Bianglala


Prangko

Posted in Life by Dhani on the April 25th, 2004

Dulu, waktu saya masih anak-anak, saya pernah punya hobi mengkoleksi prangko (filateli). Saya tidak ingat lagi, kapan saya mulai menekuni hobi ini. Mungkin saat di kelas-kelas awal di Sekolah Dasar. Koleksi itu akhirnya berkembang, makin lama makin banyak. Tidak cuma dari dalam negeri, item koleksi saya malahan mayoritas terdiri dari prangko luar negeri. Tidak tanggung-tanggung, negara asal prangko yang saya koleksi meliputi mulai dari Amerika Serikat hingga Zimbabwe, dari Arab Saudi hingga Israel.

Belakangan gairah saya mengumpulkan prangko mulai menyusut. Entah, mungkin karena banyak hal yang lebih menarik, atau karena merasa tantangannya mulai berkurang. Alasan yang kedua ini lebih dipicu mudahnya memperoleh perangko bekas yang dijajakan di counter-counter di Mall. Celakanya, beberapa koleksi yang saya dapat dengan cara ini malahan saya ragukan keasliannya.

Saat saya duduk di bangku sekolah menengah, keluarga dari almarhum kakek saya (tepatnya kakak dari seorang kakek saya) mewariskan beralbum-album prangko koleksi beliau. Ini bukan koleksi sembarangan, soalnya prangko-prangko itu yang paling muda berasal dari zaman pendudukan Jepang, sementara yang tertua berasal dari akhir abad ke-19. Kebanyakan prangko Hindia Belanda, namun ada juga dari negara-negara lain seperti Austria atau Prancis.

Yang saya maksud dengan “album prangko” itu bukan seperti yang kita kenal sekarang, tapi cuma buku tulis dimana prangko-prangko itu ditempelkan dengan secuil lem, sekedar supaya bisa melekat. Dan karena usianya, maka album plus prangkonya sudah banyak yang lapuk. Warnanya sudah kuning kecoklatan, banyak yang sudah rusak dimakan usia, atau dicuwil oleh tangan-tangan jahil.

Saya tidak tahu harus diapakan koleksi-koleksi itu. Kalau mengingat jumlahnya yang masih banyak, maka nilainya sebagai barang kuno jelas masih belum seberapa karena masih belum langka. Memang ada satu-dua yang menurut katalog prangko harganya akan cukup lumayan kalau dibawa ke pelelangan, tapi sementara ini, saya masih belum berniat untul ‘melego’ koleksi tersebut. Walhasil prangko-prangko itu hanya menempati rak buku saya di Bali, dan tidak pernah diapa-apakan. Belakangan, mungkin karena khawatir dengan kondisinya yang makin parah, maka keluarga saya mencoba menyelamatkannya dengan cara yang unik. Entah dapat ide dari mana, mereka memindahkan prangko-prangko tua itu dari album, menempelkannya di kertas manila, kemudian dipasangi pigura, dan dijadikan … hiasan dinding!

Prangko-prangko itu sampai sekarang masih ada, entah sampai kapan. Walaupun saya tidak berminat lagi untuk menambah koleksi, tapi memelototi koleksi lama masih sering membawa keasyikan tersendiri bagi saya. Melihat hasil kerja sejak kecil yang masih awet hingga sekarang sering membuat saya merasa terbawa kembali ke masa-masa itu.

Mungkin suatu saat, koleksi itu bukan hanya menjadi kenangan masa kecil, melainkan ‘monumen’ atas budaya surat menyurat yang kini makin tergusur oleh sarana komunikasi modern seperti email atau SMS. Selain mengingatkan betapa lamanya waktu yang ditempuh oleh sepucuk surat dahulu, koleksi prangko juga menjadi kenang-kenangan dari masa ketika komunikasi lewat tulisan selalu dilakukan dengan bahasa yang santun dan susunan kalimat yang tertata. Jauh berbeda dengan komunikasi lewat email dan SMS yang melulu mengutamakan kecepatan tapi tidak membantu menciptakan manusia-manusia yang cakap menulis, berbahasa, maupun bersopan-santun lewat tulisan.

Teori Kebutuhan

Posted in Jokes by Dhani on the April 11th, 2004

Nasrudin berbincang-bincang dengan hakim kota. Hakim kota, seperti umumnya cendekiawan masa itu, sering berpikir hanya dari satu sisi saja. Hakim memulai,

“Seandainya saja, setiap orang mau mematuhi hukum dan etika, …”

Nasrudin menukas, “Bukan manusia yang harus mematuhi hukum, tetapi justru hukum lah yang harus disesuaikan dengan kemanusiaan.”

Hakim mencoba bertaktik, “Tapi coba kita lihat cendekiawan seperti Anda. Kalau Anda memiliki pilihan: kekayaan atau kebijaksanaan, mana yang akan dipilih?”

Nasrudin menjawab seketika, “Tentu, saya memilih kekayaan.”

Hakim membalas sinis, “Memalukan. Anda adalah cendekiawan yang diakui masyarakat. Dan Anda memilih kekayaan daripada kebijaksanaan?”

Nasrudin balik bertanya, “Kalau pilihan Anda sendiri?”

Hakim menjawab tegas, “Tentu, saya memilih kebijaksanaan.”

Dan Nasrudin menutup, “Terbukti, semua orang memilih untuk memperoleh apa yang belum dimilikinya.” (www.isnet.org)

Irama Demokrasi

Posted in Social by Dhani on the April 6th, 2004

Kalau dianalogikan dengan aliran (genre) pada musik, demokrasi bisa diibaratkan sebagai musik Jazz. Jenis musik yang satu ini, kita tahu, selalu dimainkan dengan penuh improvisasi. Dalam memainkan sebuah komposisi, para musisi Jazz boleh dibilang tidak terikat pada partitur. Mereka bebas berekspresi dan bereksplorasi sesuka hatinya, walaupun pada kenyataannya mereka memainkan lagu yang sama.

Kebalikan dari musik Jazz tentu saja adalah komposisi Klasik. Inilah aliran musik yang sangat menjunjung tinggi ketertiban. Bukan hanya pemain, bahkan menonton pun juga ada aturannya. Para musisi wajib bermain sesuai dengan partitur dibawah arahan sang dirigen. Tidak boleh ada yang meleset. Jangan harap ada kesempatan untuk ber-improvisasi. Satu instrumen saja yang bermain menyimpang, maka seluruh orkestra yang menyusun sebuah repertoir bisa berantakan. Pendeknya, inilah aliran musik yang dimainkan dengan semangat ‘otoriter’.

Baik Jazz maupun Klasik bukanlah jenis musik untuk semua orang. Kebanyakan orang kurang menyukai kerumitan baik pada musik Jazz maupun Klasik. Mereka lebih suka sesuatu yang simpel dan gampang dinikmati. Bisa ditebak, kelompok ini lebih menyukai aliran pop atau bahkan dangdut, dimana mereka bisa santai melepas penat atau bergoyang mengikuti dendang sang biduan. Dalam hal ini, bicara soal mutu jadi tidak relevan lagi. Tidak perduli sang penyanyi bersuara fals, yang penting populer, cantik, atau punya goyangan yang yahut, dialah yang bakal menjaring banyak ‘fans’.

Dengan menganalogikan proses demokrasi dengan aliran musik, kita bisa memahami perilaku para pemilih dalam pemilihan umum yang baru saja kita lalui. Tidak sepenuhnya benar jika dikatakan bahwa masyarakat kita rindu akan masa lalu, ketika pemerintah yang otoriter berkuasa. Namun demikian, rakyat juga tidak (belum) bisa memahami hingar-bingar permainan para politisi dalam sistem yang demokratis yang berlaku saat ini.

Ketika demokrasi ditegakkan, maka rakyat punya pilihan, sistem seperti apa yang mereka inginkan, dan semuanya ditentukan lewat surat suara di sebuah even bernama pemilihan umum. Rakyat boleh saja memilih, apakah ingin diperintah dengan sistem otoriter ala musik Klasik, atau demokratis ala Jazz. Tapi kenyataannya, bagi kebanyakan orang, soal sistem tidak terlalu penting. Bagi mereka, yang penting keamanan terjamin, dan ekonomi berjalan lancar. Sebagian lagi hanya bertumpu pada sosok figur tertentu, atau semangat kedaerahan, bahkan fanatisme keagamaan. Tentang program, itu soal nomor sekian. Pragmatis atau cerminan dari masyarakat yang masih belum dewasa?

Soal "Kampung Tengah"

Posted in Social by Dhani on the April 2nd, 2004

Konon soal kebiasaan makan adalah sesuatu yang sudah ‘terprogram’ sejak awal hidup seorang manusia, bahkan dipercaya sudah tertanam sejak ia masih di dalam kandungan. Itulah sebabnya, bagi kebanyakan perut Melayu, walaupun sudah terisi dengan BigMac lengkap dengan kentang goreng ukuran reguler dan minuman ringan, tetap belum terasa kenyang sebelum kemasukan nasi.

Tapi soal makan tidak cuma terkait dengan naluri alami untuk memuaskan perut yang lapar. Kadangkala, disana masuk pula unsur gaya hidup, bahkan gengsi. Ada anggapan bahwa apa yang dimakan oleh seseorang menunjukkan siapa orang itu.

Prinsip semacam inilah yang ditangkap oleh pengusaha waralaba makanan cepat saji impor. Unsur gaya hidup dan gengsilah yang menyebabkan orang rela antre, dan bahkan mengeluarkan banyak uang untuk makanan yang sebenarnya ‘asing’ bagi lidah mereka. Untuk kebanyakan orang Indonesia, ayam goreng tradisional yang dihidangkan dengan sambal dan lalapan disertai nasi hangat ‘kebul-kebul’ jelas lebih mengundang selera, dan lebih familiar terntunya, ketimbang ayam goreng berbalut tepung yang dimasak dengan bumbu rahasia serta hanya ditemani oleh kentang goreng dan saus cabai (chilli sauce) itu.

Tapi gaya hidup dan gengsi memang tidak selamanya laku dijual. Jadi, pengelola restoran cepat saji asing juga merasa perlu berinovasi untuk menyesuaikan sajian hidangan mereka dengan selera lokal. Kalau kita bisa memesan paket nasi di McDonalds atau KFC di Indonesia, jangan berharap kita bisa memesan paket menu yang sama di restoran serupa di Amerika Serikat. Begitu pula apabila kita mencicipi pizza di gerai waralaba lokal, jangan lantas beranggapan bahwa kita telah menikmati pizza yang serupa dengan yang biasa disantap oleh orang Italia, negara asal makanan itu, karena pizza asli Italia kemungkinan besar tidak akan sesuai dengan lidah melayu kita. Saya pernah mencicipi pizza Italia, dan boleh percaya boleh tidak, pizza itu ditaburi dengan keju permesan yang baunya mirip … kaus kaki yang lama tidak dicuci! Tentu ini tidak boleh dijadikan alasan untuk mencela makanan bangsa lain. Ingat bahwa kita juga terbiasa menyantai petai dan terasi yang baunya tidak kalah ‘aduhai’. Juga di dunia ini mungkin cuma orang Indonesia yang menyantap pizza dengan dilumuri saus cabai. Inovasi — yang sebenarnya agak kelewatan — ini mungkin terpaksa ditempuh untuk menyesuaikan dengan selera lokal kita yang doyan makanan yang rasanya ‘menyengat’.

Juga jangan heran apabila saat bersantap di kafe kita harus membayar mahal untuk seporsi kecil makanan yang tidak mengenyangkan dan minuman ‘ala kadarnya’. Tentu saja, karena yang dijual di kafe-kafe itu bukan sekedar hidangan, tapi juga suasana. Dengan memesan secangkir kopi dan makanan ringan, kita bisa nongkrong berjam-jam sambil menikmati musik hidup atau berbincang dengan kolega. Kesempatan ini tentu tidak bisa kita dapati di restoran Padang misalnya, karena di sana umumnya berlaku aturan tidak tertulis, bahwa begitu hidangan sudah licin tandas, pelanggan diharap mengerti bahwa itulah saatnya untuk segera pergi ke kasir dan kemudian angkat kaki dari sana.

Soal “kampung tengah”, metafora Melayu untuk perut, memang tidak sesederhana yang kita kira. Namun tentu saja itu semua hanya bisa dinikmati oleh mereka yang tiap hari tinggal berpikir “hari ini makan apa”. Sementara itu, masih banyak orang yang bangun tidur di pagi hari dengan pertanyan yang selalu berulang: Hari ini apa makan?