Teori Segala Sesuatu
Theory of Everything (ToE), teori segala sesuatu, atau teori super simetri, adalah sebuah harta karun yang masih terpendam; semacam “cawan suci” dalam mitos yang selama ini terus dicari-cari oleh para fisikawan teori. ToE adalah sebuah teori yang menggabungkan 4 gaya dasar alam semesta. Dinamakan 4 gaya dasar/interaksi dasar karena keempat interaksi inilah yang bertanggung jawab atas seluruh gaya-gaya yang dapat diamati di alam semesta. Keempat interaksi tersebut adalah interaksi kuat, interaksi lemah, interaksi elektromagnetik, dan interaksi gravitasi.
Kekuatan antara interaksi yang satu dengan interaksi yang lainnya dibedakan oleh nilai yang sangat besar. Interaksi kuat, yaitu interaksi yang menjelaskan gaya antar inti sehingga menghasilkan kemantapan inti atom mempunyai kekuatan sekitar 100 kali interaksi elektromagnetik. Interaksi lemah merupakan penjelas untuk interaksi antar partikel bermuatan sehingga gaya yang dihasilkan dapat tarik-menarik atau tolak-menolak. Interaksi lemah mempunyai kekuatan sekitar 1010 kali interaksi elektromagnetik. Interaksi elektromagnetik adalah interaksi yang menjelaskan peluruhan Beta, partikel-partikel dan inti. Terakhir, interaksi gravitasi yang memiliki kekuatan 1040 kali interaksi elektromagnetik. Interaksi ini mengatur interaksi yang bekerja pada semua benda yang memiliki massa dengan gaya yang selalu tarik menarik.
Keempat gaya dasar itu sampai sekarang masih belum bisa dipadukan kedalam sebuah teori tunggal sehingga menghasilkan suatu Theory of Everything. Padahal ToE adalah teori yang ditunggu-tunggu karena teori ini akan bisa memberikan gambaran utuh tentang alam semesta kita; bagaimana ia berawal dan bagaimana ia kelak akan berakhir. Kita tahu bahwa alam semesta berasal dari suatu dentuman besar (big bang) yang terjadi miliaran tahun lalu. Dentuman besar itu juga melibatkan singularitas. Kita tidak dapat mengetahui apa yang terjadi pada selang waktu antara 0 detik hingga 10-43 detik setelah big bang. Selang waktu inilah yang menjadi tugas ToE. Saat ini kita hanya bisa mengetahui - sebagian melalui bangunan teori-teori - tentang apa yang terjadi sesudahnya.
Pada selang waktu antara 10-43 detik hingga 10-35 detik - mengacu pada model dentuman besar panas, sebuah model yang menjelaskan bahwa pada mulanya memiliki temperatur yang sangat tinggi yang kemudian mendingin dengan cepat - temperatur alam semesta turun dari 1032 derajat Kelvin menjadi 1028 derajat Kelvin, dan tingkat energi turun dari 1028 eV (elektron Volt) menjadi 1024 eV. Pada awal 10-35 detik setelah dentuman besar, energi alam semesta tidak lagi cukup untuk mempertahankan interaksi kuat sehingga interaksi kuat dibekukan (mengalami kehilangan energi). Interaksi lemah yang tersisa juga akan membeku pada satu detik setelah dentuman besar sehingga hanya menyisakan interaksi elektromagnetik dan gravitasi. Selanjutnya, mulai dari 180 detik hingga 100.000 tahun setelah dentuman besar, dan tingkat energi turun lagi hingga 13,6 eV, interaksi elektromagnetik dibekukan karena terbentuknya atom-atom netral. Mulai saat itu, interaksi gravitasilah yang berperan, dan alam semesta, galaksi, bintang, kemudian planet-planet, serta kehidupan mulai terbentuk. Kisah selanjutnya biar menjadi urusannya blog Refleksi :). Kalau disini, kita cukup bicara soal aspek fisikanya saja.
Sangat sukar untuk membuat sebuah teori tunggal secara lengkap. Maka, sebagai gantinya, para ilmuwan telah merumuskan sejumlah teori secara parsial (per-bagian) dari teori penyatuan. Namun, pada akhirnya kita masih tetap berharap untuk bisa menemukan suatu teori penyatuan yang komplit dan konsisten yang memasukkan seluruh teori parsial yang ada. Namun upaya ke arah ini sama sekali tidak mudah. Einstein menghabiskan tahun-tahun terakhir hidupnya dalam upaya yang sia-sia untuk menemukan teori penyatuan. Tapi, ketika itu sang waktu mungkin memang belum siap. Masih sangat sedikit yang kita ketahui tentang daya nuklir pada masa itu. Terlebih, Einstein menolak untuk mempercayai kenyataan mekanika kuantum, meskipun mekanika kuantum terbukti telah memainkan peranan penting dalam pengembangan teori ini. Sampai sekarang terlihat bahwa ketidakpastian merupakan bagian yang penting dan mendasar dari alam semesta tempat kita hidup. Sebuah teori penyatuan yang berhasil harus berada dalam bagian-bagian dari prinsip tersebut.
Harapan-harapan untuk menemukan teori penyatuan kelihatan lebih realistis sekarang, karena kita telah mengetahui lebih banyak tentang alam semesta. Namun kita sebaiknya tidak sampai menjadi kelewat percaya diri dulu. Dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, beberapa kali para ilmuwan merasa sudah dekat dengan ujung pencarian tentang hukum-hukum sains, namun penemuan selanjutnya justeru menyadarkan mereka bahwa sesungguhnya mereka masih belum bergerak kemana-mana.
Tapi, sejumlah ilmuwan seperti Stephen Hawking dkk percaya bahwa akhir dari pencarian ini cuma soal waktu saja, dan mungkin saatnya tidak akan terlalu lama lagi. Kita telah memiliki sejumlah teori parsial. Kita sudah punya teori relativitas umum, teori parsial gravitasi, teori parsial interaksi kuat dan lemah, serta teori parsial elektromagnetik. Tiga interaksi yang terakhir dapat dikombinasikan menjadi Grand Unified Theory (GUT). Ini tidak cukup untuk membentuk ToE karena teori tersebut tidak mencakup interaksi gravitasi. Kesukaran untuk menemukan sebuah teori yang menyatukan gravitasi dengan gaya-gaya lain adalah bahwa teori relativitas umum (yang menjelaskan tentang pengaruh medan gravitasi dalam semua proses fisika) merupakan teori klasik. Dalam hal ini, relativitas umum tidak mengambil bagian dalam prinsip ketidakpastian dari mekanika kuantum. Sebaliknya, teori-teori parsial lain bergantung pada cara yang esensial pada mekanika kuantum. Sebagai langkah awal, kita bisa mengkombinasikan teori relativitas umum dengan prinsip ketidakpastian, tetapi proses ini akan menghasilkan beberapa konsekuensi luar biasa yang mungkin bertentangan dengan pemahaman kita selama ini tentang fisika.
Saat ini, kandidat terkuat dari ToE adalah teori superstring (adidawai). Dalam teori ini, segalanya di alam semesta - semua partikel elementer dan interaksi dan bahkan ruang-waktu itu sendiri - dipandang sebagai sebuah dawai yang panjangnya kurang dari 10-33 cm, namun memiliki tegangan yang sangat besar. Dawai ini bergetar dan berputar dalam suatu semesta multi dimensi. Satu dimensi tambahan - selain dimensi panjang, lebar, kedalaman, dan waktu - secara matematis diperlukan untuk menghindari tachyons (partikel yang bergerak lebih cepat dari cahaya) dan ghosts (partikel yang dihasilkan dari probabilitas negatif). Dimensi-dimensi tambahan ini lantas termampatkan dan berpilin dalam bentuk lingkaran-lingkaran kecil yang tidak dapat diamati. Partikel elementer yang berbeda berhubungan dengan dawai yang berosilasi dengan tingkatan yang berbeda pula. [kalau bagian ini terasa absurd, maka bagi Anda, saya ucapkan "Welcome to the jungle" :D]. Teori ini memungkinkan penggabungan medan gravitasi dengan ketiga interaksi lainnya. Namun demikian, sampai sekarang, belum ada satupun teori yang betul-betul dapat diandalkan untuk menggabungkan keempat jenis interaksi itu, karena hingga kini belum ada teori yang secara meyakinkan mampu menjelaskan adanya gravitasi kuantum.
Tapi, dapatkah benar-benar ada sebuah teori penyatuan segala sesuatu? Adakah kita memburu sebuah fatamorgana? Ada tiga kemungkinan jawaban atas pertanyaan ini: Pertama, benar-benar ada sebuah teori penyatuan yang lengkap yang akan ditemukan pada suatu saat jika kita benar-benar cukup pandai. Kedua, Tidak terdapat teori yang final tentang alam semesta. Yang ada hanyalah sebuah deretan tak terhingga teori-teori yang mencoba menggambarkan alam semesta yang lebih akurat. Dan ketiga, tidak terdapat teori tentang alam semesta. Kejadian-kejadian tidak dapat diprediksikan dengan suatu teori melainkan berlangsung melalui suatu cara yang acak. Beberapa orang mengargumentasikan kemungkinan yang ketiga dengan dasar bahwa jika terdapat susunan hukum-hukum yang lengkap, hal tersebut akan melanggar kebebasan Tuhan untuk merubah pikiran-Nya dan untuk mengatur dunia. Sepintas ini mirip dengan paradoks lama: Dapatkah Tuhan menciptakan sebuah batu yang sangat besar sehingga Dia sendiri tidak mampu mengangkatnya?
Sejarah tentang bagaimana alam semesta terbentuk - yang apabila kita mengesampingkan peran Tuhan dan agama - merupakan kajian ilmiah yang belum juga sampai pada akhir tujuannya, yakni melalui serangkaian metode-metode ilmiah, pengembangan model dan teori serta penerapan teknologi canggih dalam melakukan observasi membuat kita tahu bagaimana “jalan pikiran Tuhan”, atau dengan kata lain, kita dapat menemukan teori yang berisi penjelasan tentang segala sesuatu di alam ini. Namun mengetahui “jalan pikiran Tuhan” sama artinya dengan memposisikan diri kita sebagai Tuhan, dan ini jelas bertentangan dengan dogma agama apapun.
Ada satu kisah menarik yang berkaitan dengan hal itu. Pada 1981, Hawking diundang oleh mendiang Paus Johanes Paulus II untuk menghadiri sebuah konferensi tentang kosmologi di Vatikan. Gereja Katolik telah membuat kesalahan fatal terhadap Galileo ketika ia memilih untuk mendukung teori heliosentris-nya Copernicus. Kini, setelah ilmu pengetahuan terbukti memihak Galileo, maka pihak Gereja akhirnya memutuskan bahwa akan lebih baik sekiranya mereka mengundang para ilmuwan untuk menjelaskan tentang kosmologi. Dalam kesempatan itu, Hawking menyajikan makalahnya tentang teori superstring. Tapi, mungkin karena khawatir akan di-Galileo-kan gara-gara teorinya itu, Hawking sengaja menyajikannya dalam bentuk matematis sehingga implikasinya pada peranan Tuhan dalam penciptaan alam semesta jadi tidak kelihatan - setidaknya di mata para rahib di Vatikan ;).
Pada akhir konferensi, para peserta diperkenankan mendengarkan pidato dari Sri Paus. Dalam kesempatan itu, Paus menekankan bahwa bukan masalah apabila seseorang tertarik dan telah mempelajari tentang evolusi alam semesta setelah big bang. Namun hendaknya kita tidak menanyakan sampai ke dalam dentuman besar itu sendiri karena itu adalah urusan Tuhan. Pantas saja kalau Hawking yang atheis itu merasa senang bahwa Paus sama sekali tidak mengetahui pokok permasalahan yang barusan ia ungkapkan. Bayangkan, apa reaksi Paus seandainya beliau tahu bahwa para ilmuwan itu bukan cuma sekedar mencampuri pekerjaan Tuhan, tapi malahan hendak mencoba mengetahui pikiran Tuhan!
Sisi Lain Bencana
Tinggal di daerah yang sering dilanda bencana seperti Indonesia, kita hanya punya dua hal yang bisa dijadikan sandaran. Yang pertama adalah Tuhan, dan yang kedua adalah ilmu pengetahuan. Untuk yang pertama, tentunya bergantung kepada religiositas kita masing-masing, dan saya tidak mau mencampuri wilayah itu. Sedangkan sandaran yang kedua, setidaknya bisa membuat kita mengerti apa yang terjadi, dan pada akhirnya bisa melakukan tindakan antisipasi yang tepat.
Dalam menghadapi keadaan yang kurang menyenangkan, umumnya kita akan lebih tenang kalau sudah mengetahui apa yang terjadi. Sebaliknya kita cenderung panik apabila kita tidak tahu persis duduk perkaranya. Hal serupa juga berlaku bagi kita yang pada dasarnya hidup di wilayah rawan bencana. Saat gempa mengguncang, gunung api menyemburkan letusannya, atau banjir melanda, sedikit bekal pengetahuan mengenai apa yang terjadi setidaknya bisa membuat kita lebih tenang, rasional, dan bijak dalam menyikapi.
Sisi ilmiah dari gempa bumi bukan hanya monopoli para ahli geologi-geofisika. Kita sebagai orang awam setidaknya perlu tahu sedikit yang kira-kira punya manfaat praktis. Saya masih sering terheran-heran ketika melihat pembawa acara talk show di TV mengajukan menanyakan ke petugas BMG tentang apakah waktu terjadinya gempa itu bisa diprediksi. Pertanyaan semacam ini mestinya tidak perlu diajukan, karena kalau kita tekun membaca ulasan ilmiah di media, sudah sangat jelas bahwa sampai saat ini belum ada teknologi yang mampu meramalkan secara persis kapan gempa akan mengguncang suatu daerah.
Kalau aktifitas geologis di Sumatera saat ini terlihat kurang menguntungkan, mulai dari gempa yang berbuntut tsunami di Aceh, yang meluluh lantakkan Nias, mengguncang Padang, dan baru-baru ini juga disusul meningkatnya aktifitas beberapa gunung berapi, itu sama sekali bukan karena ada “kekuatan supra-natural” yang sedang mengamuk. Saya tidak akan bosan mengulang-ulang bahwa hal-hal itu adalah peristiwa natural. Hal yang wajar dan alamiah.
Banyak yang lantas memandang peristiwa itu secara spiritual. Bahwa manusia terlalu banyak dosa, dan bahwa Tuhan sedang menimpakan entah cobaan atau azab. Silahkan saja berpendapat demikian. Tapi hal ini jangan menjadikan kita bersikap pasrah; apa yang terjadi terjadilah, toh soal ajal sudah diatur dari “sononya”. Sikap fatalis macam begini membuat kita jadi enggan belajar. Enggan mencari tahu apa yang terjadi, dan akhirnya juga enggan berikhtiar.
Upaya antisipasi yang tepat hanya bisa diambil apabila didasarkan kepada ilmu pengetahuan, bukannya logika semata. Dalam hal ini, kasus di Nias adalah contoh yang tragis. Penduduk Nias sebenarnya sudah lama menyadari bahwa daerahnya sering dihantam gempa bumi. Sayangnya, upaya antisipasi dilakukan dengan membangun rumah tinggal yang kokoh dengan harapan dapat menahan goncangan gempa. Ini langkah yang sepintas kelihatan logis, padahal dalam prakteknya malahan keliru. Konstruksi bangunan tahan gempa bukanlah bersandar pada kekuatan struktur bangunan, melainkan elastisitas bangunan. Konstruksi beton yang masif justeru membuat bangunan tidak elastis. Akibatnya, seperti yang sudah kita lihat, alih-alih menahan ancaman gempa, konstruksi bangunan semacam itu malahan menghambat upaya evakuasi karena tim penyelamat kesulitan untuk menyingkirkan reruntuhan bangunan yang rata-rata terbuat dari beton yang kokoh.
Beberapa bulan lalu, saya pernah cerita tentang bangunan tahan gempa di Bali. Disitu saya ungkapkan kalau bangunan disana rata-rata dibangun dari batako yang diapit kerangka beton bertulang. Mungkin ada yang bertanya, koq tidak pakai batu bata saja? Bukankah batu bata lebih kuat daripada batako? Penjelasannya, batako yang ringan itu sengaja dipilih untuk mendukung elastisitas bangunan yang diciptakan oleh rangka beton bertulang. Rangka baja pada beton akan ikut bergoyang mengikuti guncangan gempa Bumi, dan goyangan itu diteruskan ke dinding-dinding bangunan. Material yang ringan macam batako mendukung agar mekanisme ini bisa bekerja dengan efektif.
Saat menyaksikan liputan bencana alam di TV atau media cetak, kita hendaknya tidak hanya terpukau dengan tayangan para korban yang berdarah-darah dan berurai air mata itu. Selain sisi kemanusiaan, kita sebaiknya tidak melupakan sisi ilmiahnya. Ini penting supaya kita bisa mengambil pelajaran dari sana. Sekali lagi, ilmu pengetahuan itu penting, bukan saja supaya kita bisa mengerti apa yang terjadi, tapi juga agar kita bisa mengambil langkah antisipasi yang tepat.
Rumor
Semalam warga Jakarta dikejutkan dengan beredarnya rumor SMS yg menyebutkan bahwa Jakarta akan dilanda tsunami sebagai akibat gempa yang berpusat di Padang yang diramalkan terjadi pada pukul 00:00 tengah malam. Saya bukanlah geolog, tapi dengan logika awam saja, saya bisa melihat bahwa skenario yang digambarkan di rumor tersebut salah besar. Coba lihat saja di peta. Bagaimana caranya gelombang tsunami yang dipicu gempa di Padang bisa sampai mencapai Jakarta? Ini mengingatkan saya dengan kejadian di Sidoarjo, baru-baru ini. Masyarakat disana panik waktu terjadi gempa karena menyangka akan disusul dengan tsunami. Kepanikan ini sebenarnya tidak perlu terjadi kalau saja mereka tahu bahwa wilayah Jawa Timur bagian utara (dikenal sebagai daerah “tapal kuda”) relatif aman dari terjangan tsunami. Andaikata terjadi tsunami, misalnya dipicu oleh gempa yang berpusat di laut jawa, maka tsunami akan terlebih dahulu menghantam pulau Madura sebelum sempat mencapai Jawa Timur.
Kalau akhir-akhir ini beredar rumor tentang letusan krakatau (pernah saya tulis disini), letusan gunung berapi di danau Toba, bahkan gempa di Padang atau Nias, itu bukan berarti kejadian-kejadian itu bisa diramalkan secara persis kapan terjadinya. Sampai saat ini belum ada teknologi yang bisa meramalkan dengan tepat kapan gempa akan mengguncang suatu daerah sampai ke detik-menitnya. Kalau ada orang yang bisa meramal bahwa tanggal sekian jam sekian suatu wilayah akan terkena gempa, maka dia pasti bukan ahli geofisika, tapi paranormal :).
Lagipula, prediksi terhadap peristiwa geologis bukan bersandar pada perhitungan yang eksak, tapi berupa kisaran. Kalau dikatakan bahwa setelah Aceh dan Nias, maka “gilaran” berikutnya akan jatuh di Mentawai dan Padang, itu mesti disikapi dengan rasional pula. Kalau di sains komputer, perkiraan macam begini digolongkan sebagai fuzzy logic (logika kabur), bukannya logika biner yang serba pasti itu. Kita tahu bahwa penumpukan energi di sekitar Nias dan Padang (sebagai akibat pertemuan lempeng Eurasia dan Indo Australia) sudah sangat besar, dan tinggal menunggu waktu saja untuk dilepaskan dalam bentuk gempa bumi. Tapi kapan itu akan terjadi, yah, wallahu a’lam. Cuma Tuhan saja yang tahu. Ilmu pengetahuan saat ini hanya bisa memberikan gambaran, kira-kira ada sekian persen kemungkinan bahwa peristiwa itu akan terjadi pada sekian bulan atau sekian tahun kedepan, tapi tidak akan bisa memberikan angka pastinya.
Demikian juga soal letusan gunung berapi. Entah letusan Krakatau atau di danau Toba, juga harus dilihat dengan kacamata yang sama. Kalau dikatakan bahwa ada siklus 2000 tahun untuk peristiwa erupsi berskala besar, itu bukan berarti hal itu akan terjadi tepat dalam periode 2000 tahun. Alam tidak bekerja sebagaimana halnya jam beker :). Angka 2000 tahun itu (seandainya rumor tersebut valid), hanyalah kisaran. Kejadiannya sendiri bisa berulang dalam 1975 tahun, 2150 tahun, atau berapa saja di seputaran angka tersebut.
Kita di Indonesia sudah ratusan tahun hidup dibawah ancaman bencana alam. Sepanjang sejarah, ragam kejadian semacam gempa bumi, letusan gunung berapi, tsunami, dan sebagainya telah dan akan terus melanda kita. Yang dibutuhkan sebenarnya adalah kewaspadaan. Kita tidak mungkin mencegah semua bencana itu menimpa kita. Yang bisa dicegah adalah jatuhnya korban jiwa dalam jumlah besar akibat bencana itu. Juga perlu diingat bahwa bencana tidak akan datang setiap waktu dan menimpa setiap orang. Pada kenyataaannya, peluang (baca: resiko) terkena bencana alam itu jauh lebih kecil ketimbang resiko mendapat kecelakaan lalu-lintas di jalan raya. Masyarakat yang tinggal di kaki gunung berapi aktif tentu tahu akan bahaya yang mengancam seandainya gunung tersebut meletus, tapi mereka toh bisa tenang-tenang saja. Bukan berarti menyepelekan. Kita tetap harus punya ‘aware’ tentang bencana yang bisa datang sewaktu-waktu, tapi hendaknya tidak sampai kehilangan akal sehat. Tetaplah bersikap rasional.
Yang Serius, Yang Asyik
Masih tentang Feynman. Di Surely you’re Joking Mr. Feynman, ada kisah ketika suatu waktu Feynman merasa mulai sebal dengan fisika. Ia tahu sebabnya. Tidak lain karena ia mulai serius. Akhirnya ia putuskan untuk kembali seperti dulu: bermain dengan fisika. Ia menulis di bukunya, “aku melakukan apa saja yang kusukai; apa yang kukerjakan tak mesti penting untuk perkembangan fisika nuklir, tapi asal menarik dan menyenangkan untuk mainanku”.
Suatu ketika Feynman bermain lempar piring di kafetaria kampusnya. Waktu piring itu melayang di udara, ia melihat bandul merah di atas piring itu berputar-putar, lebih cepat daripada perputaran piring. Dengan penuh semangat ia mulai menghitung gerakan rotasi piring itu. Hasilnya ia ceritakan kepada koleganya, fisikawan terkenal Hans Bethe (peraih Nobel Fisika tahun 1967).
Bethe bilang, “Feynman, itu memang menarik, tetapi apa pentingnya? Mengapa kau kerjakan?”
Memang tidak ada pentingnya. Feynman mengerjakannya cuma karena senang. Komentar Bethe tidak mempengaruhinya karena ia sudah menetapkan hati untuk menikmati fisika. Ujungnya, main-mainnya itu mengantarkan ia kepada perhitungan-perhitungan gerakan elektron yang rumit, yang akhirnya melahirkan teori elektrodinamika kuantum dan belakangan membuatnya diganjar hadiah Nobel.
Teringat dengan kisah diatas, Muzi Marpaung menggugat di Kompas: Haruskah sains dianggap serius? Apakah sains harus ada aplikasinya, atau sains yang hanya berisi rumusan dan teori itu boleh dianggap tidak bermanfaat?
Idenya berasal dari sebuah kompetisi sains. Seorang anak kelas VI sekolah dasar memasang botol plastik yang telah dibelah dua di atas mobil-mobilan Tamiya tanpa bodi. Di dalam botol ia masukkan balon berisi air, sambil tangannya terus menjepit leher balon agar air tidak tumpah sebelum waktunya. Kemudian jepitan ia lepaskan. Air mengucur deras ke belakang, dan mobil-mobilan meluncur ke depan. Dengan penuh semangat, sang anak memperagakan temuannya itu didepan juri. Tapi sang juri lantas bertanya tentang apa gunanya percobaan ini, dan si anak tidak bisa menjawab lain selain bahwa gejala ini adalah bukti bahwa air bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi. Anak ini tidak menang.
Sementara itu, di dalam kompetisi percobaan sains lainnya, seorang anak SD memeragakan kincir air buatannya. Kincir air itu bagus dan sederhana. Ia kemudian bercerita mengenai manfaat dari kincirnya itu, yang dikatakannya “dapat memperbaiki kesejahteraan para petani”. Terlepas dari apakah soal kesejahteraan petani itu idenya sendiri atau “pesanan” orangtua atau gurunya, saya sependapat dengan Marpaung: Hal ini menjerembabkan sains menjadi serius. Eksperimen sains anak-anak kembali “menghamba” untuk menjadi jawaban atas pertanyaan “apa manfaatnya”.
Mengapa kepada anak yang pertama tadi tidak ditanyakan bagaimana ceritanya sampai ia mendapat ide seperti itu? Tentunya akan jauh lebih berharga apabila juri mengeksplorasi kegembiraan anak-anak saat menceritakan kembali perjalanan eksperimennya ketimbang menghadangnya dengan pertanyaan “apa manfaatnya?” Boleh jadi eksperimen anak itu pernah dilakukan di belahan bumi yang lain. Bukan sesuatu yang baru. Akan tetapi, bagi si anak, tetap saja baru. Seharusnya kita membiarkan semangat mereka itu berkembang menjadi antusiasme yang kelak akan mendorong mereka untuk mengerjakan eksperimen sains lainnya yang lebih asyik. Pertanyaan “apa manfaatnya” hanya akan menjadi pagar khayalan yang menghadang kreativitas mereka di sana-sini.
Waktu cerita ini dibawa ke sebuah milis untuk didiskusikan, saya cuma bisa menanggapi dengan mengutip kata-kata bijak dari ahli fisika-matematika asal Prancis, Jules Henri Poincare (1854-1912): “The scientist does not study nature because it is useful; he studies it because he delights in it, and he delights in it because it is beautiful. If nature were not beautiful, it would not be worth knowing, and if nature were not worth knowing, life would not be worth living.” Ya, inilah semangat yang seharusnya melandasi setiap upaya untuk mempelajari sains. Kita belajar tentang alam bukan karena itu bermanfaat, tapi karena kita menikmatinya, dan kita menikmatinya karena keindahannya.
Kata “sains” (science) sebenarnya berasal dari kosa kata bahasa latin scire yang artinya kurang lebih “untuk mengetahui”. Kalau dilihat di ensiklopedi, sains didefinisikan sebagai studi sistematik tentang apa saja yang bisa diteliti, diuji, dan dibuktikan. Sains adalah pencarian kebenaran. Sarananya adalah rasio, objektifitas, eksperimen, dan pertukaran informasi. Salah besar apabila kita menilai sains semata-mata dari hasil yang diperoleh, dengan “manfaat” dari sebuah penemuan sebagai indikatornya. Bicara tentang sains berarti bicara tentang proses ketimbang hasil. Dan proses untuk memperoleh sebuah pencapaian jauh lebih bernilai dibandingkan dengan pencapaian itu sendiri.
Di akhir tulisannya, Marpaung menandaskan: “Anak-anak, bahkan juga kita orang dewasa, patut diberitahukan bahwa kemenangan yang sesungguhnya ialah apabila kita semakin memahami alam. Jadi, entah di rumah entah di sekolah atau di mana saja, biarlah anak-anak bergembira dengan sains. Biarlah mereka menemukan dunia yang asyik melalui kegiatan-kegiatan yang tampak tak berguna semacam mengamati semut, mencampur soda kue dan cuka di dapur rumah Anda, atau meniup gelembung sabun dari sisa sabun mandinya. Dampingi saja mereka bermain dan bergembiralah bersama. Atau jangan-jangan Anda sendiri masih memandang sains kelewat serius?”
Setuju bung Marpaung!