Screenshot

Desktop KDE dari Linux Mandrake 9.2 di komputer saya. Program yang sedang dijalankan adalah KStars (simulasi pergerakan benda-benda langit) dengan latar belakang software Xmms (yang sedang memutar sederetan MP3 dari “The Vienna Boys Choir”), sementara window dari OpenOffice.org yang sedang mengolah dokumen sedang dalam kondisi minimized.

Tampilan desktop Windows di komputer yang sama, sedang mengerjakan pengolahan tabel database MySQL (dengan MySQL-Front 2.2). Di latar belakang adalah tampilan dari server MySQL admin v1.4.Oh iya. Komputer ini adalah komputer yang biasa saya pakai untuk mengetik posting-posting di blog saya. Saya beri nama komputer ini “Hypatia”, diambil dari nama seorang ilmuwan wanita, ahli matematika, astronom, fisikawan, dan kepala mazhab filsafat neoplatonis yang pernah hidup pada abad ke-3 Masehi. Dia tercatat sebagai ilmuwan terakhir yang bekerja di perpustakaan Alexandria (Iskandariah) sebelum perpustakaan itu dihancurkan oleh kaum fanatik Kristen. Kapan-kapan saya ingin bercerita lebih banyak tentang sosok yang satu ini.
Obat atau Racun?
Kalau sedang belanja sayuran, entah di supermarket atau pasar tradisional, sayuran dengan kondisi macam apa yang bakalan kita pilih? Kebanyakan dari kita cenderung memilih sayuran yang ranum dan mulus serta sedapat mungkin menghindari sayuran yang ‘kerowok’ bekas dimakan ulat. Padahal, dari segi keamanannya, sayuran yang ‘rusak’ itulah yang lebih aman untuk dikonsumsi. Kenapa?
Sekarang ini penggunaan insektisida dalam industri perkebunan sudah semakin menggila. Ambang racun yang kita minum dan makan sudah sering terlampaui. Kalau Anda melihat sayuran yang mulus dan tanpa cacat, percayalah, sayuran itu mungkin mengandung racun dalam kadar yang na’udzubillah. Kita jadi dihadapkan pada pihan yang dilematis antara sayuran yang ada ulatnya tapi sehat atau yang ‘cantik’ tapi beracun. Kalau saya pribadi sih, lebih memilih sayuran yang ada ulat-nya karena itulah yang kurang tercemari pestisida dan karenanya lebih aman dikonsumsi. Logikanya, kalau ulat saja masih bisa hidup, apalagi manusia.
Di malam hari, karena tidak tahan menghadapi serbuan nyamuk, maka kita biasa memakai “obat nyamuk”. Padahal, pernahkah kita memikirkan efeknya terhadap kesehatan? Perlu diingat bahwa istilah “obat” bagi antinyamuk itu sudah menyesatkan. istilah obat biasanya berkonotasi zat yang memiliki efek menyembuhkan. Padahal, dalam kasus antinyamuk, apa yang kita sebut “obat” itu pada dasarnya adalah racun yang memiliki efek membunuh! Kita jadi lupa kalau pembasmi nyamuk itu sebenarnya adalah turunan insektisida (pembunuh serangga) juga. Jadi jangan ditanya lagi efeknya terhadap kesehatan.
Asal tahu saja, berbagai jenis pembasmi nyamuk yang beredar di Indonesia saat ini mengandung zat-zat berbahaya yang dapat meracuni syaraf (neurotoksik), merusak sistem hormon (endocrine disrupter), menyebabkan kanker (karsinogen) dan berbagai jenis gangguan kesehatan lainnya. Celakanya, sering terjadi, gangguan kesehatan yang disebabkan antinyamuk ini tidak terasa seketika, namun baru muncul bertahun-tahun bahkan puluhan tahun kemudian. Akibatnya sulit sekali menuduh pemakaian antinyamuk ini sebagai biang keladi berbagai gangguan kesehatan yang diderita oleh orang-orang yang semasa kecilnya banyak teracuni oleh antinyamuk.
Tapi karena di daerah tropis seperti Indonesia, kita tidak mungkin menghindari penggunaan antinyamuk, maka yang paling bijaksana adalah menggunakan antinyamuk seperlunya saja dengan cara seaman mungkin. Untuk obat nyamuk semprot, pilih obat nyamuk yang daya racunnya lebih rendah (jangan terkecoh dengan obat nyamuk yang diiklankan sebagai “membunuh lebih cepat” atau yang sejenisnya, karena pasti daya racunnya juga lebih kuat). Perhatikan juga bahan aktifnya. Zat-zat insektisida turunan piretroid (antara lain pyrethrine, deltamethrine, esbiothrine dsb.) mempunyai daya racun yang lebih rendah dibandingkan dengan propoxur, dichlorvos dan chlorpyrifos. Sebagai informasi, ketiga bahan yang disebut terakhir ini sudah dilarang di beberapa negara untuk digunakan pada antinyamuk, baik di dalam maupun dilingkungan rumah tangga karena sangat berbahaya terutama bagi anak-anak. Banyak ahli memperkirakan pengaruh buruk bahan-bahan ini tidak hilang dan terus menetap pada tubuh sampai anak tersebut dewasa.
Yang jelas, tidak ada insektisida yang tidak mengandung risiko bahaya bagi manusia. Seandainya kita tahu persis resiko pemakaiannya, mungkin kita akan memilih menahan rasa gatal dan badan bentol-bentol digigit nyamuk ketimbang menanggung resiko gangguan kesehatan karena efek racun yang sangat berbahaya dari antinyamuk. Bahkan sekiranya tidak ada penyakit yang ditularkan oleh nyamuk, barangkali lebih baik semua jenis antinyamuk dilarang beredar saja sekalian.
Ikhtiar
Pernah mendapat oleh-oleh barang elektronik dari Jepang? Atau mungkin memperoleh barang elektronik bekas atau selundupan dari negeri sakura itu? Perhatikan bahwa barang-barang elektronik itu dibuat untuk tegangan 110 volt, jadi untuk menyesuaikan dengan tegangan PLN yang biasanya menggunakan 220 volt, diperlukan perangkat konverter khusus supaya alatnya tidak rusak.
Kenapa Jepang yang dikenal sebagai negara maju memilih untuk menggunakan tegangan 110 ketimbang 220 volt? Ini rahasianya: Tegangan 110 volt lebih aman ketimbang 220 volt. Sengatan listrik dengan tegangan 110 volt memang punya efek kejut tetapi tidak sampai mematikan. Sebaliknya, tersengat listrik bertegangan 220 volt akibatnya bisa fatal. Karena Jepang rentan terhadap gempa bumi, maka tegangan 110 volt dipilih untuk meminimalisir korban jiwa akibat sengatan listrik seandainya bencana itu terjadi. Sebaliknya, kita di Indonesia memilih tegangan 220 volt karena alasan efisiensi, karena aliran listrik dapat ditransmisikan dalam jarak yang lebih jauh dengan hanya sedikit daya yang terbuang.
Kita di Indonesia mestinya juga belajar dari “saudara tua” kita ini, tidak cuma soal manajemen pasca-bencana, tetapi juga persiapan dalam menghadapi bencana. Baik Indonesia maupun Jepang sama-sama rentan bencana alam gempa Bumi atau tsunami (bahkan istilah “tsunami” yang mendunia itu juga sebenarnya berasal dari bahasa Jepang). Bedanya, Jepang sudah mempersiapkan seluruh infrastruktur dengan memperhitungkan faktor resiko seandainya bencana benar-benar menyerang, sedangkan kita, boro-boro mempersiapkan segala sesuatunya, sudah terkena bencana sekalipun juga masih gelagapan.
Sebenarnya, secara tradisional masyarakat kita juga telah terbiasa dengan persiapan menghadapi gempa Bumi. Konstruksi bangunan khas Bali (yang juga daerah rawan gempa) misalnya, cukup memenuhi syarat sebagai bangunan tahan gempa. Disamping itu, aware masyarakat Bali soal gempa bumi juga cukup tinggi, sehingga bangunan-bangunan yang berdiri disana umumnya memiliki konstruksi yang cukup baik. Rumah tinggal di Bali umumnya dibangun dengan bahan batako yang diapit oleh kerangka beton bertulang. Ini membuatnya cukup elastis untuk meredam goncangan akibat gempa. Karenanya, walaupun “rutin” dilanda gempa yang relatif kuat, korban jiwa biasanya bisa diminimalisir. Tahun 2004 lalu, Bali juga sempat dihajar gempa berkekuatan sekitar 5.5 skala Richter, dan korban jiwa yang jatuh cuma satu orang. Itupun bukan karena tertimpa reruntuhan bangunan, melainkan karena jatuh dari tangga saat berusaha menyelamatkan diri.
Upaya-upaya semacam itulah yang disebut ikhtiar. Setelah melakukan segala upaya pencegahan yang mungkin, barulah kita bisa berserah diri kepada Yang Diatas. Kalau di posting-posting sebelumnya saya suka menyentil pemahaman soal agama, bukan berarti saya tidak religius. Saya orang beragama dan percaya Tuhan. Tetapi, antara “pasrah” (terhadap kehendak Yang Kuasa) dengan “apatis”, itu batasnya kadang-kadang tipis sekali. Sering terjadi kita melupakan ikhtiar dengan berlindung dibalik jargon-jargon keagamaan (misalnya dengan mengatakan bahwa Tuhan sedang menurunkan entah cobaan atau hukuman). Masih ingat dengan kisah Membeli Kupon Lotre dari de Mello? Jadi, bukan ajarannya yang salah, tapi interpretasi kita itulah yang keliru. Jangan keburu “menyalahkan” Tuhan setiap kali mendapat musibah. Ikhtiar dong!
Simplifikasi
Segera setelah bumi Aceh rata dengan tangah dihajar gempa dan tsunami, para ulama, mubaligh, da’i, dan sejawatnya mulai mengumbar “sabda”: Sesungguhnya musibah ini adalah hukuman dari Allah untuk masyarakat Aceh. Mereka banyak menumpuk dosa, bermaksiat serta menjauhi Syari’atNya. “sabda” itu mereka tuangkan lewat buletin maupun khutbah Jum’at sampai dengan kolom religius di surat kabar. Entah dosa apa yang dimaksud dan apakah orang dari daerah lain yang lebih “bejat” dipandang sudah cukup menjalankan syari’at agamanya.
Inilah salah satu bentuk simplifikasi (penyederhanaan) yang keterlaluan. Orang yang sudah kehilangan segala-galanya: keluarga, harta benda, rumah tempat berteduh, masih pula disalah-salahkan. Bayangkan! Ini namanya blaming the victim (menyalahkan si korban). Siapapun pasti akan marah apabila disalahkan dalam kondisi tertimpa kemalangan seperti itu. Dalam skala yang jauh lebih kecil, bagaimana perasaan kita apabila teman yang kita ajak “curhat” setelah ditimpa kemalangan (katakanlah kecopetan) malahan balik menyalahkan, “Salah kamu sendiri, tidak berhati hati. Seharusnya kamu … bla … bla ..bla.” Coba, siapa yang tidak bakalan naik darah?
Ada lagi yang “berfatwa” bahwa Allah sedang menunjukkan kekuasaanNya dan kita hendaknya bertafakur merenungi kemaha-kuasaanNya sekaligus menyadari betapa kecil dan tidak berdayanya kita sebagai mahluk ciptaanNya. Apa pula lagi ini? Sepintas ungkapan ini terasa menyejukkan, tapi sebenarnya cuma simplifikasi model lain. Pada saat saya sedang menulis tentang sains, entah fisika atau astronomi, saya sebenarnya sedang mengajak untuk bertafakur. Tapi sekarang bukan waktunya untuk bertafakur! Bertafakur pada saat sekarang ini sama saja dengan menenggak obat bius. Melarikan diri dari kenyataan dengan masuk ke alam spiritual.
Secara jujur harus saya ungkapkan, saya tidak terlalu suka memandang bencana Aceh dari sisi religius. Dalam skala musibah yang sedemikian besar, dari Aceh (mayoritas Islam) hingga India (Hindu) dan Thailand (Budha ditambah korban wisatawan Eropa yang kebanyakan beragama Nasrani), maka persoalan Tuhannya siapa yang sedang murka dan masyarakat mana yang paling berdosa rasanya tidak pantas untuk diomongkan secara terbuka.
Saya cenderung memandang peristiwa ini sebagai pelajaran. Bagaimana negara dengan posisi rawan seperti Indonesia, terbentang di tengah pertemuan lempeng-lempeng benua, dipenuhi gunung berapi dan dikelilingi lautan berombak ganas, ternyata tidak punya manajemen penanganan bencana yang memadai. Bagaimana pemerintah baru terkaget-kaget menyadari pentignya sistem peringatan dini untuk tsunami setelah bencana itu terjadi (padahal tsunami dalam skala yang sama belum tentu akan terjadi dalam seabad mendatang sehingga sistem peringatan dini yang akan dipasang kemungkinan tidak terlalu bermanfaat). Bagi saya, itulah “hikmah” yang bisa dipetik dari musibah ini.
Rakyat Aceh sekarang sudah cukup menderita. Mereka tidak membutuhkan nasihat atau ceramah, apalagi dipersalahkan atas apa yang sekarang mereka alami. Kasarnya, mereka sekarang tidak butuh santapan rohani; mereka perlu santapan jasmani (kalau tidak percaya, coba saja suruh para ulama itu untuk mengulang “fatwa” mereka di kamp pengungsian. Tapi habis itu cepat-cepatlah amankan dia sebelum dibunuh oleh massa). Dalam kondisi seperti ini, alangkah baiknya bagi para ulama semacam ini untuk mempraktekkan sabda Rasulullah yang sering mereka kutip: Kalau masih beriman kepada Allah atau hari akhir, hendaknya berbicaralah yang baik-baik saja atau (kalau tidak bisa berbicara yang baik) DIAMLAH!
Sabili dan Tsunami
Melihat mayat-mayat yang bergelimpangan dan kerusakan yang sedemikian parah yang terjadi di Aceh akibat gempa dan tsunami pekan lalu, maka hati siapakah yang tidak akan terketuk? Sudah sepantasnya ungkapan duka cita yang tulus kita haturkan bagi para korban maupun keluarga yang ditinggalkan, tidak peduli apapun latar belakang mereka, baik agama, suku, maupun kebangsaan.
Tapi rupanya ada saja pihak berhati batu yang punya pandangan berbeda. Saya sempat naik darah saat membaca pengantar untuk majalah Sabili — sebuah majalah “Islami” yang cenderung radikal — terbitan terbaru. Dengan “enteng” sang redaksi majalah sialan itu menggolongkan para korban peristiwa itu secara sederhana: bagi mereka yang beriman, itu adalah ujian, bahkan Allah berkenan memanggil hambaNya yang bertaqwa agar cepat meninggalkan dunia fana ini tanpa menumpuk lebih banyak dosa. Mereka dianggap sebagai syuhada yang siap ditempatkan di di surga. Sementara itu, bagi mereka yang tidak beriman, itu adalah azab. Mereka meninggal dalam keadaan kafir dan siap dicemplungkan kedalam neraka. Belum lagi penggambaran terhadap korban di Thialand yang cenderung sinis — mungkin karena sebagian besar adalah wisatawan Eropa.
Terlepas dari pemahaman keagamaan semacam itu, bisakah redaksi majalah itu menulis dengan nada yang lebih hormat kepada para korban, tanpa vonis tentang sesuatu yang menjadi hak prerogratif dari Dia yang Maha Pengasih? Diluar segala pemahaman sempit keagamaan itu, peristiwa bencana semacam itu adalah sesuatu yang alamiah. Sebuah sunatullah yang cepat atau lambat pasti akan terjadi. Dari informasi ilmiah di media, kita sudah tahu bahwa ada lempeng-lempeng tektonik yang bergerak, saling bertumbukan, sehingga menimbulkan gelombang kejut yang kita sebut gempa. Dengan sebuah mekanisme alami, ini menimbulkan gelombang pasang laut yang kemudian kita sebut tsunami. Sealamiah dan sewajar setiap peristiwa yang terjadi di sekitar kita. Dan firman Allah: Wa lan tajida lisunnatillahi tabdila (dan sekali-kali tidak akan kamu jumpai perubahan pada sunnatullah). Entah penduduk sekitar beriman atau tidak, Allah tidak akan menghentikan gerak lempeng benua, atau memindahkannya dari daerah Aceh. Itu bertentangan dengan sunatullah.
Ketika media lain ramai-ramai mengcover bencana Aceh dengan nada penuh empati dan simpati, Sabili justeru hanya menulisnya sekilas lewat editorial yang menusuk perasaan mereka yang berakal sehat. Selanjutnya, majalah ini lebih banyak mengekspos profil seorang pejabat negara, seolah-olah terbitan kali ini memang merupakan edisi khusus untuknya. Mungkin bagi pengelola majalah ini, si pejabat seorang dianggap lebih penting ketimbang ratusan ribu korban tsunami. Saya masih ingat, beberapa waktu lalu majalah ini juga gencar mengajak pembacanya berjihad di Fallujah, namun dalam edisi kali ini, sama sekali tidak ada himbauan untuk menjadi sukarelawan ke Aceh (Ngomong-ngomong, kemana perginya organisasi-organisasi Islam radikal macam FPI, MMI, dsb itu? Ikutkah mereka berjihad ke Aceh? Atau jangan-jangan mereka beranggapan kalau jihad itu cuma berarti memanggul senjata saja?)
Pendeknya, inilah profil majalah yang katanya Islami. Inilah profil orang-orang berpikiran pendek lagi sempit. Inilah cermin media yang tidak menginjak bumi, pemimpi dan pengkhayal. Inilah dia … Sabili.
PS: Maaf sekiranya posting kali ini terasa agak kasar. Saya tidak merasa perlu menenggang rasa kepada mereka yang memang pada dasarnya tidak punya perasaan.