Bianglala


Pelangi-Pelangi

Posted in Science by Dhani on the August 21st, 2005

“Pelangi terbentuk dari warna-warna apa saja?” demikian soal ulangan IPA yang kita dapat di Sekolah Dasar dulu. Kalau semalam sempat belajar, pastinya kita akan menjawab dengan menyebutkan warna-warna merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu, yang diingat lewat “jembatan keledai” mejikuhibiniu itu. Tapi apa benar, pelangi cuma terbentuk dari tujuh macam warna itu saja?

Sebelum kita bicara soal pelangi yang berwarna-warni itu, lebih baik kita awali dulu dengan cerita soal cahaya dan warna. Pada dasarnya, cahaya adalah gelombang elektromagnetik, sama seperti gelombang yang mengantarkan siaran radio dan televisi, cuma bedanya, gelombang cahaya berada pada rentang frekuensi yang memungkinkan untuk dilihat oleh mata manusia. Gelombang cahaya memiliki rentang frekuensi yang sangat tinggi, mulai dari 5 x 1014 hingga 7.5 x 1014 Hz (Hertz), dengan panjang gelombang antara 400 hingga 700 nm (nanometer).

Setiap frekuensi yang berbeda dari cahaya kasatmata, akan tertangkap oleh mata kita sebagai warna yang berbeda pula. Gelombang terpanjang kita lihat sebagai warna merah tua, dengan panjang gelombang sekitar 700 nm, sementara gelombang terpendek yang bisa dilihat oleh mata adalah warna ungu dengan panjang gelombang sekitar 400 nm. Sedikit diatas gelombang warna merah, kita akan bertemu dengan gelombang inframerah, sementara dibawah gelombang warna ungu, ada gelombang ultraungu (ultraviolet). Perhatikan bahwa hitam dan putih sebenarnya bukan warna. Benda yang kita lihat berwarna hitam sebenarnya menyerap pancaran radiasi yang mengenainya, sedangkan yang kita lihat sebagai cahaya putih adalah campuran dari semua warna pada rentang spektrum yang kasatmata.

Saat cahaya matahari menembus titik-titik air di udara sehingga membentuk apa yang kita sebut sebagai pelangi itu, ia lantas terurai menjadi warna-warna penyusunnya. Tentu saja, jumlah warnanya tidak cuma tujuh. Susunan tujuh warna pelangi ini pertama kali dicetuskan oleh Isaac Newton setelah melakukan percobaan menguraikan cahaya matahari dengan menggunakan prisma. Yang aneh adalah soal definisi warna nila (indigo) itu. Tidak ada yang tahu pasti, ini warna macam apa. Yang dimaksud Newton mungkin adalah warna antara biru dan ungu, tapi kenapa dia tidak mendefinisikan warna antara merah dan jingga, atau antara hijau dan biru sekalian? Ada kemungkinan, alasan Newton untuk menetapkan ketujuh warna ini adalah agar sesuai dengan jumlah not pada musik yang juga berjumlah tujuh (do-re-mi-fa-sol-la-si). Alasan sesungguhnya kelihatannya hanya ada di dalam otak Newton yang sayangnya sudah terkubur bersama pemiliknya di Westminster Abbey.

Jadi, sebenarnya warna-warni apa saja yang membentuk pelangi? Secara fisika, pelangi tersusun dari segala macam warna yang bisa dilihat oleh mata manusia. Berapa jumlahnya? Tidak ada angka pasti. Konon, mata manusia bisa membedakan hingga 350.000 macam warna yang berbeda (entah warna apa saja). Itu belum apa-apa, karena monitor VGA yang Anda pakai untuk membaca tulisan ini (kalau menggunakan PC) dapat menampilkan hingga 16 juta warna (juga jangan tanya warna apa saja!). Untuk mudahnya, kita bisa menyebut bahwa pelangi tersusun atas warna-warni dengan rentang panjang gelombang antara 400 hingga 700 nm. Habis perkara.

Curietherapy

Posted in Science by Dhani on the August 7th, 2005

Mengomentari entri tentang Marie Curie yang saya tulis hampir dua tahun lalu, seorang fisikawan kita menuturkan kisah ini lewat email:

…Sampai sekarang beberapa metoda beliau masih digunakan dengan sebutan (guess what!) Curietherapy. Nama ini terkadang hilang diganti dengan brachytherapy untuk laju dosis tinggi (HDR High Dose Rate) menggunakan Ir192 10 Curie (satuan aktivitas radiasi) dan ini harus dilaksanakan secara remote dalam ruang “kedap radiasi” dengan beton setebal 1-1,5 meter. Setiap iradiasi HDR umumnya sekitar 15 menit sebesar 15 Gray, pasien bisa pulang.

Untuk yang laju dosis rendah (LDR) nama Curietherapy masih lengket. LDR menggunakan Ir192 juga dan beberapa elemen lain sesuai carcinoma-nya sekitar miliGray dan memerlukan waktu kira-kira seminggu melekat pada jaringan target kanker. Mengapa Ir192 karena waktu parohnya tiga bulan sehingga dianggap aman dan energinya rendah 0,6 MeV sehingga problem proteksi menjadi agak gampang. Suster atau anggota keluarga boleh menjenguk pasien LDR tanpa proteksi tabir Pb. Dahulu dipakai Radium 1,25 MeV yang waktu parohnya panjang sekali sehingga menjadi masalah kalau hilang (jatuh ke lantai, disapu, dokternya pensiun atau mati padahal banyak radium di lemari, dll.) Kalau dokter menjenguk pasien atau mencabut kembali implant, mesti di belakang tabir Pb.

Ilmu kedokteran sudah begitu maju namun masih sulit mencari pengganti metoda radiasi untuk penyembuhan kanker, setidaknya sampai saat ini. Malah penggunaan mesin radiasi LINAC semakin marak. Singapura di NCC (National Cancer Center) punya 9 LINAC dan kemungkinan naik sampai 22 buah. Sementara saat ini Indonesia hanya punya 19 pusat radiasi dengan 16-17 buah LINAC tersebar di beberapa kota besar dan beberapa lagi ngadat, nggak ada dana untuk menjalankannya. Kami dari komunitas Fisika Medis sering sedih melihat kondisi ini…”

Juga perlu saya tambahkan bahwa para operator mesin LINAC di Indonesia adalah orang-orang Fisika yang dipekerjakan dengan gaji hanya 1/20 dari gaji dokter! Saya tidak tahu harus berkomentar apa. :(