Bianglala


"Bunda" di Republika

Posted in Life, Media by Dhani on the June 25th, 2004

Ada sebuah rubrik di harian Republika yang tidak pernah saya lewatkan. Rubrik favorit saya itu, kalau boleh disebut demikian, selalu muncul di suplemen Belia, lembaran khusus anak-anak dan remaja, yang disertakan pada tiap edisi Minggu. Rubrik yang saya maksudkan adalah “Bunda”. Lantas, Apa istimewanya rubrik ini?

“Bunda” adalah rubrik khusus untuk tanya jawab soal seksualitas. Tapi berbeda dengan rubrik sejenis di media lainnya, rubrik yang diasuh oleh artis Neno Warisman beserta psikolog Elly Risman ini punya keistimewaan sendiri karena khusus ditujukan bagi khalayak pembaca usia kanak-kanak hingga remaja.

Pertanyaan yang muncul di rubrik ini meang bukan menyangkut hal-hal “teknis” yang suka bikin risi itu. Sebaliknya, pertanyaan yang masuk justeru lebih banyak berkisar tentang keingintahuan si kecil tentang wilayah rawan yang masih remang-remang bagi anak seusia mereka. Sebenarnya bukan pertanyaannya yang menarik perhatian saya, melainkan gaya tim pengasuh dalam memberi jawaban itulah yang membuat saya terkesan. Dengan familiar, layaknya seorang Ibu kepada anaknya, tim pengasuh menjawab pertanyaan-pertanyaan “serius” dari para bocah ini sesuai dengan perkembangan usia dan pemahaman mereka. Hal ini dimungkinkan karena si penanya juga diwajibkan untuk mencantumkan usianya dan duduk di kelas berapa ia di sekolah. Tidak lupa, dalam setiap jawaban juga diselipkan pesan-pesan moral keagamaan, terutama kalau yang ditanyakan itu menyangkut hal-hal yang sedikit “sensitif”.

Bagi saya, kehadiran “Bunda” terasa menyejukkan di tengah-tengah keberadaan rubrik-rubrik sejenis di media lain yang menyajikannya dengan gaya yang lebih “mengundang”. Sebuah koran nasional terbitan Surabaya misalnya (tidak usahlah saya sebut namanya, tapi saya yakin sudah banyak yang tahu), punya rubrik sejenis yang juga dimuat tiap edisi Minggu, tapi isinya Naudzubillah vulgarnya. Sudah pertanyaan yang masuk tergolong yang “kelas berat”, juga dijawab dengan tanpa tedeng aling-aling.

Ini belum termasuk rubrik-rubrik sejenis yang rutin dimuat oleh tabloid-tabloid pengumbar sensasi. Sepertinya, para redakturnya merasa kalau semakin “hot” tanya-jawabnya, semakin menarik juga dimata pembaca. Walhasil, pembaca seperti disuguhi bacaan “stensilan”, atau isi website cerita dewasa. Bikin mual saja! Pesan moral? Hampir-hampir tidak ada. Palingan cuma sekedar wanti-wanti tentang cara “berhubungan” yang aman agar terhindar dari penyakit kotor. Soal norma kesopanan, apalagi agama, sepertinya dianggap tidak relevan lagi.

Saya sendiri tidak menganggap seks sebagai barang tabu yang tidak boleh dibincangkan sembarangan. Tapi saya juga punya keyakinan bahwa tetap ada batasan yang perlu ditaati untuk memuat materi ini di media, terutama media cetak yang bisa dibaca oleh orang dari segala tingkatan usia. Celakanya, materi ini justeru sering digunakan sebagai daya tarik di media-media kita. Tema seks, beserta “saudaranya”, kekerasan, kini mendominasi media-media kita dengan bebasnya. Bahkan, konon dalam menampilkan “duet” ini di media, pers kita sudah lebih liberal dari negara yang paling liberal sekalipun!

Kehadiran “Bunda” mungkin bisa mewakili segelintir rubrik yang bicara seks secara cukup “sehat”. Saya sungguh-sungguh salut kepada Republika dan pengasuh rubrik “Bunda” pada khususunya. Semoga saja format rubrik ini bisa ditiru oleh media lainnya. Biasanya media kita memang suka latah, tapi sayang, latahnya hanya untuk hal-hal yang negatif saja. Kalau saja mereka juga bisa latah untuk hal-hal positif …

Agenda si "Gila"

Posted in Life, Social by Dhani on the June 18th, 2004

Bulan Juni ini, para orang “gila” punya banyak agenda untuk memuaskan “kegilaannya”. Tentu “gila” yang saya maksudkan bukan dalam artian sakit jiwa, melainkan tergila-gila kepada sesuatu hal. Mereka yang gila bola kali ini dijejali dengan pertandingan-pertandingan di kejuaraan piala eropa, sementara si gila politik, tentu saja tidak kalah hebohnya dalam menyambut momen pemilihan presiden.

Saya kebetulan tidak berada dalam salah satu barisan “orang gila” tersebut. Saya bukan gila bola, dan untuk lebih jelas lagi, saya bukan penggemar sepak bola. Untuk yang satu ini, bahkan momen Piala Dunia sekalipun juga tidak mampu menarik perhatian saya. Gila politik? Apalagi! Saya punya kepedulian terhadap banyak hal, bahkan mungkin terlalu banyak hal, tapi saya pastikan politik tidak termasuk di dalamnya.

Tentu ini membat saya jadi kelihatan seperti orang aneh. Memang di kalangan orang yang tidak waras, mereka yang waras itulah yang Gila. Jadi, ketika saya memilih tidur ketika si gila bola sibuk bergadang untuk menyaksikan pertandingan Piala Eropa, atau ketika saya masuk kantor dalam keadaan segar bugar, sementara rekan-rekan yang lain dengan mata merah karena kurang tidur, maka itu artinya sayalah yang abnormal.

Tapi dibandingkan dengan ketidak pedulian saya soal bola, ketidak acuhan saya soal politik mungkin relatif masih bisa dimaafkan. Saya mungkin cuma salah satu diantara jutaan orang yang skeptis untuk urusan seputar Pemilu ini. Tapi bedanya, dalam pemilu kali ini saya tetap menyimpan sedikit optimisme. Pada pemilu legislatif, 5 April lalu, saya kebetulan harus memilih di luar propinsi dimana saya terdaftar sebagai pemilih, akibatnya diantara 4 surat suara yang harus dicoblos, saya hanya mengantungi satu diantaranya. Maklum, saya hanya punya hak pilih untuk DPR pusat, sedangkan untuk DPRD1, DPRD2, dan DPD, saya praktis kehilangan hak pilih. Tapi ini juga sudah tergolong kemajuan, soalnya dalam dua kali Pemilu sebelumnya, saya memilih untuk tidak memilih, alias Golput!

Langkah saya ini sebenarnya bertolak belakang dengan kelaziman, soalnya, ketika di Pemilu 1999, saat orang-orang sedang terbius euforia politik, saya malahan menyingkir. Lha, koq di Pemilu 2004, dimana semua pada pesimis, skeptis, bahkan apatis, saya malahan jadi optimis :). Pertimbangan saya simpel saja. Setelah euforia politik mereda, saya melihat masyarakat lebih rasional dalam menentukan pilihan politiknya. Dan itu artinya saya tidak perlu merasa sia-sia untuk ikut memilih.

Baik dalam kasus Piala Eropa, maupun Pemilihan Umum, memang akan selalu melahirkan orang-orang “gila”. “Kegilaaan” ini berawal dari satu hal: ikatan emosional. Adalah ikatan emosional yang membuat orang betah menonton perjuangan klub-klub kesayangan untuk meraih juara, atau perjalanan Partai pujaan untuk memenangkan Pemilu, dan politisi idola untuk “menuju puncak”. Sayangnya dalam hal ini, saya tidak punya keterikatan emosional dengan apapun, baik dalam konteks sepak bola atau politik. Walhasil sampai saat ini saya masih merasa waras-waras saja.

Non Book Book

Posted in Media by Dhani on the June 11th, 2004

Jangan keburu merasa aneh dulu saat membaca judul tulisan ini. Non Book Book (NBB), alias buku yang bukan buku, bukanlah istilah yang mengada-ada. Itu adalah istilah baku dalam teknis perbukuan yang maknanya kurang lebih adalah buku yang berisi kumpulan tulisan yang sepotong-sepotong, dan bukan merupakan satu alur pemikiran yang utuh, mulai dari awal hingga halaman terakhir sebagaimana buku pada umumnya.

NBB bisa berupa kumpulan tulisan seseorang yang pernah dimuat di media massa dalam berbagai kesempatan (misalnya, Kumpulan Tulisan Romo Mangun), tetapi bisa juga berisi tulisan sekelompok orang yang menyorot topik yang sama dari perspektif masing-masing. Format NBB juga sering dipakai untuk mengumpulkan tulisan-tulisan yang pernah dimuat dalam suatu rubrik tertentu di media berkala (misalnya, Catatan Pinggir dari Goenawan Mohamad). Tentu saja batasan ini tidak bersifat mengikat. Buku yang berisi kumpulan cerpen atau bahkan kumpulan lelucon juga bisa digolongkan sebagai NBB.

Suatu ciri dari NBB adalah tidak adanya alur pemikiran/cerita yang utuh didalamnya. Pembaca bisa membaca secara berurutan, dari halaman depan ke halaman terakhir, tetapi apabila dibaca secara acak, juga tidak masalah. Tulisan-tulisan dalam NBB seringkali harus dibaca sesuai dengan konteks, baik waktu maupun peristiwa, ketika tulisan itu dibuat - yang boleh jadi terpaut sangat jauh dengan saat tulisan itu diterbitkan sebagai sebuah buku. Dalam NBB yang memuat kumpulan tulisan dari orang yang sama, sedikit banyak kita (pembaca) bisa menilai sejauh mana kekuatan analisis dan konsistensi si penulis dalam setiap tulisannya. Kadang-kadang dalam NBB kita menemui adanya inkonsistensi. Di satu bagian, si pengarang bilang begini, sementara di bagian lain dia bilang begitu. Kalau di buku biasa, ini bisa membuat si pengarang “jatuh merek” alias kehilangan kredibilitasnya, dalam NBB, ini justeru dipandang sebagai hal yang wajar karena setiap tulisan berdiri sendiri dan harus dibaca dalam konteks ketika tulisan itu dibuat.

Kalau dalam sebuah NBB, di satu bagian si pengarang menampilkan diri sebagai sebagai penulis yang santun dan berhati-hati, sementara di bagian lain dia menjelma menjadi keras dan berapi-api, itu tidak bisa dipandang sebagai cerminan dari ketidak konsistenan. Bisa saja tulisan yang lebih santun dibuat pada era sebelum 1997, dimana setiap penulis memang harus bersikap ekstra hati-hati, sementara tulisan yang lebih “galak” dibuat pasca 1997, ketika angin reformasi telah berhembus, dan si penulis tidak perlu lagi takut untuk bersuara “nyaring”.

Format NBB seringkali menjadi bahan cemoohan, terutama oleh mereka yang mengaku sebagai pecinta bacaan serius. Ada saja tudingan bahwa NBB adalah buku yang diterbitkan dengan semangat “aji mumpung”, alias hanya mengekor popularitas pengarang atau rubrik tetap yang diasuhnya di media cetak. Malahan ada juga sementara kalangan yang tega-teganya menilai NBB sebagai bacaan yang tidak berkelas.

Pandangan minor semacam ini tidak sepenuhnya benar walaupun juga tidak mesti salah. Memang banyak NBB yang hanya disusun seakan-akan sebuah kliping. Akibatnya, ia bisa menjadi sebuah bacaan yang tidak berjiwa; tidak ada “ruh” yang membuatnya menjadi sebuah bacaan yang “hidup”. Yang jelas, banyak juga penulis bagus yang enggan untuk membukukan karyanya, semata-mata karena takut terimbas stereotip miring soal NBB.

Karya NBB yang menurut saya baik, salah satunya adalah kumpulan “Catatan Pinggir” dari Goenawan Mohamad yang diterbitkan secara berseri oleh penerbit Grafiti. Catatan Pinggir, kita tahu, adalah rubrik tetap Goenawan di majalah berita mingguan Tempo. Saya tidak perlu banyak berkomentar soal rubrik ini. Banyak orang yang sudah tahu, dan kagum, atas kepiawaian Goenawan dalam meramu kata untuk menyusun Catatan Pinggirnya itu. Dalam rubriknya, Goenawan menuliskan pandangannya dengan gayanya yang khas, yang sukar ditiru oleh pengarang lainnya. Tidak heran, rubrik ini menjadi salah satu andalan Tempo, sejak dulu hingga sekarang.

Masih ada kaitannya dengan Catatan Pinggir; seorang pentolan grup musik terkenal yang namanya kebetulan mirip dengan nama kecil saya ;) juga mengaku “kesengsem” dengan gaya penulisan Goenawan di Catatan Pinggir. Terinspirasi dari sana, ia lantas membeli komputer notebook tipe terbaru, dan mulai aktif menuangkan pikiran dan gagasannya di sana. Mau diapakan kelak tulisan-tulisannya itu? Katanya sih, kalau tidak dimuat di majalah sebagai rubrik tetap, mungkin akan dijadikan buku saja. “Nanti dikasih judul ‘Catatan Tengah’ saja,” selorohnya. Saya malahan jadi teringat sesuatu. “Kenapa dia tidak menulis weblog saja sih?”