Duka Untuk Aceh
Inna lillaahi wa inna ilaihi roji’uun. Saat ini saudara-saudara kita di Aceh dan Sumatera Utara sedang tertimpa musibah yang maha berat. Hantaman gempa bumi dan tsunami telah meghilangkan demikian banyak nyawa manusia. Ribuan orang kehilangan keluarga dan orang-orang tercinta. Duka Aceh adalah duka kita juga. Mari kita ikut peduli, ringankan beban mereka. Salurkan bantuan Anda untuk korban bencana melalui rekening-rekening berikut:
- Bulan Sabit Merah Indonesia
Bank Syariah Mandiri Jatinegara a/c 0660000885 - Pos Keadilan Peduli Ummat
BMI Sudirman a/c 301.00354.15 - Kantor Pusat Palang Merah Indonesia
BCA Menara Bidakara a/c 450.666.0009 - MetroTV
BCA a/c 309.300.7979 - Indosiar
BCA a/c 001.304.0009 - RCTI
BCA a/c 128.300.7000
Sentra Informasi Online:
Indonesia Help - Earthquake and Tsunami Victims
Aceh IT - Media Center
Kosmos
Berbicara soal buku ilmu pengetahuan, yang muncul di benak kita biasanya adalah buku yang penuh dengan istilah-istilah teknis yang membingungkan, persamaan matematika yang rumit, dan ditulis dengan bahasa yang “kering”. Kosmos (Cosmos), buku yang kita ulas kali ini adalah sebuah perkecualian.
Buku ini ditulis oleh Carl Sagan, seorang profesor ilmu astronomi pada universitas Cornell. Dia dikenal sebagai salah satu dari sedikit peneliti yang aktif sebagai pengabar perkembangan hasil mutakhir ilmu pengetahuan kepada publik. Dia mempunyai gairah dan kemampuan besar sebagai pengejawantah penemuan baru agar masyarakat luas juga menaruh minat dan turut merasa memilikinya. Dengan usaha-usaha Sagan, astronomi tidak hanya menjadi milik kelompok ilmuwan dalam laboratorium, dan pustaka kesarjanaan, namun juga menjadi milik bersama masyarakat banyak dari berbagai disiplin kehidupan.
Buku ini bukanlah terbitan baru. Kita mungkin sudah sulit menemukannya di toko buku sekarang ini. Edisi bahasa Inggris dari buku ini telah terbit sejak tahun 1980, namun baru pada tahun 1997 publik Indonesia bisa menikmati terjemahannya, saat buku ini diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia atas bantuan dana dari USAID. Beruntung buku ini diterjemahkan oleh tangan yang tepat. Para penerjemahnya, Bambang Hidayat, Djuhana Widjajakusumah, dan S. Maimoen adalah staf akademik di jurusan Astronomi ITB sekaligus peneliti di Observatorium Bosscha di Lembang. Sebagai catatan, edisi bahasa Inggris dari buku ini sempat menempati daftar best-seller selama 70 minggu berturut-turut di harian The New York Times sementara di Inggris buku ini memegang rekor sebagai buku ilmu pengetahuan terlaris yang pernah diterbitkan disana.
Kosmos sebenarnya merupakan buku penyerta dari sebuah program dokumenter televisi dengan judul yang sama yang diproduksi oleh stasiun TV KCET di Los Angeles. Program itu berupa sebuah serial sepanjang 13 episode yang berorientasi astronomi namun dalam perspektif manusia yang sangat luas dengan sasaran masyarakat umum (saya ingat TVRI pernah menayangkannya sekitar tahun 1980-an, saat saya masih SD). Sebagaimana pada program TV, buku ini juga terdiri dari 13 bab. Setiap episode dalam serial TV mengikuti urutan bab dalam buku ini. Sagan memberi judul yang puitis untuk tiap babnya, seperti Pantai-Pantai Lautan Kosmik, Nada Biru bagi Planet Merah, Tulang Punggung Malam, hingga Tepian Keabadian.
Tema sentral kosmos adalah astronomik, tetapi paparannya mengkait dengan hampir semua cabang keilmuan, mulai dari jasad renik biologi, fisika, sampai kepada biokimia, mikrobiologi, hingga evolusi etnik. Dalam buku ini, Sagan mengajak kita melintasi banyak perbatasan ilmu pengetahuan, melintasi tali temali penghubung bebrapa subjek yang pada pandangan pertama nampak terpisah satu sama lain. Dari tiap wilayah disiplin ilmu itu kita memperoleh titik-titik cerah yang menuntun kita menikmati penemuan sektoral yang apabila digabungkan membentuk wawasan global tentang kedudukan kita di alam semesta.
Buku ini membawa kita mengembara mengarungi luasnya samudera kosmik. Mulai dari planet Bumi kita yang mungil, hingga bintang dan galaksi yang tak terkira jauhnya. Bumi kita sangat kecil, dan permukaannya dapat kita anggap sebagai pantai samudera kosmos — darimana pengembaraan kita berawal. Pengembaraan fisik ke kosmos, dengan pesawat antariksa sekalipun, kalau diibaratkan dengan pemain di pantai, sebenarnya tidak ubahnya sebagai orang yang mencelupkan kakinya dalam air. Dia baru sempat membasahi tumit. Tetapi pengembaraan lewat ilmu pengetahuan dan alam pikiran sudah jauh menyuruk kedalam palung samudera kosmos dan mengungkap kejadian fisik masa lalu.
Ada sesuatu yang menarik sekaligus menyentuh yang saya temui dalam buku ini. Di penghujung bukunya, Sagan menulis sebaris kalimat berikut:
“… banyak misi penting yang sangat layak yang belum pernah dilakukan karena kekurangan dana — termasuk kendaraan penjelajah yang bergerak kian kemari di permukaan planet Mars, pertemuan dengan Komet, pesawat untuk masuk ke Titan (salah satu bulan Saturnus, -red), dan pencarian sinyal radio dari peradaban lain di angkasa yang berlangsung dalam skala besar.”
Kini, di tahun 2004, hampir seperempat abad setelah Sagan menuliskan kalimat itu, angan-angan tersebut telah terpenuhi. Sejak awal tahun ini, wahana Spirit dan Opportunity telah bergerak di kawah Gusev dan dataran Meridiani Planum di permukaan Mars. Di tahun ini juga, Wahana Stardust (AS) telah dikirimkan untuk mengambil sampel partikel dari komet Wild 2 dan mengembalikannya ke bumi kelak pada Januari 2006, sementara wahana Rosetta (Eropa) diarahkan untuk bertemu komet 67P/Churyumov-Gerasimenko. Di akhir bulan Desember ini, wahana pendarat Huygens yang dibawa oleh orbiter Cassini akan dilepaskan menuju permukaan Titan. Pencarian sinyal mahluk luar angkasa skala besar telah terwujud melalui proyek SETI@home. Proyek ini melibatkan setengah juta komputer yang tersebar di seluruh dunia yang saling berbagi sumber daya lewat jaringan terdistribusi (distributed network) dengan internet sebagai tulang-punggungnya. Sayang, Sagan tidak sempat menyaksikan semua kemajuan itu. Serangan kanker telah memungkasi hidupnya pada 20 Desember 1996 — setahun sebelum terjemahan karyanya dalam bahasa Indonesia diterbitkan.
Buku ini pada dasarnya adalah buku ilmu pengetahuan, tetapi ditulis dengan gaya bahasa yang khas. Sekali lagi kita melihat bahwa ilmu pengetahuan dapat dan harus menjadi santapan nikmat masyarakat luas. Kompleksitas ilmu pengetahuan harus dapat diurai dengan kekayaan bahasa wacana. Buku ini tidak hanya berguna untuk memperluas cakrawala kita, tetapi juga mengajarkan untuk menghayati dan mencintai penemuan ilmiah. Aspek pendidikan yang kita peroleh dari kosmos adalah ungkapan ilmiah yang terhimpun dalam skala kuantitatif dan pandangan kualitatif yang dipadu dengan logika. Penemuan alami di sekitar kita tampaknya sukar dimengerti, tetapi dapat dipahami dengan kemauan, logika, dan ketajaman visi.
CATATAN:
Bagian ini saya tambahkan keesokan hari setelah tulisan ini saya publish. Semalam saya membuka-buka buku ini (yang sebenarnya sudah agak lama tidak saya sentuh), dan mendadak merasakan dorongan yang sangat kuat untuk membuatkan ulasannya disini. Untuk itu, saya bergadang mengetik hingga hampir pukul dua dini hari. Saya sempat browsing sebentar untuk memperoleh tanggal kematian Carl Sagan guna melengkapi resensi ini. Baru saja saya menyadari bahwa hari ini tepat delapan tahun berpulangnya beliau. Suatu kebetulan? Entahlah …
