Dari Catatan Harian hingga Weblog
Tidak ada yang tahu pasti sejak kapan orang mulai menulis catatan harian. Kebiasaan ini diperkirakan mulai berkembang pada sekitar akhir masa Renaissance (1350-1650), saat banyak hal pribadi mulai dianggap penting. Selain berisi catatan pribadi penulis, tak jarang sebuah catatan harian juga memuat sebagian sejarah sosial maupun politik di lingkungannya. Ini membuat beberapa catatan harian jadi mempunyai nilai tambah tersendiri.
Ambil contoh catatan harian yang ditulis oleh Samuel Pepys (1633-1703). Dalam rentang waktu antara 1 Januari 1660 hingga 31 Mei 1669, ia menulis serangkaian catatan harian yang kelak menjadi salah satu catatan harian yang paling terkenal dan menarik yang pernah diterbitkan. Sebagai pemasok kebutuhan Angkatan Laut Inggris pada masa itu, Pepys turut berlayar dalam kapal yang membawa Charles II kembali ke Inggris pada 1660, dan hadir pada upacara penobatan Duke of York (Kelak dikenal sebagai James II), maka ia mengetahui semua gosip di istana, termasuk kasak-kusuk di Angkatan Laut. Dia lolos dari wabah penyakit mematikan pada 1665 dan kebakaran besar yang melanda kota London di tahun berikutnya.
Pepys menulis catatan hariannya dalam bahasa sandi, mungkin agar tidak bisa dimengerti oleh isterinya. Catatan hariannya menunjukkan bahwa ia amat mencintai isterinya, tapi juga mengeluhkan sifat isterinya yang kurang rapi dan pelupa. Catatan harian Pepys juga mengungkapkan bahwa ia juga banyak berselingkuh dengan wanita lain. Catatan hariannya memberikan gambaran mengenai berbagai segi kehidupan masyarakat Inggris, termasuk gambaran menarik tentang kehidupan di London pada masa hidupnya, mulai dari pengadilan, dunia teater, keluarganya, hingga kantornya di Angkatan Laut. Para pembacanya dapat merasa seolah-olah berada di London pada era Charles II. Sayangnya sampai sekarang saya masih belum menemukan versi terjemahan bahasa Indonesia dari catatan harian Pepys.
Tragedi dan peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah terkadang juga melahirkan catatan harian yang kelak menjadi terkenal. Pendudukan pasukan Nazi di Eropa pada era Perang Dunia II melahirkan catatan harian Anne Frank, sementara perang Serbia-Bosnia yang berkecamuk pada awal era 1990-an memunculkan nama Zlata Filipovic. Anne Frank, seorang gadis Yahudi, menulis catatan dalam persembunyiannya dari incaran pasukan Nazi Jerman. Catatan harian yang mulai ditulis pada Juli 1942 itu berakhir pada bulan Agustus 1944, ketika persembunyian Anne dan keluarganya diketahui, dan mereka dikirim ke kamp konsentrasi. Kisah Anne berakhir tragis dengan kematiannya di kamp konsentrasi Bergen-Belsen (dekat kota Hannover, Jerman) pada musim semi tahun 1945, dalam usia sangat muda: 15 tahun. Beruntung ayahnya, Otto Frank, berhasil bertahan hingga perang berakhir. Dialah yang kemudian menerbitkan catatan harian putrinya pada tahun 1947. Baru akhir-akhir ini saya sempat melihat versi terjemahan bahasa Indonesianya, yang diterbitkan oleh penerbit Jalasutra.
Berbeda dengan Anne Frank, Zlata Filipovic lebih beruntung, karena catatan harian yang ditulisnya saat perang berkecamuk di Sarajevo, ketika ia baru berusia sebelas tahunan itu justeru membantunya lolos dari medan pertempuran. Berkat simpati jutaan pembacanya, atas bantuan dari UNICEF, Zlata dan keluarganya berhasil diungsikan ke Prancis. Setidaknya hingga tahun 2002, Zlata menempuh studi pada jurusan Human Science di St. John’s College, Oxford. Saya menemukan setidaknya dua versi terjemahan catatan harian Zlata dalam bahasa Indonesia, masing-masing diterbitkan oleh Gramedia, dan Bigraf Publishing.
Di Indonesia, catatan harian yang pernah dibukukan antara lain adalah catatan harian dari Soe Hok Gie, seorang aktifis pergerakan mahasiswa pada awal era Orde Baru yang kemudian meninggal di puncak gunung Semeru pada Desember 1969, dengan judul “Catatan Seorang Demonstran” (CSD; LP3ES, 1983). Sekedar bocoran, kehidupan Soe Hok Gie — yang sebagian diantaranya diangkat dari catatan hariannya — saat ini segera diangkat ke layar lebar oleh Riri Riza dan Mira Lesmana (duet sutradara-produser yang dulu pernah memproduksi film “Petualangan Sherina”). Saat ini, film yang rencananya akan diberi judul “Gie” itu sedang dalam tahap produksi.
Cerita lain soal catatan harian yang sempat menggegerkan negeri ini adalah catatan harian Rudy Ramli yang sempat mengungkap skandal bank Bali, dan kemudian menimbulkan ‘reaksi berantai’ yang cukup serius, mulai dari terhentinya kucuran dana pinjaman dari IMF hingga terjungkalnya BJ Habibie dari kursi kepresidenan. Belajar dari kasus-kasus semacam ini, para pengacara punya nasihat yang bagus: jangan pernah menuliskan sesuatu di buku harian yang sekiranya dapat memojokkan diri sendiri di pengadilan :).
Di era internet ini kita mengenal weblog. Saya tidak perlu cerita banyak soal ini karena rasanya kita semua sudah cukup paham tentang catatan harian online ini. Memang sih, tidak semua penulis weblog memanfaatkannya untuk menampung catatan harian, tapi dalam segala hal memang selalu ada perkecualian ;). Menulis catatatan di weblog bagi sementara orang memang mengasyikkan, apalagi ada unsur sosialisasi disini. Catatan dibaca dan dikomentari, bahkan didiskusikan oleh sesama netters. Catatan harian kini tidak lagi berupa monolog dengan diri sendiri melainkan jadi sesuatu yang terbuka dan bebas untuk dibaca dan dikomentari oleh pembacanya.
Nyatanya, kegiatan penulisan weblog ini makin marak, termasuk juga di Indonesia. Disini, kandungan sebuah weblog biasanya tidak banyak berbeda antara satu dan lainnya. Menggunakan Blogger serta hosting gratis dari Blogspot (dengan banner iklan yang ‘disembunyikan’) dengan dilengkapi Shoutbox (biasanya dari Doneeh.com), dan daftar link. Tidak ketinggalan comment box dimana para pembaca bisa mengisikan komentar untuk setiap entrinya. Isinya bisa macam-macam, mulai dari curhat hingga web jurnal. Mulai dari yang dikelola secara serius hingga asal-asalan (seperti blog ini). Mulai dari yang sering diupdate hingga yang updatenya ‘Senin-Kamis’.
Secara pribadi, saya tidak terlalu ‘berani’ menggunakan weblog sebagai catatan harian. Saya bukan orang yang kelewat tertutup, tapi masih belum bisa seterbuka itu, maaf :). Anyway, saya sebenarnya penasaran, apakah seandainya orang-orang seperti Pepys, Anne Frank, atau Hok Gie hidup di jaman internet ini, apakah mereka juga akan menuliskan catatan hariannya di Blogger?
Minat Baca
Bicara soal minat baca masyarakat kita, pendapat orang tentang ini suka terpecah. Ada yang beranggapan memang minim, tapi ada juga yang menuding daya beli yang rendah yang membuat masyarakat kita kelihatan kurang doyan dengan kegiatan membaca. Lantas yang benar kira-kira yang mana ya?
Pertama soal daya beli. Umumnya orang bersedia mengeluarkan uangnya dengan melihat salah satu atau dua faktor: nilai manfaat dan nilai kesenangan. Kenyataannya, kebanyakan orang kita tidak pernah pelit untuk urusan kesenangan. Setiap ada film baru yang bagus, loket di gedung-gedung bioskop akan penuh dengan antrian calon penonton. Hal yang sama kita lihat di mall, toko kaset, atau di restoran fast food. Hampir setiap saat akan selalu ada orang yang bersedia membelanjakan uangnya disana.
Persoalannya sekarang, buku bagi sebagian besar diantara kita masih belum menjanjikan salah satu atau keduanya, baik nilai manfaat maupun kesenangan. Dus, dalam skala prioritas, keluar uang untuk membeli buku akan berada di urutan terendah. Mau bukti? Berapa banyak sih diantara kita yang begitu terima gaji atau — bagi yang masih bergantung pada orangtua — mendapat uang saku lantas langsung ngacir ke toko buku? Ceritanya berbeda kalau ada buku yang cukup menarik perhatian (punya nilai kesenangan), atau memang sangat diperlukan (punya nilai kebutuhan), baru deh, kelihatan “daya beli” orang Indonesia di toko buku :).
Persoalan lainnya mungkin juga berkenaan dengan budaya kultural kita. Ada yang berpendapat kalau masyarakat Indonesia itu lebih lekat dengan budaya verbal ketimbang literal. Coba lihat di terminal-terminal kendaraan umum. Walaupun sudah ada papan petunjuk dan rute yang ditempuh juga sudah tercetak di badan kendaraan, toh masih ada juga orang yang kerjanya meneriakkan rute kendaraannya untuk menarik penumpang.
Persepsi umum untuk kegiatan membaca juga tidak selalu positif. Orang yang punya hobi membaca sering diasosiasikan sebagai orang yang introvent, suka menyendiri, atau bahkan asosial. Tidak heran, kaum pecinta buku disini sering diberi sebutan “kutu buku”, sebuah panggilan yang sebenarnya lebih bermakna ejekan ketimbang penghargaan.
Umumnya masyarakat kita suka bacaan yang ringan, macam novel atau fiksi. Untuk jenis non-fiksi, akhir-akhir ini ada trend peningkatan minat untuk bacaan sastra seperti karangan Kahlil Gibran, atau kumpulan kisah-kisah inspiratif seperti serial “Chicken Soup”. Untuk buku-buku praktis, orang kita umumnya lebih suka buku yang sifatnya “how-to” ketimbang yang mengupas suatu hal secara mendalam.
So, bagaimana dengan buku macam Harry Potter, misalnya? Orang Indonesia baru mulai “kenal” Harry potter pada sekitar saat buku keempat diluncurkan, jadi ada “lag” yang cukup besar dari di negara asalnya. So, tidak bisa dikatakan kalau orang-orang yang mengantre untuk membeli terjemahan Indonesia dari novel JK Rowling ini adalah betul-betul penggemar sejati yang sudah mengikuti sejak awal. Ada kemungkinan “demam” Harry Potter di Indonesia, selain memang terkait dengan masalah selera, juga melibatkan persoalan gaya hidup dan bahkan tuntutan pergaulan.
Tintin
Komik Tintin genap berusia 75 tahun. Di Belgia, negara asal dari komik karangan Herge ini, ulang tahunnya diperingati dengan menerbitkan koin Euro edisi kolektor yang memuat gambar tokoh Tintin dengan anjingnya, Snowy. Maklum, di negara itu, Tintin sudah dianggap sebagai simbol nasional.
Komik yang mengisahkan petualangan Tintin — yang digambarkan sebagai wartawan, namun tidak pernah diceritakan menulis berita tapi selalu menjadi berita itu — dengan tokoh-tokoh pendamping semacam Captain Haddock, pelaut yang cepat naik darah, profesor Calculus yang tuli dan linglung, serta pasangan detektif Thomson dan Thompson yang konyol itu termasuk komik yang populer di seluruh dunia. Tidak kurang dari 200 juta kopi, dengan versi terjemahan meliputi 35 bahasa dunia, termasuk bahasa Indonesia telah terjual selama ini.
Namun demikian, popularitas Tintin di Indonesia terhitung biasa-biasa saja. Komik ini memang punya penggemar, tapi jumlahnya tidak begitu banyak dibandingkan dengan Asterix, misalnya. Kenapa demikian?
Orang Indonesia sebenarnya bukannya tidak punya minat baca. Persoalannya, mereka cuma suka bacaan-yang ringan-ringan. Karena itu, komik, sebagai jenis bacaan yang paling ringan jelas merupakan favorit penduduk negara ini. Sayangnya, sudah cuma suka jenis bacaan yang ringan, orang Indonesia juga lebih memilih untuk mengikuti cerita-cerita yang “seringan kapas” pula. Karena itu, jangan heran kalau komik ataupun cerita fiksi yang mengedepankan tokoh yang cerdas seringkali tidak mendapat tempat bagi khalayak pembaca di negeri ini. Karena alasan yang sama pula, disini Donal Bebek yang pemarah dan selalu sial itu lebih dikenal ketimbang Miki Tikus yang cerdik (berkebalikan dengan di negara asalnya). Begitu pula kenapa tokoh komik yang konyol semacam Shinchan atau Doraemon jauh lebih populer ketimbang tokoh macam Detective Conan.
Tokoh semacam Tintin, di Indonesia dipandang terlalu cerdas sehingga tidak terlalu menarik bagi pecinta komik di Indonesia yang umumnya menyukai tokoh-tokoh yang lucu dan konyol walaupun dengan intelegensi rendah. Kisah-kisah di komik Tintin juga dianggap terlalu ruwet untuk ukuran komik. Orang kita ternyata lebih suka alur cerita yang sederhana dan tidak berbelit-belit. Apakah ini memang cerminan mental bangsa ini?
Ramalan
Momen awal tahun, bagi sebagian, adalah saat-saat dimana mereka ingin memperoleh gambaran mengenai masa depannya. Di saat-saat semacam inilah, paranormal menjadi profesi yang paling “laris”. Sepertinya awal tahun tidak lengkap apabila tidak diwarnai dengan “sabda” mereka-mereka itu, yang biasanya ramai dikutip di media massa.
Kebanyakan orang mengaku tidak terlalu percaya dengan omongan paranormal, khususnya apabila menyangkut masa depan. Tapi anehnya, kenapa pula mereka tekun menyimak setiap sang paranormal buka suara? Sebagian palingan akan menjawab “iseng saja”, namun persoalan sesungguhnya bukan sesederhana itu.
Dalam situasi yang penuh ketidak-pastian, orang biasanya akan merasa butuh pegangan. Situasi kompetisi yang sedemikian ketat, ditambah dengan situasi yang unpredictable, bisa membuat “garis nasib” seseorang berubah sedemikian cepat. Orang yang hidup ditengah tingkat ketidak pastian yang tinggi sangat memerlukan suatu pegangan bagi mereka agar tidak keliru mengambil langkah.
Walaupun kesannya tidak rasional, namun banyak orang - terutama yang suka mengkaitkan apa saja dengan hoki (untung) maupun ciong (rugi) - akan menjadikan saran dari siapa saja sebagai pertimbangan untuk mengambil langkah. Kendati mengambil sikap “percaya-nggak-percaya”, tapi toh, mereka sering menggunakan “fatwa” paranormal sebagai second oppinion dalam mengambil langkah. Ini mungkin berkaitan dengan faktor psikologis saja, walaupun kadang-kadang bercampur dengan faktor religius atau kultural.