Bianglala


TPI dan Sinetron "Religius"

Posted in Media by Dhani on the June 25th, 2005

Banyak pihak yang terkejut ketika survey dari Nielsen Media Research menyatakan stasiun TPI sebagai saluran nomor satu di Indonesia saat ini, baik dari sisi rating maupun audience share. TPI, saluran yang dulu pernah identik dengan siaran pendidikan, namun kini malahan menjadi saluran dangdut dan Bollywood itu mampu mengalahkan stasiun-stasiun saingannya yang rata-rata lebih mapan, baik dalam image maupun performanya.

Yang menarik disini adalah bagaimana dengan segala keterbatasan yang ada, baik dari peralatan yang sudah uzur hingga jaringan transmisi yang dimiliki yang kalah banyak dibanding stasiun besar lainnya, TPI mampu menyodok di urutan teratas dibanding saingan-saingannya. Sepintas saya baca di sebuah media periklanan, pihak manajemen TPI membeberkan kiatnya untuk mendapatkan posisi “terhormat” itu.

Setelah bergabung dalam grup Media Nusantara Citra, TPI memang memposisikan diri sebagai stasiun untuk masyarakat dari kalangan menengah kebawah; berbeda dengan kedua mitranya dari grup yang sama, RCTI yang diposisikan sebagai tontonan masyarakat kelas atas, dan Global TV sebagai salurannya anak muda. Sebagai konsekuensinya, tayangan-tayangan yang (dianggap) tidak cocok untuk kalangan menengah-bawah harus dihilangkan. Kini kita tidak lagi bisa menyaksikan tayangan flora dan fauna atau sajian Discovery Channel di layar TPI. Sebagai gantinya, silahkan nikmati goyang dangdut, dan acara-acara kampungan lainnya. Juga jangan harap di stasiun ini kita bisa menyaksikan tayangan film box office dari Hollywood. Nehi! Mari kita tonton artis-artis Bollywood yang sibuk bernyanyi dan bergoyang di layar kaca. Berita dan talk show? Lupakan topik politik dan ekonomi makro. Sebagai gantinya, simaklah topik-topik yang dekat dengan keseharian penontonnya.

Stasiun-stasiun TV kita sekarang sedang terkena penyakit latah. Para pengelola stasiun TV tidak merasa berdosa apabila meniru program acara stasiun lain yang dianggap sukses merebut hati pemirsa. Tidak kreatif, biarin! Brengsek, emang gue pikirin! Maka jadilah program-program TPI ramai dijiplak begitu saja oleh stasiun lain. Salah satu tayangan khas TPI yang ramai-ramai ditiru oleh pesaingnya adalah tayangan sinetron bertema klenik yang dibungkus dalam kedok religius. Tayangan yang biasanya mengisahkan orang-orang berperangai buruk dan kemudian mati dalam keadaan mengenaskan, atau mendapat ganjaran secara gaib, kini sepertinya telah menjadi semacam trend di televisi kita.

Banyak pihak menganggap itu adalah pertanda positif. Bertolak belakang dengan hitung-hitungan bisnis yang diyakini, bahwa tayangan yang berbau keagamaan hanya laku dijual di bulan Ramadhan, ternyata acara-acara “religius” semacam ini ternyata juga laris di jam-jam prime-time di hari-hari biasa. Tapi benarkan tayangan semacam itu mendidik?

Kenyataannya, sinetron-sinetron yang katanya bertema dakwah itu sebenarnya adalah sebuah bentuk pembodohan. Terus terang saya tidak ingin menulis dalam konteks keagamaan (Saya sudah berkomitmen untuk membatasi omong-omong soal agama di blog ini. Soal agama, dalam pandangan saya, adalah soal pribadi yang tidak perlu diumbar di sembarang tempat dan sembarang kesempatan). Saya lebih suka memandang gejala ini dari konteks sosial saja.

Secara psikologis, tayangan semacam ini bisa mempengaruhi pola pikir penontonnya. Pemirsa diajak berpikir secara simpel, bahwa apa yang kita lakukan selama hidup akan mendapat balasan secara instan (padahal Islam tidak mengenal hukum karma). Ini juga akan membuat orang cenderung mereka-reka seandainya ada peristiwa kematian yang tidak wajar atau hal-hal lain yang dianggap aneh di lingkungannya. Dampaknya jelas merugikan. Anda punya tetangga yang mati dengan perut membusung? Jangan-jangan selama hidupnya, dia pernah memakan harta anak yatim. Atau bagaimana seandainya ada anggota keluarga Anda yang terkena penyakit aneh yang sulit diobati secara medis? Bisa jadi itu gara-gara …bla…bla…bla… [silahkan direka-reka sendiri]. Atau mungkin dia disantet orang? [pelakunya siapa yah?]. Apa hal semacam ini yang kita inginkan?

Padahal, dari segi medis, ada banyak penjelasan, kenapa perut seseorang bisa membusung, atau kulit menghitam saat meninggal sebagaimana yang sering digambarkan di sinetron-sinetron “religius” itu. Memang, dalam beberapa kasus, kita sebagai umat beragama juga harus percaya bahwa Tuhan punya banyak cara untuk menunjukkan kemahakuasaanNya. Tapi itu bukanlah hal yang bisa kita temui setiap hari, tiap malam, dan di tiap saluran televisi!

Disamping itu, dari segi etika penyiaran, tayangan model begini juga tidak bisa dibilang etis. Adegan-adegan yang kurang pantas untuk ditampilkan di layar TV sering muncul begitu saja. Gambar-gambar menjijikan macam mayat yang dirubung belatung atau yang semacamnya ditampilkan begitu saja tanpa tedeng aling-aling. Apalagi kalau mengingat sinetron macam ini biasanya disiarkan pada jam-jam “prime time”, dimana penontonnya juga sangat beragam. Cerita-cerita itu diklaim diilhami dari cerita nyata, tapi sumbernya tidak jelas (perhatikan kata kuncinya “diilhami” dan bukan “diangkat”). Saya pribadi tidak terlalu yakin bahwa kisah-kisah itu ditampilkan apa adanya seperti kejadian aslinya. Mengingat kisah itu diangkat ke layar TV, maka pasti juga diadakan unsur dramatisasi supaya tidak terlalu “kering”.

Pendeknya, walaupun — mungkin — secara religius, bisa mempertebal “iman” atau meningkatkan kadar “taqwa”, tapi tayangan semacam ini sama sekali bukan model tontonan yang sehat, apalagi mendidik. Jadi, lupakan anggapan bahwa itu adalah sinetron religius. Kalau mau dibuat klasifikasi, tayangan macam itu mestinya masuk ke kategori tayangan klenik, bukannya keagamaan!

Para Ilmuwan Kita

Posted in Figure by Dhani on the June 18th, 2005

Masih ingat dengan Oge? Sekedar flashback, tahun lalu, nama anak muda asal Papua ini sempat mencuat saat ia berhasil menyabet medali emas dalam lomba eksperimen fisika, The First Step to Nobel Prize in Physics. Nah, di tahun ini, Indonesia kembali mengulang sukses dengan meraih emas dari even yang sama. Bahkan kali ini tim asuhan Yohanes Surya Cs. tersebut berhasil mendulang dua emas, masing-masing atas nama Anike Nelce Bowaire (SMAN 1 Serui, Papua) dengan paper berjudul Chaos in an Accelerated Rotating Horizontal Spring, dan Dhina Prawita Susanti (SMAN 3 Semarang), dengan papernya Curved Motion of a Shuttlecock.

Kita tentu berharap keberhasilan adik-adik kita ini bisa dihargai sepantasnya. Bukan hanya penghargaan dalam bentuk publisitas (yang sebenarnya juga minim), namun juga dari segi fasilitas. Jangan sampai mereka berdua mengalami nasib sama seperti Oge yang tahun lalu gagal berangkat ke Polandia untuk mempresentasikan temuannya dihadapan dewan juri karena tidak berhasil mendapat sponsor untuk membiayai ongkos perjalanannya.

Yang menarik disini, dalam dua kali terakhir penyelengaraan even ini, medali emas jatuh ke tangan remaja asal Papua, propinsi paling timur di Indonesia yang sering dianggap terbelakang dibanding daerah-daerah lain. Paling tidak ini bisa menunjukkan kepada kita bahwa bakat-bakat fisika tidak hanya bisa muncul dari kota besar dengan fasilitas pendidikan yang lengkap, namun juga dari kota kecil dengan sarana yang seadanya.

* * *

Latar belakang Anike yang berasal dari Serui juga mengingatkan saya dengan fisikawan Indonesia, mendiang Hans Jacobus Wospakrik yang juga kelahiran kota itu. Beliau adalah salah seorang fisikawan terbaik terbaik yang kita miliki. Sebagai salah seorang dari sedikit fisikawan kita yang aktif berkontribusi melalui tulisan-tulisannya di berbagai jurnal internasional, publikasinya di jurnal-jurnal terkemuka, seperti Physical Review D, Journal of Mathematical Physics, Modern Physics Letters A, dan International Journal of Modern Physics A, telah memberi sumbangan berarti kepada komunitas fisika dunia berupa metode-metode matematika untuk memahami fenomena fisika dalam partikel elementer dan Relativitas Umum Einstein.

Walaupun tidak sesering menerbitkan tulisan di jurnal internasional, sesekali beliau juga menulis buku-buku fisika populer untuk khalayak awam (non-ilmuwan). Satu karyanya yang pernah saya baca berjudul “Berkenalan dengan Teori Kerelatifan Umum Einstein dan Biografi Albert Einstein” (Penerbit ITB, 1987). Bukunya tipis saja, sampulnya hitam dengan gambar potret Einstein di masa tuanya. Saya sudah lupa, kapan tepatnya buku itu pertama kali saya baca (bukunya sendiri masih ada pada saya, tapi kertasnya sudah lecek). Yang jelas dari membaca buku itulah saya pertama kali mendapat gambaran mengenai teori relativitas Einstein sebelum saya sempat membaca buku-buku lain yang lebih “teknis”. Buku karyanya yang terbaru, sekaligus terakhir, saat ini telah diterbitkan oleh Penerbit Unika Atma Jaya, bekerjasama dengan Kepustakaan Populer Gramedia dengan judul “Dari Atomos Hingga Quark”. Buku ini bercerita tentang partikel elementer dari atom masa Democritos hingga quark yang dikenal di abad ke-20.

Sayang, sebagaimana banyak ilmuwan Indonesia lainnya, Wospakrik tidak mendapat reward yang memadai dari pemerintah. Dengan tujuh hasil penelitian yang menembus jurnal internasional terkemuka, tiga hasil penelitian diterbitkan jurnal online yang bersifat internasional, tak terhitung penelitiannya yang diterbitkan jurnal dan prosiding dalam negeri, serta menghabiskan waktu sebagai pegawai negeri mengajar dan membimbing mahasiswa di ITB, Dr Hans J Wospakrik yang meninggal pada 11 Januari 2005 dihargai Pemerintah hanya sampai golongan IV-A, lektor kepala! Kisah selengkapnya bisa dibaca disini.

* * *

Waktu saya menulis tentang Oge disini, sekitar setahun lalu, saya juga sempat bercerita tentang seorang astronom Indonesia yang kini bekerja di Max Planck Institute, Jerman. Waktu itu, dengan beberapa pertimbangan, saya tidak menyebutkan siapa nama ilmuwan yang saya maksud. Tapi dalam posting kali ini saya perlu menyebutkan identitasnya: Beliau adalah Pak Johny Setiawan. Kabar terbaru dari beliau, hasil kerjanya, berupa penemuan objek substelar yang mengedari bintang HD 11977, kini telah dipublikasikan melalui jurnal internasional Astronomy & Astrophysics.

Namun seperti publikasi sebelumnya, penemuan ini juga lebih dipandang sebagai hasil kerja ilmuwan Jerman ketimbang karya seorang putra Indonesia. Untungnya, detik.com masih sempat memuat sepintas mengenai profil beliau beserta penemuannya. Bicara soal media, beberapa bulan lalu sejumlah blog Indonesia juga sempat meributkan, kenapa media-media kita tidak ada yang memberitakan kemenangan dua remaja kita dalam kontes Google Code di India. Saya tidak ingin ikut meramaikan topik itu karena saya tahu persoalannya: Tidak ada pihak ketiga yang bersedia mengkomunikasikan keberhasilan mereka ke Media Massa. Dalam hal semacam ini, media kita selalu pasif, tidak proaktif menggali beritanya sendiri. Tidak heran, untuk menyosialisasikan keberhasilan anak asuhnya baru-baru ini, Prof. Yohanes Surya sampai harus menulis sendiri artikel tentang itu di harian Kompas (saya baca di Kompas edisi kemarin, Jum’at 17 Juli 2005).

Tentu saja pak Setiawan, sebagaimana kebanyakan ilmuwan lainnya, tidak gila publikasi di media massa umum. Publikasi di jurnal internasional yang bergengsi sudah cukup untuk menunjukkan kualitasnya sebagai seorang ilmuwan terkemuka. Cuma, kita di Indonesia ini perlu disadarkan bahwa masih ada yang bisa dibanggakan dari negeri ini. Paling tidak, di luar negeri, nama Indonesia tidak cuma disebut-sebut berkaitan dengan tsunami, korupsi, atau busung lapar, tetapi juga kecemerlangan sebagian warganya dalam bidang sains. Karena itu, saya pribadi agak menyayangkan, kenapa media kita tidak juga mengimbangi berita-berita sedih itu dengan memuat prestasi-prestasi membanggakan dari warga kita. Btw, kebetulan, dalam emailnya ke saya beberapa hari lalu, pak Setiawan mengajak bertemu dan berdiskusi dalam konferensi APRIM 2005 di Bali tanggal 25-29 Juli mendatang. Saat ini saya rutin bolak-balik ke Bali, jadi mudah-mudahan kalau jadwalnya pas, saya ingin juga bertemu dengan beliau disana.