Bianglala


Alor

Posted in Life by Dhani on the November 16th, 2004

Suatu saat di pertengahan 2002. Setelah menempuh pelayaran yang menegangkan selama 17 jam, mengarungi selat berombak ganas dengan sebuah kapal feri bobrok dari kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, akhirnya saya tiba dengan selamat di pulau terpencil ini. Alor, nama pulau yang kali ini saya singgahi. Letaknya di peta kira-kira di sebelah utara pulau Timor, lebih dekat ke wilayah Timor Leste ketimbang wilayah Indonesia sendiri.

Segera saya diantarkan ke sebuah kota kecamatan kecil, Moru namanya. Secara geografis, Moru sebenarnya tidak seberapa jauh dari Kalabahi, ibukota kabupaten sekaligus pulau ini. Tapi, sebuah teluk yang lebar memisahkan kedua kota ini. Orang bisa memilih antara naik kendaraan darat selama berjam-jam melintasi jalan yang sebagian besar tidak beraspal, atau bersampan selama beberapa puluh menit melintasi teluk, dari Moru menuju Kalabahi, atau sebaliknya.

Sampai kini, saya masih terbayang air laut di teluk yang bening dan tenang laksana kolam (kita bahkan bisa melihat dasar laut dengan jelas dari atas sampan), pasir pantainya yang putih, dan juga sepinya suasana disana. Kalau saja pantai ini ada di Bali, pastilah menjadi incaran para wisatawan yang ingin lari sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan di kota besar.

Saya coba berkeliling ke pasar, membeli beberapa ikat ikan segar. Ikan memang jualan utama di pasar tradisional di Moru karena sebagian besar penduduknya punya mata pencaharian sebagai nelayan. Udang lobster yang di kota-kota besar menjadi hidangan mewah di restoran makanan laut (sea food), disini layaknya hidangan sehari-hari saja. Tapi jangan coba-coba membayar dengan uang pecahan besar. Untuk pecahan Rp. 20.000 saja, mereka sudah kebingungan mencarikan uang kembalian. Roda ekonomi terasa berputar sangat lambat di kota kecil di pulau terpencil ini.

Alor dulu pernah dikenal sebgai pulau penghasil kelapa. Namun kini yang tersisa disana hanyalah batang-batang kelapa dengan sisa-sisa daun yang meranggas. Entah serangan hama atau penyakit tanaman telah nyaris memusnahkan tanaman kelapa dari pulau ini. Buah-buahan, terutama pisang, kelihatannya berlimpah. Setiap rumah punya pohon pisang yang apabila berbuah, buahnya sering terbuang begitu saja karena tidak ada yang berminat mengkonsumsi (mungkin semuanya sudah pada bosan makan pisang). Sempat terlintas di benak saya, seandainya pisang-pisang itu diolah menjadi penganan, keripik misalnya, lantas dijual ke luar pulau, tentu akan menjadi sumber penghasilan yang lumayan. Entah hal ini pernah terpikirkan oleh penduduk di sana, atau ada kendala lain sehingga pisang-pisang itu terbuang sia-sia, saya juga kurang tahu. Satu-satunya komoditas andalan pulau ini adalah kenari (chesnut). Pohon-pohon kenari banyak tumbuh di Alor, membuatnya juga dijuluki sebagai “Pulau Kenari”.

Hanya sekitar seminggu saya meluangkan waktu di pulau Alor. Saya kembali ke Kupang dengan menumpang kapal penumpang KM Sirimau milik PELNI. Sebenarnya tersedia juga penerbangan perintis yang tiap hari melayani rute Kupang-Alor PP menggunakan pesawat Merpati jenis Twin Otter, tapi tidak saya manfaatkan untuk menghemat ongkos. Inilah kapal penumpang yang paling teratur yang pernah saya tumpangi (sebelumnya saya pernah ‘mencicipi’ berlayar dengan KM Dobonsolo dan KM Kelimutu). Suasana kapal bersih dan teratur. Tiap penumpang dijamin dapat tempat tidur di dek, dan tidak ada penumpang yang ‘keleleran’ di lorong-lorong kapal sebagaimana kapal penumpang lain di Indonesia. Sesaat sebelum berangkat, nakhoda memimpin do’a memohon keselamatan. Sesuatu yang tidak pernah saya jumpai di kapal lain.

Dari kupang, saya lanjutkan dengan penerbangan ke Denpasar. Beberapa waktu kemudian, saya terserang demam hebat. Semula baik saya maupun dokter saya mengira itu gejala malaria, ‘oleh-oleh’ dari Alor. Maklum, iklim disana yang panas dan lembab sangat ‘kondusif’ untuk berbiaknya nyamuk Malaria. Setelah kondisi saya hampir kritis, barulah dokter menyadari penyakit yang sebenarnya: demam berdarah. Itupun kemungkinan bukan didapat dari Alor, melainkan dari Bali. Mungkin kondisi saya yang kurang fit telah memuluskan jalan bagi virus jahanam itu untuk bersarang di tubuh saya. Walhasil saya harus rawat inap 5 hari di RS.

Menjelang lebaran kemarin, datang kabar duka. Pulau Alor dihantam gempa besar. Puluhan orang tewas dan ratusan gedung rusak parah. Gempa memang bukan barang baru bagi pulau Alor. Sebelumnya pulau ini juga pernah berkali-kali diguncang gempa dahsyat (yang terakhir terjadi sekitar 12 tahun lalu). Entah bagaimana kondisi Alor saat ini. Saya cuma bisa berdo’a bagi sanak kerabat yang ada disana, semoga mereka dikaruniai ketabahan dalam menghadapi musibah ini. Tapi diam-diam, mengingat kunjungan saya dua tahun lalu, mendadak muncul rasa kangen untuk kembali kesana. Ada yang mau menemani?

Amazing Facts

Posted in Science by Dhani on the November 11th, 2004

Sebesar apa harga diri Anda? Sebelum pertanyaan ini diartikan macam-macam, saya ingin menekankan bahwa kata “harga” disini harus dibaca dan dimaknai secara literal, harafiah.

Sepintas, “harga diri” kita kelihatannya tidak seberapa. Kita semua tersusun atas atom yang membentuk unsur, dan kemudian molekul. Rata-rata molekul yang menyusun tubuh kita boleh dibilang tidak cukup berharga. Sebagian besar tubuh kita terdiri dari air yang nyaris tidak ada harganya; kandungan karbon di tubuh kita bisa dihargai dalam bentuk batubara; kalsium dalam tulang kita sebagai kapur tulis; nitrogen dalam protein kita sebagai udara (yang ini gratis malahan); sementara besi dalam darah kita senilai dengan sebuah paku karatan.

Harold Morowitz, Seorang ahli Biofisika, dalam bukunya The Wine of Life (New York: St. Martin’s, 1979) telah menghitung biaya yang dibutuhkan untuk menggabungkan dengan tepat unsur-unsur pokok molekuler yang membangun manusia dengan membeli molekul dari toko pemasok bahan kimia. Hasilnya? Kita boleh berbangga karena “harga diri” kita ternyata lumayan tinggi: sekitar 10 juta dolar!

Tapi tentunya kita tidak bisa berharap untuk mencampurkan molekul-molekul itu di laboratorium, dan kemudian tahu-tahu mendapatkan sesosok manusia muncul dari dalam tabung reaksi. Itu jauh diluar jangkauan kemampuan kita, sekarang maupun (mungkin) jauh di masa datang.

Kalau fakta diatas masih belum cukup menakjubkan, cobalah yang berikut ini: Berdirilah di depan cermin, perhatikan tubuh Anda, lantas coba bandingkan dengan foto Anda, sekitar 10 tahun yang lalu. Ada yang berubah?

Jawabannya: semua sudah berubah! Tidak ada satupun diantara sel-sel yang menyusun tubuh kita yang dapat hidup lebih dari 8 tahun. Dengan kata lain, seluruh sel yang menyusun tubuh kita 10 tahun lalu, kini sudah mati atau mengalami regenerasi. Segalanya yang Anda lihat di foto Anda 10 tahun lalu itu sebenarnya sekarang telah musnah. Anda yang sekarang adalah “sesuatu” yang sama sekali berbeda dengan Anda pada sepuluh tahun yang lalu.

Alam memang menyimpan banyak keajaiban.