Narcissus
Tersebutlah Narcissus, seorang muda yang setiap hari berlutut di pinggir sebuah dana untuk mengagumi keelokan wajahnya sendiri. Ia begitu terpesona oleh dirinya hingga suatu pagi ia jatuh ke danau itu dan mati tenggelam. Di titik tempat jatuhnya itu, tumbuhlah sekuntum bunga yang dinamai menurut namanya, bunga Narcissus.
Kisah ini tidak berhenti sampai disini saja. Ketika Narcissus mati, dewi-dewi hutan muncul dan mendapati danau tadi yang semula berupa air segar telah berubah menjadi danau airmata yang asin.
“Mengapa engkau menangis?” tanya dewi-dewi itu.
“Aku menangisi Narcissus,” jawab danau.
“Oh, tak heranlah jika kau menangisi Narcissus,” kata mereka, “Sebab walau kami selalu mencari dia di hutan, hanya kau saja yang dapat mengagumi keelokannya dari dekat.
“Tapi, elokkah Narcissus?” tanya danau.
“Siapa yang lebih mengetahuinya daripada engkau?” dewi-dewi bertanya heran. Di dekatmulah ia tiap hari berlutut mengagumi dirinya.”
Danau terdiam beberapa saat, akhirnya ia berkata “Aku menangis karena setiap ia berlutut di tepianku, aku bisa melihat di kedalaman matanya pantulan keindahanku sendiri”.
Seabad Dunia Penerbangan
Ketika tepat seabad lalu, dua bersaudara, Oriville dan Wilbur Wright berhasil menerbangkan pesawatnya di Kittyhawk, mungkin tidak terbayang di benak mereka bagaimana dunia penerbangan nantinya akan berkembang. Pesawat rancangan mereka kala itu hanya mengangksa dalam hitungan detik dengan ketinggian tidak lebih dari gedung bertingkat tiga. Namun apa yang mereka capai merupakan tonggak bersejarah dari pengembangan teknologi kedirgantaraan kurun waktu waktu berikutnya.
Teknologi kedirgantaraan memang merupakan salah satu mahakarya umat manusia yang berkembang paling pesat. Dalam waktu kurang dari satu abad, terjadi lompatan teknologi yang menakjubkan, mulai dari pesawat jet supersonik yang mampu melaju diatas kecepatan suara, hingga roket yang memungkinkan manusia melanglang ke antariksa, dan bahkan mencapai bulan. Bandingkan dengan teknologi transportasi darat maupun laut yang tidak banyak berubah dari awal ditemukannya hingga kini. Terlepas dari munculnya model-model baru dan mesin yang lebih canggih dan bertenaga, teknologi dasarnya sesungguhnya tidak terlalu banyak berubah.
Maraknya sarana transportasi udara, mau tidak mau ikut mengubah wajah dunia. Kini, tidak ada dua orang di Bumi ini yang terpisah oleh jarak yang dapat ditempuh dalam lebih dari dua hari perjalanan. Dunia serasa semakin sempit, walaupun tentu saja terbatas bagi mereka yang berkantung tebal. Langit tidak lagi hanya dihiasi oleh kawanan burung - yang sejak berabad-abad membuat manusia iri dengan kelebihan yang dianugerahkan Tuhan kepadanya - namun juga oleh burung-burung besi yang berseliweran membelah angkasa.
Terbang memang merupakan impian manusia sejak awal peradaban. Dalam mitologi Yunani kuno, kita mengenal tokoh Icarus, seseorang yang membuat sayap dari rangkaian bulu-bulu burung sehingga dapat terbang ke angkasa. Sayang ia terbang terlalu dekat dengan Matahari sehingga perekat yang merangkai bulu-bulu sayapnya meleleh. Sayap itupun buyar dan Icarus pun jatuhlah.
Walaupun kisah Icarus ini hanyalah legenda, namun dalam kenyataannya, banyak orang yang mungkin karena terinspirasi, berusaha membuat sayap untuk kemudian berusaha terbang. Hampir semuanya berakhir dengan tragis. Namun demikian, dengan semangat dan ketekunan, Wright bersaudara berhasil membuka jalan bagi umat manusia untuk mewujudkan mimpi sepanjang sejarah peradaban: terbang bebas bagaikan burung di angkasa.
Wagner dan Angka 13
Bulan lalu kita pernah bicara soal mitos tentang Simfoni Nomor 9. Kali ini kita masih bicara soal musik klasik dan angka. Angka 13 kerapkali dituding sebagai angka sial, namun di dunia musik klasik, mitos ini nampaknya tidak berlaku, setidaknya apabila menyangkut seorang komponis besar yang bernama Richard Wagner.
Kelirumologi Jaya Suprana mencatat bahwa komponis yang satu ini hidupnya selalu dilingkupi oleh angka 13. Jumlah huruf pada namanya sendiri ada 13. Ia dilahirkan pada tahun 1813 yang apabila dijumlahkan juga 13. Penampilan perdana Wagner di depan publik terjadi pada 1831 yang lagi-lagi membentuk angka 13 kalau dijumlah.
Salah satu operanya yang terkenal, Tannhausser, dirampungkan pada 13 April 1845, lantas dipagelarkan untuk pertama kalinya pada 1861 (1×8+6-1 = 13!). Tanggal 13 Agustus 1876 (7+6 = 13), untuk pertama kalunya Wagner mempagelarkan mega-siklus Ring of the Nibelungen. Wagner sempat diangkat menjadi direktur teater Riga yang resmi dibuka pada 13 September. Opera mahakarya Wagner pun seluruhnya berjumlah 13. Karena alasan politis, Wagner meninggalkan tanah airnya selama 13 tahun dan meninggal pada 13 Februari 1883 yang kebetulan merupakan tahun ke-13 berdirinya Federasi Jerman baru.
Kendati demikian, bukan berarti hidup Wagner — yang karya musiknya banyak menginspirasi tokoh-tokoh besar dunia, mulai dari Nietzsche, Sigmund Freud, hingga Stephen Hawking — senantiasa dirundung sial belaka!
Setelah Lebaran Berlalu
Hiruk pikuk lebaran sudah seminggu berlalu. Ketupat lebaran mungkin sudah licin tandas, sementara kue lebaran mungkin sudah tinggal remah-remahnya saja. Sebagian dari kita sudah kembali berkutat dengan rutinitas.
Konon sih, secara bahasa, Idul Fitri artinya adalah kembali kepada fitrah. Tentu saja pengertian ini hanya berlaku bagi mereka yang menjalani ibadah puasa secara sungguh-sungguh. Bagi mereka yang berpuasa sekedar untuk menahan haus dan lapar, lebaran boleh jadi hanya berarti Idul futuur (kembali kepada makan siang).
Dari segi maknanya, sebutan “Idul Fitri” memang terasa lebih religius, sedangkan istilah “lebaran” lebih bermakna kultural. Lebaran identik dengan pakaian baru, ketupat, atau mudik. Sementara itu, kembali kepada fitrah, sebagaimana digambarkan dalam istilah Idul Fitri, membawa kita kepada pengertian seolah-olah “bayi yang baru lahir”. Suci, bersih tanpa cela dan dosa.
Semoga saja, lebaran kali ini membawa kita kepada “Idul Fitri” yang sesungguhnya, dan bukan sekedar hanya bisa kembali kepada (menikmati) makan siang atau Idul Futuur itu :).