Bianglala


Pelangi Feynman

Posted in Figure, Science by Dhani on the March 28th, 2005

Feynman* was gazing at a rainbow as if he had never seen one before. Or maybe as if it might be his last. I approached him cautiously and joined him in staring at the rainbow. It wasn’t something I normally did -in those days.
“Do you know who first explained the true origin of the rainbow?” I asked.
“It was Descartes,” he said. After a moment he looked me in the eye.
“And what do you think was the salient feature of the rainbow that inspired Descartes’s mathematical analysis?” he asked.
“I give up. What would you say inspired his theory?”
“I would say his inspiration was that he thought rainbows were beautiful . . .”

- From “FEYNMAN’S RAINBOW, A Search for Beauty in Physics and in Life”, by Leonard Mlodinow.

Pada dasarnya, para ilmuwan meyakini bahwa alam (nature) itu indah, memiliki pola dan arah sehingga dapat dipelajari. Namun demikian, nature tidak bisa begitu saja dipelajari dengan mudah, karena sifatnya yang begitu kompleks. Lantas kita memerlukan sebuah “bahasa” tersendiri untuk melukiskan kompleksitas tersebut. Kita sebut “bahasa” itu sebagai matematika.

Di buku fisika Tipler (dua jilid buku fisika yang masing-masing tebalnya sebantal itu), pelangi mendapat tempat tersendiri untuk dibahas secara rinci — sampai-sampai menyentuh ke soal pelangi inframerah segala. Tentu penjelasannya tidak sesederhana cerita di buku IPA waktu kita masih SD dulu, bahwa pelangi muncul akibat sinar matahari yang menembus titik-titik air di angkasa, lantas terurai menjadi spektrum “mejikuhibiniu” itu.

Ketika kita menyaksikan kemunculan pelangi, kita dapat menggunakan konsep fisika untuk menjelaskan apa yang terjadi, tetapi tidak demikian untuk menjelaskan bagaimana terjadinya. Dibalik keindahan pelangi, ada segudang konsep fisika yang hanya dapat dijelaskan dengan “bahasa” matematika. Disana ada serangkaian teori dan aplikasi tentang cahaya dan optik yang mesti dituangkan melalui serangkaian formula matematis.

Tidak semua fenomena alam bisa dijelaskan dengan bahasa yang terdiri dari serangkaian kata dan kalimat. Kita mungkin bisa menjelaskan bagaimana pelangi terbentuk dengan bahasa sehari-hari yang sederhana, tetapi ketika kita harus menjelaskan, misalnya sudut kritis antara matahari, titik-titik air dan garis pandang pengamat dimana pelangi mungkin terlihat, rasanya akan lebih mudah apabila yang digunakan adalah bahasa matematis.

Tentu saja, bagi mereka yang suka, formula itu terlihat begitu “cantik” dan “seksi”. Mereka beranggapan demikian, karena bagi mereka, persamaan matematika memang bisa membuat otaknya “terangsang”. Tapi bagi yang tidak suka, mungkin itik buruk rupa akan terlihat lebih “jelita” ketimbang angka.

Kita mungkin hanya bisa mereka-reka apa yang ada di benak Feynman ketika ia menatap pelangi dengan sedemikian terpesona. Apa yang ia rasakan mungkin sama dengan pesona yang muncul di benak Descartes ketika untuk pertama kalinya ia membuat analisa matematis tentang terbentuknya pelangi. Bagi ilmuwan semacam Feynman dan Descartes, fisika adalah sebuah puisi, matematika adalah bahasanya, sementara alam (nature) adalah sumber inspirasi.

Hmmm … rasanya tidak salah kalau saya menamai blog ini dengan “Bianglala”.

*) Richard P. Feynman (1918-1988), fisikawan Amerika Serikat yang pernah meraih nobel fisika untuk teori Elektrodinamika Kuantum (Quantum Electrodynamics, QED) yang menjelaskan tentang interaksi antara cahaya dengan atom dan elektron-elektronnya. Ia juga dikenal sebagai penulis buku-buku fisika, mulai dari “The Feynman Lectures on Physics” yang kelak menjadi buku teks standar untuk mahasiswa S1, hingga buku fisika populer semacam “Surely You’re Joking Mr. Feynman” (terjemahan Indonesianya diterbitkan oleh penerbit Mizan dengan judul “Cerdas dan Jenaka cara Nobelis Fisika”).

Sherina oh Sherina

Posted in Art, Figure by Dhani on the March 20th, 2005

Tidak biasanya lagu yang dilantunkan Sherina, si mantan penyanyi cilik bersuara bening itu justeru membuat telinga saya terasa “panas”. Bukannya lagu cinta sih (well, I hate love songs!), tapi lagu “Indonesia Menangis” yang dulu sering ditayangkan di Metro TV disela-sela liputan bencana Aceh itu. Beberapa bagian lagu itu, terutama pada bait yang berbunyi “sungguh deras curah murkaMu”, betul-betul terasa “menusuk” telinga saya. Rasanya saya sudah berkali-kali menulis disini kalau saya paling tidak suka kalau bencana Aceh dikaitkan dengan hal-hal semacam “murka Tuhan”, or something like that. Bagi saya, ini mirip dengan pemahaman seperti yang dianut para ekstrimis di Sabili itu. Eh, rupanya banyak juga yang sependapat dengan saya. Keberatan lantas diajukan, dan … lirik yang “ngaco” tersebut akhirnya resmi direvisi. Horeee! :).

Yeah, Sherina mungkin termasuk selebriti yang paling “sering” saya singgung namanya di blog-blog saya (padahal saya hitung kata “Sherina” di blog Refleksi dan Bianglala, ternyata cuma sebanyak jari sebelah tangan, dan diantara semuanya tidak ada yang secara langsung berkaitan dengan dia). Sejak muncul sebagai penyanyi cilik pada 1999, dia memang dikenal sebagai penyanyi yang “tampil beda”. Saat dunia lagu anak-anak dipenuhi oleh nyanyian konyol dan norak, dia muncul dengan lagu-lagu yang digarap dengan serius, malahan lebih serius dari lagu dewasa cenderung yang begitu-begitu saja. Saat orkestra masih dianggap musik yang berat, lagu-lagunya justeru dikemas dalam aransemen orkestra. Jadi, maklum saja, selain ada yang suka, yang benci juga bejibun. Bagi yang suka, dia itu contoh yang baik, bagi yang tidak suka, kemunculannya merusak tatanan :). Jadi, mulai deh dia jadi sasaran kerjahilan banyak orang, termasuk juga di internet. Tentang yang satu ini, kita punya banyak cerita. Kadang-kadang lucu, kadang-kadang ajaib.

Beberapa saat setelah melepas album pertamanya, sebuah ISP, menawarkan untuk membuatkan website pribadi untuk dia. Nggak pakai domain sendiri sih, cuma nebeng di site utama ISP itu. So far so good, sampai kemudian ISP itu seperti lepas tanggung jawab. Website tidak pernah diupdate, dan yang lebih gawat, entri-entri di guestbooknya mulai tidak terkendali. Kalau cuma orang iseng tidak apalah. Yang jadi pesoalan, mulai banyak entri yang kelihatan “menjurus” (you know what I mean). Karena khawatir, saya coba kirim email ke ayahnya, sekaligus menawarkan diri sebagai volunteer untuk menjaga website tersebut. Motivasinya sih semata-mata prihatin, tidak lebih. Soalnya saya ingat, problem serupa pernah dialami oleh sebuah website yang saya kelola, dan bahkan ceritanya lebih gawat lagi karena ada yang nekat mem-paste “cerita dewasa” ke guestbook Untungnya webmaster yang menjaga cukup sigap sehingga entri celaka itu bisa dihapus sebelum dibaca banyak orang. Kebayang nggak kalau cerita macam begitu di-post ke website yang pengunjungnya kebanyakan anak-anak? (ngebayangin aja saya sampai merinding).

Email jawaban yang saya terima betul-betul membuat saya tercenung di depan layar monitor. Ternyata pihak-pihak yang berkaitan dengan Sherina sendiri tidak punya akses apa-apa ke website tersebut. Setelah melihat gelagat yang kurang baik itu, ayahnya telah berkali-kali meng-email ISP itu, tapi sama sekali tidak digubris. Bahkan sampai dimintakan supaya site tersebut ditutup saja, tapi tetap tidak ada respon. Hebat betul ISP yang satu ini! Belakangan, setelah ayahnya mengirim snail-mail ke ISP itu, barulah website itu ditutup (Hah, menghubungi ISP harus lewat surat konvensional?!). Sekarang dia punya website “resmi” di sherinaonline.com, tapi sepertinya hampir nggak pernah diupdate. Maklum yang ngelola kayaknya juga volunteer :).

Masalah dengan internet tidak hanya soal website. Emailnya juga pernah dijahili orang. Alamat email resmi dia (yang tercantum pada sampul kaset pada album pertamanya) pernah dicoba dibobol. Alamat itu adalah mail forwarder berbayar, diteruskan ke account ayahnya. Ketika ada yang mencoba mengambil-alih, walaupun gagal, penyedia layanan itu lantas memberikan warning ke pemilik account. Pernah dia buka account sendiri di Yahoo. Semula baik-baik saja, sampai ada orang iseng yang berhasil membobol dan kemudian menyalah-gunakan accountnya itu. Selidik punya selidik, rupanya si kecil itu masih terlalu lugu untuk urusan password. Kalau kita buka account di Yahoo, kita kan dikasih pertanyaan rahasia yang sifatnya personal. Gunanya untuk memanggil password seaindainya kita kelupaan. Sayangnya, sebagai figur publik, bisa jadi ada ribuan orang yang hafal dengan biodatanya. Walhasil jebol deh :(. Habis itu, dia cuma nebeng account ayahnya, sampai kemudian muncul lagi dengan alamat email baru di Yahoo juga. Tapi nggak lama kemudian menghilang lagi sebelum lagi-lagi muncul dengan account ayahnya. Ternyata passwordnya kelupaan. Weleh!

O, iya. Dia punya milis juga di Yahoogroups (milisnya dikelola orang lain, tapi ayahnya sering posting, sementara Sherinanya sendiri malahan jarang muncul). Saya cuma sekali-sekali menjenguk milisnya via web, jadi nggak bisa cerita banyak. Tapi sepintas saya lihat profil anggotanya, ternyata lebih ajaib dari milis manapun. Bayangkan, anggotanya berkisar dari anak-anak yang belum lulus SD sampai bapak-bapak yang sudah menyandang gelar MSc.

Lepas dari persoalan internet, keseharian dia sebagai artis menurut saya cukup layak dijadikan contoh untuk artis lain. Tidak seperti sejawatnya (baik cilik maupun dewasa) yang dengan semangat aji mumpung terus menerima order untuk tampil dimana-mana, manajemen Sherina (dalam hal ini ortunya sendiri) termasuk ketat dalam memenuhi undangan manggung. Di masa puncak popularitasnya, dia malahan cuma diijinkan naik panggung sebulan sekali. Itupun hanya di acara-acara tertentu. Lantas muncul isu, dia dikomersilkan dengan mematok tarif kelewat tinggi. Lucu :), soalnya untuk kepentingan pendidikan, manajemennya tidak keberatan untuk tampil prodeo, alias gratis. Biaya untuk mengundang dia jadi mahal dia harus menyanyi dengan iringan orkestra. Ongkos mengundang itu sudah termasuk untuk membiayai pemain orkestra yang jumlahnya disyaratkan minimal 15 orang. Bandingkan dengan penyanyi lain yang tidak keberatan tampil walaupun cuma diiringi organ tunggal.

Kebanyakan penyanyi melakukan rekaman dengan diongkosi oleh produser. Setelah rekaman selesai dan albumnya beredar, maka mulailah si penyanyi jadi sapi perahan sang produser. Dia harus manggung kesana-kemari, juga meneruskan rekaman untuk memenuhi target sekian album yang tercantum dalam kontrak. Hal serupa tidak terjadi pada penyanyi kita ini. Seluruh proses rekaman dilakukan atas biaya sendiri, dan sampai saat ini dia masih independen, tidak bernaung dibawah label tertentu. Praktis dia tidak didikte oleh siapa-siapa. Bagusnya lagi, ortunya juga berkomitmen untuk tidak menjadikan anaknya sebagai “tambang emas”. Mereka melihat anaknya punya bakat, dan bakat itu perlu disalurkan. Itu saja.

Biarpun pernah membintangi film yang cukup sukses tapi tawaran bermain sinetron selalu ditolak dengan KERAS. Pernah ada infotainment yang mewawancarai dia: “Koq nggak mau main sinetron?”. Jawabannya tegas, lugas, dan tanpa basa-basi: “Main sineton itu buang-buang waktu!”. Bagus juga, jadi dia tidak termakan oleh jerat yang dipasang oleh si “raja sinetron” itu (Namanya nggak berani saya sebut disini. Dia itu punya sepasukan tim pengacara khusus untuk membela kepentingannya lho!). Seorang (mantan) artis cilik seangkatan Sherina yang terjebak dalam dunia sinetron, barusan berakhir di pengadilan dengan buntut sanksi denda ratusan juta rupiah.

Tapi gara-gara omongannya yang suka kelewat ceplas-ceplos itu, tudingan semacam sombong dan sebagainya sering dialamatkan ke dia. Saya pikir tuduhan macam itu tidak terlalu salah, hanya saja perlu dilihat latar belakangnya. Dengan IQ 149, dia seperti punya pola pikir yang agak beda dengan anak seusianya. Wajar aja kalau ada orang yang mengajak bicara dengan asumsi dia masih anak-anak, akan terkaget-kaget. Apalagi dia itu tipe “chatterbox”, dan dulu rada hiperaktif (nggak tahu sekarang). Saya saja, yang IQ-nya tidak setinggi itu (walaupun dalam skala tertentu masih tergolong “lumayan”, hehehe), konon waktu kecil juga sering dianggap nyebelin (jangan-jangan sampai sekarang juga masih). So, ati-ati aja kalo dia udah mulai buka mulut. Tantowi Yahya aja kelabakan ;).

Karena sekarang bukan penyanyi cilik lagi, kemungkinan besar di albumnya yang berikut dia akan ditampilkan sebagai penyanyi remaja. Tapi soal materi lagu, kelihatannya masih ada tarik ulur. Maunya banyak pihak (termasuk juga saya sih), sebaiknya dia jangan nyanyiin lagu bertema cinta. Tapi pertimbangan “selera pasar” mungkin mengharuskan dia menyanyikan lagu dengan tema yang sangat-sangat-sangat saya benci itu *sigh*. Rencananya album barunya akan dilepas akhir tahun ini atau paling telat awal tahun depan. Elfa mungkin tidak lagi terlalu banyak terlibat. Sebaliknya Fariz RM, penyanyi kawakan yang notabene adalah pamannya sendiri akan lebih banyak berperan. Jadi, kita lihat sajalah …

Puisi Pesimis, Puisi Optimis

Posted in Art, Figure by Dhani on the March 18th, 2005

Berikut penggalan dari sebuah puisi:

Kita hampir paripurna menjadi bangsa porak-poranda, terbungkuk dibebani hutang dan merayap melata sengsara di dunia. Penganggur 40 juta orang, anak-anak tak bisa bersekolah 11 juta murid, pecandu narkoba 6 juta anak muda, pengungsi perang saudara 1 juta orang, VCD ****** (sensor! -red) beredar 20 juta keping, kriminalitas merebat di setiap tikungan jalan dan beban hutang di bahu 1600 trilyun rupiahnya.Pergelangan tangan dan kaki Indonesia diborgol di ruang tamu Kantor Pegadaian Jagat Raya, dan di punggung kita dicap sablon besar-besar Tahanan IMF dan Penunggak Bank Dunia. Kita sudah jadi bangsa kuli dan babu, menjual tenaga dengan upah paling murah sejagat raya.

Negeri kita tidak merdeka lagi, kita sudah jadi negeri jajahan kembali. Selamat datang dalam zaman kolonialisme baru, saudaraku. Dulu penjajah kita satu negara, kini penjajah multi-kolonialis banyak bangsa. Mereka berdasi sutra, ramah-tamah luarbiasa dan banyak senyumnya. Makin banyak kita meminjam uang, makin gembira karena leher kita makin mudah dipatahkannya.

Di negeri kita ini, prospek industri bagus sekali. Berbagai format perindustrian, sangat menjanjikan, begitu laporan penelitian. Nomor satu paling wahid, sangat tinggi dalam evaluasi, dari depannya penuh janji, adalah industri korupsi.

Bergerak ke kiri ketabrak copet, bergerak ke kanan kesenggol jambret, jalan di depan dikuasai maling, jalan di belakang penuh tukang peras, yang di atas tukang tindas. Untuk bisa bertahan berakal waras saja di Indonesia, sudah untung.

Lihatlah para maling itu kini mencuri secara berjamaah. Mereka bersaf-saf berdiri rapat, teratur berdisiplin dan betapa khusyu’. Begitu rapatnya mereka berdiri susah engkau menembusnya. Begitu sistematiknya prosedurnya tak mungkin engkau menyabotnya. Begitu khusyu’nya, engkau kira mereka beribadah. Kemudian kita bertanya, mungkinkah ada maling yang istiqamah?

Tangan kiri jamaah ini menandatangani disposisi MOU dan MUO (Mark Up Operation), tangan kanannya membuat yayasan beasiswa, asrama yatim piatu dan sekolahan.

Kaki kini jamaah ini mengais-ngais upeti ke sana ke mari, kaki kanannya bersedekah, pergi umrah dan naik haji.

Otak kirinya merancang prosentasi komisi dan pemotongan anggaran, otak kanannya berzakat harta, bertaubat nasuha dan memohon ampunan Tuhan.

Bagaimana caranya melawan maling begini yang mencuri secara berjamaah? Jamaahnya kukuh seperti diding keraton, tak mempan dihantam gempa dan banjir bandang, malahan mereka juru tafsir peraturan dan merancang undang-undang, penegak hukum sekaligus penggoyang hukum, berfungsi bergantian.

Sepintas, dilihat dari gayanya saja, kita akan tahu siapa pengarang bait-bait puisi diatas. Siapa lagi kalau bukan penyair kita, Taufiq Ismail! Puisi yang sebagian baris-barisnya saya kutip itu berjudul “Mungkin Sekali Saya Sendiri Juga Maling”. Bercerita tentang tema korupsi, tema yang mestinya sudah usang tapi terus diulang-ulang.

Pada 1998, di masa awal-awal krisis yang melanda Indonesia, penyair gaek ini meluncurkan kumpulan puisinya yang ia beri judul “Malu (aku) Jadi Orang Indonesia.” Judul ini cepat menjadi terkenal, dan bahkan menjadi semacam “pemeo” yang populer. Seperti juga karya seni lain yang bertema kritik sosial, puisi beliau menjadi semacam katarsis bagi rakyat negeri ini yang sedang setengah frustrasi didera cobaan yang seperti tidak berkesudahan, bahkan hingga sekarang.

Tapi entahlah; sejak itu, beliau kelihatan seperti “kecanduan” menulis puisi-puisi bertema keluh kesah. Tema-tema puisi Taufiq kini tidak jauh dari ratapan dan rintihan pilu gundah-gulana. Taufiq Ismail adalah salah satu dari sedikit penyair brilian yang kita miliki. Puisi beliau memang bagus dan berbobot. Ditulis dengan gaya prosa, pilihan katanya cerdas dan berisi. Tapi tema yang begitu-begitu saja membuat saya jadi letih membaca puisi-puisi beliau.

Negeri kita memang sedang mengalami persoalan berat. Memang betul, kita nyaris menjadi bangsa porak poranda. Kacau dari segala seginya. Tapi saya percaya bahwa kita masih punya harapan. Masih banyak orang yang sungguh-sungguh bekerja untuk bersama-sama mengeluarkan bangsa ini dari jurang keterpurukan. Anggaplah bangsa ini sedang dalam proses belajar. Sedang direbus didalam kawah Candradimuka untuk kemudian menjelma jadi Gatotkaca yang perkasa. Dibalik segala kegagalan dan kemalangan yang menimpa bangsa ini, pastilah terselip hikmah.

Tidak perlu kita terus meratap, mengasihani diri sendiri. Yang kita butuhkan saat ini adalah kerja keras disertai semangat dan optimisme. Kita tidak akan bangkit dari keterpurukan hanya dengan diam berpangku tangan sambil membaca puisi-puisi bertema pesimis penuh keluh kesah. Saya kira saya akan berhenti sebentar membaca puisi-puisi Taufiq Ismail, sampai satu saat beliau bisa muncul dengan puisi yang lebih optimis.

Nyepi

Posted in Life, Social by Dhani on the March 11th, 2005

Hari ini, umat Hindu di Bali melaksanakan ritual Nyepi. Ritual ini dilaksanakan pada setiap tahun baru Saka dengan menjalankan empat jenis pantangan, yaitu amati karya (tidak boleh bekerja), amati lelungan (tidak boleh bepergian keluar rumah), amati geni (tidak menyalakan api/lampu), dan amati lelanguan (tidak menikmati tontonan/hiburan). Keempat pantangan ini disebut sebagai catur brata penyepian. Saat itu, umat Hindu Bali menghabiskan waktu dengan bermeditasi, menyucikan diri, baik lahir maupun batin.

Berbeda dengan umat Hindu yang memang harus menjalankan ritual agamanya, bagi umat non-Hindu di Bali, Nyepi bisa berarti mati kutu :). Bagi mereka ini, Nyepi artinya menjadi “tahanan rumah”, karena praktis sepanjang hari harus tinggal dirumah, dan tidak diperkenankan pergi kemana-mana. Karena kebetulan pernah tinggal di Bali (bahkan sampai sekarang saya masih memegang KTP Bali), maka saya juga pernah merasakan sendiri bagaimana repotnya mengahadapi even tersebut.

Sehari sebelum hari-H, kita mesti mempersiapkan segala sesuatunya: belanja persediaan bahan makanan, camilan, beli buku bacaan, atau menyewa film untuk pembunuh waktu selama tidak ada yang bisa (boleh!) dikerjakan. Jangan sampai kehabisan gas atau minyak tanah untuk memasak saat Nyepi, karena dipastikan tidak akan ada toko yang buka. Tandon air harus diisi penuh-penuh, karena menghidupkan pompa air yang berisik di tengah suasana Nyepi yang sunyi sepi bisa mengundang kedatangan pecalang (hansip adat). Masih untung kalau pecalangnya baik, kita cuma ditegur, atau paling apes diteriaki. Tapi kalau kena yang galak, rumah kita bisa dilempari batu.

Bagi rumah yang sangat memerlukan penerangan (misalnya punya anak bayi atau ada orang sakit), maka ijin harus sudah diurus beberapa hari sebelum hari-H. Untuk umat beragama lain yang hendak melaksanakan ibadahnya, misalnya ke Mesjid saat Nyepi berlangsung di hari Jum’at, atau ke Gereja pada hari Minggu, ada dispensasi khusus. Tentu saja dalam peribadatan, tidak diperkenankan menggunakan pengeras suara. Masjid-masjid juga “libur” mengumandangkan adzan pada hari itu.

Sebenarnya, di lingkungan yang banyak dihuni pendatang (seperti di kompleks-kompleks perumahan), ritual nyepi ini bisa lebih fleksibel. Biarpun dari luar warung-warung atau kios keliatan tutup, tapi pemiliknya masih mau meladeni pembeli lewat jalan belakang. Asal saja kita perginya dengan jalan kaki (di lingkungan pendatang, para pecalang biasanya lebih toleran). Kalau mau pakai kendaraan ya resiko tanggung sendiri. Tapi di lingkungan desa adat yang masih teguh memegang tradisi, ritual nyepi betul-betul ditaati. Jadi, sial betul bagi para pendatang yang kebetulan tinggal disitu (kebetulan saya termasuk dalam kelompok yang ini).

Yang lebih seru justeru saat malam hari. Karena tidak boleh menyalakan api/lampu, maka itu artinya tidak boleh ada setitik cahayapun yang boleh keliatan memancar dari dalam rumah. Nonton TV saja akan jadi kerjaan yang ribet. Lubang angin dan ventilasi harus ditutup rapat-rapat supaya cahaya yang memancar dari layar TV tidak sampai kelihatan dari luar. Celakanya, dalam situasi yang demikian gelap gulita, cahaya yang sedikit saja sudah mampu membuat ruangan jadi terang benderang. Mata jadi sakit karena memelototi layar TV dibawah penerangan yang minim. Volume juga harus dikecilin abis-abisan, karena kalau sedikit saja kedengaran dari luar, bisa gawat.

Tapi, nyepi terkadang juga membawa “berkah” tersendiri juga, khususnya bagi orang kayak saya yang tergila-gila dengan bintang :). Kalau langit lagi cerah, cahaya yang sangat minim, ditambah udara yang bersih karena bebas asap dan polusi (untuk hari itu saja!) membuat situasi jadi ideal banget untuk mengadakan observasi. Jarang terjadi kita bisa melihat sedemikian banyak bintang di langit seperti saat ritual Nyepi berlangsung. Kalau betah berlama-lama memelototi langit, kita pasti bisa melihat beberapa meteor melintas. Objek-objek yang terlampau redup untuk bisa diamati dibawah cahaya lampu perkotaan, sekarang bisa leluasa diintip. Kenampakan, atau “seing” dalam istilah astronominya, di Bali saat Nyepi mungkin lebih bagus daripada di Lembang (lokasi peneropongan bintang satu-satunya di negeri ini) pada hari-hari biasa. Sayangnya, karena hari raya Nyepi biasa jatuh di sekitar bulan Maret yang merupakan musim penghujan, jadi peluangnya fifty-fifty untuk mendapati langit bersih. Kalau kebetulan mendung, ya semoga saja tahun depan lebih beruntung :).