Bianglala


Ada Apa dengan Einstein?

Posted in Science by Dhani on the May 30th, 2004

Indonesia sedang dilanda “demam Einstein”. Demikian mungkin kesan yang ditangkap kalau kita melongok rak-rak toko buku akhir-akhir ini. Disana kita akan melihat beberapa judul buku yang bercerita tentang apa yang tidak diketahui Einstein, apa yang ingin diketahui oleh Einstein, atau bahkan apa yang dipikirkan orang seperti Einstein saat sedang bercukur. Buku-buku itu umumnya punya satu kesamaan: berusaha menjelaskan fenomena-fenomena alam secara sederhana, dan ditujukan untuk kalangan awam (baca: bukan ilmuwan). Semua buku semacam ini adalah terjemahan, namun tidak seluruhnya memiliki judul asli yang “berbau” Einstein. Ini memang strategi dagang khas Indonesia yang suka mengekor kesuksesan produk lain yang lebih dulu diterima pasar. Tapi pertanyaannya sekarang, apakah memang demikian cara ilmuwan semacam Einstein dalam memahami fenomena-fenomena alam itu?

Konsep fisika merupakan kreasi murni pikiran manusia dan tidak ditentukan oleh dunia luar. Dalam usaha memahami realitas, kita ibarat seorang yang sedang berusaha memahami mekanisme sebuah arloji yang masih tertutup. Kita masih bisa melihat bagian depan dengan jarumnya yang bergerak, bahkan mendengar detikannya, tapi kita tidak mampu mengungkap sesuatu di balik itu. Jika kita mau berpikir, mestinya kita akan menggambar suatu mekanisme untuk segala hal yang akan kita teliti meski kita tak akan pernah meyakini bahwa gambar itu merupakan satu-satunya yang dapat menjelaskan hasil observasi kita itu. Kita tak akan pernah bisa membandingkan gambaran yang kita buat dengan mekanisme yang sebenarnya, bahkan kita tak dapat membayangkan kemungkinan arti dari pembandingan semacam itu. Demikian tulis Einstein dalam sebuah makalahnya pada 1938.

Jauh sebelum era Einstein, tepatnya pada tahun 1630-an, Rene Descartes, filsuf Prancis yang juga merupakan penggagas sains, telah menggambarkan alam semesta dan seisinya sebagai sebuah mesin raksasa atau yang disebutnya sebagai automata. Tiga ratus tahun lebih setelah itu, sains terus berkembang, terutama untuk mengungkap bagaimana mesin tersebut bekerja. Usaha untuk itu dijelaskan melalui beberapa observasi yang rumit sehingga menggugurkan pandangan simplistik seperti “iblis yang telah menggerakkan jarum pada arloji” (selain oleh Descartes, Galileo dan Newton juga menggunakan pendekatan ini untuk menciptakan apa yang sekarang disebut sebagai sains modern).

Gary Zukaf, penulis buku fisika post-Newton yang ia beri judul The Dancing Wu Li Masters (satu-satunya terjemahan Indonesia yang saya temui untuk buku yang pertama ditulis pada 1970-an ini diterbitkan pada 2003 oleh penerbit Kreasi Wacana dengan judul “Makna Fisika Baru dalam Kehidupan”), mengibaratkan ilmuwan sebagai seorang master, guru dalam dunia spiritual. Seorang master mengajarkan esensi. Ketika esensi sudah diraih, ia mengajarkan apa-apa yang diperlukan untuk mengembangkan persepsi itu.

Seorang master fisika tidak akan berbicara tentang gravitasi sampai murid-muridnya sendiri terheran-heran melihat kelopak bunga yang jatuh ke bumi. Dia tidak akan bicara tentang hukum fisika sampai murid-miridnya berkata, “Aneh, saya jatuhkan dua buah benda ke tanah. Yang satu berat, yang lainnya ringan, tetapi keduanya sampai di tanah secara bersamaan”. Dia juga tidak akan berbicara tentang persamaan matematika sampai si murid menyadari, “Pasti ada suatu cara yang lebih mudah untuk menjelaskannya”. Seorang master tidak mengajar, melainkan muridnyalah yang belajar.

Karena itulah maka, ilmu-ilmu, termasuk juga fisika sebenarnya bukanlah menjelaskan kenyataan di dunia. Dalam istilah Gary Zukaf, para ilmuwan, termasuk juga Einstein, tidaklah berusaha untuk menjelaskan fenomena alam sebagaimana yang diyakini sebagian orang. Mereka cuma “menari” bersama alam.

Teluk Jakarta

Posted in Social by Dhani on the May 23rd, 2004

Awan lembayung / Menghiasi bandar indah permai
Awan terlindung / oleh pulau seribu
Melambai / Rona merona
Mengembang layar laju perahu nelayan

Memecah buih menyusur pantai
M’nuju teluk Jakarta

Indah lukisannya alam
Kala senja / Menjelang pelukan malam
Burung putih menyampaikan salam
Kata selamat Malam

(Kr. Bandar Jakarta)

Saya tidak tahu, apa pencipta lagu berirama keroncong diatas masih hidup ataukah sudah meninggal. Yang jelas kalau penciptanya masih hidup, mungkin ia akan menangis melihat kondisi teluk Jakarta di abad ke-21 ini. Awan lembayung itu telah menjelma menjadi asap penuh polutan yang mengancam pernapasan, sementara para nelayan menangis karena limbah beracun telah mencemari perairan Teluk Jakarta.

Bicara soal isu lingkungan di negara ini adalah sama seperti mengurai benang kusut yang ruwet dan tidak jelas ujung pangkalnya. Pencemaran di Teluk Jakarta baru-baru ini yang diberitakan menyebabkan matinya ikan-ikan disana sebenarnya adalah puncak gunung es dari rusaknya lingkungan, baik di Jakarta maupun di tempat lain di Indonesia. Ini hanyalah satu yang kasat mata diantara ribuan kasus lain yang masih belum terungkap, terlupakan, atau malah terabaikan.

Ibarat manusia, negara kita sedang dililit oleh aneka persoalan yang sangat parah yang semuanya bermuara pada satu hal: ekonomi. Hal ini membuat pemerintah tidak punya posisi tawar yang memadai, terutama kalau berhadapan dengan perusahaan-perusahaan besar yang menanamkan modal di negara ini. Ketika harus menindak perusahaan yang sembarangan membuang limbah tanpa melalui proses pengolahan yang layak, pemerintah harus berpikir tentang ribuan tenaga kerja yang terancam menganggur apabila perusahaan mereka ditutup paksa. Pemerintah juga harus berhitung soal pajak miliaran rupiah yang batal mengalir ke kas negara. Ketika banyak pemodal asing yang mengancam akan hengkang dai negara ini “karena satu dan lain hal”, pemerintah dipaksa untuk bersikap lebih lunak dan “toleran”. Walhasil, bicara soal pelestarian lingkungan atau sanksi bagi perusahaan yang tidak ramah lingkungan tidak lagi relevan.

Ketika Bob Hasan, si “raja hutan” itu dikirim untuk “bertapa” selama beberapa tahun di Nusakambangan, kita menganggap bahwa pemerintah mulai peduli soal kejahatan terhadap lingkungan. Tidak terpikir bahwa vonis semacam ini lebih kental dengan aroma politik balas dendam terhadap kroni pemeintah yang pernah berkuasa. Toh masih banyak pengusaha nakal pemegang HPH yang terus menebangi hutan-hutan kita yang konon merupakan paru-paru dunia itu. Dan pengusaha semacam ini terus dibiarkan, selama masih bayar pajak, selagi masih bisa mengundang devisa.

Jakarta, sebagai kota metropolitan yang terus bersolek agar tidak kalah dengan kota-kota lain di dunia yang sekelas, juga dibangun dengan pendekatan yang sama sekali tidak ramah lingkungan. Saat kota-kota di negara maju mulai meninggalkan rancangan gedung-gedung pencakar langit, Jakarta justeru bersaing dan gagah-gagahan untuk ikut berlomba membangun gedung-gedung jangkung. Bangunan pencakar langit dengan dinding kaca memang kelihatan modern dan canggih, namun sinar matahari yang memantul lewat dinding-dindingnya justeru telah menambah panasnya udara ibukota yang sebenarnya sudah cukup panas itu. Paku-paku bumi yang menancap hingga ratusan meter dibawah permukaan tanah, dengan menanggung beban ribuan ton bangunan pencakar langit diatasnya telah ikut membuat tanah jakarta makin amblas. Daerah peresapan air otomatis berkurang saat tanah tertutup oleh rimbunnya belantara beton. Air yang terus menerus disedot melalui sumur-sumur artesis menyebabkan persediaan air tanah menyusut. Air laut pun merembes hingga jauh menembus daratan.

Padahal, kalau kita lihat trend di negara-negara maju, banyak perusahaan besar yang tidak lagi tertarik untuk berkantor di gedung-gedung jangkung. Mereka lebih banyak memilih untuk membangun perkantoran yang lebih ramah lingkungan. Markas besar Microsoft di Redmond misalnya, bangunannya yang tertinggi hanyalah setinggi tiga lantai!

Dunia dalam Berita

Posted in Media by Dhani on the May 16th, 2004

Saat Perang Teluk jilid I pecah pada awal era 1990-an, acara TVRI yang satu ini pernah menjadi sangat populer. Saat itu, akses informasi masih belum begitu meluas. Mereka yang punya cukup uang bisa membeli antena parabola untuk menangkap siaran CNN atau Worldnet agar bisa memperoleh informasi terbaru dari medan tempur, tapi bagi orang kebanyakan, perkembangan “terakhir” baru bisa diikuti selepas jam 9 malam, saat acara ini ditayangkan.

Apa yang membuat Dunia dalam Berita menjadi acara favorit di masa itu adalah kenyataan bahwa orang merasa perlu mengetahui keadaan dunia luar, selain apa yang biasa mereka saksikan di negara sendiri. Kala itu, berita-berita dalam negeri biasanya didominasi oleh propaganda pembangunan, acara gunting pita, atau menteri penerangan yang bicara “atas petunjuk bapak Presiden”. Ketika si pembaca berita menyebutkan bahwa “sekian orang tewas dan sekian lainnya luka-luka dalam sebuah ledakan bom di Lebanon”, sedikit banyak kita akan bersyukur bahwa kita tinggal di Indonesia dimana insiden-insiden semacam itu (saat itu) boleh dibilang tidak mungkin terjadi.

Akan halnya sekarang, ketika media menjadi makin liberal, maka berita dari luar negeri tidak lagi menarik banyak perhatian seperti dahulu. Pamor Dunia Dalam Berita pun mulai menyusut. Sebaliknya, penonton mulai beralih untuk mengikuti perkembangan berita di dalam negeri. Hal ini bisa dimengerti karena orang umumnya lebih memilih untuk menyaksikan materi berita dimana mereka memiliki semacam keterlibatan emosional didalamnya. Kita semua merasa bahwa berita semacam kecelakaan kereta api di India, misalnya, tidaklah begitu penting mengingat di negeri sendiri peristiwa yang sama bisa terjadi hampir setiap bulan. Bahkan untuk soal semacam ledakan bom, sudah terbuti bahwa kualitas para “bomber” warga negara Indonesia tidak kalah dengan sejawat mereka yang biasa beraksi di timur tengah itu.

Di lain pihak, industri televisi yang makin marak juga menggiring masyarakat untuk semakin pragmatis. Televisi kini lebih dianggap sebagai sarana hiburan ketimbang sumber informasi. Mereka lebih memilih untuk menyaksikan acara-acara hiburan, sinetron, dangdut, atau film, baik Holywood maupun Bolywood, ketimbang tayangan berita-berita yang memusingkan, baik dari dalam maupun luar negeri. Kita kini bisa melihat, bagaimana stasiun Metro TV yang diawal kelahirannya memproklamirkan diri sebagai stasiun berita, kini juga tidak ubahnya dengan stasiun-stasiun lain, juga menayangkan panggung musik dan film barat.

Terakhir, dengan maraknya penggunaan internet, maka peran televisi sebagai media informasi tercepat pun mulai tergeser oleh situs-situs berita. Dengan kecepatan yang ditawarkan oleh media informasi modern dewasa ini, kita tentu tidak perlu lagi untuk menunggu hingga jam 9 malam hanya untuk memperoleh informasi terbaru dari luar negeri. Walhasil kejayaan Dunia dalam berita kini hanyalah tinggal kenangan yang tidak mungkin terulang lagi.

Oge

Posted in Figure by Dhani on the May 9th, 2004

Perawakannya khas keturunan Melanesia, dengan kulit legam dan rambut keritingnya. Penampilan Septinus George Saa, atau Oge, demikian ia biasa disapa, mungkin akan menggoyahkan persepsi sebagian orang luar terhadap Indonesia, yang selama ini lebih dikenal dengan nama-nama seperti Soeharto, Abdurahman Wahid, atau Megawati.

Tapi bagi para “Dewa Fisika” dalam kompetisi eksperimen Fisika The First Step to Nobel Prize in Physics 2004, itu jelas bukan soal penting. Paper anak muda kelahiran Papua ini, dengan judul Infinite Triangle and Hexagonal Lattice Networks of Identical Resistor, telah berhasil mempesona dewan juri yang terdiri atas 30 fisikawan terkemuka dari 25 negara dibawah pimpinan Prof. Waldeman Gorzkowski, asal Polandia. Dalam kompetisi bergengsi ini, paper Oge telah menyisihkan ratusan paper lain yang dikirim oleh bakat-bakat muda bidang Fisika dari berbagai negara, dan meraih tempat terhormat di urutan pertama.

Sayangnya, berita tentang keberhasilan Oge di media dalam negeri terkesan ’sepoi-sepoi’ saja. Publikasnya kalah jauh dengan berita soal pemenang kontes bakat untuk menjaring selebritis dadakan yang saat ini sedang marak di TV-TV. Apa boleh buat, memang demikianlah kenyataannya.

Bagaimana bangsa ini memperlakukan bakat-bakat cemerlang di bidang sains memang sudah menjadi rahasia umum. Banyak ilmuwan Indonesia yang jauh-jauh disekolahkan ke Luar Negeri, saat kembali ternyata tidak bisa mengaplikasikan ilmu yang sudah dengan susah payah dia pelajari dengan beasiswa dari uang rakyat itu. Mereka tidak bisa berbuat banyak karena keterbatasan fasilitas maupun kucuran dana untuk kepentingan riset di tanah air. Belum lagi kalau kita bicara soal penghasilan maupun fasilitas yang bisa diberikan negara untuk para ilmuwan yang sangat jauh dari layak.

Tidak jarang pula ada ilmuwan yang ‘membelot’. Setelah menyelesaikan studinya, ia malahan mencari kerja di luar negeri, ketimbang pulang dan ‘terlunta-lunta’ di negeri sendiri. Entah berapa banyak pemilik otak cemerlang yang akhirnya lepas dari Indonesia dengan cara semacam ini. Kita boleh protes, tapi dalam kenyataannya, para ilmuwan itu merasa dapat berbuat lebih banyak dengan ilmu yang dia miliki di luar negeri ketimbang di tanah airnya sendiri.

Seorang astronom berkebangsaan Indonesia, yang kini bekerja di Max Planck Institute di Jerman baru-baru ini “curhat” ke saya via email. Katanya, ia sebenarnya merasa risih membaca namanya ditulis di majalah setempat sebagai “German Astronomer”, padahal dia masih merasa sebagai orang Indonesia. Sayangnya, dia sendiri merasa dilupakan oleh komunitas ilmuwan di Indonesia. Padahal dia ini bukan astronom sembarangan. Sebagai pimpinan tim pemburu planet ekstrasolar, sudah 2 planet ekstrasolar, 1 bintang katai coklat, serta 11 bintang bermassa kecil yang dia temukan bersama timnya. Prestasi yang bukan main-main, tapi tidak pernah dihargai di negerinya sendiri.

Sementara itu, kita di Indonesia masih sibuk dengan soal-soal remeh semacam nilai kelulusan dalam UAN sebesar 4,01 yang dianggap terlalu besar (kita boleh berkaca dari negara lain dengan standar kelulusan hingga 6 atau 7, tapi harus diingat bahwa kurikulum di Indonesia termasuk yang paling berat di dunia. Sering ada keluhan dari siswa pertukaran pelajar dari negara maju yang kesulitan mengikuti pembelajaran di Indonesia karena tuntutan kurikulum yang jauh lebih berat ketimbang di negara asalnya, sementara itu siswa Indonesia yang sekolah di luar negeri, malahan bisa santai-santai saja dengan kurikulum yang bisa satu atau dua tingkat dibawah yang biasa mereka pelajari di tanah air). Juga tuntutan soal anggaran pendidikan yang 20% dari APBN (ini cuma wacana politis karena selama bangsa kita masih terbelit hutang, mustahil untuk memberi anggaran yang cukup untuk semua sektor, karena anggaran terbesar tentulah harus dipakai untuk membayar hutang plus bunganya itu).

Kembali ke soal Oge. Sementara kita masih sibuk memelototi mereka yang berfantasi untuk jadi idola di TV, Oge mungkin sudah menyusun rencana berikutnya. Sebagai pemenang kontes Fisika bergengsi, tidak sulit baginya untuk memperoleh beasiswa untuk menuntut ilmu di Universitas papan atas di luar negeri, bahkan tidak mustahil untuk mengejar cita-cita terbesarnya: Meraih hadiah Nobel. Saat itu, mungkin kita baru akan terkejut saat koran-koran menulis bahwa Nobel Fiska jatuh ketangan seorang “Fisikawan Amerika Serikat kelahiran Papua”.