunya mengacu pada imajinasi dari dunia anak-anak, dan nampaknya digarap dengan cukup serius. Temanya memang tidak jauh-jauh dari tema lagu anak-anak pada umumnya, tapi jelas lebih beragam kalau dibandingkan dengan lagu dewasa yang isinya cinta-cintaan melulu (membosankan!).
Sejak Sherina mulai beranjak dewasa, nyaris tidak terdengar lagi ada penyanyi cilik yang cukup mumpuni. Beberapa waktu lalu, memang ada ajang AFI Junior yang berhasil menjaring biduan-biduanita cilik bersuara emas (tidak seperti AFI senior yang norak dan menyebalkan itu, AFI Junior ternyata mendapat respon yang cukup positif dari banyak pihak). Tapi berhubung urusan kontrak dengan Indosiar, kita tidak bisa berharap para “alumni” AFI Junior ini bisa cepat menelurkan album solo. Kemunculan Rebecca mudah-mudahan bisa mengisi kekosongan ini. Good luck sajalah buat Rebecca. Hope you”„¢ll be the next Sherina!
PS.
Sedikit OOT. Kabar terakhir dari Sherina, sekarang dia sedang dalam proses rekaman untuk albumnya yang paling anyar. Kali ini, lagu-lagunya sebagian besar ditulis (lirik dan komposisi) dan diaransirnya sendiri, dengan dibantu para musisi lainnya dalam proses teknis menuangkannya kedalam pita rekaman. Tentu saja dalam album ini kita tidak lagi bisa berharap mendengar suara anak kecil, karena kenyataannya dia sekarang sudah besar!
Harun Yahya
Di sebuah milis sains, ada peserta yang menyebut-nyebut nama Harun Yahya sebagai “ilmuwan muslim”. Sebenarnya ini bukan untuk pertama kalinya saya mendengar sebutan itu disematkan pada beliau. Tapi lama-lama saya jadi “tergelitik” juga untuk meluruskan. Apa benar sih Harun Yahya itu seorang ilmuwan? Bagaimana cara kerja seorang ilmuwan, dan apakah Harun Yahya telah bekerja dengan cara yang sama seperti halnya para ilmuwan bekerja?
Ilmuwan (scientist) adalah orang yang bekerja sesuai dengan latar belakang ilmunya dengan berpegangan pada metode ilmiah (scientific method). Kalau kita masih ingat, mulai di bangku SMP dulu kita sudah belajar tentang penerapan metode ilmiah, walaupun masih sangat sederhana. Mulai dari menetapkan hipotesis, melakukan eksperimen dan observasi, hingga menarik kesimpulan. Sekarang, kita lihat, apakah Harun Yahya menggunakan metodologi itu untuk menghasilkan karya-karyanya? Kalau ya, maka dia seorang ilmuwan. Kalau tidak, berarti dia bukan ilmuwan.
Saya sudah membaca sebagian karya beliau yang berhubungan dengan sains, dan saya lihat, disana beliau hanya merangkum berbagai literatur ilmiah-populer (buku/artikel/website) yang kemudian “dibumbui” dengan ayat-ayat Al Qur’an yang relevan, lantas jadilah buku. Alias, tidak ada buku beliau yang merupakan hasil penelitian/eksperimen yang menggunakan metode dan kaidah ilmiah. Karena itu, saya cenderung menggolongkan beliau sebagai penulis, atau tepatnya penulis sains, ketimbang ilmuwan.
Pada dasarnya, metode ilmiah sangat menekankan pada objektifitas. Hasil pengamatan/eksperimen akan diterima sebagaimana adanya tanpa dipengaruhi oleh suatu prakonsepsi tertentu. Metode ilmiah juga melibatkan hubungan yang saling mempengaruhi antara pemahaman induktif (pemahaman melalui observasi yang spesifik dan eksperimen untuk menentukan hipotesis dari teori yang lebih umum) dan pemahaman deduktif (pemahaman dari teori untuk menetapkan hasil eksperimen).
Kalau Harun Yahya menggunakan ayat kitab suci untuk membahas sains, berarti dia telah memiliki sebuah prakonsepsi. Dia cenderung akan menolak apabila ada hasil penelitian atau eksperimen yang bertentangan dg prakonsepsi yang dipegangnya (contohnya teori evolusi). Dengan demikian faktor objektifitas jadi terabaikan. Ilmuwan sejati sama sekali tidak bekerja dengan cara semacam itu. Seorang ilmuwan sangat dituntut untuk memiliki kejujuran intelektual. Dia harus bersedia menerima fakta-fakta sains yang didukung data yang didapat melalui riset dengan metode ilmiah, betapapun itu bertentangan dengan keyakinan atau dogma yang dipercayainya.
Tulisan-tulisan Harun Yahya mencakup berbagai topik sains, mulai dari fisika, biologi, astronomi, genetika, hingga politik dan filsafat. Ini membuat pembaca dari kalangan awam jadi beranggapan bahwa beliau adalah ilmuwan serba bisa dan serba tahu. Padahal, ilmuwan sejati sangat menghargai spesialisasi. Seorang fisikawan cuma punya otoritas untuk bicara soal fisika; ahli biologi cuma berhak bicara soal biologi. Tidak mungkin ada orang yang bisa menguasai banyak bidang ilmu secara sekaligus (kalau bisa, itu pasti pemahamannya setengah-setengah).
Boleh-boleh saja seseorang menulis atau menyebarkan hal diluar disiplin ilmu yang ditekuninya, namun dari segi etika, ia tidak diperkenankan untuk mengambil kesimpulan apapun dari sana. Maka itulah, pendekatan Harun Yahya dalam menentang teori evolusi kurang bisa diterima secara ilmiah. Pertama, dia tidak punya otoritas untuk itu (karena tidak memiliki latar belakang disiplin ilmu yang sesuai). Yang kedua, kalau dia punya hipotesis tentang kekeliruan teori evolusi, maka yang harus dilakukannya adalah melakukan studi dengan metodologi ilmiah untuk membuktikan hipotesisnya itu, bukannya dengan mengkliping artikel-artikel populer, lantas langsung melompat ke kesimpulan bahwa teori evolusi adalah salah!
Tapi diluar itu, tentu saja kita juga harus menghargai upaya Harun Yahya dalam memasyarakatkan sains di kalangan umat sekaligus mempertebal keyakinan atas kebesaranNya. Namun kita hendaknya tidak sampai lupa untuk selalu mendudukkan sesuatu pada tempatnya. Kalau beliau memang ilmuwan, katakan sebagai ilmuwan, tapi kalau dia penulis, ya harus konsekuen untuk menempatkannya di posisi itu.