Bianglala


Kidal

Posted in Science by Dhani on the February 22nd, 2004

Kidal, kecenderungan untuk menggunakan anggota tubuh sebelah kiri ketimbang yang kanan, bukanlah suatu kecacatan. Ia tidak lebih dari dominasi fungsi belahan otak yang berbeda dari kebanyakan orang. Dalam hal ini perlu dibedakan antara kidal sebagai bawaan dengan yang disebabkan oleh penyakit pada otak (misalnya ensefalitas).

Ada anggapan yang sebenarnya keliru bahwa penyandang kidal lebih banyak berasal dari ras kulit putih (keturunan Eropa) ketimbang keturunan Asia. Perbandingan antara jumlah orang yang kidal dengan yang tidak kidal pada semua ras sebenarnya tidak jauh berbeda. Persoalannya, kita sebagai orang timur sering terikat kepada norma-norma yang mengatur hampir segala hal, termasuk bagian tubuh sebelah mana yang harus digunakan untuk kegiatan-kegiatan tertentu. Akibatnya, mereka yang kidal sering harus menyembunyikan kecenderungannya itu. Ini berbeda dengan di negara-negara barat, dimana pranata sosial cenderung lebih longgar sehingga para penyandang kidal lebih bebas untuk menjalani kecenderungannya tersebut. Walhasil, penyandang kidal terlihat lebih banyak dari keturunan Eropa ketimbang Asia.

Ada kecenderungan, terutama di kalangan orangtua dan pendidik, untuk memaksa anak-anak yang terlahir kidal agar selalu menggunakan anggota tubuh sebelah kanan. Ini sebenarnya adalah tindakan yang sangat berbahaya. Tindakan pemaksaan ini dapat berefek pada gangguan bicara hingga kesulitan untuk belajar membaca (disleksia) pada anak yang bersangkutan. Dalam beberapa kasus, tindakan ini malahan dapat mengaburkan dominasi fungsi otak.

Bagi orangtua yang memiliki anak penyandang kidal, disarankan untuk menerima kondisi anak tersebut apa adanya tanpa intervensi terhadap kekidalannya tersebut. Tentu saja untuk aktifitas yang bersifat sosial-normatif, seperti berjabatan tangan, anak itu tetap harus diajari untuk menggunakan anggota tubuh yang semestinya. Tetapi, untuk kegiatan yang bersifat pribadi, biarkan saja ia mengikuti kecenderungannya itu. Jangan pernah memaksakan anak yang kidal untuk menulis dengan tangan kanan misalnya. Selain tidak ada manfaatnya, ini hanya akan menambah beban belajar sang anak. Lagipula, bagaimana kalau kita-kita yang kebetulan tidak kidal ini disuruh menulis dengan menggunakan tangan kiri? Sulit kan?

Teladan

Posted in Social by Dhani on the February 15th, 2004

Alkisah, suatu malam khalifah Umar sedang sibuk sendirian dengan tugas-tugas kenegaraannya. Mendadak seorang sahabatnya datang berkunjung.

“Apakah engkau datang untuk urusan negara, atau untuk urusan pribadi?” tanya sang khalifah pada sahabatnya yang berkunjung.

“Aku datang untuk urusan pribadi,” sahabatnya menjawab.

Serta merta sang khalifah mematikan lampu, dan seketika gelaplah seluruh ruangan. Sahabatnya keheranan dan bertanya, mengapa sang khalifah mematikan lampunya.

“Lampu itu menyala dengan minyak yang dibeli dengan uang negara, dan karenanya haruslah digunakan untuk kepentingan negara, sementara engkau datang untuk keperluan pribadi.”

Kisah diatas dinisbatkan kepada khalifah Umar bin Khattab, atau Umar bin Abdul Aziz. Tidak jelas yang mana diantara keduanya yang benar-benar menjadi tokoh dalam cerita ini. Sekilas kisah semacam ini memang menggetarkan, tapi sayangnya, kebanyakan dari kita gagal menarik hikmah dan mewujudkannya dalam kehidupan nyata kita sehari-hari. Kisah semacam ini cuma dianggap seperti dongeng pengantar tidur saja layaknya.

Apa yang menyebabkan kita gagal menyerap pesan dari kisah semacam itu? Jujur saja, jaman saat ini telah berubah. Dan kisah-kisah yang berlangsung ribuan tahun lalu itu (kalau memang pernah terjadi) sudah nyaris kehilangan konteksnya saat ini. Kisah-kisah ini juga terkadang terkesan terlalu berlebihan sehingga hampir-hampir mustahil untuk ditiru. Bandingkan dengan misalnya kisah-kisah di buku semacam “Chicken Soup” yang sederhana dan mudah diambil hikmahnya dan diaplikasikan dalam kehidupan di jaman modern ini.

Bukannya saya menyepelekan teladan yang diberikan oleh parta pendahulu kita, apalagi mereka yang terlibat dalam kisah ini adalah orang-orang yang mendapat tempat khusus dalam sejarah Islam, agama yang juga saya anut. Disini saya hanya ingin mengajak untuk berpikir terbuka dan sedikit kritis. Roda sejarah tidak berhenti berputar pada jaman para Nabi dan Rasul. Sejarah akan terus berjalan sepanjang usia peradaban umat manusia.

Kita boleh saja merasa tergetar dengan tindakan Khalifah Umar bin Khattab yang memikul sendiri sekarung makanan untuk janda tua yang kelaparan. Ini memang kisah yang sangat menggugah dalam menggambarkan bagaimana seorang pemimpin yang begitu memperhatikan kesejahteran rakyatnya, sampai-sampai, dengan menyitir kisah ini, seorang anak berhasil memenangkan kompetisi menulis surat untuk Presiden yang diadakan beberapa waktu lalu. Tapi kita tidak perlu menjadi pemimpin atau khalifah untuk bisa berbuat sesuatu kepada kaum papa. Lihatlah Ibu Teresa di Calcutta. Walaupun ia bukan siapa-siapa, namun pengabdiannya untuk membantu mereka yang menderita dan terbuang sungguh patut untuk diteladani.

Sayangnya atas nama keyakinan, dengan seribu satu macam dalil, orang-orang semacam Ibu Teresa malahan sering dianggap sebagai musuh. Dalam pandangan keagamaan yang sempit (yang justeru akhir-akhir ini menjadi semacam ‘trend’), seolah-olah contoh perilaku yang patut ditiru hanya ada di jaman keemasan agama kita masing-masing. Ketika dunia dipenuhi oleh orang-orang suci dengan teladan yang sungguh luar biasa.

Kisah Abdul Aziz dan radio

Posted in Social by Dhani on the February 8th, 2004

Syekh Abdul Abdullah bin Hasan Al as-Syekh adalah keturunan langsung dari ibnu Abdul-Wahab, ulama pendiri faham wahabi yang terkenal puritan itu. Ia pun menjadi kepala kadi di Hijaz. Ia sama sekali tak setuju pada seluruh stasiun radio yang didirikan oleh raja Abdul Aziz di Arabia pada masa itu (sekitar tahun 1940-an). Ia merasa yakin bahwa itu semua adalah hasil karya Iblis. Dan ia mengeluh terlalu sering hingga sang Raja sangat kesal.

“Demi Allah, menurut Anda bagaimanakan iblis membuat mesin-mesin radio itu bekerja?” tanyanya pada Syekh tersebut.

“Demi Allah, aku memang tak tahu,” jawab Syekh itu. “Tetapi aku yakin Setan setiap saat mengunjungi pemancar itu, dan pegawai-pegawaimu di tempat itu mempersembahkan sesaji kepadanya.

Abdul Aziz langsung berdiri - saat itu ia berada di majelisnya di Mekah - dan menggandeng tangan sang Syekh seraya membawanya ke stasiun radio di istananya.

“Lihatlah,” katanya. “Tak ada bekas-bekas sesaji sedikitpun”. Dan memang disitu tidak ada bekas darah maupun bulu-bulu hewan yang dijadikan korban untuk sesaji kepada Setan.

Tetapi Syekh Abdullah yakin sang Raja telah menipunya. Ia jadi lebih sering berkunjung ke stasiun radio itu tanpa memberitahu terlebih dahulu. Ia berharap suatu saat akan berhasil menangkap basah pegawai stasiun radio tersebut. Ia bahkan mencoba menyuap operator radio untuk membocorkan kapan Setan biasa datang. Ia merasa yakin bahwa Setan sendiri yang datang membawa suara-suara yang didengarnya lewat udara.

Kunjungan Syekh Abdullah dan pertanyaannya yang tak berkeputusan itu akhirnya ikut membuat kesal para pegawai stasiun radio. Mereka mengeluh kepada Abdul Aziz dan sang Raja pun memanggil Syekh itu.

“Menurut pendapat anda,” sang Raja bertanya. “Berapa jauh Setan dapat membawa sabda Allah?”

Syekh itu tercengang, tak mengerti apa yang dimaksud oleh sang Raja. Abdul Aziz bertanya lagi “Apakah Setan akan mampu membawa sabda Allah dari sini ke Riyadh, atau dari Riyadh kemari?”

Syekh Abdullah merasa marah. “Ya Abdul Aziz,” katanya. “Anda tentu bercanda. Aku tahu dan anda tahu bahwa Setan takkan mungkin mampu membawa sabda Allah. Jangankan dari Mekah ke riyadh, atau dari Riyadh ke Mekah. Satu jengkalpun tak akan mampu.

“Aku tidak bercanda dengan anda, O yang bijaksana,” sahut sang Raja. Kemudian sekali lagi ia membawa Syekh Abdullah ke stasiun radionya.

“Aku sudah minta kepada imam di masjid agung Riyadh untuk pergi ke stasiun radioku di kota itu,” kata sang Raja. “Dan kuharap anda mau mendengarkan apa yang diucapkannya.

Syekh Abdullah mendengarkan. Beberapa menit kemudian ia mendengarkan lantunan ayat suci Al Qur’an bergemerisik di pesawat penerima.

“Betulkah ini anda?” ia bertanya lewat alat pemancar. Dan imam di masjid agung Riyadh yang merupakan sahabat karibnya menjawab memang benar itu suaranya.

Syekh abdullah juga membacakan beberapa ayat suci. Sahabatnya di Riyadh mengatakan bahwa ia bisa mendengar suara itu dengan jelas di jantung Nejad, sekitar 1200 km dari kota Mekah. Akhirnya, Syekh Abdullah yakin. Mulai saat itu ia memberkati radio sebagai salah satu keajaiban Allah. Ulama lainnya yang punya kecenderungan serupa, mencurigai radio sebagai alat Setan, pun mengikuti jejaknya. (Kisah nyata, dari “The Kingdom”, by Robert Lacey).