Bianglala


All About MLM

Posted in Book, Social by Dhani on the July 31st, 2004

Saya baru saja selesai membaca buku “All About MLM”, karangan Benny Santoso (Penerbit Andi, 2002). Buku ini membahas secara komprehensif tentang berbagai aspek dalam bisnis MLM (Multi Level Marketing), baik dari sisi positif maupun negatifnya. Secara eksplisit, si penulis menyatakan bahwa ia mengambil sikap netral, alias tidak menentang maupun mendukung model bisnis MLM — tentu saja dalam artian MLM yang legal serta menjalankan bisnisnya secara sehat. Namun, seperti diakui juga oleh penulisnya, buku ini juga diilhami oleh tulisan Van Druff di website www.vandruff.com/mlm.html yang nampaknya lebih banyak menampilkan segi negatif dari bisnis MLM.

Bagi saya pribadi, isi buku ini sepertinya mewakili pandangan saya selama ini tentang bisnis MLM. Sebagaimana kebanyakan orang dengan lingkup pergaulan yang beragam, saya juga termasuk sering menerima undangan presentasi MLM. Beraneka jenis MLM pernah dipresentasikan di hadapan saya, mulai dari MLM konvensional, money game, sampai yang masuk “wilayah abu-abu”. Produk yang dijajakan juga macam-macam, mulai dari kebutuhan sehari-hari, barang-barang plastik, hingga suplemen (mineral, madu, kalsium - you name it!) dengan segala klaim tentang khasiatnya.

Gaya presentasi yang diterapkan tiap MLM juga beragam. Cara presentasi langsung face-to-face di tempat tinggal prospek adalah cara yang tergolong klasik dan sepertinya mulai ditinggalkan. Di suatu kesempatan, dalam rangka presentasi, saya pernah dibawa ke kantor sebuah MLM, di sebuah ruangan dengan deretan meja dan kursi yang ditata seperti layaknya sebuah restoran. Masing-masing meja nampak penuh dikelilingi sekumpulan orang yang serius menyimak presentasi dari calon upline masing-masing. Di perusahaan MLM lain, presentasi dilakukan di kantor mereka dalam sebuah ruangan yang mirip sebuah ruang kelas dalam suasana seperti layaknya perkuliahan (kantor MLM itu sendiri kelihatannya seperti sebuah kampus dengan ruang-ruang “kelas” dimana para istruktur terlihat sibuk bercuap-cuap mengajarkan “mata kuliah” masing-masing). Yang ajaib, ada juga MLM yang melakukan presentasi secara berkala di hotel berbintang, dan setiap hadirin diharuskan membayar tiket masuk dengan ongkos yang lumayan. Ada lagi cara yang lebih canggih. Prospek cukup dikirimi VCD rekaman presentasi dan brosur-brosur plus formulir pendaftaran yang tinggal diisi seandainya si prospek bersedia untuk bergabung.

Kembali kepada buku yang barusan saya baca. Saya setuju dengan penulis buku ini bahwa salah satu sisi negatif dari bisnis MLM adalah kecenderungan anggotanya untuk mengekspolitasi hubungan personal. Di mata para pegiat MLM, setiap orang dianggap sebagai prospek dan setiap perkumpulan dianggap sebagai pasar. Saya sendiri terus terang sudah cukup “kenyang” dengan pengalaman menjadi sasaran prospekting selama ini. Bukan kenapa-kenapa, tapi cara-cara mengundang itu bagi saya terasa kurang etis. Tidak jarang ada orang, entah teman sekantor maupun yang kebetulan pernah satu-dua kali bertemu, yang biasanya bertegur sapa saja tidak pernah, mendadak jadi sok akrab. Mulai dari mengajak berbincang, makan siang bareng, hingga akhirnya bertukar nomor telepon. Ujung-ujungnya, adalah undangan untuk menghadiri presentasi “sebuah peluang bisnis”. Di kesempatan lain, ada teman lama yang entah sudah berapa tahun tidak ketemu mendadak menelepon. Setelah saling berbasa-basi dan mengobrol kesana-kemari, akhirnya … tahu sendiri kelanjutannya. Undangan yang disampaikan dengan cara seperti ini biasanya saya tolak secara baik-baik tanpa harus khawatir soal macam-macam.

Yang susah kalau si pemrospek itu adalah teman yang sudah akrab atau sering ketemu. Dalam hal ini saya jadi merasa serba salah. Kalau saya tolak, ada kemungkinan hubungan pertemanan saya jadi terganggu, minimal ada rasa rikuh tiap kali bertemu. Di pihak lain, kalau saya bergabung dengan MLM-nya, saya juga dituntut untuk aktif mengembangkan “bisnis saya” tersebut, yang mana untuk itu saya terus terang angkat tangan. Ini belum termasuk upaya folow-up pasca presentasi yang bagi saya sering berkesan menteror. Tidak jarang dalam folow-up si pemrospek melontarkan kata-kata tajam yang mengusik rasa harga diri (”Apa kamu kepingin terus-terusan begini sepanjang hidup kamu?”).

Ada lagi satu sisi negatif MLM yang sudah menjadi rahasia umum, yaitu kecenderungan bisnis ini untuk mengeksploitasi keserakahan dan materialisme. Orang diming-imingi untuk menjadi kaya mendadak dengan mengikuti skema bisnis mereka. Semua jenis pekerjaan dianggap tidak ada artinya, dan tidak akan mampu membawa kebahagiaan. Di setiap presentasi MLM, selalu dikutip ungkapan Robert Kiyosaki dalam Cashflow Quadran — buku yang boleh dibilang sudah menjadi semacam “kitab suci” bagi pebisnis MLM. Dikatakan bahwa mereka yang berada di kuadran pekerja (employee) akan selalu mengalami nasib yang mengenaskan dan bahwa satu-satunya “jalan keselamatan” adalah memiliki bisnis sendiri (menjadi business owner). Dan cara termurah untuk menjadi business owner, ya, apa lagi kalau bukan ikutan MLM. Saya pernah dipinjami kaset berisi testimoni (kesaksian) seorang dokter yang setelah merasakan khasiat dari produk suplemen yang dijajakan oleh MLM bersangkutan lantas memilih mundur dari profesinya dan kemudian bekerja penuh waktu (fulltime) di sebuah bisnis MLM. Terus terang, saya tidak bisa membayangkan orang dengan logika seperti apa yang rela melepaskan pekerjaan yang mulia lagi terhormat dan menggantinya dengan “pekerjaan” yang hanya berkisar pada mengincar prospek, presentasi, membangun jaringan dan menjual produk. Dan herannya, tidakan seperti ini justeru mendapat aplaus dari kalangan MLM. Bagi saya sendiri, cerita semacam ini terasa (maaf) memuakkan!

Saya pribadi sebenarnya tidak apriori pada bisnis MLM sepanjang memang berjalan pada “rel” pemasaran produk. Masalahnya, kebanyakan MLM kini telah berkembang menjadi bisnis yang tidak jelas yang cenderung hanya menjual mimpi untuk memperoleh kekayaan secara cepat. Buku ini juga mencantumkan berbagai macam sisi gelap lainnya dari bisnis MLM yang tidak sempat lagi saya ulas disini. Untuk lengkapnya silahkan beli (atau pinjam) dan baca sendiri buku bersangkutan. Saya bukannya berpromosi, tapi rasanya buku ini cukup bermanfaat sebagai bahan referensi, terutama kalau kita sudah mulai didekati oleh teman-teman yang sedang prospekting :). Sebagai penutup, saya ingin mengutip kata-kata bijak dari surat Gustave Flanbert kepada George Sand (keduanya adalah penulis terkenal berkebangsaan Prancis): “Manusia itu tidak berarti apa-apa. Apa yang dia kerjakan itulah yang membuatnya berarti”.

Manfaatkan Hari Ini

Posted in Wisdom by Dhani on the July 25th, 2004

Ada dua hari di sepanjang hidup kita yang tidak perlu dirisaukan, malah sebaiknya dibebaskan dari kekhawatiran dan keprihatinan. Salah satu diantaranya adalah KEMARIN plus segala sesuatu yang telah menjadi “miliknya”, seperti kesalahan maupun perhatian, cinta kasih maupun penderitaan. Kemarin sudah lewat diluar jangkauan kendali kita. Bahkan bila uang yang beredar di dunia dikumpulkan pun tidak akan bisa mengembalikannya. Kita tak bisa menarik lagi satupun tindakan yang telah kita lakukan, tidak bisa menghapus satupun kata-kata yang pernah kita ucapkan, dan tidak bisa meralat sebuah kesalahan yang terlanjur terjadi. Kemarin sudah lewat jauh di belakang. Biarkah ia pergi dengan tenang.

Hari lain yang juga tidak perlu kita khawatirkan adalah ESOK dengan semua “rencananya”. Begitu pula, esok adalah hari yang diluar jangkauan kendali kita. Matahari tentu masih akan bersinar. Namun entah sinarnya terang benderang indahnya atau tertutup gumpalan awan, kita masih belum tahu. Sampai saatnya ia muncul nanti, kita tak bisa meramalkan apa yang akan terjadi esok.

Dari kedua hari yang telah disebut dimuka, tinggal satu hari lagi yang tersisa, yakni hari ini atau SEKARANG. Seseorang bisa memenangkan sebuah pertempuran dalam sehari. Menyesali apa yang sudah terjadi kemarin, serta memperkirakan apa yang akan muncul esok tidak akan memberikan banyak manfaat. Oleh karena itu, apapun yang bisa kita kerjakan hari ini, kerjakan hari ini juga. (Robert J. Burdette)

Twilite dan Wagner

Posted in Art by Dhani on the July 23rd, 2004

Hah! Twilite Orchestra menampilkan Wagner? Nggak salah nih? Rupanya bukan saya saja yang kaget. Wartawan yang meliput untuk harian Kompas juga menulisnya seolah-olah itu suatu hal yang tidak biasanya. Mungkin Addie MS, konduktor Twilite, sudah bosan mendengar komentar minor soal penampilan kelompoknya yang dituding lebih suka menampilkan musik pop dengan gaya klasik ketimbang musik klasik yang sesungguhnya.

Bisa jadi, gara-gara itu juga karya Wagner dipasang sebagai nomor pembuka sekaligus penutup dari pertunjukan di Balai Sarbini, Jakarta, 19 Juli lalu. Tapi rupanya Addie tidak cukup Pe-De untuk menampilkan komposisi Wagner yang berat-berat. Nomor Prelude dari Die Meistersinger von Nurnberg dan Mars dari Tannhauser bisa jadi merupakan pilihan yang cukup moderat.

Saya sendiri terus terang tidak tahu banyak soal Wagner dan musiknya. Untuk itu, sohib berikut sepertinya bisa jadi alamat yang tepat untuk bertanya ;). Memang sih, ada waktunya musik Wagner mengalun di ruang kerja saya, terutama kalau lagi suntuk. Tapi pilihan biasanya jatuh ke komposisi yang relatif ringan, dan kebetulan dua komposisi yang ditampilkan Twilite kali ini termasuk diantara nomor favorit saya. Rentetan suara terompet diiringi orkestra di permulaan, dengan sedikit sesi string yang lembut di pertengahan, dan dilanjut dengan irama yang sedikit ‘menghentak’ di bagian akhir, pada Mars dari Tannhauser terkadang cukup membantu untuk melepas stress. Cuma, kalau MP3-nya saya putar di komputer kantor, bisa membuat saya kelihatan seperti alien :(.

Denger-denger konser ini bakal dilanjut ke Surabaya. Boleh dimasukin di agenda nih. Moga-moga beberapa minggu kedepan saya masih diijinkan menghirup udara Surabaya. Sebetulnya saya pernah menyaksikan konser Twilite, tapi dalam suasana yang agak kurang mengenakkan, tepatnya pada acara “Bali Memorial Concert”, untuk menghormati korban pemboman Bali 2002. Menyaksikan Twilite mengiringi “Amazing Grace” bersama choir dari mahasiswa Univ. Udayana, dan “Kulihat Ibu Pertiwi” yang dibawakan Sherina sambil menahan tangis (untung dia masih mampu menguasai diri!), rasanya memang bukan tontonan untuk hiburan. :(

"Peta Lidah" yang Keliru

Posted in Education, Science by Dhani on the July 17th, 2004

Masih ingat dengan gambar disamping? Waktu belajar Biologi di sekolah dulu, kita pasti bertemu dengan bagian yang membahas soal “peta lidah”, yang memaparkan perbedaan kepekaan masing-masing area di lidah terhadap rasa tertentu.

Para ilmuwan sebetulnya sudah lama menyadari bahwa pendekatan ini adalah keliru. “Peta lidah” ini sebenarnya adalah hasil kesalahan interpretasi terhadap sebuah penelitian yang dilaporkan pada sekitar akhir abad ke-19. Pada kenyataannya, seluruh bagian lidah yang mengandung bintil pengecap memiliki kepekaan yang sama terhadap segala macam rasa. Sayangnya, kesalahan ini terlanjur “mendunia” sehingga sulit untuk dikoreksi lagi.

Menariknya, sebagian besar orang yang pernah belajar soal “peta lidah” sebenarnya sudah menyadari bahwa ada yang salah didalamnya. Kita toh bisa mencecap manisnya gula, atau pahitnya rasa kopi di seluruh permukaan lidah. Tapi kita cenderung lebih percaya pada guru, ketimbang lidah kita sendiri. Sang guru juga mungkin punya keraguan yang sama, tapi ia juga lebih percaya buku ketimbang panca inderanya. Begitu pula halnya dengan para penulis buku maupun penyusun kurikulum.

Sayangnya, metode pendidikan yang kita anut sering tidak cukup memberi ruang bagi tumbuhnya sikap kritis. Dalam kultur kita yang kelewat menomorsatukan sopan santun, batas antara sikap kritis dengan kekurang-ajaran terkadang sangat tipis. Kasus “peta lidah” hanyalah salah satu contoh kekonyolan sistem pendidikan kita yang kelewat dogmatis. Walaupun hal ini sudah banyak disadari, buku diktat Biologi terbitan terbaru kita masih juga memuatnya untuk dijejalkan ke otak para siswa.

Benarlah kata J. Robert Oppenheimer: There must be no barriers for freedom of inquiry. There is no place for dogma in science. The scientist is free, and must be free to ask any question, to doubt any asssertion, to seek for any evidence, to correct any errors. .