Bianglala


Sejarah

Posted in Social by Dhani on the September 19th, 2004

Pada selang waktu di antara Revolusi Amerika Serikat dengan Perancis, raja Louis XVI dari Perancis memperlengkapi sebuah ekspedisi ke samudera Pasifik, sebuah perjalanan dengan sasaran-sasaran ilmiah, geografis, ekonomis, dan nasionalis. Komandan misi ini adalah Count dari La Perouse, seorang penjelajah terkenal yang berpihak pada AS dalam perang kemerdekaan negara itu.

Pada bulan Juli 1786, hampir setahun setelah mengembangkan layar, ia sampai di pantai Alaska, di sebuah tempat yang dikenal dengan nama Teluk Lituya. La Perouse segara jatuh hati melihat pelabuhan di tempat itu. Ia mendapati penduduk asli tempat itu menunjukkan sikap yang sangat bersahabat. Orang-orang Indian itu menawarkan ikan, kulit berang-berang dan jenis hewan lain, serta hiasan-hiasan kecil pada baju mereka sebagai barter dari besi yang dibawa oleh ekspedisi itu. Seperti yang ditulis oleh La Perouse dalam catatan hariannya, mereka “berdagang dengan kecerdikan seperti yang diperlihatkan oleh para pedagang Eropa.”

Namun selanjutnya, para penduduk asli menjadi semakin berani meminta harga yang mencekik leher. La Perouse menjadi gusar karena mereka juga melakukan pencurian barang, terutama barang-barang yang terbuat dari besi. Pernah juga mereka mencuri pakaian seragam perwira AL Perancis yang disimpan di bawah bantal saat mereka tidur dengan dijaga oleh pengawal bersenjata; sebuah kecerdikan yang bisa menyaingi pesulap-pesulap handal dari jaman modern.

La Perouse mengikuti perintah dari rajanya agar bertingkah laku tidak bermusuhan, tapi ia mengeluh bahwa para penduduk asli “percaya bahwa kesabaran mereka tidak ada batasnya”. Akhirnya, setelah memperlengkapi kedua kapalnya, La Perouse meninggalkan teluk Lituya untuk tidak kembali lagi. Ekspedisi ini hilang di Pasifik Selatan pada 1788. La Perouse beserta seluruh awak kapalnya - kecuali satu orang - lenyap.

***

Kisah diatas sepintas adalah peristiwa yang biasa saja, pada kurun waktu ketika bangsa Eropa tergila-gila untuk mengirimkan ekspedisi mencari dunia-dunia baru untuk tujuan yang sekarang dikenal sebagai gold, gospel, and glory. Namun ada satu hal “kecil” yang tercecer dari kisah ini. Saat La Perouse membuka pendaftaran untuk anggota ekspedisinya, banyak orang-orang muda yang cemerlang dan bersemangat ikut mendaftarkan diri. Salah satu dari mereka adalah seorang perwira artileri dari pulau Corsica yang bernama Napoleon Bonaparte. Namun La Perouse tidak meloloskan pemuda ini untuk ikut berlayar bersamanya.

Inilah titik balik penting dalam sejarah dunia. Seandainya Napoleon diterima untuk ikut dalam ekspedisi ini, maka ia tidak akan pernah mencapai Mesir, Batu Rosetta tidak akan ditemukan, dan Champollion tidak pernah menguraikan makna hieroglif Mesir. Satu mata rantai penting yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan akan gagal terbentuk. Namun betulkah demikian?

Dalam beberapa hal, apa yang kita sebut sebagai “sejarah” sesungguhnya adalah serangkaian koinsiden yang saling mempengaruhi satu sama lain. Rantai koinsiden ini mungkin tidak bergantung pada orang-per-orang. Munculnya tokoh-tokoh atau peristiwa-peristiwa penting, bisa jadi hanyalah pemicu (trigger) dari hal-hal yang cepat atau lambat, pasti akan terjadi.

Andaikata Newton atau Einstein tidak pernah terlahir ke dunia, maka di tengah-tengah kemajuan ilmu pengetahuan, pasti ada seseorang yang akan menemukan hukum gravitasi atau teori relatifitas. Bahkan tidak ada jaminan seandainya sejarah tidak melahirkan tiran besar seperti Hitler atau Mussolini, maka dunia akan menjadi tempat yang lebih baik.

Apa yang akan terjadi andaikata La Perouse menerima Napoleon untuk mengikuti ekspedisinya? Kita bisa memikirkan berbagai skenario. Bisa jadi, dengan Napoleon sebagai salah seorang anak buahnya, La Perouse akan bisa menyelesaikan misinya, dan kembali ke Perancis dengan selamat. Namun tidak tertutup kemungkinan, kecelakaan tetap terjadi dan Napoleon akan ikut terkubur di kedalaman laut Pasifik Selatan. Tapi Batu Rosetta suatu saat pasti akan ditemukan, dan kalau tidak oleh Champollion, maka pasti ada seseorang, entah siapa, yang berhasil menguraikan maknanya. Lakon sejarah memang bergulir sebagaimana sebuah sungai. Ia mengalir, tapi tetap memiliki alur.

Setahun Bianglala

Posted in Blogging by Dhani on the September 12th, 2004

Tidak terasa, sudah setahun saya menulis di blog Bianglala ini. Setahun memang bukan kurun waktu yang cukup lama, apalagi kalau dibandingkan dengan blog ’saudaranya’, Refleksi, yang penulisannya sudah melewati tahun yang ketiga.

Tadinya kebeadaan blog ini saya maksudkan untuk menampung catatan-catatan ringan, tidak seperti ‘kakaknya’ yang serba serius itu. Tapi dalam perkembangannya saya akhirnya tidak bisa menahan diri untuk menulis hal-hal yang bagi sebagian orang mungkin terasa agak ‘berat’. Bagaimanapun, sebagaimana penulis-penulis blog lain, saya lebih suka menulis tentang hal-hal yang saya minati. Perkara apa yang menjadi minat saya itu kemudian ternyata tidak ‘klop’ dengan minat pengunjungnya, itu soal lain :). Namun, tidak seperti Refleksi yang topiknya saya batasi, di blog ini saya bisa menulis tentang apa saja. Jadi, kalaupun akhir-akhir ini, topik Fisika atau musik klasik sering muncul, itu bukan berarti blog ini dikhususkan untuk kedua topik tersebut. Semua itu cuma soal mood saja.

Konsekuensinya, blog ini tidak mungkin bisa memancing minat banyak pengunjung tetap, khususnya mereka yang suka blogwalking sekedar untuk mencari kesenangan. Apalagi frekuensi update blog ini juga tergolong lambat, hanya tiga-empat kali dalam sebulan. Tapi saya sudah merasa cukup senang apabila informasi disini bisa dibaca oleh mereka yang benar-benar membutuhkannya — yang biasanya datang dengan ‘diantar’ oleh Yahoo atau Google.

Walaupun saya mengelola dua buah blog sekaligus, tapi sesungguhnya saya bukanlah ‘pecandu’ kegiatan blogging. Blog bagi saya hanya sekedar tools untuk menempatkan konten di web. Saya sendiri terus terang sangat jarang berkunjung ke blog-blog yang saya kelola. Ini juga menjelaskan kenapa saya tidak selalu merespon komentar di shoutbox.

Boleh dibilang, blog ini cuma blog ’setengah hati’, khususnya kalau dibandingkan dengan Refleksi yang saya kerjakan dengan ’sepenuh hati’. Tapi, biarpun setengah hati, penulisan blog ini Insya Allah akan tetap berlanjut walaupun mungkin dalam frekuensi yang jarang dan selang waktu yang tidak teratur.

Crossover

Posted in Art by Dhani on the September 5th, 2004

Malam itu, sebuah stasiun radio swasta sedang menyiarkan sebuah acara musik klasik. Iseng-iseng, saya pun menelepon studio radio bersangkutan untuk me-request sebuah komposisi. Tidak menunggu lama, komposisi Canon karya Pachelbel yang saya minta pun mengudara. Namun yang membuat saya terkaget-kaget, setelah komposisi itu berakhir, si penyiar, entah dengan maksud apa, malahan memutarkan Lulaby, sebuah komposisi milik Bond, satu kelompok kwartet gesek wanita, yang memuat beberapa bar dari Canon, dengan dilatari oleh musik techno!

Terus terang saya merasa terganggu mendengar komposisi semacam ini muncul di acara musik klasik. Lulaby-nya Bond (jangan dikelirukan dengan Lulaby-nya Brahms — semacam lagu ‘Nina Bobo’ yang di Indonesia malah diadaptasi sebagai lagu Natal itu) sama sekali bukan dari genre musik klasik. Komposisi ini sebenarnya lebih cocok untuk digologkan sebagai musik Crossover, yakini “perkawinan” antara musik klasik dengan modern, atau dengan bahasa yang lebih lugas: Musik klasik yang dimainkan dengan gaya kontemporer.

Munculnya musisi-musisi yang mengusung aliran Crossover memang mengundang pro dan kontra dari kalangan yang mengaku pecinta musik klasik serius. Satu pihak beranggapan bahwa aliran crossover dapat membantu memperkenalkan komposisi klasik pada anak-anak muda, sehingga pada akhirnya akan meningkatkan apresiasi mereka pada musik klasik. Sebaliknya, mereka yang negatif punya pandangan bahwa Crossover cenderung merusak karya-karya klasik yang sudah berabad-abad dimainkan dengan ‘pakem’ yang standar dan baku.

Kadang-kadang proses adaptasi karya klasik menjadi musik Crossover memang terasa agak kelewatan. Yang bagi saya ‘mengerikan’ misalnya ketika Ode to Joy dari Simfoni nomor 9 Beethoven yang terkenal itu diadaptasi ke dalam versi hip-hop. Saya yakin kalau Beethoven bisa bangkit dari kuburnya, dia pasti akan shock mendengarkan karyanya ‘dinyanyikan’ dengan begitu rupa!

Yang masih mendingan misalnya yang dilakukan oleh Maksim, pianis asal Kroasia yang beberapa waktu lalu sempat berpentas di Jakarta. Walaupun dia meng-crossover beberapa karya musik piano klasik, mulai Rimsky-Korsakov, Frederick Chopin, Paganini, Grieg, hingga Handell, tapi ia tetap bermain sesuai partitur asli. Hanya saja musik latarnya yang dibuat kontemporer dengan memasukkan beberapa jenis instrumen modern, alih-alih berupa orkestra lengkap seperti pada versi klasiknya.

Walaupun sering merasa risih mendengar beberapa karya klasik yang bagus-bagus malahan ‘digubah sampai rusak’ oleh Vanessa Mae atau Bond, saya sebenarnya tidak apriori terhadap musik Crossover. Saya menganggap itu merupakan bagian dari kebebasan kreatif yang wajar-wajar saja dalam dunia seni. Tapi mbok kalau acaranya tentang musik klasik, ya jangan disisipi Crossover dong! Bagaimanapun juga keduanya adalah genre musik yang berbeda. Jangan dicampur aduk begitu!